Início / Romansa / ANESTESI RINDU / BAB 131 BERDAMAI

Compartilhar

BAB 131 BERDAMAI

Autor: Yoongina
last update Data de publicação: 2026-05-29 11:49:44

"Yang ini bagus kan?" Vanya menyodorkan majalah pernikahan dari vendor yang ditunjuk untuk mempersiapkan pernikahan mereka. Gambar baju pengantin yang Vanya inginkan terpampang jelas di hadapan Devan. Laki-laki itu melirik sambil menikmati buah potong di tangannya.

"Bagus, sayang. Tapi yang benar aja, masa aku pakai baju warna ungu terang gitu." Gerutu Devan karena setelah gambar kesepuluh, Vanya masih saja meminta agar baju resepsi mereka harus berwarna Ungu atau Pink.

"Warna gold sudah ba
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • ANESTESI RINDU   BAB 133 KUMPULAN BUKTI

    Kenan meletakkan liontin itu di atas telapak tangan dengan hati-hati. Menggunakan ujung pinset kecil yang ia ambil dari saku kemejanya, Kenan menekan bagian sela engsel liontin yang tersembunyi dengan penuh kehati-hatian.​Klik.​Liontin itu terbuka. Disisi sebelah kanan berisi foto dua orang anak kecil yang sedang duduk di atas ayunan kayu. Anak kecil itu adalah Kenan dan Rossa saat ia masih berusia lima tahun. Kenan terpaku sejenak, menatap wajah ceria Rossa kecil yang membuat mata tajamnya berkaca-kaca.Ia memejamkan mata sejenak, mengusap titik air di sudut matanya. Lalu, ia kembali menekan pinset pada sisi sebelah kiri yang luput dari pantauan Devan dan Vanya ketika pertama kali membuka liontin itu. Keberadaan foto masa kecil Rossa dan Kenan, telah mengalihkan perhatian mereka saat itu.Tanpa diduga, sisi kiri liontin itu kembali terbuka dengan bunyi 'Klik' pelan. Di dalam rongga kecil berbentuk lingkaran itu terselip sebuah kartu MicroSD yang dibalut pelindung plastik tipis agar

  • ANESTESI RINDU   BAB 132 KEBENARAN YANG TERKUNCI

    ​"Bagaimana keadaanmu?" tanya Kenan sambil melangkah mendekat ke ranjang Devan. ​"Sudah lebih baik." ​Kenan menarik kursi di samping tempat tidur. Ia melipat kedua tangan di dada, menatap Devan dengan wajah tenang. "Ternyata kamu sudah benar-benar bisa melupakan perasaanmu pada adikku." ​Devan menghirup udara perlahan untuk meredakan rasa nyeri pada lukanya. "Hidup harus tetap berjalan, bukan?" jawabnya ringan sambil merapikan bantal, mencari posisi bersandar yang nyaman. ​Kenan tertawa kecil. "Pengorbanan ini sungguh luar biasa. Gadis itu dicintai dengan sepenuh hati, bahkan nyawa pun rela kau berikan." ​Devan terdiam. Bayangan kejadian di gudang tua itu kembali mengusik alam sadarnya. Bagaimana Adam melucuti pakaian yang melekat pada tubuh Vanya dan hampir merenggut kesuciannya, juga rasa panas dari dua peluru yang bersarang di punggungnya. Baginya, hukuman seumur hidup di penjara saja rasanya belum cukup untuk menebus dosa pria itu. ​"Dari mana kau tahu aku terluka kare

  • ANESTESI RINDU   BAB 131 BERDAMAI

    "Yang ini bagus kan?" Vanya menyodorkan majalah pernikahan dari vendor yang ditunjuk untuk mempersiapkan pernikahan mereka. Gambar baju pengantin yang Vanya inginkan terpampang jelas di hadapan Devan. Laki-laki itu melirik sambil menikmati buah potong di tangannya. "Bagus, sayang. Tapi yang benar aja, masa aku pakai baju warna ungu terang gitu." Gerutu Devan karena setelah gambar kesepuluh, Vanya masih saja meminta agar baju resepsi mereka harus berwarna Ungu atau Pink. "Warna gold sudah banyak yang pakai, sayang. Aku maunya kita beda." Protes gadis itu sambil membalik majalah di tangannya. Devan menghela nafas panjang sambil bersandar santai di atas tumpukan bantal. Di hari kesepuluh ia di rawat, luka pada punggungnya sudah sedikit membaik. ​"Beda sih beda, tapi kalau aku pakai hot pink, yang ada para perawat dan residen bukannya hormat malah menertawakanku di koridor rumah sakit, Vanya," sahut Devan pasrah, meletakkan tusuk buahnya ke piring kecil. ​Vanya mengerucutkan bib

  • ANESTESI RINDU   BAB 130 TIDAK BOLEH LEPAS LAGI

    Dua puluh empat jam pasca pelepasan pipa napas, efek sisa obat bius benar-benar telah hilang dari tubuh Devan. Hari ini, ia tidak lagi hanya merespons lewat kedipan mata atau remasan tangan. Kesadaran kognitifnya telah pulih sepenuhnya. ​Ketika Vanya sedang membasahi bibir kering Devan dengan kapas yang diberi sedikit air hangat, Devan menggerakkan tangan kanannya perlahan, mencoba menyentuh punggung tangan Vanya. ​"Va... nya..." ​Suara itu akhirnya keluar. Sangat serak, parau, dan nyaris seperti bisikan angin. ​Vanya langsung mendekatkan telinganya ke bibir Devan. "Iya, Mas? Ada yang sakit? Dada Mas sesak?" tanya Vanya cemas. ​Devan menggeleng perlahan, sangat tipis. Sepasang mata elangnya kini telah kembali, menatap Vanya dengan kesadaran penuh. "Min... um..." bisiknya susah payah. Vanya bergegas meraih gelas air minum di nakas samping tempat tidur, lalu membantu Devan meminum beberapa tetes air menggunakan sendok kecil secara perlahan sesuai instruksi dr. Dian. Setel

  • ANESTESI RINDU   BAB 129 KESADARAN YANG KEMBALI

    Suara derap langkah kaki Vanya menggema di sepanjang koridor menuju ruang ICU. Informasi yang baru saja disampaikan Nathan membuatnya bergegas, melangkah lebar dengan jantung yang berpacu cepat demi segera menghampiri Devan. Begitu tiba di depan ruang ICU, Vanya perlahan membuka pintu kaca. Pandangannya langsung tertuju pada brankar Devan, tempat dr. Dian sedang melakukan pemeriksaan. ​"Sore, Dok," sapa Vanya sesopan mungkin, meski napasnya masih memburu akibat berlari. ​dr. Dian tersenyum menenangkan, lalu menepuk pelan bahu Vanya. "Syukurlah, dr. Devan sudah melewati masa kritisnya. Kondisi hemodinamik dan ritme jantungnya juga sudah kembali stabil," ujar dokter spesialis bedah jantung itu sambil mengusap lembut bahu Vanya sebelum melangkah keluar ruangan. Vanya mengalihkan pandangannya pada Devan. Di atas bantal, kelopak mata Devan tampak bergetar hebat. Jantung Vanya berdebar kencang menyaksikan perjuangan pria itu. Sudut bibir Devan yang terhalang pipa alat bantu napas be

  • ANESTESI RINDU   BAB 128 KETERLIBATAN EVELYN

    Dua hari telah berlalu, namun suasana di dalam kamar ICU itu seolah membeku. Bagi Vanya, waktu tidak lagi berjalan berdasarkan detik jam, melainkan dihitung dari setiap naik-turunnya gelombang hijau di layar monitor hemodinamik Devan. ​Selama empat puluh delapan jam itu pula, Vanya mengabaikan rasa lelahnya sendiri. Ia menolak pulang ke rumah, hanya memanfaatkan sofa kecil di ruang tunggu untuk memejamkan mata selama satu atau dua jam sebelum kembali duduk di samping ranjang Devan. Pakaiannya telah berganti, namun kecemasan di wajahnya tidak juga menghilang. ​Memasuki hari ketiga, tim medis yang dipimpin oleh Nathan dan dr. Dian memutuskan bahwa kondisi hemodinamik Devan sudah cukup stabil untuk memulai proses weaning, yaitu pengurangan dosis obat penenang secara bertahap. ​"Kita mulai menurunkan obatnya siang ini, Van," ujar Nathan sambil menyetel parameter pada syringe pump di dekat ranjang Devan. "Ini fase yang krusial. Otaknya akan perlahan terbangun dari efek koma, dan kita

  • ANESTESI RINDU   BAB 39 AKU MERINDUKANMU

    Suasana hangat yang baru saja tercipta antara Devan dan Ibu Kemuning mendadak membeku. Kehadiran Evelyn di ambang pintu ICU bagaikan badai yang menghempas ketenangan ruangan yang steril itu. Dengan langkah yang angkuh dan sepatu hak tinggi yang berbunyi tajam di atas lantai, Evelyn mendekat, menata

  • ANESTESI RINDU   BAB 38 DINDING INGATAN

    Suara decit ban mobil yang beradu tajam dengan aspal parkiran rumah sakit memecah keheningan parkir rumah sakit siang itu. Devan keluar dari mobilnya bahkan sebelum mesin benar-benar mati sempurna. Ia mengabaikan setelan jas mahalnya yang kini tampak berantakan, satu-satunya fokus di kepalanya hanya

  • ANESTESI RINDU   BAB 37 HILANG INGATAN

    Suasana di dalam ruang ICU bangsal nomor dua, Vanya masih belum sadarkan diri. Bram dengan setia mematuhi perintah Devan untuk terus memantau kondisi gadis itu. Ia melangkah pelan mendekati ranjang Vanya, suara langkahnya menggema di atas lantai ICU rumah sakit yang dingin. Di ruangan itu, hanya te

  • ANESTESI RINDU   BAB 36 KETULUSAN YANG TIDAK BISA DIBELI

    "Maaf, kamu siapa, Nak?" suara lemah namun ramah itu keluar dari mulut Kemuning saat ia membuka pintu jati di depan rumahnya yang asri. ​"Saya Aurelia, Bu. Temannya Vanya," jawab Aurel dengan nada yang dijaga setenang mungkin. ​Kemuning sedikit terperanjat, matanya yang mulai sayu tampak berbinar

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status