Home / Romansa / ANESTESI RINDU / BAB 8 TUBUH YANG MENYERAH

Share

BAB 8 TUBUH YANG MENYERAH

Author: Yoongina
last update publish date: 2026-02-10 14:41:00

Vanya berbalik dengan mata yang panas terbakar air mata. Di luar ruangan, ia melihat Evelyn berdiri bersandar di dinding dengan tangan bersedekap, senyum kemenangan terukir jelas di wajahnya.

​"Selamat menikmati tugas administratifmu, Vanya," bisik Evelyn dengan nada puas saat Vanya melintas di depannya.

Vanya sudah tidak punya kekuatan untuk membalas provokasi Evelyn. Bagaimanapun, kejadian hari ini memang mutlak karena kesalahannya. Ia sendiri yang memberi ruang untuk Evelyn agar menjadi orang terdekat dan kepercayaan Devan.

Ia terus berjalan mengabaikan Evelyn dan meraih handphone di sakunya. Vanya membuka catatan proyek 'Bedah hati dr. Devan'. Ia menambah catatan : proyek Bedah Hati selesai dengan status GAGAL! ditutupnya catatan itu diringi dengan tetesan air mata yang sudah luruh sejak keluar dari ruangan Devan.

***

Vanya duduk di meja perpustakaan rumah sakit yang sepi. Jarum jam menunjukkan pukul 03.30 pagi. Di hadapannya, tumpukan kertas folio baru terisi tiga puluh halaman. Jemarinya kaku, bergetar karena kelelahan.

Sejak siang tadi, IGD tampak penuh dengan pasien. Devan yang memberi hukuman untuknya, memberi tugas IGD seluruhnya pada Vanya, membuat gadis itu kewalahan. Ditambah, sejak siang ia belum mengisi perutnya dengan makanan.

IGD baru tenang sekitar pukul 9 malam. Vanya menahan lapar dan lelah nya, karena harus melanjutkan hukuman 100 lembar laporan yang diminta Devan sudah harus ada di atas mejanya pukul 7 pagi.

Vanya mencoba berkonsentrasi agar bisa menebus kesalahannya. Tapi setiap kali ia mencoba menulis tentang hemodinamik atau ruptur arteri, bayangan cengkeraman tangan Adam dan tatapan kecewa Devan terus membuyarkan pikirannya.

Tubuhnya telah mencapai batas. Kepalanya terasa berat, dan pandangannya mulai mengabur. Efek asam lambung yang naik akibat stres dan lupa makan sejak siang tadi membuat ulu hatinya berdenyut nyeri hebat, dan Vanya tetap melanjutkan tugasnya hingga jemarinya memerah dan terluka.

***

​Pagi harinya, pukul 06.55 WIB.

​Pintu ruangan Devan diketuk pelan. Vanya melangkah masuk dengan wajah sepucat kapas. Lingkaran hitam di bawah matanya tidak bisa disembunyikan. Rambut panjangnya terurai berantakan. Ia berjalan dengan tubuh gemetar mendekati meja Devan yang terasa sangat jauh. Vanya meletakkan setumpuk kertas di meja Devan, namun tumpukan itu belum mencapai 100 lembar.

​Devan melirik tumpukan kertas itu, lalu beralih menatap Vanya. Ia tidak menyentuh laporan itu, hanya melipat tangan di dada.

​"Mana sisanya?" tanya Devan, suaranya rendah namun menusuk.

​"Saya... saya hanya mampu menyelesaikan empat puluh halaman, Dok," jawab Vanya jujur. Suaranya serak dan terbatuk pelan. "Saya tidak mencari alasan, tapi kondisi fisik saya tidak memungkinkan untuk menyelesaikan seratus halaman dengan waktu semalam."

​Devan berdiri, berjalan perlahan mengitari mejanya hingga berdiri tepat di depan Vanya. "Saya memberikan tugas itu bukan sekadar hukuman, tapi untuk melihat sejauh mana determinasi kamu setelah melakukan kesalahan fatal. Dan kamu gagal lagi, Vanya."

​"Dok, tolong beri saya waktu sampai siang ini—"

​"Tidak ada waktu tambahan di dunia bedah!" Devan memotong dengan keras. "Pasien kemarin tidak punya 'waktu tambahan' saat arterinya pecah. Kegagalanmu menyelesaikan tugas ini membuktikan bahwa fokusmu memang sudah hancur. Kamu tahu dr. Bram sedang cuti. dr. Evelyn dan dr. Siska sedang membantuku di operasi kedua. Tapi dengan gampangnya kamu meninggalkan IGD tanpa penjagaan.

​Tepat saat itu, pintu ruangan terbuka tanpa ketukan. Evelyn masuk dengan wajah cerah, membawa map yang tampak rapi.

​"Dokter Devan, ini laporan observasi pasien kecelakaan kemarin yang Anda minta saya lengkapi jika Vanya kesulitan," ujar Evelyn dengan nada manis yang dibuat-buat. Ia meletakkan laporannya tepat di atas tumpukan kertas Vanya yang belum selesai. "Aku sudah menyelesaikannya sampai analisis pasca operasi."

​Vanya menunduk, merasa harga dirinya benar-benar runtuh ke titik bawah. Ia merasa tidak punya tempat lagi di sini dan baru menyadari bahwa semua ucapan Siska memang benar, bahwa ia dan Devan sangat tidak sebanding. Berbeda dengan Evelyn yang cantik dan cerdas. 

​Devan mengambil laporan Evelyn, namun matanya tetap tertuju pada Vanya yang tampak hampir pingsan. Ia melihat tubuh Vanya yang limbung. Rambut panjangnya yang berantakan menutupi wajahnya yang tertunduk dalam, tidak berani menatap Devan sedikit pun. "Evelyn, keluar. Saya belum selesai dengan dr. Vanya."

​Setelah Evelyn keluar dengan perasaan puas, Devan melemparkan tumpukan kertas empat puluh halaman milik Vanya ke tempat sampah di sudut ruangan. Suara jatuhnya kertas itu terdengar seperti vonis akhir bagi Vanya. Bahunya tersentak. Ia menarik nafas panjang untuk memberikan kekuatan pada tubuhnya yang sudah lemah karena tidak makan dan tidur. Vanya mencoba menahan airmata yang sudah siap untuk tumpah. Bibir pucatnya bergetar hebat.

​"Keluar dari ruangan saya," ucap Devan dingin. "Jangan kembali ke bangsal sebelum kamu bisa berdiri tegak tanpa gemetar seperti itu. Hari ini, kamu saya skors dari seluruh kegiatan klinis. Pulang dan bereskan kekacauan di kepalamu, atau jangan pernah kembali lagi sebagai residen saya. Dokter ceroboh seperti kamu tidak pantas ada di bedah umum."

Hati dan tubuh Vanya bergetar hebat mendengar amarah Devan. Ia berbalik tanpa sepatah kata pun, berjalan gontai keluar ruangan. Namun baru beberapa langkah menuju pintu ruangan Devan, pandangannya menggelap. Tubuhnya limbung. Sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya, ia merasakan sepasang tangan yang kuat menangkap bahunya agar tidak menghantam lantai.

"Vanya!"

​Suara Devan yang biasanya tenang dan terkontrol kini pecah oleh kepanikan yang tak tertahankan. Ia menangkap tubuh mungil itu sebelum benar-benar membentur lantai marmer. Devan berlutut, menopang kepala Vanya dengan lengannya yang kokoh.

​"Vanya, bangun!" Devan menepuk pipi Vanya pelan. Tidak ada respon. Napas gadis itu pendek dan dangkal, sementara suhu tubuhnya terasa sangat tinggi di bawah telapak tangan Devan.

​Di depan pintu ruangannya, Evelyn yang belum jauh melangkah, berbalik dan mematung melihat pemandangan itu. Wajahnya yang semula penuh kemenangan mendadak berubah masam saat melihat raut kecemasan yang begitu nyata di wajah Devan. Ekspresi yang belum pernah Devan tunjukkan pada siapa pun.

​"Dok, biar saya panggil perawat—" Evelyn mencoba mendekat.

​"Siapkan brankar! Cepat!" bentak Devan tanpa mengalihkan pandangan dari wajah pucat Vanya. Tatapannya yang tajam kini dipenuhi kilat kemarahan pada dirinya sendiri.

​Devan mengangkat tubuh Vanya ke dalam dekapannya. Ia bisa merasakan betapa ringannya tubuh residennya itu, seolah-olah Vanya memang sudah lama mengabaikan dirinya sendiri demi mengejar standarnya yang terlalu tinggi.

​Saat mereka tiba di ruang perawatan darurat, Devan sendiri yang memasang monitor dan memeriksa refleks pupil Vanya. Ia melihat jemari dan telapak tangan Vanya yang lecet, mungkin karena tekanan saat ia memaksakan diri menulis 40 halaman semalaman.

​"Hipoglikemia dan dehidrasi berat," gumam Devan setelah memeriksa hasil laboratorium. Ia berdiri di samping tempat tidur Vanya, memandangi selang infus yang kini terpasang di tangan gadis itu.

​Pikiran Devan melayang pada tumpukan kertas yang tadi ia ambil lagi setelah membuangnya ke tempat sampah. Empat puluh halaman tulisan tangan dalam waktu kurang dari tujuh jam dengan kondisi fisik yang lelah. Devan menyadari bahwa ia mungkin sudah melangkah terlalu jauh. Ia memberi hukuman yang terlalu berat untuk gadis ini.

​Pintu ruang perawatan terbuka pelan. Siska masuk setelah ia baru saja tiba di Rumah Sakit dan mendengar kalau Vanya pingsan di ruangan Devan.

​"Dokter Devan," sapa Siska terkejut dengan keberadaan Devan di samping brankar Vanya.

"Maaf kalau saya-"

"Tidak apa-apa, saya hanya sedang mengecek hasil lab nya." Ujar Devan membaca ulang kertas hasil lab Vanya.

"Kemarin saya sudah bilang, supaya Vanya istirahat dan makan dulu, tapi dia kekeh nggak mau pergi dari IGD lagi. Setelah tiba di Rumah Sakit, Vanya belum sempat makan karena dipaksa pergi oleh teman laki-lakinya." Siska berkata pelan sambil menatap prihatin wajah sahabatnya yang masih tertidur di brankar.

Devan mengalihkan pandangannya dari kertas hasil lab, mendengar informasi dari Siska.

"Belum makan dari siang?" tanya nya terkejut.

"Iya, dok. kemarin dr. Vanya cerita, Laki-laki itu memaksa membawanya pergi dari Rumah Sakit karena ingin bicara berdua. Vanya sudah menolaknya tapi dia diseret paksa. Keluar di jam dinas... bukan keinginan Vanya. Tolong maafkan dr Vanya, dok. Dia sudah berusaha sampai tidak makan dan tidur semalaman."

​Devan mendengarkan ucapan Siska dengan penuh perhatian. Rahangnya mengeras. Ia merasa seperti seorang hakim yang baru saja menghukum orang yang tidak sepenuhnya bersalah. Ia melihatnya di kafetaria kemarin, saat ia diminta dr. Gunawan untuk menghampiri dan berkenalan dengan dokter tamu yang akan melakukan kolaborasi dengan bedah umum. Dokter tamu itu berdiri di hadapan Vanya menggenggam kedua tangannya, dan Vanya yang merasa tidak nyaman dengan situasi itu.

​"Siska, untuk tugas IGD saya alihkan ke kamu. Sekarang berjaga di IGD, biar saya yang menjaganya di sini," ujar Devan rendah.

"Baik, dok."

​Setelah Siska keluar, Devan menarik kursi ke samping tempat tidur Vanya. Ia duduk di sana, dalam keheningan ruang perawatan yang hanya diisi bunyi bip monitor. Tangannya bergerak ragu, namun akhirnya ia meraih jemari Vanya yang terluka karena terlalu banyak menulis. Devan mengoleskan antiseptic dan menutupnya dengan plester.

​"Bodoh," bisik Devan pelan, suaranya parau. "Kenapa kamu tidak membela dirimu sendiri?"

Keheningan di ruang perawatan itu pecah ketika pintu ganda terbuka dengan kasar. Sosok Adam muncul dengan napas terengah dan wajah yang dipenuhi kecemasan, namun berubah menjadi tegang saat melihat Devan duduk di samping tempat tidur Vanya sambil menyentuh jemari gadis itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • ANESTESI RINDU   SPESIAL CHAPTER 2

    Suasana di koridor depan ruang bersalin VIP RS Medika Center siang itu benar-benar menguji ketahanan mental siapa pun yang lewat. Di dalam ruangan, singa betina yang telah lama tidur kini resmi terbangun kembali demi menyambut kelahiran anak keduanya. ​Sherin yang kini sudah berusia empat tahun duduk manis di kursi tunggu koridor, mengenakan gaun merah muda yang mengembang. Di sebelah kanan dan kirinya, Om Bram dan Om Nathan bertindak sebagai pengawal pribadi sekaligus sasaran empuk pertanyaan kritis sang bocah. ​"Om Nathan, kenapa Mommy teriak-teriak panggil Daddy di dalam? Mommy lagi berantem ya sama Daddy?" tanya Sherin polos, mendongak menatap Nathan dengan mata bulatnya yang jernih. ​Nathan meringis, meraba kepalanya sendiri seolah bisa merasakan trauma rambut dijambak saat Dila melahirkan anak pertama mereka. "Enggak, Sherin... Mommy lagi berjuang ngeluarin adik laki-laki buat Sherin. Nah, Daddy di dalam tugasnya jadi... sasaran Mommy." ​Bram yang duduk di sebelah mereka

  • ANESTESI RINDU   EPILOG : AKHIR CERITA

    Ruang kerja Kepala Departemen Bedah RS Medika Center yang biasanya rapi dan hanya dipenuhi dokumen medis, siang ini mendadak berubah fungsi menjadi zona bermain anak. ​Di atas karpet bulu tebal yang sengaja digelar di dekat meja kerja Devan, seorang balita perempuan berpipi gembul dengan kuncir dua berbentuk air mancur sedang duduk dengan tenang. Namanya Sherina Alaric, atau yang akrab dipanggil Sherin. Bocah berusia dua tahun itu kini sedang sibuk menyusun balok-balok mainan, sama sekali tidak mempedulikan dua dokter spesialis di hadapannya yang sudah tampak seperti rongsokan bernyawa. "Nath... tolonglah, Nath. Gantian," bisik Bram dengan suara serak, nyaris menyembah di depan Nathan. Jas dokter Bram sudah kusut tak berbentuk, kancing paling atasnya lepas, dan stetoskopnya kini justru terkalung pasrah di leher sebuah boneka beruang besar milik Sherin. ​"Nggak bisa, Bram! Perjanjiannya kan jelas. Jam satu sampai jam dua itu shift kamu yang jadi kuda-kudaan!" balas Nathan tak

  • ANESTESI RINDU   BAB 150 SPECIAL CHAPTER

    "Lihat, Mas. Lucu banget, kan? Mirip banget sama kamu," bisik Vanya lembut, menatap lekat bayi laki-laki yang tengah tertidur lelap dalam dekapannya.​Devan tersenyum manis. Sepasang mata cokelat madunya menatap penuh haru ke arah makhluk suci itu, lalu dengan sangat hati-hati, ibu jarinya bergerak mengusap lembut pipi sang bayi.​"Iya, Sayang. Mirip sekali denganku," sahut Devan, suaranya melembut bahagia menyambut kehadiran bayi yang baru saja lahir ke dunia.​"Malam ini aku akan menjaganya," ucap Devan setengah berbisik, berhati-hati agar tidak membangunkan makhluk menggemaskan yang sedang terlelap itu.​"Aku juga mau menjaganya," protes Vanya langsung, melirik tak suka ke arah suaminya sambil mengerucutkan bibir.​Devan terkekeh pelan, mengusap puncak kepala istrinya dengan gemas. "Kamu nanti kecapekan, Sayang."​"Nggak! Aku nggak capek sama sekali. Pokoknya malam ini aku mau ikut menjaganya," keukeuh Vanya tidak mau kalah."Tapi kalau kamu kecapekan nanti bisa sakit, Sayang."​"A

  • ANESTESI RINDU   BAB 149 FINAL CHAPTER

    Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaian bedah dengan pakaian miliknya, Devan melangkah keluar dari area steril ruang operasi. Langkah kakinya yang panjang terdengar di sepanjang koridor lantai tiga yang sunyi. Begitu pintu geser otomatis menuju ruang tunggu terbuka, pandangan Devan langsung terkunci pada satu sosok mungil yang duduk di barisan kursi tunggu. ​Vanya ada di sana, sedang merapatkan kedua tangannya di depan dada, tampak menemani ketiga remaja Indonesia yang kini sudah jauh lebih tenang. ​Mendengar suara pintu terbuka, Vanya seketika mendongak. Begitu matanya menangkap sosok Devan yang berjalan menghampiri dengan raut wajah lelah sekaligus lega karena telah berhasil menyelamatkan Dimas di meja operasi, Vanya langsung berdiri dari duduknya. ​Ketiga remaja itu pun ikut berdiri dengan tatapan penuh harap dan cemas. ​"Mas Devan..." lirih Vanya, melangkah beberapa langkah mendekati suaminya. ​Devan tersenyum tipis, tatapannya melembut khusus untuk istrinya sebe

  • ANESTESI RINDU   BAB 148 KERJASAMA TIM

    Vanya berjalan lunglai menuju ruang tunggu di depan koridor kamar operasi. Tubuhnya masih lemas setelah salah menangkap informasi tentang kecelakaan turis Indonesia berjaket biru yang ia pikir adalah suaminya. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi besi yang dingin, mencoba menata detak jantungnya yang perlahan mulai kembali normal meski tangannya masih sedikit gemetar.​Di salah satu sudut bangku yang tidak jauh darinya, ketiga teman korban jatuh itu tampak duduk berkerumun dengan tubuh lemas dan wajah yang sembap karena tangis.​Baru saja Vanya hendak memejamkan mata untuk menenangkan pikiran, terdengar suara langkah kaki mendekat. Seorang perawat wanita Jepang dengan seragam bernuansa merah muda lembut melangkah menghampirinya. Di kedua tangannya, perawat itu membawa sebotol air mineral dingin dan sebuah handuk kecil yang bersih.​Perawat itu membungkuk sedikit dengan sopan, memberikan senyuman hangat yang menenangkan sebelum mengulurkan air mineral kepada Vanya.​"Excuse me, Madam,"

  • ANESTESI RINDU   BAB 147 LICENSE TO OPERATE

    Vanya bergerak secepat yang ia bisa. Mengabaikan penampilannya yang berantakan dan napasnya yang terasa mencekik akibat udara dingin, ia langsung berlari keluar menuju area depan resor ski. Beruntung, sebuah taksi baru saja menurunkan penumpang di lobi luar. Tanpa membuang waktu, Vanya langsung membuka pintu dan melompat masuk ke kursi belakang.​"Minamiuonuma Hospital! Please, hurry!" seru Vanya dengan suara bergetar kepada pengemudi taksi, seorang pria paruh baya Jepang.​Melihat kepanikan yang luar biasa dari penumpangnya, sang sopir hanya mengangguk cepat dan langsung menginjak pedal gas dalam-dalam. Sepanjang perjalanan menembus jalanan bersalju Niigata, Vanya tidak berhenti meremas kedua tangannya sendiri. Air matanya mengalir deras membasahi pipi.​Pikirannya terus berputar pada kata-kata petugas informasi tadi. Jaket biru. Turis Indonesia. Kritis. Semua ciri-ciri itu mengarah tepat pada Devan. Ketakutan terbesar dalam hidupnya kembali mendera, ketakutan akan kehilangan Devan u

  • ANESTESI RINDU   BAB 146 JAKET BIRU

    Suara teriakan histeris itu terdengar jelas di telinga Devan. Itu bukan bahasa Jepang, bukan pula bahasa Inggris. Itu adalah teriakan panik dalam bahasa Indonesia. ​Devan menahan laju papannya seketika, melakukan rem darurat hingga serpihan es tebal terlempar ke udara. Ia menoleh tajam ke arah jar

  • ANESTESI RINDU   BAB 144 MALAM PERTAMA (+18)

    Suasana sore hari, langit Tokyo mulai berubah warna menjadi keunguan saat Devan dan Vanya berjalan bergandengan tangan menyusuri kawasan tradisional Asakusa. Setelah momen mengharukan yang menguras energi di pemakaman tadi siang, Devan sengaja membawa Vanya berjalan-jalan santai untuk mengembalikan

  • ANESTESI RINDU   BAB 141 OUR WEDDING

    Hari yang dinanti itu akhirnya tiba, membawa suasana yang begitu mendebarkan di salah satu hotel bintang lima dengan konsep semi outdoor di pinggiran kota. Dekorasi didominasi oleh bunga-bunga segar berwarna putih, peach, dan sentuhan biru pastel yang lembut, sebuah hasil dari perdebatan tentang wa

  • ANESTESI RINDU   BAB 140 MALAM BUJANG

    ​"Ah, aku sudah tidak kuat lagi!" erang Bram saat mengempaskan botol minuman ketiganya ke atas meja. ​Malam ini, Nathan memang sengaja menyeret paksa Devan dan Bram menuju bar hotel bintang lima yang biasa ia kunjungi, sekedar untuk minum dan melarikan diri sejenak dari penatnya ruang operasi.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status