بيت / Romansa / ANESTESI RINDU / BAB 9 BERITA HEBOH

مشاركة

BAB 9 BERITA HEBOH

مؤلف: Yoongina
last update تاريخ النشر: 2026-02-10 15:28:28

"Apa yang kamu lakukan pada Vanya?" tanya Adam dengan suara meninggi, melangkah lebar mendekati tempat tidur. "Dokter Siska bilang dia pingsan di ruanganmu. Kamu menyiksanya dengan banyak tugas karena dia seorang residen kan?"

​Devan berdiri perlahan. Tubuhnya yang lebih tinggi dan tegap menciptakan bayangan mengancam saat ia berhadapan langsung dengan Adam. Tidak ada lagi sapaan formal antardokter. Di mata Devan, pria di hadapannya ini bukan lagi seorang spesialis jantung tamu, melainkan sumbe
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • ANESTESI RINDU   BAB 44 PINDAH RUMAH SAKIT

    Fajar menyingsing dengan warna abu-abu yang suram, seolah turut merasakan kelelahan jiwa dari penghuni kediaman Alaric. Devan terbangun dengan rasa mual yang melilit perutnya. Setiap jengkal kulitnya terasa kotor, kejadian semalam terasa seperti peristiwa yang menyesakkan paru-parunya. Semalam, ​tanpa sepatah kata pun pada Evelyn yang masih terlelap, ia bergegas meninggalkan apartemen Evelyn dan kembali kerumah tanpa pamit. Devan mengusap kasar wajah nya yang terlihat lelah dan berjalan cepat menuju kamar mandi untuk membasuh semua jejak yang Evelyn tinggalkan di tubuhnya. Teringat akan Vanya, Devan mengakhiri aktivitasnya di kamar mandi dan berpakaian dengan terburu-buru lalu segera melesat menuju rumah sakit tempat Vanya dirawat. Pagi ini, ia akan menemui ibu Kemuning terlebih dahulu untuk meminta persetujuan pemindahan Vanya dari sana. untung saja, jalanan pagi ini tidak terlalu buruk, membuatnya cepat tiba di rumah sakit. Setelah mendapatkan parkir untuk mobilnya yang bukan

  • ANESTESI RINDU   BAB 43 RAGA YANG TERBELENGGU

    "Aku mau kamu melupakan Vanya malam ini dan hanya melihatku," bisik Evelyn serak, gairah yang coba ia buat membuat nafas mereka beradu. ​Evelyn kembali mendekatkan tubuhnya, mencari sela untuk membelitkan jemarinya di tengkuk Devan. Ia memberikan kecupan-kecupan kecil di rahang dan leher Devan yang mengeras, berusaha menggoyahkan pertahanannya. ​Devan memejamkan mata rapat-rapat. Jantungnya berdetak cepat, bukan karena cinta, melainkan karena insting seorang laki-laki yang bertarung dengan rasa muak di dalam dadanya. Setiap sentuhan Evelyn telah berhasil membangkitkan gairahnya. Namun, sisi hatinya yang lain, kembali mengingatkan Devan akan bayangan wajah Vanya yang pucat di bangsal ICU dan menunggu pertolongannya. ​"Eve..." geram Devan rendah dengan mata terpejam, sebuah peringatan sekaligus tanda bahwa ia mulai kehilangan kendali atas dirinya sendiri karena gadis itu terus mencium lehernya dan meninggalkan tanda kepemilikan di sana. ​Evelyn menyeringai tipis di balik bahu De

  • ANESTESI RINDU   BAB 42 MENJATUHKAN HARGA DIRI

    "Kamu gila, Mas! Bagaimana kalau aku hamil?" Evelyn berteriak sambil mendorong kasar tubuh kekar laki-laki yang masih berada tepat di atasnya. Napasnya memburu, karena kepanikan yang tiba-tiba menyergap setelah gairah yang baru saja tercipta. ​"Kenapa waktu itu kamu tidak menikah denganku saja, Eve? Aku benar-benar mencintaimu," sahut laki-laki itu dengan suara serak, matanya menatap Evelyn dengan pemujaan yang mendalam. ​"Sinting!" Evelyn mendesis, segera meraih pakaian miliknya yang berserakan di lantai marmer apartemen mewah itu. "Lebih baik kamu pergi sekarang. Sebentar lagi tunanganku akan datang, dan aku tidak mau dia melihatmu di sini!" ​Laki-laki itu bangkit, menatap punggung cantik Evelyn dengan kilat amarah di matanya. Dengan gerak gontai, ia memungut kemejanya yang tergeletak di lantai, lalu melangkah mendekati Evelyn yang sedang sibuk merapikan diri di depan cermin besar. ​"Apa lagi? Cepat pergi sekarang!" bentak Evelyn tanpa menoleh. ​Bukannya melangkah pergi, la

  • ANESTESI RINDU   BAB 41 HARGA SEBUAH PENGORBANAN

    "Benar-benar memalukan! Kamu dan kakakmu bersekongkol untuk mempermalukan Papa dan Mama di depan keluarga Harrington!" Teriakan Frans menggema, memecah keheningan ruang kerja kediaman Alaric yang luas. Devan dan Aurel hanya bisa terdiam, tertunduk menerima amukan sang ayah malam ini. ​"Siapa sebenarnya gadis itu?! Sampai kalian berdua bekerja sama hanya untuk menolongnya?" Mata Frans berkilat tajam, tertuju lurus pada Devan. ​"Jawab, Devan!" bentaknya sambil memukul meja kerja dengan keras. Suara hantaman itu membuat Devan tersentak, namun ia perlahan mengangkat kepalanya, menatap wajah murka Frans yang duduk di kursi kebesarannya. ​Devan hanya menatap dingin sang ayah. Bibirnya terkatup rapat seolah terkunci, namun deru napasnya yang naik-turun menandakan ia sedang berjuang hebat mengatur gejolak emosi di dadanya. ​"Apa dia itu 'Rossa' kedua? Gadis miskin itu kekasihmu, hah?" desak Frans sinis, tak sabar karena Devan terus bungkam. ​Mendengar hinaan yang keluar dari mulut papany

  • ANESTESI RINDU   BAB 40 KEMUNING DAN KETAKUTANNYA

    "Dokter Devan, saya mau mengucapkan terima kasih untuk semuanya." Ucap ibu Kemuning lembut saat Aurel dan Devan membawanya ke kantin rumah sakit agar Kemuning bisa sedikit saja mengisi perutnya setelah beberapa jam menegangkan di ruang ICU. "Sama-sama bu Kemuning. Ini sudah menjadi kewajiban saya." Jawab Devan tertunduk sambil menikmati teh hangat di tangannya yang terasa beku. Hilangnya memori Vanya cukup membuat hatinya membeku seakan terkena obat Anestesi rindu yang membuatnya kehilangan gadis itu. Aurel menyadari kesedihan yang Devan alami. Dengan lembut ia mengusap pelan punggung adiknya dengan penuh kasih sayang. "Devan, makanlah sedikit. Kamu belum menyentuh makananmu sejak tiba di sini," ujar Aurel lembut, suaranya penuh rasa khawatir. Ia tahu persis bahwa di balik wajah dingin adiknya, ada badai yang sedang berkecamuk. ​Devan hanya mengangguk samar, namun matanya tetap tertuju pada uap teh yang membubung tipis. Pikirannya melayang kembali ke bangsal nomor dua. Bayangan

  • ANESTESI RINDU   BAB 39 AKU MERINDUKANMU

    Suasana hangat yang baru saja tercipta antara Devan dan Ibu Kemuning mendadak membeku. Kehadiran Evelyn di ambang pintu ICU bagaikan badai yang menghempas ketenangan ruangan yang steril itu. Dengan langkah yang angkuh dan sepatu hak tinggi yang berbunyi tajam di atas lantai, Evelyn mendekat, menatap ke arah ranjang Vanya. ​"Keluar, Evelyn. Ini ruang ICU," desis Devan, suaranya penuh penekanan. ​Evelyn tertawa hambar, sebuah suara yang terdengar sumbang di tengah bunyi mesin pemantau jantung. "Aku datang hanya ingin mengingatkan fakta. Surat pemindahan tugasmu ke Wellness Hospital sudah ditandatangani Papa. Secara administratif, kamu tidak punya hak akses di sini, apalagi menangani pasien." ​Vanya, yang masih dalam kondisi bingung dan lemah, tampak semakin ketakutan. Ia mencengkeram pinggiran selimutnya, matanya bergerak gelisah menatap Evelyn yang tampak sangat membencinya meski ia sendiri tidak tahu mengapa. Bunyi beep pada monitor jantung Vanya mulai bereaksi, menandakan detak ja

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status