بيت / Romansa / ANESTESI RINDU / BAB 7 HUKUMAN

مشاركة

BAB 7 HUKUMAN

مؤلف: Yoongina
last update تاريخ النشر: 2026-02-10 14:11:31

Vanya mempercepat langkahnya, berharap Adam tidak melihatnya berjalan menuju kafetaria. Namun, sepertinya sosok Vanya memang telah dinantikan. Dari sudut mata Adam, ia bisa melihat sosok Vanya melintas didepannya dengan tergesa.

"Vanya, tunggu. Kita belum selesai bicara," panggil Adam mendekati.

Vanya menghela nafas pendek dan menghentikan langkahnya. Adam kini sudah berada di hadapannya dengan wajah sendu menatap Vanya. Tatapan seseorang yang menahan rindu sekian lama.

Vanya yang sepenuhnya telah melupakan sosok Adam dalam hatinya karena sudah ada penghuni lain yang masuk kesana, menatap sebaliknya, dengan perasaan jengkel dan merasa sangat terganggu.

"Ada apa lagi, dok?saya harus segera kembali ke IGD."

Tangan Adam bergerak hendak meraih tangan Vanya, namun gadis itu segera melipat kedua tangannya di dada. Membuatnya mengurungkan niatnya.

"Tolong buka blokir handphonemu, ijinkan aku menghubungi dan memperbaiki hubungan kita. Aku serius. Aku tidak bisa melupakanmu, Vanya."

Vanya tertawa kecil "Buat apa, dok. Aku bukan tipe wanita yang masih terjebak dengan masa lalu. Bagiku, kamu hanya mantan. Bukan masa depan."

Adam terdiam. Ia tidak menyangka kalau Vanya yang dulu tergila-gila padanya, bisa secepat itu berubah. Padahal, hubungan mereka baru putus 10 bulan lalu saat ia meninggalkan gadis itu demi Evelyn.

"Ijinkan aku menebus kesalahanku. Kalau kamu mau, aku akan datang ke Bandung, melamarmu."

Vanya terkejut dengan ucapan Adam yang seakan menganggap hatinya hanyalah sebuah mainan. Setelah meninggalkan begitu saja, sekarang dengan mudahnya dia mengatakan akan datang kerumahnya di Bandung, untuk melamar.

"Maaf, Mas!Aku tidak ada waktu untuk basa basi." Geram Vanya berniat melangkah pergi dari sana.

Tapi Adam dengan cepat mencengkeram kuat tangan Vanya, membuat gadis itu meringis kesakitan.

"Mas, Lepasin!Ini Rumah Sakit."

"Justru itu, aku pikir kita perlu bicara serius diluar." Adam menyeret Vanya menuju parkir mobil.

"Mas, aku nggak bisa keluar. Kamu tahu aku masih seorang residen disini. Aku harus stanby di IGD!"

Adam seakan ditulikan oleh keegoisannya. Ia tidak mendengar penolakan Vanya. Tangannya terus menyeret Vanya menuju sedan hitam miliknya yang terparkir di depan lobi Rumah Sakit.

Vanya dan Adam tidak menyadari, di sudut lobi, dua bola mata indah menatap kepergian mereka dengan senyum kemenangan.

***

​"Di mana Dokter Vanya?" tanya Devan tajam pada Siska. Tangannya masih menekan kuat luka di paha pasien kecelakaan yang baru saja tiba dengan kondisi kritis. Darah segar terus merembes di sela-sela jarinya.

​Evelyn, yang sedang berdiri di sisi lain brankar, melirik tak suka mendengar Devan menyebut nama Vanya di tengah situasi seperti ini. Ia segera mengambil alih perhatian Devan.

​"Aku akan membantu di ruang operasi, Dok," sergah Evelyn sebelum Siska sempat menjawab. "Aku sudah siap."

​Devan tidak membalas tawaran Evelyn. Matanya terpaku pada monitor yang menunjukkan angka tekanan darah yang terus merosot. "Siapkan segera ruang operasi satu. Pasien ini mengalami indikasi pecahnya pembuluh darah Arteri Femoralis dan kemungkinan cedera dalam karena terbentur benda Tumpul. Ada perdarahan internal hebat yang harus segera dihentikan!"

​"Siska! Panggil Vanya sekarang! Dia yang memegang laporan hemodinamik pasien serupa kemarin, saya butuh dia untuk memantau stabilitas cairan saat saya melakukan clamping!" perintah Devan dengan nada yang tidak bisa dibantah.

​Siska segera berlari ke meja perawat dan mencoba menghubungi ponsel Vanya, namun wajahnya berubah cemas. "Dok, ponsel Dokter Vanya tidak merespon panggilan."

"Tadi selesai operasi, aku lihat dokter Vanya pergi dengan teman laki-lakinya." Ujar Evelyn mencoba meracuni pikiran Devan, sekaligus merasa memiliki kesempatan emas untuk menjatuhkan gadis itu di depan Devan sebagai bentuk pembalasannya.

​Gerakan tangan Devan terhenti sesaat. Rahangnya mengeras. 'Pasti laki-laki berpakaian dokter di kafetaria pagi tadi,' batin Devan. "Dia pergi? di jam dinas?" suara Devan meninggi karena emosi.

​Evelyn menyunggingkan senyum tipis yang tersembunyi di balik maskernya. "Aku sudah bilang, dia belum cukup dewasa untuk memisahkan urusan pribadi dengan profesi."

​Devan mengabaikan komentar Evelyn, meski dalam hati ia merasa kecewa yang luar biasa. "Evelyn, masuk ke posisi asisten dua. Siska, hubungi dr. Bram untuk segera datang ke rumah sakit, sebagai posisi asisten satu. Kita tidak bisa menunggu orang yang tidak bertanggung jawab, sekarang!"

​Sementara itu, di dalam mobil yang melaju menjauh dari area rumah sakit, Vanya duduk mematung dengan tangan yang masih gemetar. Di sampingnya, Adam mengemudi dengan wajah tegang, sesekali melirik Vanya.

​"Turunkan aku, Mas! Aku harus stanby di Rumah Sakit karena hari ini dokter Devan menempatkan ku sebagai asisten satu bila ada operasi mendadak!" seru Vanya dengan suara parau. Ia baru sadar betapa bodohnya ia mengikuti tarikan tangan Adam tadi hingga sampai ke parkiran.

​"Hanya sebentar, Van. Kita perlu bicara," sahut Adam keras kepala, sambil mengunci pintu otomatis mobilnya.

​Vanya meraba sakunya, mencari ponsel untuk menghubungi siska agar bisa menyampaikan ijinnya pada dokter Devan. Namun, saat ia meraih benda pipih itu, terdapat panggilan tak terjawab sebanyak dua kali dari Siska. Ia pun melakukan panggilan ulang ke nomer sahabatnya itu. Setelah panggilan ketiga, Siska masih tidak mengangkat panggilannya. Vanya berpikir mungkin Siska menelepon karena ingin mengajaknya makan siang.

Vanya menghela nafas pelan, ia berpikir untuk langsung menghubungi Devan agar bisa mengijinkannya keluar sebentar saja. Jantungnya berdetak gelisah. Devan baru memujinya di ruang operasi, tapi sekarang, ia malah menghilang saat jam tugas. Vanya merasa karier yang ia bangun dengan susah payah di depan Devan, mungkin hancur hari ini.

Panggilan pada nomer Devan pun sia-sia. Dokter spesialis bedah itu tidak mengangkat panggilan Vanya setelah lima kali panggilan.

***

Vanya terus berlari menuju IGD setelah Adam mengantarnya kembali ke Rumah Sakit. Saat ini sudah pukul setengah tiga siang. Dia sudah menghilang selama dua jam lamanya, karena Adam tidak membiarkan nya pergi sebelum laki-laki itu selesai mengutarakan segala penyesalannya yang tidak ingin Vanya dengar.

"Vanya!darimana aja lo?dr. Devan marah besar, Van!" Siska melebarkan kedua bola matanya saat melihat Vanya datang dengan berlari ke ruang IGD.

Vanya tidak sempat menjawab Siska. Matanya tertuju pada papan jadwal dan ruang operasi satu yang lampunya baru saja padam, tanda operasi besar itu baru saja selesai. Di ujung koridor, sosok tinggi Devan muncul. Masih mengenakan seragam scrub bedahnya yang berwarna biru langit. Aura dingin yang terpancar darinya jauh lebih mencekam daripada suhu AC rumah sakit.

​Langkah Devan berhenti tepat tiga meter di depan Vanya. Ia tidak bicara, hanya menatap Vanya dengan tatapan yang seolah bisa menguliti harga diri seseorang.

​"Dokter Devan... saya..." suara Vanya tercekat di tenggorokan.

​"Masuk ke ruangan saya. Sekarang," ucap Devan datar, namun setiap kata yang keluar seperti dentum lonceng kematian bagi karier Vanya. Ia pun berlari kecil mengikuti langkah panjang Devan menuju ruangan nya.

​Di dalam ruangan, Devan melempar map laporan Vanya ke atas meja. "Dua jam, Dokter Vanya. Pasien hampir mati karena perdarahan masif, dan asisten satu yang saya percayai menghilang tanpa kabar untuk urusan pribadi di jam dinas."

​"Maaf, Dok. Saya tidak bermaksud—"

​"Saya tidak butuh alasan!" bentak Devan, membuat Vanya berjengit. Ini pertama kalinya Devan menaikkan suara. "Di meja operasi, detik adalah nyawa. Kamu baru saja membuktikan bahwa pujian saya tadi pagi adalah kesalahan besar. Kamu tidak lebih dari seorang amatir yang membiarkan urusan pribadi menjadi lebih penting daripada kesiagaan di ruang IGD."

​Devan menghela napas kasar, mencoba meredam amarahnya. "Kamu ingin menjadi residen bedah? Residen bedah tidak meninggalkan tempatnya hanya karena mantan kekasihnya datang memohon." Ucapan Devan tentu saja ia lontarkan setelah mendapat informasi dan intimidasi dari Evelyn, bahwa Vanya memilih pergi bersama mantan kekasih yang masih dicintainya daripada harus berdiam diri menunggu nyawa pasien yang bisa datang kapan saja tanpa diduga di ruang IGD.

​"Hukuman Anda, Dokter Vanya," lanjut Devan dengan nada yang kembali dingin dan tajam. "Mulai detik ini, status asisten satu Anda dicabut. Kamu dilarang masuk ke ruang operasi selama dua minggu ke depan. Tugasmu hanya di bangsal dan IGD, melakukan pekerjaan administratif dan perawatan dasar. Dan sebagai tambahan, kamu wajib membuat laporan analisis kasus pasien kecelakaan tadi sebanyak seratus halaman, tulis tangan, lengkap dengan literatur internasional. Serahkan pada saya besok pagi pukul tujuh."

​Vanya mematung. Dilarang masuk ruang operasi bagi seorang residen bedah adalah hukuman yang sangat berat, itu berarti dia kehilangan jam terbang berharga. Ditambah lagi membuat laporan 100 halaman dalam waktu singkat.

​"Tapi Dok, besok pagi? Seratus halaman?"

​Devan menatapnya tanpa belas kasihan. "Kalau merasa tidak sanggup, pintu keluar rumah sakit ini terbuka lebar. Saya tidak butuh dokter yang tidak bisa mengabdi. Silakan keluar!"

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • ANESTESI RINDU   BAB 44 PINDAH RUMAH SAKIT

    Fajar menyingsing dengan warna abu-abu yang suram, seolah turut merasakan kelelahan jiwa dari penghuni kediaman Alaric. Devan terbangun dengan rasa mual yang melilit perutnya. Setiap jengkal kulitnya terasa kotor, kejadian semalam terasa seperti peristiwa yang menyesakkan paru-parunya. Semalam, ​tanpa sepatah kata pun pada Evelyn yang masih terlelap, ia bergegas meninggalkan apartemen Evelyn dan kembali kerumah tanpa pamit. Devan mengusap kasar wajah nya yang terlihat lelah dan berjalan cepat menuju kamar mandi untuk membasuh semua jejak yang Evelyn tinggalkan di tubuhnya. Teringat akan Vanya, Devan mengakhiri aktivitasnya di kamar mandi dan berpakaian dengan terburu-buru lalu segera melesat menuju rumah sakit tempat Vanya dirawat. Pagi ini, ia akan menemui ibu Kemuning terlebih dahulu untuk meminta persetujuan pemindahan Vanya dari sana. untung saja, jalanan pagi ini tidak terlalu buruk, membuatnya cepat tiba di rumah sakit. Setelah mendapatkan parkir untuk mobilnya yang bukan

  • ANESTESI RINDU   BAB 43 RAGA YANG TERBELENGGU

    "Aku mau kamu melupakan Vanya malam ini dan hanya melihatku," bisik Evelyn serak, gairah yang coba ia buat membuat nafas mereka beradu. ​Evelyn kembali mendekatkan tubuhnya, mencari sela untuk membelitkan jemarinya di tengkuk Devan. Ia memberikan kecupan-kecupan kecil di rahang dan leher Devan yang mengeras, berusaha menggoyahkan pertahanannya. ​Devan memejamkan mata rapat-rapat. Jantungnya berdetak cepat, bukan karena cinta, melainkan karena insting seorang laki-laki yang bertarung dengan rasa muak di dalam dadanya. Setiap sentuhan Evelyn telah berhasil membangkitkan gairahnya. Namun, sisi hatinya yang lain, kembali mengingatkan Devan akan bayangan wajah Vanya yang pucat di bangsal ICU dan menunggu pertolongannya. ​"Eve..." geram Devan rendah dengan mata terpejam, sebuah peringatan sekaligus tanda bahwa ia mulai kehilangan kendali atas dirinya sendiri karena gadis itu terus mencium lehernya dan meninggalkan tanda kepemilikan di sana. ​Evelyn menyeringai tipis di balik bahu De

  • ANESTESI RINDU   BAB 42 MENJATUHKAN HARGA DIRI

    "Kamu gila, Mas! Bagaimana kalau aku hamil?" Evelyn berteriak sambil mendorong kasar tubuh kekar laki-laki yang masih berada tepat di atasnya. Napasnya memburu, karena kepanikan yang tiba-tiba menyergap setelah gairah yang baru saja tercipta. ​"Kenapa waktu itu kamu tidak menikah denganku saja, Eve? Aku benar-benar mencintaimu," sahut laki-laki itu dengan suara serak, matanya menatap Evelyn dengan pemujaan yang mendalam. ​"Sinting!" Evelyn mendesis, segera meraih pakaian miliknya yang berserakan di lantai marmer apartemen mewah itu. "Lebih baik kamu pergi sekarang. Sebentar lagi tunanganku akan datang, dan aku tidak mau dia melihatmu di sini!" ​Laki-laki itu bangkit, menatap punggung cantik Evelyn dengan kilat amarah di matanya. Dengan gerak gontai, ia memungut kemejanya yang tergeletak di lantai, lalu melangkah mendekati Evelyn yang sedang sibuk merapikan diri di depan cermin besar. ​"Apa lagi? Cepat pergi sekarang!" bentak Evelyn tanpa menoleh. ​Bukannya melangkah pergi, la

  • ANESTESI RINDU   BAB 41 HARGA SEBUAH PENGORBANAN

    "Benar-benar memalukan! Kamu dan kakakmu bersekongkol untuk mempermalukan Papa dan Mama di depan keluarga Harrington!" Teriakan Frans menggema, memecah keheningan ruang kerja kediaman Alaric yang luas. Devan dan Aurel hanya bisa terdiam, tertunduk menerima amukan sang ayah malam ini. ​"Siapa sebenarnya gadis itu?! Sampai kalian berdua bekerja sama hanya untuk menolongnya?" Mata Frans berkilat tajam, tertuju lurus pada Devan. ​"Jawab, Devan!" bentaknya sambil memukul meja kerja dengan keras. Suara hantaman itu membuat Devan tersentak, namun ia perlahan mengangkat kepalanya, menatap wajah murka Frans yang duduk di kursi kebesarannya. ​Devan hanya menatap dingin sang ayah. Bibirnya terkatup rapat seolah terkunci, namun deru napasnya yang naik-turun menandakan ia sedang berjuang hebat mengatur gejolak emosi di dadanya. ​"Apa dia itu 'Rossa' kedua? Gadis miskin itu kekasihmu, hah?" desak Frans sinis, tak sabar karena Devan terus bungkam. ​Mendengar hinaan yang keluar dari mulut papany

  • ANESTESI RINDU   BAB 40 KEMUNING DAN KETAKUTANNYA

    "Dokter Devan, saya mau mengucapkan terima kasih untuk semuanya." Ucap ibu Kemuning lembut saat Aurel dan Devan membawanya ke kantin rumah sakit agar Kemuning bisa sedikit saja mengisi perutnya setelah beberapa jam menegangkan di ruang ICU. "Sama-sama bu Kemuning. Ini sudah menjadi kewajiban saya." Jawab Devan tertunduk sambil menikmati teh hangat di tangannya yang terasa beku. Hilangnya memori Vanya cukup membuat hatinya membeku seakan terkena obat Anestesi rindu yang membuatnya kehilangan gadis itu. Aurel menyadari kesedihan yang Devan alami. Dengan lembut ia mengusap pelan punggung adiknya dengan penuh kasih sayang. "Devan, makanlah sedikit. Kamu belum menyentuh makananmu sejak tiba di sini," ujar Aurel lembut, suaranya penuh rasa khawatir. Ia tahu persis bahwa di balik wajah dingin adiknya, ada badai yang sedang berkecamuk. ​Devan hanya mengangguk samar, namun matanya tetap tertuju pada uap teh yang membubung tipis. Pikirannya melayang kembali ke bangsal nomor dua. Bayangan

  • ANESTESI RINDU   BAB 39 AKU MERINDUKANMU

    Suasana hangat yang baru saja tercipta antara Devan dan Ibu Kemuning mendadak membeku. Kehadiran Evelyn di ambang pintu ICU bagaikan badai yang menghempas ketenangan ruangan yang steril itu. Dengan langkah yang angkuh dan sepatu hak tinggi yang berbunyi tajam di atas lantai, Evelyn mendekat, menatap ke arah ranjang Vanya. ​"Keluar, Evelyn. Ini ruang ICU," desis Devan, suaranya penuh penekanan. ​Evelyn tertawa hambar, sebuah suara yang terdengar sumbang di tengah bunyi mesin pemantau jantung. "Aku datang hanya ingin mengingatkan fakta. Surat pemindahan tugasmu ke Wellness Hospital sudah ditandatangani Papa. Secara administratif, kamu tidak punya hak akses di sini, apalagi menangani pasien." ​Vanya, yang masih dalam kondisi bingung dan lemah, tampak semakin ketakutan. Ia mencengkeram pinggiran selimutnya, matanya bergerak gelisah menatap Evelyn yang tampak sangat membencinya meski ia sendiri tidak tahu mengapa. Bunyi beep pada monitor jantung Vanya mulai bereaksi, menandakan detak ja

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status