Share

Bab 7

Author: Mr. Crawford
last update publish date: 2025-04-03 09:00:00

Semua orang terdiam mendengar perkataan Tegar. Namun secara tiba-tiba, salah satu dari ibu-ibu di sana dengan sinis berkata, "Hey Tegar. Anisa istrimu? Lalu apakah kau pernah memperlakukan dia sebagai istri? Kami semua yang ada di sini tau, kau memperlakukan Anisa tidak lebih dari seperti seorang pembantu. Pembantu lebih baik, karena dia akan mendapatkan gaji. Namun Anisa, bukan hanya tidak pernah kau berikan dia uang, tapi juga kau siksa dengan pekerjaan-pekerjaan berat setiap hari! Apakah itu yang disebut istri?"

Meskipun memang salah, namun Tegar tetap berdalih, "Lah, bukankah memang sudah tugasnya istri untuk melayani suami dan keluarganya? Dia melakukan pekerjaan berat juga bukan karena paksaan dari kami. Dia melakukannya dengan sukarela, kami tidak pernah memaksanya."

Mendengar yang dikatakan Tegar, ibu-ibu tadi terkekeh, "Ha ha ha... Tegar... Oh Tegar... Kau pikir kami semua yang ada di sini tidak tau? Tidak dipaksa kau bilang? Dengan ancaman dia akan di usir jika tidak melakukan pekerjaan berat itu, apakah kau pikir itu bukan paksaan? Kau ini pura-pura bodoh atau benar-benar bodoh sih, sebenernya?"

Meskipun yang dikatakan ibu-ibu ini benar, namun Tegar masih saja berdalih, "Ha ha... Ya, mungkin jika melihatnya dari sudut pandang kalian semua, memang terlihat begitu. Tapi percayalah, kami sudah menjalani hubungan kami dengan baik. Anisa juga tidak pernah mengeluhkan pekerjaan-pekerjaan itu. Dan dia juga tahu, saya tidak melakukannya dengan maksud buruk. Jadi tidak usah terlalu banyak campur tangan dalam urusan keluarga kami, itukan masalah rumah tangga kami. Dan sekarang, maaf kami tidak bisa melayani kalian semua dengan sempurna. Semua tamu silakan pulang."

Ibu barusan tersenyum sinis, "Heh, sekarang sudah kelihatan kan Ibu-ibu, inilah sifat seorang Tegar yang sesungguhnya. Dia mengusir kita, padahal kita datang untuk berbela sungkawa padanya. Hanya karena kita sedikit membicarakannya, dia langsung tersinggung dan mengusir kita. Dari sini saja sudah terlihat, kalau yang kita bicarakan itu semuanya benar! Ayo kita pergi! Kita sudah tidak diinginkan lagi di sini!"

"Ya, Ibu benar. Kelihatan banget sifatnya. Mulai sekarang, aku tidak akan membiarkan anakku bergaul lagi dengan orang model begini!" sahut ibu-ibu lain. 

"Aku juga, tidak akan membiarkan anakku bergaul dengan orang modelan gini!" sahut lainnya lagi. 

Dan begitu seterusnya, sampai semua ibu-ibu di sana berdiri dan mulai melangkahkan kaki, pergi dari rumah Tegar. 

Melihat para tetangga satu persatu pergi bahkan sebelum jenazah cucunya dimakamkan, Minah yang sedang menemani tamu lain segera bergegas mendekat. "Eh, Ibu-ibu sudah mau pulang saja?" Dia mencoba bersikap ramah. 

"Ya. Kita memang tidak diinginkan di sini. Jadi buat apa berlama-lama di tempat ini?" jawab salah satu dari mereka, sinis. 

Minah terlihat bingung karena tidak tahu apa yang terjadi, "Haaa? Apa maksud kalian? Kalian tentu sangat diinginkan. Hey, tung..." Minah menghentikan ucapannya, sebelum berbalik menatap Tegar dan bertanya, "Hey Tegar, ada apa ini sebenarnya? Kenapa para tetangga itu pergi, bahkan sebelum cucuku dimakamkan?"

Tegar menghela nafas dan menatap Minah, "Sudahlah Ibu... Biarkan saja orang-orang seperti mereka pergi! Mereka memang tidak seharusnya ada di sini."

Minah mengerutkan dahinya, "Hei, apa maksudmu bicara seperti itu? Mereka itu tetangga kita. Bagaimana bisa tidak seharusnya ada di sini? Apa yang sebenarnya telah kau katakan pada mereka? Sampai-sampai membuat mereka tersinggung dan pergi begitu saja?"

Belum sempat Tegar menjawab, seorang tamu tiba-tiba bediri dan berkata, "Bu Minah dan Tegar, kami turut berduka cita atas kejadian yang menimpa Anisa dan bayinya. Semoga keluarga diberikan kesabaran, Anisa juga lekas sembuh dan diberikan ketabahan. Sekarang, kami harus pamit, karena banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Sampai ketemu lagi di lain waktu dan dalam keadaan yang baik."

Minah dan Tegar tentu terkejut mendengar yang dikatakan tamu barusan. "Sekarang? Apakah benar-benar harus sekarang? Tidak bisa ditunda sebentar lagi?" tanya Minah. 

"Tidak bisa, Ibu. Kami harus bekerja. Dan itu sudah tidak bisa ditunda lagi," jawab tamu tadi smbil tersenyum. 

Meskipun dia tersenyum, namun sebenarnya dia merasa geram pada Tegar dan Ibunya. Setelah mendengar yang dikatakan tetangga-tetangganya tadi, semua tamu-tamu ini menjadi tahu kalau ternyata seperti inilah sifat asli Tegar dan keluarganya. 

Lagian, sebagian besar tamu yang hadir adalah teman-teman Anisa. Saat mendengar kalau teman mereka selalu ditindas, tentu mereka merasa marah. 

Membuat mereka merasa tidak ada alasan lagi untuk berlama-lama di tempat ini. Karena saat ini, Anisa juga tidak ada di sini dan masih dirawat di rumah sakit. 

Tegar dan Minah tidak bisa berbuat apa-apa, saat orang-orang ini mulai berpamitan dan pergi satu persatu. Hingga di rumah itu, benar-benar tidak ada orang lain selain mereka dan Dinda saja. 

"Lihatlah Tegar? Setelah semua tamu pergi, tidak ada lagi orang yang ada di rumah kita? Bicara apa kau dengan para tetangga, sehingga membuat mereka tersinggung dan pergi begitu saja?" tanya Minah benar-benar penasaran. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • ASI Untuk Bayi Miliuner   Bab 80

    Anisa ragu. Tapi akhirnya mengangguk. “Hati-hati. Dia agak manja.”Ibu Safak menerima Jihan dengan gerakan yang sangat lembut. Bayi itu sempat merengek, tapi kemudian menatap wajah neneknya dengan penasaran.“Hai, cucuku,” bisik Ibu Safak. “Nenek datang terlambat. Maaf ya.”Ayah Safak berdiri di samping istrinya. “Dia makin besar.”Widia tersenyum kecil. “Karena ASI Kak Nisa.”Ibu Safak menatap Anisa. “Terima kasih.”Anisa hanya mengangguk.Mereka duduk lagi. Jihan bergantian digendong. Suasana perlahan mencair. Percakapan mulai mengalir tentang hal-hal kecil: bagaimana Jihan suka digendong sambil digoyang, bagaimana dia hanya mau susu di jam-jam tertentu, bagaimana dia sudah bisa tertawa kecil saat digelitik.Anisa sesekali menjawab, tapi lebih banyak mendengar.Setelah hampir satu jam, Ibu Safak mengembalikan Jihan ke pelukan Anisa. “Kami harus pergi. Ada urusan di rumah.”Anisa men

  • ASI Untuk Bayi Miliuner   Bab 79

    Pagi itu matahari di Kota Kendal belum sepenuhnya terbit. Kabut tipis masih menyelimuti jalanan di depan rumah kontrakan Anisa. Di dalam, suasana terasa lebih sunyi dari biasanya. Jihan baru saja selesai menyusu dan kini tertidur di samping Anisa. Napas kecilnya teratur, tangan mungilnya sesekali menggenggam selimut tipis.Anisa duduk di tepi kasur, memandangi wajah bayi itu cukup lama. Semalam dia hampir tidak tidur. Kata-kata Ibu Safak terus terngiang. Ancaman itu, tatapan dinginnya, dan terutama kalimat terakhir sebelum pergi.“Besok Aku akan kembali. Dan kali ini, Aku tidak akan datang sendirian.”Anisa menghela napas pelan. “Apa yang akan terjadi hari ini, Nak?” bisiknya.Widia datang lebih pagi dari biasanya. Dia membawa dua bungkus roti dan sebotol susu formula cadangan. Begitu pintu dibuka, dia langsung masuk tanpa banyak basa-basi.“Kak, Mama belum hubungi aku sama sekali semalam,” kata Widia sambil

  • ASI Untuk Bayi Miliuner   Bab 78

    Mobil hitam berhenti. Pintu pengemudi terbuka. Safak turun dengan langkah cepat, wajahnya tegang. Dia langsung melihat ibunya berdiri di depan pintu, lalu Anisa dan Widia.“Mama?” Safak menghampiri. “Kenapa Mama di sini?”Ibu Safak berbalik. “Karena anakku tidak bisa jujur. Karena adikmu ikut menutupi. Dan karena perempuan ini sudah terlalu nyaman dengan cucuku.”Safak berdiri di antara mereka. “Mama, kita bicara di dalam.”“Tidak perlu. Aku sudah bilang apa yang aku mau. Serahkan Jihan.”Safak menatap Anisa sebentar. Matanya penuh permintaan maaf, tapi Anisa hanya mengalihkan pandangan.“Mama, Jihan tidak bisa dibawa malam ini,” kata Safak pelan. “Dia baru saja tidur. Dan Anisa yang merawatnya.”“Anisa?” Ibu Safak mengulang nama itu dengan nada mengejek. “Kamu bahkan sudah memanggilnya dengan lembut di depan Mama?”“Mama—”“Cukup, Safak. Mama sudah tahu semuanya. Kamu yang mengatur dia masuk perusahaan

  • ASI Untuk Bayi Miliuner   Bab 77

    "Mama?" ulang Widia dengan mata membelalak.Wanita itu mengangguk datar. "Iya. Ini Mama."Anisa menelan ludah. "Silakan masuk, Bu.""Tidak perlu. Aku hanya datang untuk satu hal," ucap wanita itu dingin. "Serahkan Jihan padaku. Dan mulai sekarang, jauhi Safak."Widia langsung berdiri di depan Anisa. "Mama! Mama tidak bisa seenaknya—""Siapa yang bicara?"Widia. "Aku, Ma. Karena Kak Nisa tidak salah apa-apa!"Wanita itu mendengus. "Tidak salah? Dia yang dulu meninggalkan anakku sampai dia hampir gila. Dan sekarang malah menyusui cucuku tanpa izin keluarga. Apakah itu tidak bisa di sebut salah?"Widia langsung melangkah maju, tubuhnya hampir menutupi Anisa dari pandangan ibunya. “Mama, tolong dengar dulu! Kak Nisa bukan orang yang Mama bayangkan. Dia—”“Diam, Widia.” Suara wanita itu tetap datar, tapi ada ketajaman yang membuat udara di depan pintu seolah membeku. “Aku tidak datang ke sini untuk mendengar

  • ASI Untuk Bayi Miliuner   Bab 76

    "Mama?" ulang Widia dengan mata membelalak.Wanita itu mengangguk datar. "Iya. Ini Mama."Anisa menelan ludah. "Silakan masuk, Bu.""Tidak perlu. Aku hanya datang untuk satu hal," ucap wanita itu dingin. "Serahkan Jihan padaku. Dan mulai sekarang, jauhi Safak."Widia langsung berdiri di depan Anisa. "Mama! Mama tidak bisa seenaknya—""Siapa yang bicara?"Widia. "Aku, Ma. Karena Kak Nisa tidak salah apa-apa!"Wanita itu mendengus. "Tidak salah? Dia menyusui cucuku tanpa izin keluarga."Widia. "Itu karena Jihan susah minum—"Wanita itu menjawab. "Itu urusan kami sebagai keluarga. Bukan urusan perempuan asing."Anisa menggigit bibir. "Bu, Jihan masih bayi. ASI saya masih dia butuhkan—"Wanita itu menjawab dingin. "Itu bisa diatasi dengan susu formula.""Tapi Jihan tidak mau!" tegas Anisa. "Jihan menangis setiap kali diberi susu biasa. Saya sudah mencoba—""Berhenti di sa

  • ASI Untuk Bayi Miliuner   Bab 75

    Dua hari berlalu.Selama dua hari itu, Anisa tetap masuk kerja, tetap mengerjakan tugasnya dengan rapi, tetap menyusui Jihan, tetap berbicara seperlunya dengan orang-orang di kantor.Namun kepada Safak, dia benar-benar menjaga jarak.Kalau ada hal yang harus disampaikan, dia memilih lewat Rio. Kalau Safak datang ke ruangannya, dia langsung berdiri dan keluar. Kalau ada pesan masuk dari laki-laki itu, dia baca, tapi tidak dibalas.Hari ketiga, Widia datang sore-sore ke rumah kontrakan Anisa sambil membawa beberapa buah dan bubur kacang hijau.Saat pintu dibuka, Anisa menatapnya cukup lama sebelum akhirnya mundur dan memberi jalan.“Masuk.”Widia langsung tersenyum lega. “Aku kira Kakak gak mau bukain pintu.”“Aku masih marah. Bukan berarti aku jadi orang jahat.”Widia tertawa kecil. “Iya, aku tahu.”Mereka duduk di ruang tengah. Jihan sedang tidur di kamar, sementara Dilla sedang membeli kebutuh

  • ASI Untuk Bayi Miliuner   Bab 6

    Perawat di sana juga terkejut melihatnya, "Astaga Ibu... Sepertinya ini air ASI. Dan ini banyak banget...""Air ASI? ASI ku keluar? Tapi..." Anisa terdiam saat mengingat bayinya sudah tiada. Dia menangis dan melanjutkan, "Seandainya saja kamu selamat, Nak. Kamu pasti kenyang

  • ASI Untuk Bayi Miliuner   Bab 5

    Dua penjaga keamanan itu lalu menarik Minah ke belakang. Tegar dengan sigap menangkap ibunya agar tidak terjatuh. Sementara itu, Anisa langsung terbatuk-batuk setelah terlepas dari cekikan Minah. "Ibu, berhati-hatilah dalam bertindak! Jaga sikap Ibu! Ini rumah sakit dan dilarang membuat keributan

  • ASI Untuk Bayi Miliuner   Bab 4

    Para perawat di sana segera mengikuti intruksi Widia. Bergegas mempersiapkan segala sesuatu untuk melakukan operasi kecil. Namun saat operasi akan dilakukan, bayi itu sudah tidak mengejang lagi. Lebih tepatnya dia sudah tidak bergerak, detak jantungnya hilang dan tidak bernafas. "Innalillahi..."

  • ASI Untuk Bayi Miliuner   Bab 3

    Berbalik, Widia dikejutkan dengan orang yang sangat dikenalnya ada di sana. "Kakak, apa yang kau... Apa? Darahmu Ab negatif? Sial, kenapa tidak terpikirkan olehku, jika satu keluarga kita golongan darahnya Ab negatif? Huh, jika tau begini, aku saja yang mendonorkannya sejak awal. Tidak perlu repot-

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status