Share

ASI Untuk Putra Sang CEO
ASI Untuk Putra Sang CEO
Author: Zinnia Azalea

Kemalangan Hidup

Author: Zinnia Azalea
last update Last Updated: 2024-11-06 13:56:04

Tangan Alana gemetar saat mengepel rumah sebesar istana itu. Napasnya tersengal, pinggang hingga kakinya terasa pegal dan kebas. Bekerja sebagai ART saat dirinya tengah hamil besar benar-benar membuat tenaganya terkuras.

Wanita berkulit putih itu tengah menyeka keringat yang bercucuran membasahi dahinya saat ART senior di rumah itu memanggilnya.

“Alana, kamu dipanggil Nyonya,” kata Bi Narti, menatap Alana prihatin.

Seharusnya dengan kondisinya yang sekarang, Alana beristirahat sambil menunggu kelahiran sang buah hati, bukannya bekerja tak kenal lelah seperti ini.

“Suamimu benar-benar nggak bisa diandalkan! Ke mana dia di saat kamu bekerja keras seperti ini?” gerutu Bi Narti, antara kesal dan juga kasihan pada Alana.

Alana hanya tersenyum miris. Heri, suaminya, tak pernah memberikan nafkah yang layak padanya. Ia bahkan dipaksa bekerja karena uang gaji suaminya sudah habis untuk bermain judi.

Alanalah yang memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari dengan gajinya sebagai ART. Miris memang, tapi di dunia ini masih ada pria seperti Heri.

“Aku akan menemui Nyonya dulu ya, Bi,” katanya. Ia mencoba bangkit walau kesusahan.

Bi Narti membantu Alana dan menuntunnya untuk menemui Nyonya rumah. "Nyonya sudah menunggumu. Bibi ke dapur lagi ya," katanya sambil pamit.

Alana tersenyum hangat dan berterima kasih. Ia masuk ke ruang keluarga di mana sang majikan sedang duduk dengan wajah angkuh.

Sesekali tangannya pun mengusap perut buncitnya. Amanda, sang majikan, pun tengah mengandung. Bahkan jarak kehamilan Amanda dan Alana pun terhitung hanya berbeda minggu saja.

"Duduk!" perintah Amanda dengan tatapan tegas.

Alana manut, ia duduk di kursi di depan Amanda. Namun Amanda menatapnya dengan sinis, ia tersenyum merendahkan.

"Siapa yang menyuruhmu duduk di sofa? Dasar pembantu tak punya adab dan sopan santun!" maki Amanda kesal. “Duduk di lantai!”

"Ma-maaf, Nyonya!" ujar Alana panik. Ia langsung berdiri dan duduk di lantai.

Ia tak mengambil hati atas ucapan pedas Amanda, karena sudah menjadi makanan sehari-hari ia dicaci maki oleh majikannya itu.

"Ini gajimu untuk bulan ini,” kata Amanda sambil menyerahkan sebuah amplop. “Perutmu sudah sangat besar. Aku akan memberikan cuti melahirkan padamu. Tapi aku tak akan menggajimu selama kau tak bekerja di rumah ini."

Alana mendongak menatap majikannya. Rautnya tampak resah mendengar ucapan Amanda. "Ta-tapi Nyonya, kata Tuan, saya diberikan cuti melahirkan selama tiga bulan dan bayaran saya full, Nyonya," katanya takut-takut.

Suami Amanda adalah seorang CEO bernama Elzaino. Ia adalah pria yang terkenal dingin, tetapi sangat memanusiakan pekerjanya. Berbeda dengan istrinya yang semena-mena. Namun, Elzaino tak selalu setiap hari ada di rumah. Ia hanya pulang satu minggu sekali atau bahkan satu bulan sekali jika jadwalnya sedang padat.

"Berani kamu membantah saya? Denger ya, babu! El itu adalah suami saya! Apapun keputusan saya, dia pasti menyetujuinya. Kamu jangan sok pintar mengingatkan saya!"

Amanda menunjuk Alana dengan gurat wajah kebencian.

Ia sangat tak suka bila ada seseorang yang melawan perkataannya. Apalagi dia hanya seorang asisten rumah tangga, yang menurut Amanda berada di hierarki terbawah.

Alana hanya bisa meremas daster usangnya. Hatinya perih setiap Amanda mengatainya babu. Ya, dia memang hanya pembantu. Tapi bisakah Amanda memperlakukannya selayaknya manusia?

"Jangan ngelamun! Kamu denger saya kan?" Amanda memelototkan matanya, seakan mata itu akan loncat dari tempatnya.

"I-iya, Nyonya," lirih Alana pasrah.

Alana pun membawa amplop gajinya selama satu bulan itu dengan gontai. Setelah berpamitan kepada Amanda, Alana memutuskan untuk pulang.

Sesampainya di rumah, Alana melihat Heri tengah menonton televisi. Pria itu bekerja sebagai tukang kebun di kediaman Elzaino dan Amanda. Namun, Heri tak pernah pulang larut, karena setelah pekerjaannya selesai, ia bisa pulang kapan saja.

"Baru pulang kamu?" tanya Heri, tanpa melihat ke arah sang istri.

"Iya, Mas," jawab Alana sembari membuka jaket rajut usangnya. Ia gantungkan di pintu dan duduk di kursi yang sudah mulai lapuk.

Rumah Alana memang sangat sederhana, bahkan bisa dibilang seperti gubuk reyot. Namun, Alana tetap bersyukur, karena gubuk ini adalah peninggalan kedua orang tuanya yang sudah tiada.

"Hari ini kamu gajian kan?" tanya Heri memperhatikan tas usang Alana. Alana mengangguk pelan.

Tiba-tiba, Heri mendekati Alana dan merebut tas usangnya itu.

"Mau apa kamu, Mas?" Suara Alana terdengar bergetar. Merasa ketakutan dengan sang suami yang berusaha merebut tasnya dengan paksa.

"Mana lihat uang gaji kamu? Aku pinjem dulu, aku perlu buat modal. Nanti aku ganti!" ucap Heri enteng. Dengan satu tarikan, tas Alana sudah berhasil Heri rebut.

"Jangan, Mas! Itu untuk kebutuhan kita dan calon anak kita!” seru Alana sambil berusaha mengambil kembali tasnya. “Jangan dipakai untuk main judi lagi, Mas!”

"Bukan judi, ini untuk modal!” bantah Heri. “Sudah jangan protes, aku pinjam sebentar uang ini!" Matanya berbinar ketika menghitung jumlah uang yang berwarna merah tersebut.

"Jangan diambil, Mas! Nanti sebulan ke depan kita makan apa?" Alana mengatupkan kedua tangannya di dada. Air mata sudah luruh membasahi pipinya.

Heri yang muak pun segera mengapit kedua pipi Alana dengan kasar, hingga ia meringis karena perutnya ditekan oleh tubuh Heri.

"Lepas, Mas, sakit!" Alana menyorot tajam wajah suaminya itu dengan tatapan memohon.

Tak pernah ia duga, pria baik-baik dan agamis yang dulu dijodohkan dengannya ini ternyata tak lebih dari monster yang membuat hidup Alana seperti di neraka. Berkali-kali Alana meminta cerai pada pria itu, namun Heri selalu mengancam akan membunuhnya jika sampai Alana menggugat cerai dirinya.

“Bosan hidup kamu, heh?”

“Mas, tolong ….”

Heri menjambak rambut panjang Alana, membuat kepala Alana mendongak ke atas. Kulit kepalanya yang terasa perih tak lagi dirasanya. Ia hanya bisa menangis.

"Dengar! Aku ini suami kamu. Jangan selalu membangkang kepadaku!” kata Heri penuh penekanan. “Aku hanya meminjam uangmu bukan meminta. Aku kan sudah bilang kalau aku menang judi, akan kubayar uang tak seberapamu ini dengan berlipat-lipat!"

Alana menggeleng sambil berurai air mata.

"Tidak ada yang kaya karena judi, Mas. Justru kita semakin terpedaya dan semakin miskin jika tak berhenti bermain judi. Nyebut, Mas! Kita akan punya anak. Anakmu tak akan senang mempunyai seorang ayah yang gemar judi dan mabuk-mabukan….” Isakan Alana semakin keras. Selain rasa sakit yang terasa di kulit kepalanya, hatinya pun sangat sakit karena sikap kasar suaminya.

"Jangan ceramah di sini, Sialan!" Heri membanting kepala Alana ke tembok, hingga kepala wanita malang itu berdarah.

Tak cukup sampai di sana, Heri kemudian mendorong Alana hingga terjerembab ke lantai yang masih beralas tanah. Membuat wanita itu begitu kesakitan. Darah dan cairan berwarna bening pun keluar dari jalan lahir Alana.

"Mas…!" pekik Alana.

Namun, mendadak semuanya menjadi gelap. Alana ambruk dan tak sadarkan diri.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • ASI Untuk Putra Sang CEO   Pertengkaran

    Sudah seminggu ini Heri terbaring sakit. Mantan suami dari Alana itu kini tinggal sebatang kara. Heri memicingkan mata, kepalanya terasa berat, wajahnya pun terlihat pias.. "Haus sekali," lirihnya dengan suara lemah. Pria yang berprofesi sebagai tukang bangunan itu memaksakan diri untuk bangun demi membasahi kerongkongannya yang terasa sangat kering. Heri berjalan dengan tergopoh ke arah galon yang berada di sudut ruangan. Tubuhnya terasa remuk redam. Bekerja sebagai kuli bangunan memang pengalaman hidup yang amat berat bagi Heri yang terbiasa bekerja dengan santai. Tangan Heri menuangkan air ke dalam gelas dengan pelan. Pria itu meneguk habis air dalam gelas sampai tak tersisa. Untung saja temannya berbaik hati tidak membawa galon dan gelas gelas di kontrakan karena iba akan nasib Heri. Heri sudah sebulan bekerja sebagai tukang bangunan. Dirinya amat dibenci oleh rekan rekannya karena perseteruannya dengan salah satu pekerja. "Ibu, Bapak, Annida," Heri merebahkan dirinya kemb

  • ASI Untuk Putra Sang CEO   Perayaan Tahun Baru

    Alana memetik pucuk teh dengan riang. Ia kemudian memperlihatkannya pada Arga yang sedang ia gendong. "Lihat nih, Sayang!" Ujar Alana riang. Matanya beralih pada hamparan kebun teh yang begitu luas. Hijau, sejuk, damai dan begitu memanjakan mata. Alana begitu riang ketika ia diajak untuk merayakan tahun baru di villa milik tuannya, Elzaino. Alana amat bersyukur bisa bekerja pada Elzaino. Alana mengalihkan pandangannya pada Arga yang sedang ia gendong dengan gendongan depan. Bayi berusia 8 bulan itu menatapnya dengan mata yang jernih. Kehampaan dan kesedihan Alana memang sangat terobati dengan kehadiran bayi gembul itu. "Arga dingin, Nak?" Alana menyentuh pipi Arga yang memerah. Bayi itu kemudian tersenyum menatap Alana. "Emm, hangat," Alana berbicara sendiri. Yakin jika tuan mudanya itu tidak kedinginan karena Alana juga sudah memakaikan pakaian yang hangat untuk Arga. "Ayo kita ke sebelah sana ya, kita lihat kabut dan embun!" Alana melangkah lebih jauh. Sementara itu Elzaino,

  • ASI Untuk Putra Sang CEO   Siasat Amanda

    Amanda masih berusaha memasuki kediaman orang tuanya meski petugas keamanan terus saja berbicara sinis padanya. Wanita yang sudah berada di depan gerbang rumah ayahnya itu pun keluar dari mobil. Ia berteriak bak orang kesetanan karena tak kunjung mendapat izin untuk masuk ke dalam kediaman orang tuanya. "Buka gerbangnya, Babu!!!" Hardiknya dengan penuh amarah kepada petugas keamanan yang bernama Jono. Jono keukeuh tak ingin membuka gerbang. "Tidak bisa," tolak Jono sekali lagi, wajahnya cukup santai. "Kurang ajar!! Aaaa!!" Amanda berteriak seraya mencari batu untuk ia lempar kepada petugas keamanan yang sudah mengabdi di sana selama puluhan tahun itu. Handoko dan Resti yang sedang berada di pendopo merasa terganggu dengan suara bising yang terdengar dari pos keamanan. "Seperti suara Amanda, Pa!" Resti berdiri dari duduknya. Raut wajahnya berubah saat mendengar suara sang putri. Sementara Handoko hanya diam. Ia memang sudah mengira sang putri akan datang ke kediamannya. "Bi

  • ASI Untuk Putra Sang CEO   Tak Ingin Alana Sakit

    Sejak kedatangan Amanda, Meri begitu mencemaskan keadaan sang cucu. Meri takut, Amanda akan berbuat nekat untuk mengambil Arga dari sisi keluarganya. Meri berjalan ke arah kamar Arga dan Alana. Wanita modis itu membuka pintu kamar Arga sedikit, ia tersenyum saat melihat Arga sedang berceloteh dan bercanda dengan Alana. Lagi-lagi hatinya menghangat karena Alana. "Alana," Panggil Meri lembut "Iya, Nyonya?" Alana menatap Meri yang sedang berjalan ke arahnya. "Terima kasih, Alana. Karena kamu telah menyayangi cucu saya sepenuh hati kamu," ucap Meri yang membuat Alana seakan tak percaya, karena Meri tak pernah mengatakan terima kasih kepada pekerjanya. "Sama-sama, Nyonya. Sudah kewajiban saya harus menjaga dan menyayangi Den Arga dengan sepenuh hati," Alana tersenyum yang membuat Meri semakin menyukai wanita cantik itu. "Saya akan membawa Arga ke taman, hanya di taman rumah ini. Saya ingin menghabiskan waktu dengan cucu saya," Meri berujar yang mirip sekali dengan meminta izin kepada

  • ASI Untuk Putra Sang CEO   Rencana Pergantian Tahun

    Elzaino berencana untuk merayakan pergantian tahun di villa pribadi miliknya yang ada di kota kembang. Villa itu terletak di kawasan asri dan dikelilingi kebun teh yang luas. Elzaino memang sengaja membelinya agar ia bisa membawa keluarganya menjauh sejenak dari hiruk pikuk perkotaan. Elzaino ingin menenangkan pikirannya dari segala masalah yang akhir-akhir ini menderanya."Seriusan Kak kita mau ke villa?" Tanya Mireya dengan mata yang berbinar.Kakak beradik itu kini berada dalam ruangan pribadi milik Elzaino. Mireya sendiri diminta datang ke ruangan pribadi kakaknya untuk menyampaikan hasil rapat tadi siang dengan perusahaan dari Amerika."Seriusan. Tapi semua kerjaan kantor udah beres kan?" Elzaino memastikan. Ia tak ingin pergi berlibur sementara pekerjaan di kantor belum rampung."Kakak ini tidak tahu apa kinerjaku seperti apa?" Mireya mengerucutkan bibirnya.Memang Elzaino begitu mengenali sifat pekerja keras adiknya. Bukan karena Mireya adalah adiknya lantas El menunjuk wanita

  • ASI Untuk Putra Sang CEO   Hari Pertama MPASI

    Pagi-pagi sekali Alana sudah berjibaku dengan apron warna putihnya. Hari ini, adalah hari pertama Arga MPASI. Wanita itu sangat fokus sekali dengan masakannya, hingga tak menyadari kedatangan Meri dan Mireya yang menghampiri dirinya. "Sedang apa, Sus? Serius sekali!" Mireya yang sedang libur itu bertanya kepada Alana seraya berdiri di samping Alana. Elzaino sudah dua hari ke luar kota, ia pun tak tahu Arga akan mulai MPASI hari ini. "Saya sedang memasak untuk Den Arga. Hari ini hari pertama MPASInya," jawab Alana dengan ceria. Mireya dan Meri merasa terkejut mendengar Arga yang sudah mulai fase MPASI. Mereka sangat sibuk sampai tidak sadar jika Arga sudah genap berusia enam bulan. "Kamu masak apa saja untuk Arga, Alana?" Meri memperhatikan makanan yang ada di dalam panci anti lengket itu. Meri sebenarnya merasa tak yakin dengan Alana, apakah wanita itu tahu gizi yang dibutuhkan oleh seorang bayi? Meri menatap isi panci itu, isinya adalah nasi, daging sapi, brokoli, dan tahu.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status