Home / Romansa / ASI Untuk Putra Sang CEO / Kesedihan Yang Mendalam

Share

Kesedihan Yang Mendalam

Author: Zinnia Azalea
last update Last Updated: 2024-11-06 14:56:07

Alana tersadar saat tubuhnya yang lemah dipindahkan ke brankar. Sepasang matanya mengerjap lemah, kepalanya benar-benar pusing saat dokter memeriksa kondisinya.

“Denyut jantung bayi melemah. Segera persiapkan tes, kita akan operasi darurat!"

"Baik, Dok!"

Percakapan dokter dengan perawat itu membuat rasa panik menjalari hati Alana tanpa bisa dicegah. Kejadian beberapa saat yang lalu menghantuinya, membuatnya ketakutan setengah mati.

“Dokter, tolong selamatkan bayi saya,” kata Alana saat ia dibawa ke ruang operasi.

“Kami akan melakukan yang terbaik. Banyak berdoa ya," kata dokter itu menenangkan.

Proses operasi itu berjalan lancar. Namun, saat dokter mengangkat bayi Alana, bayi yang berjenis kelamin perempuan itu tak kunjung menangis. Kulitnya terlihat sudah membiru seluruh tubuh, seolah tak ada kehidupan di raga bayi itu.

"Dok, anak saya baik-baik saja kan?" tanya Alana.

"Dok, bagaimana ini?" tanya asisten dokter.

Namun, dokter spesialis kandungan itu tak menjawab, ia menyerahkan bayi yang sangat mungil itu ke pangkuan dokter spesialis anak. Dengan cepat, dokter itu memeriksa bayi Alana. Ia memasangkan oksigen di hidung bayi mungil itu. Tak lupa dokter itu menepuk-nepuk sang bayi agar ia menangis.

"Dok, anak saya baik-baik saja kan?" Bibir Alana gemetar. Ia ingin menangis sekencang-kencangnya saat melihat bayinya tak kunjung menangis.

Ia hanya bisa pasrah saat melihat anaknya dibawa ke ruang observasi.

Setelah perut Alana selesai dijahit, ia dimasukan ke dalam ruang pemulihan. Di sana Alana merasa seluruh tubuhnya menggigil. Tak hentinya ia terus berdoa kepada sang pencipta, memohon keselamatan atas dirinya dan sang jabang bayi.

Setelah diobservasi dan keadaannya membaik, Alana dipindahkan ke ruang rawat. Di sana ia ditemani oleh Bu RT dan dua ibu-ibu lainnya, merekalah yang membawanya ke rumah sakit.

"Bu, bagaimana keadaan bayi saya ya? Apa ibu sudah melihat? Oh ya, apa Mas Heri ada ke sini?" tanya Alana memberondong Bu RT dengan pertanyaan yang sulit untuk dijawab.

"Ibu belum tahu bayi kamu, Nduk. Semoga dia baik-baik saja. Mengenai suami kamu, dia tidak ada ke sini, Nduk. Dia kabur…," jawab Bu RT hati-hati.

Alana sudah tak terkejut lagi dengan tingkah Heri, ia cukup menyadari bahwa dirinya tak berarti bagi pria itu. Kini, hanya ada rasa marah yang tersisa di hatinya. Ia tak akan memaafkan pria itu apabila hal buruk terjadi pada bayinya.

Suara ketukan sepatu yang beradu dengan lantai mengalihkan perhatiannya. Alana menatap dokter anak yang memasuki ruangan itu.

"Bagaimana keadaan anak saya, Dok?" tanya Alana tak sabar.

Dokter spesialis itu menatap rekan dokternya, sebelum menatap Alana prihatin. "Ibu harus tabah. Putri ibu tidak bisa diselamatkan, ia meninggal karena keracunan ketuban. Kami turut berduka cita.”

"Tidak, tidak mungkin….” kata Alana. “Dokter pasti bohong kan? Iya kan?" Alana menangis histeris. Hati ibu mana yang tak sakit mendengar kenyataan yang begitu menyesakan dada itu?

"Ya, Allah! Bayiku, Bu!" raung Alana, tangannya menggenggam tangan Bu RT yang ada di sisinya.

Alana menangis tak terkendali, hingga Bu RT ikut menenangkan Alana. Para warga yang ikut mengantar Alana, yang saat ini menunggu di luar pun ikut bersedih mendengar kabar itu.

Mereka segera bahu-membahu memberikan dana seikhlasnya untuk biaya Alana di rumah sakit. Beruntung, pak RT sudah membuat surat keterangan tidak mampu yang diberikan pada pihak rumah sakit, sehingga pengobatan dan tindakan untuk Alana digratiskan. Iuran yang sudah terkumpul pun mereka berikan sebagai uang belasungkawa untuk Alana.

Semua warga memang sangat menyukai Alana. Wanita itu begitu lemah lembut dan ramah. Selain wajahnya yang begitu ayu, hatinya pun lebih lagi. Tapi, sayang, sikap lembutnya itu tak bisa menyentuh hati Heri yang sudah sekeras batu.

**

“Kenapa kamu hanya sebentar hidup di dunia ini?”

Alana menatap kuburan yang berukuran kecil itu dengan pilu, matanya begitu bengkak karena terus menangisi anaknya yang telah meninggalkan dunia. Ia mengelus pusara anak tercintanya dengan perasaan hancur lebur.

"Kenapa kamu ninggalin mama, Nak? Tak inginkah kamu menemani mama yang sebatang kara ini?" lirih Alana, ia mengecup pusara itu dengan suara tangisan yang menyayat hati.

"Mama kesepian, tak ada yang menyayangi mama, Nak. Hanya kamu sumber kebahagiaan mama, tapi kamu malah memilih meninggalkan mama. Maafkan mama yang sudah lalai menjaga kamu, sayang. Ternyata Allah lebih sayang padamu, Nak…."

Alana tergugu. Dadanya terasa sesak melepas kepergian anak yang sudah ia nanti-nantikan.

"Kata dokter ASI pertama adalah kolostrum, katanya ASI itu yang paling bagus karena mengandung banyak protein dan sel-sel hidup. Mama pumping buat kamu, kamu bawa ke surga ya, Nak? Semoga kamu bisa minum ASI ini sampe kenyang," Alana menyiramkan ASI yang sudah ia pompa ke atas makam anaknya.

"Alana, yang sabar ya? Bayimu sudah bahagia di sana. Ayo kita pulang, Nak!" Bu RT maju dan memeluk bahu Alana. Namun, wanita itu tak bergeming.

"Aku masih ingin di sini, Bu. Sebentar lagi akan turun hujan, pasti bayiku kedinginan," jawab Alana lirih.

Semua orang yang berada di pemakaman ikut menangis melihat kehancuran Alana. Hati mereka begitu teriris mendengar ucapan Alana yang kehilangan separuh jiwanya.

"Cah Ayu, ayo kita pulang. Bayimu sudah tak kedinginan lagi, dia sudah meminum susu yang enak dan berselimut tebal di surga. Bayimu akan sedih melihat ibunya begini," Bu RT dengan sabar menenangkan Alana, mengajaknya untuk pulang karena rintik hujan sudah jatuh ke bumi.

"Maaf sudah menyusahkan kalian. Terima kasih, terima kasih karena telah membantuku sejauh ini," tutur Alana kepada warga dan Bu RT.

"Tidak apa-apa, kita bersaudara. Jangan merasa sungkan kepada kami. Sekarang ayo kita pulang," ajak Bu RT lagi.

Alana akhirnya mengangguk, ia tak mau terus merepotkan semua warga. Matanya sesekali menyapu keadaan sekitar. Tak terlihat Heri di sana, pun dengan keluarga mertuanya. Tak seorang pun menghadiri pemakaman bayinya.

Alana memang selalu direndahkan oleh mereka, karena ia adalah menantu yang paling tak punya, dan membuat mereka malu karena Alana bekerja sebagai asisten rumah tangga.

Wanita itu menghela napas panjang. Hatinya getir. ‘Sekarang aku benar-benar sendirian….’

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • ASI Untuk Putra Sang CEO   Pertengkaran

    Sudah seminggu ini Heri terbaring sakit. Mantan suami dari Alana itu kini tinggal sebatang kara. Heri memicingkan mata, kepalanya terasa berat, wajahnya pun terlihat pias.. "Haus sekali," lirihnya dengan suara lemah. Pria yang berprofesi sebagai tukang bangunan itu memaksakan diri untuk bangun demi membasahi kerongkongannya yang terasa sangat kering. Heri berjalan dengan tergopoh ke arah galon yang berada di sudut ruangan. Tubuhnya terasa remuk redam. Bekerja sebagai kuli bangunan memang pengalaman hidup yang amat berat bagi Heri yang terbiasa bekerja dengan santai. Tangan Heri menuangkan air ke dalam gelas dengan pelan. Pria itu meneguk habis air dalam gelas sampai tak tersisa. Untung saja temannya berbaik hati tidak membawa galon dan gelas gelas di kontrakan karena iba akan nasib Heri. Heri sudah sebulan bekerja sebagai tukang bangunan. Dirinya amat dibenci oleh rekan rekannya karena perseteruannya dengan salah satu pekerja. "Ibu, Bapak, Annida," Heri merebahkan dirinya kemb

  • ASI Untuk Putra Sang CEO   Perayaan Tahun Baru

    Alana memetik pucuk teh dengan riang. Ia kemudian memperlihatkannya pada Arga yang sedang ia gendong. "Lihat nih, Sayang!" Ujar Alana riang. Matanya beralih pada hamparan kebun teh yang begitu luas. Hijau, sejuk, damai dan begitu memanjakan mata. Alana begitu riang ketika ia diajak untuk merayakan tahun baru di villa milik tuannya, Elzaino. Alana amat bersyukur bisa bekerja pada Elzaino. Alana mengalihkan pandangannya pada Arga yang sedang ia gendong dengan gendongan depan. Bayi berusia 8 bulan itu menatapnya dengan mata yang jernih. Kehampaan dan kesedihan Alana memang sangat terobati dengan kehadiran bayi gembul itu. "Arga dingin, Nak?" Alana menyentuh pipi Arga yang memerah. Bayi itu kemudian tersenyum menatap Alana. "Emm, hangat," Alana berbicara sendiri. Yakin jika tuan mudanya itu tidak kedinginan karena Alana juga sudah memakaikan pakaian yang hangat untuk Arga. "Ayo kita ke sebelah sana ya, kita lihat kabut dan embun!" Alana melangkah lebih jauh. Sementara itu Elzaino,

  • ASI Untuk Putra Sang CEO   Siasat Amanda

    Amanda masih berusaha memasuki kediaman orang tuanya meski petugas keamanan terus saja berbicara sinis padanya. Wanita yang sudah berada di depan gerbang rumah ayahnya itu pun keluar dari mobil. Ia berteriak bak orang kesetanan karena tak kunjung mendapat izin untuk masuk ke dalam kediaman orang tuanya. "Buka gerbangnya, Babu!!!" Hardiknya dengan penuh amarah kepada petugas keamanan yang bernama Jono. Jono keukeuh tak ingin membuka gerbang. "Tidak bisa," tolak Jono sekali lagi, wajahnya cukup santai. "Kurang ajar!! Aaaa!!" Amanda berteriak seraya mencari batu untuk ia lempar kepada petugas keamanan yang sudah mengabdi di sana selama puluhan tahun itu. Handoko dan Resti yang sedang berada di pendopo merasa terganggu dengan suara bising yang terdengar dari pos keamanan. "Seperti suara Amanda, Pa!" Resti berdiri dari duduknya. Raut wajahnya berubah saat mendengar suara sang putri. Sementara Handoko hanya diam. Ia memang sudah mengira sang putri akan datang ke kediamannya. "Bi

  • ASI Untuk Putra Sang CEO   Tak Ingin Alana Sakit

    Sejak kedatangan Amanda, Meri begitu mencemaskan keadaan sang cucu. Meri takut, Amanda akan berbuat nekat untuk mengambil Arga dari sisi keluarganya. Meri berjalan ke arah kamar Arga dan Alana. Wanita modis itu membuka pintu kamar Arga sedikit, ia tersenyum saat melihat Arga sedang berceloteh dan bercanda dengan Alana. Lagi-lagi hatinya menghangat karena Alana. "Alana," Panggil Meri lembut "Iya, Nyonya?" Alana menatap Meri yang sedang berjalan ke arahnya. "Terima kasih, Alana. Karena kamu telah menyayangi cucu saya sepenuh hati kamu," ucap Meri yang membuat Alana seakan tak percaya, karena Meri tak pernah mengatakan terima kasih kepada pekerjanya. "Sama-sama, Nyonya. Sudah kewajiban saya harus menjaga dan menyayangi Den Arga dengan sepenuh hati," Alana tersenyum yang membuat Meri semakin menyukai wanita cantik itu. "Saya akan membawa Arga ke taman, hanya di taman rumah ini. Saya ingin menghabiskan waktu dengan cucu saya," Meri berujar yang mirip sekali dengan meminta izin kepada

  • ASI Untuk Putra Sang CEO   Rencana Pergantian Tahun

    Elzaino berencana untuk merayakan pergantian tahun di villa pribadi miliknya yang ada di kota kembang. Villa itu terletak di kawasan asri dan dikelilingi kebun teh yang luas. Elzaino memang sengaja membelinya agar ia bisa membawa keluarganya menjauh sejenak dari hiruk pikuk perkotaan. Elzaino ingin menenangkan pikirannya dari segala masalah yang akhir-akhir ini menderanya."Seriusan Kak kita mau ke villa?" Tanya Mireya dengan mata yang berbinar.Kakak beradik itu kini berada dalam ruangan pribadi milik Elzaino. Mireya sendiri diminta datang ke ruangan pribadi kakaknya untuk menyampaikan hasil rapat tadi siang dengan perusahaan dari Amerika."Seriusan. Tapi semua kerjaan kantor udah beres kan?" Elzaino memastikan. Ia tak ingin pergi berlibur sementara pekerjaan di kantor belum rampung."Kakak ini tidak tahu apa kinerjaku seperti apa?" Mireya mengerucutkan bibirnya.Memang Elzaino begitu mengenali sifat pekerja keras adiknya. Bukan karena Mireya adalah adiknya lantas El menunjuk wanita

  • ASI Untuk Putra Sang CEO   Hari Pertama MPASI

    Pagi-pagi sekali Alana sudah berjibaku dengan apron warna putihnya. Hari ini, adalah hari pertama Arga MPASI. Wanita itu sangat fokus sekali dengan masakannya, hingga tak menyadari kedatangan Meri dan Mireya yang menghampiri dirinya. "Sedang apa, Sus? Serius sekali!" Mireya yang sedang libur itu bertanya kepada Alana seraya berdiri di samping Alana. Elzaino sudah dua hari ke luar kota, ia pun tak tahu Arga akan mulai MPASI hari ini. "Saya sedang memasak untuk Den Arga. Hari ini hari pertama MPASInya," jawab Alana dengan ceria. Mireya dan Meri merasa terkejut mendengar Arga yang sudah mulai fase MPASI. Mereka sangat sibuk sampai tidak sadar jika Arga sudah genap berusia enam bulan. "Kamu masak apa saja untuk Arga, Alana?" Meri memperhatikan makanan yang ada di dalam panci anti lengket itu. Meri sebenarnya merasa tak yakin dengan Alana, apakah wanita itu tahu gizi yang dibutuhkan oleh seorang bayi? Meri menatap isi panci itu, isinya adalah nasi, daging sapi, brokoli, dan tahu.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status