Share

02. Ternyata Dia Ceo

Author: Senjaaa_
last update publish date: 2026-04-03 00:47:02

"Jadi... menurutmu saya pantas menjadi idola ibu-ibu kantin?" suara berat pria itu bergema di seluruh ruangan, terdengar sangat rendah dan dingin.

Keyla membeku di tempat. Wajahnya yang tadi memerah karena lari, kini berubah menjadi pucat pasi seputih kertas.

Dia ingin menghilang dari bumi detik ini juga. Bagaimana mungkin pria yang dia tawari permen kaki seharga seribu dapat tiga adalah orang paling berkuasa di gedung ini?

"Dan mana jimat keberuntungan yang kamu tawarkan tadi? Saya ingin tahu apakah permen itu bisa menyelamatkan nasibmu sekarang," lanjut pria itu sambil bangkit berdiri dan menatap Keyla tanpa berkedip.

Jantung Keyla berdegup sangat kencang hingga telinganya berdenging. Dia menatap pria di depannya dengan perasaan takut yang luar biasa, menyadari bahwa karirnya mungkin sudah tamat sebelum dimulai.

Keheningan di ruang rapat itu terasa begitu menekan, seolah-olah oksigen di sana perlahan-lahan menghilang. Keyla masih terpaku di ambang pintu, tangannya masih memegang gagang pintu kayu yang dingin.

Arlan Adiguna berdiri dari kursi kebesarannya. Dia melangkah perlahan mengitari meja panjang, setiap langkah sepatunya yang mengilat terdengar seperti detak jam kematian bagi Keyla.

"Masuk dan tutup pintunya, Nona Keyla," perintah Arlan. suaranya rendah namun penuh otoritas yang tak terbantahkan.

Keyla menelan ludah dengan susah payah. Kakinya terasa seperti jelly, namun dia tetap memaksa tubuhnya bergerak masuk dan menutup pintu dengan gerakan gemetar.

Dia menundukkan kepala sedalam-dalamnya, tidak berani menatap mata tajam pria yang beberapa menit lalu dia sebut "calon OB" itu.

"Duduk," ucap Arlan singkat sambil menunjuk kursi empuk di depan mejanya.

Keyla duduk dengan posisi sangat tegak dan kaku. Dia meremas ujung blazernya yang murah, berusaha menyembunyikan tangannya yang gemetar hebat.

Arlan kembali ke kursinya, dia membuka map berkas lamaran Keyla yang ada di atas meja. Dia membolak-balik kertas itu dengan ekspresi datar yang sulit dibaca.

"Keyla... Lulusan universitas swasta dengan IPK yang pas-pasan," gumam Arlan, membaca biodata Keyla dengan nada yang terdengar seperti ejekan.

Keyla hanya bisa menggigit bibir bawahnya. Dia ingin membela diri, mengatakan bahwa dia harus bekerja paruh waktu demi ibunya, tapi suaranya seolah hilang di tenggorokan.

"Tadi di lift kamu sangat berisik. Kenapa sekarang mendadak bisu?" Arlan menaruh map itu kembali dan menopang dagunya dengan kedua tangan.

Keyla memberanikan diri sedikit mendongak. "Saya... saya benar-benar minta maaf, Pak. Saya tidak tahu kalau Bapak adalah pemilik perusahaan ini."

"Jadi kalau saya hanya seorang calon OB, kamu merasa berhak mengasihani saya dengan permen murahan itu?" tanya Arlan dingin.

"Bukan begitu, Pak! Saya hanya ingin membantu. Saya pikir Bapak sedang tegang menghadapi wawancara," jawab Keyla dengan suara cicitan.

Arlan menyandarkan punggungnya ke kursi. Dia menatap Keyla lama, seolah-olah sedang membedah isi kepala gadis di depannya.

"Sebagai asisten pribadi, tugasmu adalah menjaga wibawa saya, bukan mempermalukan saya dengan permen kaki," tegas Arlan.

Keyla merasa harga dirinya perlahan runtuh. Dia menyadari tindakannya tadi memang sangat memalukan jika dilihat dari kacamata seorang CEO.

"Saya mengerti, Pak. Saya siap menerima konsekuensinya. Jika Bapak ingin membatalkan wawancara ini, saya akan pergi," ucap Keyla dengan nada pasrah.

Keyla mulai bersiap bangkit dari kursinya. Di dalam hatinya, dia sudah menangis membayangkan tagihan rumah sakit yang akan menumpuk tanpa pekerjaan.

"Siapa yang bilang wawancara ini sudah berakhir?" potong Arlan cepat, membuat gerakan Keyla terhenti seketika.

Keyla kembali duduk dengan bingung. Dia menatap Arlan yang kini sedang mengamati sebuah bolpoin mewah di tangannya.

"Saya butuh asisten yang tidak mudah terintimidasi oleh lingkungan ini. Dan kamu... kamu punya keberanian yang bodoh, tapi menarik," ucap Arlan tanpa ekspresi.

Keyla terdiam. Keberanian bodoh? Apakah itu sebuah pujian atau justru hinaan baru?

"Tapi ada satu syarat jika kamu ingin posisi ini," lanjut Arlan.

Keyla menahan napas. Syarat apa lagi ini? Apakah dia harus melakukan hal-hal aneh atau bekerja dua puluh empat jam penuh?

"Kamu tidak boleh mengeluarkan satu pun kata-kata konyol seperti tadi di depan relasi bisnis saya. Satu kali saja kamu berulah, kamu keluar tanpa pesangon," ancam Arlan.

Keyla mengangguk mantap. "Saya janji, Pak! Saya akan menjaga sikap saya dengan sangat profesional."

"Kita lihat saja nanti. Sekarang, tunjukkan pada saya kemampuanmu yang sebenarnya selain membagikan permen kaki," Arlan menyodorkan sebuah dokumen tebal ke depan Keyla.

"Rangkum dokumen ini dalam sepuluh menit. Saya ingin poin-poin pentingnya saja. Jika hasilnya buruk, pintu keluar ada di sana," Arlan menunjuk pintu ruang rapat dengan dagunya.

Keyla segera menyambar dokumen itu. Dia mengeluarkan bolpoin dari tasnya dan mulai membaca dengan kecepatan tinggi. Ini adalah kesempatannya untuk membuktikan bahwa dia bukan sekadar gadis ceplas-ceplos.

Waktu berlalu dengan sangat cepat. Suasana di ruangan itu kembali hening, hanya terdengar suara coretan bolpoin Keyla di atas kertas.

Arlan diam-diam memperhatikan Keyla. Dia melihat gadis itu begitu fokus, keningnya berkerut serius, sangat berbeda dengan sosok yang tadi melompat ke dalam lift.

"Waktunya habis," ucap Arlan tepat di menit kesepuluh.

Keyla menyerahkan hasil rangkumannya dengan tangan yang sudah tidak terlalu gemetar. Dia mencoba menunjukkan wajah yang lebih tenang.

Arlan membaca hasil kerja Keyla dalam waktu singkat. Dia tidak memberikan reaksi apa pun, tidak ada senyum atau anggukan kecil.

"Lumayan. Kamu bisa menangkap poin krusialnya dengan cepat," komentar Arlan singkat.

Hati Keyla bersorak kecil, tapi dia berusaha tetap memasang wajah datar. Dia harus mulai belajar menjaga imej di depan pria kaku ini.

"Kamu bisa mulai bekerja besok pagi. Jam tujuh tepat, jangan telat satu detik pun atau jabatannya hangus," perintah Arlan final.

"Baik, Pak! Terima kasih banyak atas kesempatannya!" seru Keyla, hampir saja dia ingin menjabat tangan Arlan namun segera dia urungkan.

Keyla segera membereskan tasnya dan berjalan menuju pintu. Dia merasa dunianya kembali cerah. Akhirnya, pekerjaan bergaji besar itu ada di genggamannya.

Namun, tepat sebelum dia memutar gagang pintu, suara Arlan kembali menghentikannya.

"Keyla."

Keyla menoleh dengan waspada. "Ya, Pak?"

"Selain butuh asisten yang tidak mudah terintimidasi oleh lingkungan, saya juga butuh asisten yang bisa menangani masalah pribadi saya. Terutama... gangguan dari ibu saya yang terobsesi menjodohkan saya dengan wanita-wanita membosankan."

Keyla mengedipkan matanya. "Maksud Bapak... saya harus jadi tameng?"

"Bisa dibilang begitu. Kamu harus bisa berakting. Kamu sosok yang pemberani, bukan?" Arlan bangkit dari kursinya, berjalan mendekat ke arah Keyla. Dia berhenti tepat di depan gadis itu, membuat Keyla harus mendongak karena perbedaan tinggi yang cukup jauh.

"Kalau saya terima kamu, kamu harus siap mengikuti semua aturan saya. Termasuk... mengakui di depan ibu saya bahwa kamu adalah wanita yang sudah berhasil meluluhkan hati saya. Dengan cara 'bar-bar' kamu itu."

Keyla tertegun. Ini adalah tawaran gila. Tapi di sisi lain, ini adalah kesempatan emas. Sesuai prinsipnya, Hajar dulu, urusan malu belakangan!

"Deal, Pak!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • ASISTEN KESAYANGAN TUAN ARLAN   64. Menu Sarapan Misterius

    "Arlan! Kamu kenapa melotot begitu sambil pegang ponsel? Apa ada hantu kirim pesan singkat atau kamu baru saja lihat harga saham jatuh drastis sampai wajahmu kaku begitu?!" seru Keyla yang tiba-tiba duduk tegak di tempat tidur, mengucek matanya yang masih setengah terpejam.Keyla menatap Arlan dengan tatapan menyelidik, merasa suaminya itu sedang menyembunyikan sesuatu di balik cahaya redup lampu tidur. Rasa kantuknya seketika hilang saat melihat ketegangan di rahang Arlan, membuat imajinasi liar Keyla kembali bekerja memikirkan hal-hal aneh yang mungkin terjadi di tengah malam.Arlan segera mematikan ponselnya dan meletakkannya kembali ke dalam laci dengan gerakan yang sangat tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. Dia menarik Keyla kembali ke dalam pelukannya, menyandarkan kepala istrinya di dada bidangnya yang hangat untuk meredam kecurigaan asisten kesayangannya itu."Tenanglah, Sayang. Tidak ada hantu, hanya laporan rutin dari tim keamanan yang sedikit terlambat masuk karena kendal

  • ASISTEN KESAYANGAN TUAN ARLAN   63. Detak Jantung yang Salah Alamat

    "Arlan! Itu di kantor ada paket berdetak kok kamu malah tenang-tenang saja sambil rapihin kerah baju?! Apa kamu pikir itu jam weker raksasa yang mau kasih kejutan ulang tahun buat saya?!" seru Keyla dengan suara melengking saat helikopter mereka baru saja mendarat di atap gedung kantor pusat.Wajah Keyla sudah pucat pasi, matanya melirik ngeri ke arah pintu lift yang menuju lobi utama tempat paket misterius itu berada. Keyla merasa lututnya lemas, membayangkan sebuah benda berbahaya meledak dan menghancurkan dokumen-dokumen penting yang baru saja mereka amankan.Arlan tidak membiarkan Keyla jatuh dalam kepanikan, dia segera menangkap pinggang istrinya dan menariknya ke dalam dekapan yang sangat protektif dan hangat. Dengan tatapan mata yang sangat tenang dan berwibawa, dia mengusap pipi Keyla untuk memberikan ketenangan instan."Tenanglah, Sayang. Itu bukan bom sungguhan, melainkan hanya jam pasir kuno dengan mekanisme pegas yang sengaja dibuat berisik untuk menakut-nakuti kita," jawa

  • ASISTEN KESAYANGAN TUAN ARLAN   62. Warisan Rahasia

    "Arlan! Itu di layar kenapa ada nama Arlo di atas brankas mini itu?! Apa jangan-jangan Ibu saya dulu sebenarnya adalah agen rahasia yang lagi ngasuh sepupu kamu yang menyebalkan itu?!" seru Keyla sambil menunjuk layar proyektor dengan ekspresi antara bingung dan tidak terima.Suasana ruangan rahasia yang tadinya sunyi mendadak penuh dengan suara melengking Keyla yang menggema di antara rak buku tua. Keyla merasa otaknya mulai memproses skenario gila, mulai dari bayi tertukar hingga teori konspirasi keluarga yang membuatnya pening tujuh keliling.Arlan tidak membiarkan istrinya jatuh dalam lubang spekulasi yang aneh-aneh, dia segera menarik Keyla ke dalam pelukan hangatnya. Dengan satu tangan, dia mengusap lembut punggung Keyla, memberikan ketenangan instan yang hanya bisa dilakukan oleh seorang Arlan Adiguna."Tenanglah, Keyla. Arlo bukan anak hilang atau saudara rahasia, dia hanya anak yang dititipkan oleh paman saya kepada Ibu kamu untuk dibantu biaya pendidikannya karena dulu kelua

  • ASISTEN KESAYANGAN TUAN ARLAN   61. Sandaran CEO

    "Arlan! Itu si Arlo KW super kenapa dadah-dadah dari kapal pesiar kayak mau ikut lomba melambai sedunia?! Terus ini kenapa helikopternya miring-miring begini, apa pilotnya lagi belajar goyang di udara?!" seru Keyla sambil mencengkeram sabuk pengamannya erat-erat hingga buku jarinya memutih.Wajah Keyla sudah pucat pasi, matanya melirik ngeri ke arah laut lepas yang terlihat gelap dan bergulung di bawah sana. Keyla merasa perutnya dikocok habis-habisan, rasa takut akan ketinggian berbaur dengan rasa kesal melihat Arlo yang tampak sangat santai di atas kapal mewah itu.Arlan segera menarik tubuh Keyla ke dalam dekapannya, membiarkan kepala asisten kesayangannya itu bersandar di dada bidangnya yang kokoh. Dengan tangan yang sangat tenang, dia mengusap bahu Keyla, berusaha menyalurkan kekuatan dan ketenangan yang selalu ia miliki."Tenanglah, Keyla. Helikopter ini sangat stabil, pilot saya hanya sedang menyesuaikan dengan arus angin laut agar perjalanan kita lebih mulus," jawab Arlan deng

  • ASISTEN KESAYANGAN TUAN ARLAN   60. Duel Tampan

    "Arlan! Itu tadi siapa yang nelepon kok suaranya mirip kamu tapi versi lebih menyebalkan?! Terus kenapa dia panggil kamu Kakak? Kamu beneran punya kembaran yang tertinggal di masa lalu?!" seru Keyla sambil memegang erat pegangan pintu mobil yang mulai melaju kencang meninggalkan villa.Napasnya memburu, bayangan wajah bermasker di layar ponsel tadi benar-benar menghantuinya. Keyla merasa kepalanya mau pecah membayangkan ada dua pria setampan Arlan di dunia ini, tapi yang satu sepertinya ingin mencuri hidup suaminya.Arlan tidak membiarkan Keyla tenggelam dalam ketakutan, dia segera memindahkan tangannya dari kemudi hanya untuk menggenggam jemari Keyla yang dingin. Dia memberikan tatapan mata yang sangat tajam namun penuh keteduhan, berusaha meredam badai di hati asisten kesayangannya itu."Tenanglah, Keyla. Dia bukan kembaran biologis saya, melainkan sepupu jauh bernama Arlo yang sejak kecil memang dididik untuk menjadi bayangan saya dalam urusan bisnis keluarga," jawab Arlan dengan s

  • ASISTEN KESAYANGAN TUAN ARLAN   59. Rahasia Kembaran

    "Arlan! Itu kakek kamu kok hidup lagi? Terus kenapa dia pegang foto bayi kembar begitu? Kamu jangan bilang kalau sebenarnya saya ini punya kembaran yang tertukar di puskesmas?!" seru Keyla dengan suara melengking sambil menunjuk-nunjuk layar monitor di balik pintu villa.Napasnya memburu, matanya membelalak melihat pria tua di depan pintu yang sangat mirip dengan mendiang Kakek Adiguna. Keyla merasa dunianya kembali jungkir balik, membayangkan jika selama ini ada orang lain yang memiliki wajah persis sepertinya dan mungkin sedang merencanakan sesuatu yang aneh.Arlan tidak membiarkan Keyla terus berimajinasi liar sampai menembus batas logika. Dia segera menarik Keyla ke belakang punggungnya, lalu dengan tenang membuka pintu villa setelah memastikan tidak ada ancaman senjata di tangan pria tua tersebut."Tenanglah, Keyla. Beliau bukan hantu kakek saya, melainkan adik kembar Kakek yang selama ini menetap di luar negeri untuk mengelola yayasan panti asuhan rahasia itu," jawab Arlan denga

  • ASISTEN KESAYANGAN TUAN ARLAN   58. Lift Macet

    "Arlan! Ini pintunya kok didobrak segala?! Terus kenapa kita harus lari-lari di kegelapan begini, kamu nggak lagi ngajak saya main petak umpet versi ekstrem kan?!" seru Keyla sambil tersandung kakinya sendiri karena suasana kantor yang mendadak gelap gulita.Jantungnya berdegup kencang, suaranya be

  • ASISTEN KESAYANGAN TUAN ARLAN   47. Vitamin Cinta dan Mantan Halu

    "Arlan! Itu perawat kenapa mukanya mirip banget sama foto mantan kamu yang pernah saya temukan di laci kantor tempo hari?! Dan kenapa dia pegang botol infus Ibu sambil senyum-senyum serem begitu?!" seru Keyla sambil menunjuk layar monitor dengan jari yang gemetar.Jantungnya berdegup kencang meliha

  • ASISTEN KESAYANGAN TUAN ARLAN   46. Pelaku di Balik Masker

    "Arlan, ini kasur Ibu kenapa bisa kosong melompong begini?! Apa Ibu tiba-tiba sembuh terus pergi cari tukang bubur ayam depan rumah sakit tanpa pamit?!" teriak Keyla sambil mengacak-acak selimut yang sudah dingin di bangsal VIP itu. Napasnya memburu, matanya menatap liar ke arah monitor jantung ya

  • ASISTEN KESAYANGAN TUAN ARLAN   40. Tunangan Masa Kecil?

    "Arlan, jawab jujur! Kamu punya koleksi tunangan berapa banyak di dunia ini?! Kenapa di surat ungu ini tertulis ada 'pengantin asli' yang mau datang menagih janji sepuluh tahun lalu?" seru Keyla sambil mengayunkan surat itu tepat di depan hidung mancung Arlan.Wajah Keyla memerah padam, antara kesa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status