INICIAR SESIÓNRio mengusap tangan Maya dengan lembut. “Tenang Mbak Maya, kita pasti bisa cari jalan keluar. Kalau perlu, aku bisa minta bantuan pak RT juga. Jangan terlalu kuatir.” Maya mengangguk perlahan, masih menangis tapi sudah mulai bisa mengendalikan emosinya. “Terima kasih banyak mas… aku cuma takut dia akan melakukan hal lebih buruk lagi.”
Setelah menjaga Maya sampai larut malam dan memastikan dia sudah tenang, Rio kembali ke unitnya. Saat membuka kunci pintu, dia melihat cincin perak di jari telunjuknya milik mbah buyutnya. “Semoga kamu bisa bikin rejeki aku lancar ya,” gumam Rio sambil mencium cincin itu lalu langsung beristirahat. Keesokan paginya, Rio berangkat kerja seperti biasa ke Supermarket Jaya Makmur. Tapi saat memasuki supermarket, dia langsung terkejut. Antrian pembeli membentang panjang, kebanyakan adalah wanita dan anak-anak gadis yang terus mengirim senyuman kepadanya. “Waduh Rio, hari ini kayak ada promo besar?” tanya Budi, teman kerja Rio yang sedang mengecek barang di rak. “Padahal aku tidak lihat ada poster promo apa-apa lho!” Rio hanya tersenyum. “Iya ... ya Mas Budi, ada apa ya? Saya juga bingung kenapa tiba-tiba ramai banget. Atau kantor kita lagi bagi-bagi voucher belanja?” Saat Rio mulai melayani pembeli, seorang wanita mengenakan baju batik dengan tas besar menghampiri kasirnya dan itu adalah Dewi, janda juragan catering yang pernah bertemu di bus. “Halo Mas Rio! Lama tidak ketemu ya,” ucap Dewi dengan senyum ceria. “Hari ini saya belanja banyak banget, karena lagi banyak pesanan catering. Mas Rio, kapan mau main kerumah? Waktu itu janji mau makan dirumah loh” “Wah kayaknya Mbak Dewi habis dapat tender catering ya,” jawab Rio sambil cepat menghitung harga barang. “Rencana nanti hari Kamis saya mau ke rumah mbak. Kebetulan saya libur kerja. Karena seminggu ini saya kena shift malam jadi gak bisa mampir ke rumah Mbak Dewi.” “Wah beneran ya. Kamis besok kan? Terima kasih Mas Rio. Nanti saya buatin makanan yang enak-enak buat mas Rio,” kata Dewi sambil menatap cincin perak di tangan Rio. “Wah cincin kamu bagus banget mas. Sangat pas kalau kamu yang pake! Bikin tambah ganteng!” Rio sedikit malu. “Cuma warisan mbah buyut mbak, tapi terima kasih loh pujiannya.” Benar saja, dalam seminggu omset supermarket meningkat hampir 40%. Manajer toko, Pak Herman, memanggil Rio ke kantornya dengan wajah penuh senyum. “Rio, kerja kamu luar biasa! Belakangan ini banyak pembeli yang datang dan cuma karena mau dilayani sama kamu. Gaji kamu akan dinaikkan bulan depan, dan mungkin akan ada bonus juga!” Rio sangat senang mendengarnya. Saat pulang kerja, dia langsung mampir ke toko sepeda motor bekas yang sudah didatanginya beberapa kali. “Pak, saya jadi mau beli motor itu yang harga 12 juta,” ucap Rio dengan suara tegas sambil menunjuk sebuah sepeda motor yang tampak baru walau bekas. Pemilik toko mengangguk senang. “Baiklah mas Rio! Motornya masih sangat layak, saya kasih juga helm baru dan kunci serep ya. Dan selama tiga bulan ada garansi toko kalau ada kerusakan bawa aja kesini. Gratis!” Setelah melakukan transaksi, Rio membawa pulang motor baru itu ke parkiran rusun tempat ia tinggal. Saat memasuki gerbang rusun, tetangga-tetangga langsung menyambutnya. “Wah Mas Rio baru beli sepeda motor nih!” teriak Pak Joni dari unit 103. “Kapan kita jalan-jalan bareng ya?” “Siap pak. Kapan-kapan kita jalan bareng. Sekarang saya mau ngecat kamar dulu biar lebih bersih dan enak dilihat,” jawab Rio sambil tertawa. Dalam beberapa hari berikutnya, Rio sibuk mengecat kamar rusunnya dengan warna putih yang membuat ruangan terlihat lebih terang dan luas. Saat sedang mengecat, tiba-tiba pintu dibuka dan Maya masuk dengan membawa mangkuk tahu isi. “Halo Mas Rio, saya bawa oleh-oleh buat kamu. Wah unitmu kelihatan lebih bersih ya sekarang!” “Makasih ya Mbak Maya. Duduk aja dulu,” ajak Rio sambil menaruh kuas cat. “Alhamdulillah ini hasil dapat bonus dari kantor. Jadi bisa ngecat seluruh ruangan dan ganti springbed baru" ujarnya sambil terkekeh. “Wah selamat Mas Rio!” kata Maya sambil tersenyum genit. “Kalau kamu sudah selesai mengecat, bolehkah aku bantu kamu merapikan barang-barangnya? Karena kamu pasti capek karena ngecat.” “Tentu aja boleh Mbak! Malam ini kita bisa makan tahu isi bareng dan nonton film juga kalau mau,” ajak Rio dengan senyum ceria. Saat itu juga, suara riang dari warung Siska terdengar sampai ke lantai tiga. Iskandar sedang membantu memasang payung baru di depan warung, sementara Siska sedang tertawa bersama beberapa pembeli. Semua tampak semakin baik, dan Rio merasa bahwa cincin perak itu memang benar-benar membawa keberuntungan bukan hanya untuk dirinya, tapi juga untuk orang-orang di sekitarnya. Tapi apakah mungkin? ***Hari-hari setelah pertemuan terakhir dengan Nabila, hidup Rio mulai mengalami perubahan yang sangat aneh dan tak terduga. Awalnya ia mengira masalah dengan Nabila sudah selesai begitu saja, namun ternyata itu baru permulaan dari serangkaian kejadian ajaib yang membuat bulu kuduknya meremang. Kejadian pertama yang membuatnya kaget adalah pesan singkat yang masuk dari mantan selingkuhannya dulu, Sari. "Mas Rio, maaf ya selama ini sudah mengganggu. Aku rasa kita sudah cukup sampai di sini. Aku mau tobat dan memperbaiki hidupku. Jangan hubungi aku lagi ya. Selamat tinggal." Rio terbelalak. Baru saja Nabila menghilang, sekarang Sari juga tiba-tiba memutuskan hubungan secara permanen tanpa sebab yang jelas. Belum sempat ia mencerna itu, satu per satu nama wanita yang pernah dekat atau pernah berselingkuh dengannya mulai melakukan hal yang sama. Mereka mengirim pesan pamit, memblokir nomornya, dan seolah lenyap ditelan bumi. Tidak ada yang menuntut apa-apa, ti
Beberapa hari berlalu sejak Rio melepaskan cincin misterius itu. Awalnya, ia merasakan kelegaan yang luar biasa. Pikiran jernih, emosi stabil, dan nafsu yang kembali normal. Rio merasa seperti kembali menjadi dirinya yang dulu, Rio yang mencintai Dewi sepenuh hati dan tak pernah sekalipun berpikir untuk mengkhianatinya. Dewi pun terlihat lebih tenang dan bahagia, seolah beban berat yang sempat menyelimuti rumah tangga mereka telah terangkat. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Suatu sore, saat Rio sedang memeriksa laporan penjualan di kantornya, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal. "Mas Rio, ini aku, Nabila. Kita perlu bicara." Jantung Rio langsung berdegup kencang. Ia mengira setelah kejadian malam itu, Nabila akan menghilang dari hidupnya. Ia mencoba mengabaikannya, namun ponselnya kembali bergetar. "Ini penting, Mas. Aku tunggu di kafe biasa, jam 7 malam. Ini terakhir ka
Rio mengemudikan mobilnya dengan perasaan campur aduk. Hatinya bergemuruh, antara rasa bersalah yang menusuk dan kebingungan akan apa yang baru saja terjadi. Langit memang mendung, seolah memahami badai yang sedang berkecamuk di dalam hatinya. Ia tahu, ia harus menghadapi Dewi, istrinya yang sedang menanti di rumah dengan perut membuncit. Sesampainya di rumah, Rio mendapati Dewi sedang duduk di sofa ruang tamu, membaca buku dengan tenang. Aroma teh melati yang baru diseduh menyeruak, menciptakan suasana hangat yang justru membuat Rio semakin merasa tidak pantas. "Assalamualaikum," ucap Rio pelan, berusaha menyembunyikan getaran dalam suaranya. "Waalaikumsalam, Mas. Kok baru pulang?" tanya Dewi lembut, menatap suaminya dengan senyum. Senyum yang kini terasa seperti jutaan pisau menusuk jantung Rio. "Aku bikinin teh, Mas. Minum dulu biar enakan." Rio hanya mengangguk, melangkah gontai menuju sofa. Ia duduk di samping Dewi, me
Suasana di kamar mandi terasa hangat, namun hati Rio justru terasa dingin dan hampa. Air shower yang membasahi tubuhnya seolah tidak mampu membersihkan rasa kotor yang tiba-tiba menyelimuti hatinya. Ia berdiri mematung, menatap lantai keramik yang mengalirkan air bercampur sisa-sisa kenikmatan duniawi yang baru saja mereka nikmati. Di sebelahnya, Nabila sedang membasuh tubuhnya dengan gerakan lambat. Wajahnya tampak lelah namun masih memancarkan aura kepuasan. Namun, perlahan-lahan, senyum di wajah itu memudar seiring dengan memudarnya kabut nafsu yang tadi menguasai akal sehat mereka. Kini, realitas mulai menghantam keras. Rio menghela napas panjang, sangat panjang. Tangannya mengepal kuat, menampar pelan pipinya sendiri dalam hati. Apa yang sudah aku lakukan? batinnya berteriak panik. Ia baru saja mengkhianati kepercayaan Dewi, istri yang sangat setia dan mencintainya dengan tulus. Ia baru saja melakukan
Mata Rio terpaku pada bentuk tubuh Nabila yang terbentang di atas sofa. Meskipun nafsunya sangat besar, sejenak ia terhenti ingatan tentang Dewi yang sedang menunggu dirinya di rumah muncul tiba-tiba. Namun, godaan yang ada di depannya terlalu kuat untuk ditahan, dan segera ia merendahkan wajahnya perlahan ke arah payudaranya, dengan sentuhan lembut yang membuat Nabila mengeluarkan hembusan napas lembut. Bahkan sesekali Rio menggigit area ujung dada Nabila karena gemas. Nabila menyesuaikan posisinya hingga berada di bawah Rio, tubuhnya rileks namun penuh dengan hasrat yang sudah lama terpendam. Tangan Rio perlahan merayap ke arah bagian bawah tubuhnya, menyentuh lapisan tipis yang sudah lembap karena gairah yang tak bisa disembunyikan. Dan Rio langsung menarik kain itu dengan cepat, karena ia sudah tidak sabar ingin membalas perbuatan Nabila dulu. "Kenapa kita tidak melakukannya dengan lebih dalam waktu di Lombok?" bisik Rio dengan suara yang penuh nafsu saat i
Rio mencengkeram plastik buah di tangan kanannya sambil menatap wajah Nabila yang sedang tersenyum menyiratkan sesuatu. Meski hati masih berdebar karena pertemuan tadi, keputusannya sudah bulat ia tidak ingin sia-siakan kesempatan untuk bertemu dengan wanita yang telah mengusik pikirannya selama berbulan-bulan. "Boleh kah aku minta alamat apartemen dan nomor teleponmu," ucap Rio dengan suara yang sedikit bergetar, namun penuh tekad. "Saya ingin bisa menghubungimu ... atau hanya sekadar mampir." Nabila sedikit mendekat, bibirnya hampir menyentuh telinga Rio. "Kamu bisa datang, tapi kabarin dulu ya Pak Supervisor," bisiknya dengan nada yang menggairahkan. "Jangan sampai datang tiba-tiba, saya kan juga perlu waktu untuk menyambutmu dengan baik atau saya sedang tidak ada di apartemen saat itu" Saat mengucapkan kata-kata itu, ia menyentuh lembut dagu Rio dengan jemari telunjuknya sebelum mengambil selembar kertas dari kantong roknya dan menuliskan nomor serta alamat a
Hari-hari setelah kembali ke Jakarta, kehidupan Rio dan Dewi kembali berjalan seperti biasa. Rutinitas kerja, urusan rumah tangga, dan obrolan tentang liburan masih sering terdengar, namun ada sesuatu yang tersembunyi di dalam benak Rio. Setiap kali ia sendirian, wajah wanita asing yang pernah be
Setelah enam hari penuh dengan petualangan di Lombok dan Gili Trawangan, akhirnya tiba saatnya Rio dan Dewi harus kembali ke Jakarta. Pagi itu, mereka bangun lebih awal untuk menyelesaikan packing barang dan mengecek kembali semua pesanan yang telah dibuat di hotel. Suasana di kamar sedikit teras
Setelah menyantap sarapan bersama, suasana di antara Rio dan Dewi kembali menjadi lebih hangat. Rasa bersalah yang mengganggu hati Rio sedikit mereda saat melihat senyum bahagia istri tercintanya. Mereka memutuskan untuk menghabiskan hari itu dengan menjelajahi kawasan sekitar pulau, berharap bis
Gerakan lidah wanita misterius yang lihai dan penuh keahlian semakin memperkuat sensasi yang dirasakan Rio. Setiap sentuhan dan setiap gerakan membuat tubuhnya semakin terbakar oleh hasrat yang tak terkendali. Tak lama kemudian, dia mencapai klimaks dengan keras, cairannya muncrat ke wajah dan da







