Share

CINCIN BERULAH

Author: Deameriawan
last update Last Updated: 2026-03-02 09:00:39

Rio mengusap tangan Maya dengan lembut. “Tenang Mbak Maya, kita pasti bisa cari jalan keluar. Kalau perlu, aku bisa minta bantuan pak RT juga. Jangan terlalu kuatir.” Maya mengangguk perlahan, masih menangis tapi sudah mulai bisa mengendalikan emosinya. “Terima kasih banyak mas… aku cuma takut dia akan melakukan hal lebih buruk lagi.”

Setelah menjaga Maya sampai larut malam dan memastikan dia sudah tenang, Rio kembali ke unitnya. Saat membuka kunci pintu, dia melihat cincin perak di jari telunjuknya milik mbah buyutnya. “Semoga kamu bisa bikin rejeki aku lancar ya,” gumam Rio sambil mencium cincin itu lalu langsung beristirahat.

Keesokan paginya, Rio berangkat kerja seperti biasa ke Supermarket Jaya Makmur. Tapi saat memasuki supermarket, dia langsung terkejut. Antrian pembeli membentang panjang, kebanyakan adalah wanita dan anak-anak gadis yang terus mengirim senyuman kepadanya.

“Waduh Rio, hari ini kayak ada promo besar?” tanya Budi, teman kerja Rio yang sedang mengecek barang di rak. “Padahal aku tidak lihat ada poster promo apa-apa lho!”

Rio hanya tersenyum. “Iya ... ya Mas Budi, ada apa ya? Saya juga bingung kenapa tiba-tiba ramai banget. Atau kantor kita lagi bagi-bagi voucher belanja?”

Saat Rio mulai melayani pembeli, seorang wanita mengenakan baju batik dengan tas besar menghampiri kasirnya dan itu adalah Dewi, janda juragan catering yang pernah bertemu di bus. “Halo Mas Rio! Lama tidak ketemu ya,” ucap Dewi dengan senyum ceria. “Hari ini saya belanja banyak banget, karena lagi banyak pesanan catering. Mas Rio, kapan mau main kerumah? Waktu itu janji mau makan dirumah loh”

“Wah kayaknya Mbak Dewi habis dapat tender catering ya,” jawab Rio sambil cepat menghitung harga barang. “Rencana nanti hari Kamis saya mau ke rumah mbak. Kebetulan saya libur kerja. Karena seminggu ini saya kena shift malam jadi gak bisa mampir ke rumah Mbak Dewi.”

“Wah beneran ya. Kamis besok kan? Terima kasih Mas Rio. Nanti saya buatin makanan yang enak-enak buat mas Rio,” kata Dewi sambil menatap cincin perak di tangan Rio. “Wah cincin kamu bagus banget mas. Sangat pas kalau kamu yang pake! Bikin tambah ganteng!”

Rio sedikit malu. “Cuma warisan mbah buyut mbak, tapi terima kasih loh pujiannya.”

Benar saja, dalam seminggu omset supermarket meningkat hampir 40%. Manajer toko, Pak Herman, memanggil Rio ke kantornya dengan wajah penuh senyum. “Rio, kerja kamu luar biasa! Belakangan ini banyak pembeli yang datang dan cuma karena mau dilayani sama kamu. Gaji kamu akan dinaikkan bulan depan, dan mungkin akan ada bonus juga!”

Rio sangat senang mendengarnya. Saat pulang kerja, dia langsung mampir ke toko sepeda motor bekas yang sudah didatanginya beberapa kali. “Pak, saya jadi mau beli motor itu yang harga 12 juta,” ucap Rio dengan suara tegas sambil menunjuk sebuah sepeda motor yang tampak baru walau bekas.

Pemilik toko mengangguk senang. “Baiklah mas Rio! Motornya masih sangat layak, saya kasih juga helm baru dan kunci serep ya. Dan selama tiga bulan ada garansi toko kalau ada kerusakan bawa aja kesini. Gratis!”

Setelah melakukan transaksi, Rio membawa pulang motor baru itu ke parkiran rusun tempat ia tinggal. Saat memasuki gerbang rusun, tetangga-tetangga langsung menyambutnya. “Wah Mas Rio baru beli sepeda motor nih!” teriak Pak Joni dari unit 103. “Kapan kita jalan-jalan bareng ya?”

“Siap pak. Kapan-kapan kita jalan bareng. Sekarang saya mau ngecat kamar dulu biar lebih bersih dan enak dilihat,” jawab Rio sambil tertawa.

Dalam beberapa hari berikutnya, Rio sibuk mengecat kamar rusunnya dengan warna putih yang membuat ruangan terlihat lebih terang dan luas. Saat sedang mengecat, tiba-tiba pintu dibuka dan Maya masuk dengan membawa mangkuk tahu isi. “Halo Mas Rio, saya bawa oleh-oleh buat kamu. Wah unitmu kelihatan lebih bersih ya sekarang!”

“Makasih ya Mbak Maya. Duduk aja dulu,” ajak Rio sambil menaruh kuas cat. “Alhamdulillah ini hasil dapat bonus dari kantor. Jadi bisa ngecat seluruh ruangan dan ganti springbed baru" ujarnya sambil terkekeh.

“Wah selamat Mas Rio!” kata Maya sambil tersenyum genit. “Kalau kamu sudah selesai mengecat, bolehkah aku bantu kamu merapikan barang-barangnya? Karena kamu pasti capek karena ngecat.”

“Tentu aja boleh Mbak! Malam ini kita bisa makan tahu isi bareng dan nonton film juga kalau mau,” ajak Rio dengan senyum ceria.

Saat itu juga, suara riang dari warung Siska terdengar sampai ke lantai tiga. Iskandar sedang membantu memasang payung baru di depan warung, sementara Siska sedang tertawa bersama beberapa pembeli. Semua tampak semakin baik, dan Rio merasa bahwa cincin perak itu memang benar-benar membawa keberuntungan bukan hanya untuk dirinya, tapi juga untuk orang-orang di sekitarnya. Tapi apakah mungkin?

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • ASMARA RUSUN SIMPANG TIGA   MAIN API

    Setelah makan malam bersama para ibu-ibu di gerbang rusun, Rio dan Maya kembali ke unitnya dengan langkah yang pelan-pelan. Udara malam terasa sedikit hangat, dan lampu kamar yang baru dicat putih membuat ruangan terlihat lebih cerah dari biasanya. “Waduh, ternyata setelah dibersihin dan dicat, kamar kamu benar-benar beda banget Mas Rio,” ujar Maya sambil menutup pintu dengan lembut. “Biar aku bersihin meja aja, biar tidak ada bekas makanan.” “Gapapa kok Mbak, nanti saja saya yang bersihinnya. Kamu sudah capek membantu seharian,” kata Rio, tapi matanya tidak bisa lepas dari sosok Maya yang sedang membungkuk membersihkan sudut meja. Daster pendek yang dikenakannya sedikit menggeser, dan kali ini Rio tidak lagi mengalihkan pandangan. “Mas Rio… kamu lagi lihat apa sih?” tanya Maya menoleh, tapi wajahnya sudah mulai memerah. Dia sengaja tidak memperbaiki dasternya yang naik sampai ke paha, lalu perlahan berdiri dan menghadap Rio. “Kamu kan bi

  • ASMARA RUSUN SIMPANG TIGA   GAK SENGAJA

    Setelah merapikan buku-buku di rak dan menyusun pakaian di lemari, Maya mengusap dahinya yang sedikit berkeringat. “Wah Mas Rio, kamar kamu sekarang benar-benar jadi lebih nyaman. Kayak rumah baru ya kelihatannya!” ujarnya sambil menoleh ke arah Rio yang sedang menyimpan kuas cat dan ember. “Terima kasih banyak Mbak Maya. Kalau gak karena bantuanmu, mungkin sampai sekarang saya masih bingung ngurusin barang-barangnya. Dan selesainya pasti lebih lama” jawab Rio sambil mengusap tangan di celananya. Tiba-tiba, ia melihat Maya yang sedang membungkuk untuk merapikan sajadah di sudut kamar daster pendek yang dikenakannya sedikit menggeser, menampakkan paha putihnya yang lembut. Rio tidak sengaja menatap sejenak, hatinya berdesir lalu cepat-cepat meneguk ludah dan mengalihkan pandangan ke jendela. “Mas Rio capek? Mau saya pijet bahunya gak?” ajak Maya dengan suara lembut sambil berdiri dan mendekatinya. Tanpa menunggu jawaban, tangannya yang lembut sudah mulai memijat b

  • ASMARA RUSUN SIMPANG TIGA   CINCIN BERULAH

    Rio mengusap tangan Maya dengan lembut. “Tenang Mbak Maya, kita pasti bisa cari jalan keluar. Kalau perlu, aku bisa minta bantuan pak RT juga. Jangan terlalu kuatir.” Maya mengangguk perlahan, masih menangis tapi sudah mulai bisa mengendalikan emosinya. “Terima kasih banyak mas… aku cuma takut dia akan melakukan hal lebih buruk lagi.” Setelah menjaga Maya sampai larut malam dan memastikan dia sudah tenang, Rio kembali ke unitnya. Saat membuka kunci pintu, dia melihat cincin perak di jari telunjuknya milik mbah buyutnya. “Semoga kamu bisa bikin rejeki aku lancar ya,” gumam Rio sambil mencium cincin itu lalu langsung beristirahat. Keesokan paginya, Rio berangkat kerja seperti biasa ke Supermarket Jaya Makmur. Tapi saat memasuki supermarket, dia langsung terkejut. Antrian pembeli membentang panjang, kebanyakan adalah wanita dan anak-anak gadis yang terus mengirim senyuman kepadanya. “Waduh Rio, hari ini kayak ada promo besar?” tanya Budi, te

  • ASMARA RUSUN SIMPANG TIGA   WANITA BARU DI LANTAI DUA

    Setelah kejadian dengan Siska dan Iskandar, hampir seminggu Rio tidak bisa benar-benar rileks. Ia sering melihat Siska yang mulai kembali berjualan dengan wajah yang lebih tenang, meskipun kadang masih terlihat lesu. Iskandar juga mulai jarang keluar rumah dan terkadang membantu istrinya di warung, meskipun belum jelas apakah dia benar-benar berhenti judi. Sore itu, saat Rio hendak keluar untuk membeli air mineral di warung dekat gerbang rusun, dia melihat seorang wanita sedang memerintahkan pekerja untuk membawa barang-barangnya masuk ke unit di lantai dua. Wanita itu memiliki rambut panjang berwarna coklat kemerahan yang terurai lembut, mengenakan blazer hitam yang rapi dan rok sampai lutut. Wajahnya cantik dengan alis yang jelas dan bibir yang sedikit menonjol. Rio merasa wajahnya sangat akrab, tapi tidak bisa ingat dari mana. “Permisi mas, mau tanya nih unit nomor 207 ada di mana ya?” tanya wanita itu dengan suara lembut saat melihat Rio yang sedang memperhat

  • ASMARA RUSUN SIMPANG TIGA   KEMELUT UTANG

    Setelah turun dari bus dan naik ojek, Rio sampai di dekat gerbang Rusun Simpang Tiga pukul sekitar dua pagi. Badan yang lelah seolah ingin langsung menjemur diri di kasurnya, tapi perut yang keroncongan membuatnya berhenti di depan warung pecel lele milik Lek Minto yang masih menyala dengan lampu neon kuning kusam. “Pak Lek, satu porsi pecel lele besar ya, tambah tempe dan tahu!” teriak Rio sambil menjatuhkan tubuhnya di kursi plastik yang sedikit goyah. “Baik Mas Rio, sebentar saja!” jawab Lek Minto dari belakang meja masak yang berasap. Di sudut warung, tiga ibu-ibu warga rusun masih terjaga dan sedang duduk berkerumun sambil ngobrol. “Betul kan Bu Kartini, tadi jam sebelas lebih tuh tukang tagihnya datang lagi ke warung Siska,” ucap Ibu Yanti dengan suara pelan tapi jelas terdengar. “Bawa dua orang cowok tinggi, wajahnya kayak preman.” “Iya Bu, katanya hutangnya sudah sampai 2 juta rupiah. Karena suaminya Iskandar itu main judi on

  • ASMARA RUSUN SIMPANG TIGA   CINCIN TUAH

    Malam ini juga Rio bersiap-siap mandi, makan dan langsung keluar dari unit rusunnya dan Rio langsung memanggil ojek online untuk menuju ke stasiun bus. Rio naik bus dan menempuh perjalanan selama lebih dari sembilan jam, dia tiba di desa kecil tempat Mbah Buyutnya dulu tinggal. Rumah tua kayu yang masih berdiri tampak kokoh berdiri di tengah lahan yang luas.Pak Karsono sudah menunggu di depan rumah. “Mas Rio, kamu datang tepat waktu. Pembayaran akan dilakukan dua jam lagi. Sebelum itu, barangkali kamu mau menengok rumah Mbah Buyutmu dan mengambil surat dan barang yang perlu di bawa pulang ke Jakarta.”Rio masuk ke rumah yang sudah penuh dengan debu dan ingatan masa kecilnya. Di dalam kamar belakang dia menemukan sebuah lemari kayu kuno yang terkunci. Di balik tumpukan kain batik jadul dan buku-buku tua, jari telunjuk Rio tersentak oleh sesuatu yang dingin dan licin. Dia menariknya keluar dengan hati-hati.“Cincin?” bisik Rio sambil melihat benda perak tua

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status