LOGINRio Norman, kasir minimarket yang hidup pas-pasan di rusun, menemukan cincin pusaka milik leluhurnya yang tanpa ia sadari memiliki kekuatan pengasih, membuat perempuan-perempuan bermasalah di sekitarnya perlahan terikat dan bergantung padanya. Kini, di tengah godaan dan kedekatan yang semakin kabur batasnya, Rio harus memilih tetap jadi penolong, atau tenggelam dalam hasrat yang datang tanpa diminta. “Kalau semua orang datang tanpa cincin ini—apa aku masih punya kendali?”
View MoreHari-hari setelah pertemuan terakhir dengan Nabila, hidup Rio mulai mengalami perubahan yang sangat aneh dan tak terduga. Awalnya ia mengira masalah dengan Nabila sudah selesai begitu saja, namun ternyata itu baru permulaan dari serangkaian kejadian ajaib yang membuat bulu kuduknya meremang. Kejadian pertama yang membuatnya kaget adalah pesan singkat yang masuk dari mantan selingkuhannya dulu, Sari. "Mas Rio, maaf ya selama ini sudah mengganggu. Aku rasa kita sudah cukup sampai di sini. Aku mau tobat dan memperbaiki hidupku. Jangan hubungi aku lagi ya. Selamat tinggal." Rio terbelalak. Baru saja Nabila menghilang, sekarang Sari juga tiba-tiba memutuskan hubungan secara permanen tanpa sebab yang jelas. Belum sempat ia mencerna itu, satu per satu nama wanita yang pernah dekat atau pernah berselingkuh dengannya mulai melakukan hal yang sama. Mereka mengirim pesan pamit, memblokir nomornya, dan seolah lenyap ditelan bumi. Tidak ada yang menuntut apa-apa, ti
Beberapa hari berlalu sejak Rio melepaskan cincin misterius itu. Awalnya, ia merasakan kelegaan yang luar biasa. Pikiran jernih, emosi stabil, dan nafsu yang kembali normal. Rio merasa seperti kembali menjadi dirinya yang dulu, Rio yang mencintai Dewi sepenuh hati dan tak pernah sekalipun berpikir untuk mengkhianatinya. Dewi pun terlihat lebih tenang dan bahagia, seolah beban berat yang sempat menyelimuti rumah tangga mereka telah terangkat. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Suatu sore, saat Rio sedang memeriksa laporan penjualan di kantornya, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal. "Mas Rio, ini aku, Nabila. Kita perlu bicara." Jantung Rio langsung berdegup kencang. Ia mengira setelah kejadian malam itu, Nabila akan menghilang dari hidupnya. Ia mencoba mengabaikannya, namun ponselnya kembali bergetar. "Ini penting, Mas. Aku tunggu di kafe biasa, jam 7 malam. Ini terakhir ka
Rio mengemudikan mobilnya dengan perasaan campur aduk. Hatinya bergemuruh, antara rasa bersalah yang menusuk dan kebingungan akan apa yang baru saja terjadi. Langit memang mendung, seolah memahami badai yang sedang berkecamuk di dalam hatinya. Ia tahu, ia harus menghadapi Dewi, istrinya yang sedang menanti di rumah dengan perut membuncit. Sesampainya di rumah, Rio mendapati Dewi sedang duduk di sofa ruang tamu, membaca buku dengan tenang. Aroma teh melati yang baru diseduh menyeruak, menciptakan suasana hangat yang justru membuat Rio semakin merasa tidak pantas. "Assalamualaikum," ucap Rio pelan, berusaha menyembunyikan getaran dalam suaranya. "Waalaikumsalam, Mas. Kok baru pulang?" tanya Dewi lembut, menatap suaminya dengan senyum. Senyum yang kini terasa seperti jutaan pisau menusuk jantung Rio. "Aku bikinin teh, Mas. Minum dulu biar enakan." Rio hanya mengangguk, melangkah gontai menuju sofa. Ia duduk di samping Dewi, me
Suasana di kamar mandi terasa hangat, namun hati Rio justru terasa dingin dan hampa. Air shower yang membasahi tubuhnya seolah tidak mampu membersihkan rasa kotor yang tiba-tiba menyelimuti hatinya. Ia berdiri mematung, menatap lantai keramik yang mengalirkan air bercampur sisa-sisa kenikmatan duniawi yang baru saja mereka nikmati. Di sebelahnya, Nabila sedang membasuh tubuhnya dengan gerakan lambat. Wajahnya tampak lelah namun masih memancarkan aura kepuasan. Namun, perlahan-lahan, senyum di wajah itu memudar seiring dengan memudarnya kabut nafsu yang tadi menguasai akal sehat mereka. Kini, realitas mulai menghantam keras. Rio menghela napas panjang, sangat panjang. Tangannya mengepal kuat, menampar pelan pipinya sendiri dalam hati. Apa yang sudah aku lakukan? batinnya berteriak panik. Ia baru saja mengkhianati kepercayaan Dewi, istri yang sangat setia dan mencintainya dengan tulus. Ia baru saja melakukan
Setelah kejadian dengan Siska dan Iskandar, hampir seminggu Rio tidak bisa benar-benar rileks. Ia sering melihat Siska yang mulai kembali berjualan dengan wajah yang lebih tenang, meskipun kadang masih terlihat lesu. Iskandar juga mulai jarang keluar rumah dan terkadang membantu istrinya di warun
Setelah turun dari bus dan naik ojek, Rio sampai di dekat gerbang Rusun Simpang Tiga pukul sekitar dua pagi. Badan yang lelah seolah ingin langsung menjemur diri di kasurnya, tapi perut yang keroncongan membuatnya berhenti di depan warung pecel lele milik Lek Minto yang masih menyala dengan lampu
Malam ini juga Rio bersiap-siap mandi, makan dan langsung keluar dari unit rusunnya dan Rio langsung memanggil ojek online untuk menuju ke stasiun bus. Rio naik bus dan menempuh perjalanan selama lebih dari sembilan jam, dia tiba di desa kecil tempat Mbah Buyutnya dulu tinggal. Rumah tua kayu yan
Suara teriakan menyakitkan menusuk telinga Rio yang baru saja turun dari angkutan kota, tangan kanannya masih memegang tas kerja yang penuh dengan bungkusan makanan yang dibeli di supermarket tempat dia bekerja. “Jangan… Anton, tolong berhenti!” Di lorong rusun yang kumuh dan sempit, se
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews