FAZER LOGINSetelah kejadian dengan Siska dan Iskandar, hampir seminggu Rio tidak bisa benar-benar rileks. Ia sering melihat Siska yang mulai kembali berjualan dengan wajah yang lebih tenang, meskipun kadang masih terlihat lesu. Iskandar juga mulai jarang keluar rumah dan terkadang membantu istrinya di warung, meskipun belum jelas apakah dia benar-benar berhenti judi.
Sore itu, saat Rio hendak keluar untuk membeli air mineral di warung dekat gerbang rusun, dia melihat seorang wanita sedang memerintahkan pekerja untuk membawa barang-barangnya masuk ke unit di lantai dua. Wanita itu memiliki rambut panjang berwarna coklat kemerahan yang terurai lembut, mengenakan blazer hitam yang rapi dan rok sampai lutut. Wajahnya cantik dengan alis yang jelas dan bibir yang sedikit menonjol. Rio merasa wajahnya sangat akrab, tapi tidak bisa ingat dari mana. “Permisi mas, mau tanya nih unit nomor 207 ada di mana ya?” tanya wanita itu dengan suara lembut saat melihat Rio yang sedang memperhatikannya. “Eh… Mbak dulu tinggal di lantai tiga bukan? Dua tahun lalu kalo gak salah pindah tugas ke Bali?” ucap Rio tanpa sengaja. Wanita itu terkejut lalu tersenyum pelan. “Wah benar sekali! Mas masih ingat saya? Saya Maya. Ya, dua tahun yang lalu saya memang pindah tugas ke sana. Sekarang lagi pindah tugas ke Jakarta, dan kebetulan dapat kontrakan di sini lagi. Unit lama saya sudah ada yang huni, jadi sekarang dapat yang di lantai dua.” Rio mengangguk dan menunjukkan arah unit 207. “Oh iya Mbak Maya, saya Rio. Tinggal di unit 305. Kalau ada yang perlu bantuan bilang aja ya.” “Terima kasih banyak Mas Rio” ucap Maya sambil memberikan senyuman. Beberapa hari kemudian, Rio sedang sedang membersihkan balkon kamarnya saat mendengar suara tangisan yang terdengar dari arah lantai dua. Suaranya sangat jelas karena malam hari yang sunyi. Tanpa berpikir panjang, Rio turun ke lantai dua dan berdiri di depan pintu unit Maya. Tangisan itu semakin keras, diselingi suara orang pria yang sedang memarahi keras. “MAYA! KAMI BOLEH AJA NGGAK RESPON WA KU SAMPAI SEHARIAN! KAMU KEMARIN SORE KE MANA AJA?! APA KAMU SELINGKUH SAMA ORANG LAIN HAH?!” suara pria itu sangat marah. “Tidak Mas Dika… aku baru saja selesai rapat tim sales sampai jam sembilan malam. HP aku kehabisan daya,” jawab Maya dengan suara gemetar. “BOHONG! KAMU SELALU BISA CARI ALASAN! KAMU GAK BISA DIPERCAYA, KAMU PERGI DARI SINI! TAPI INGAT, SEMUA YANG KAMU MILIKI SEKARANG DARI AKU!” teriak pria itu lebih keras lagi, kemudian terdengar suara benda yang jatuh dan pecah. Rio tidak tahan lagi dan mengetuk pintu dengan keras. “Permisi! Ada apa nih? Kalau ada masalah bisa bicarakan dengan tenang kan?” Suara di dalam tiba-tiba hilang. Beberapa saat kemudian pintu terbuka, Maya berdiri dengan mata merah dan bibir yang memar. Di belakangnya, seorang pria tinggi dengan wajah kasar sedang menatap Rio dengan pandangan menyengat. “Siapa kamu?! Berani mencampuri urusan orang lain!” teriak pria itu yang disebut Dika. “Saya tetangganya disini mas, nama saya Rio. Kalau ada masalah, sebaiknya dibicarakan dengan baik. Tidak perlu marah-marah dan membuat keributan yang mengganggu tetangga lain,” jawab Rio dengan tenang tapi tegas. Dika mendekat ke arah Rio dengan wajah memerah karena marah. “Kamu jangan sok baik ya! Urusan aku sama Maya bukan urusan kamu!” “Kalau urusan kalian mengganggu orang lain dan ada yang terluka, itu jadi urusan semua orang di rusun ini,” ucap Rio sambil melangkah ke depan sedikit, melindungi Maya yang mulai bersandar ke belakang. Dika melihat wajah Rio yang tidak mundur sedikit pun, lalu menghela nafas kasar. “Baiklah, aku akan pergi sekarang. Tapi ingat Maya, besok aku akan datang lagi. Jangan sampai kamu bolos ya!” Setelah Dika pergi, Maya langsung menangis deras dan jatuh di depan pintu. Rio dengan cepat membantunya masuk ke dalam unitnya yang rapi dan penuh dengan berbagai produk kosmetik yang menarik. “Terima kasih Mas Rio… kalau kamu tidak datang, aku tidak tahu apa yang akan terjadi,” ucap Maya sambil menyeka air matanya dengan tangan. “Mbak Maya kenapa sampai begini sih? Kalau boleh tahu, siapa itu Dika dan apa yang terjadi?” tanya Rio dengan suara lembut saat memberikan gelas air putih kepada Maya. Maya mengambil napas dalam-dalam sebelum mulai bercerita. “Dia adalah bos aku sekaligus pacar aku. Dua tahun yang lalu, saat aku bekerja di Bali, dia merekrut aku jadi sales supervisor. Awalnya dia sangat baik, memberikan banyak kesempatan dan membantu ku dalam banyak hal. Tapi lama kelamaan, dia mulai mengontrol setiap langkah ku. Dia tidak mengijinkan aku berteman dengan pria lain, harus melaporkan setiap aktivitas ku, bahkan memilihkan pakaian yang aku pakai.” “Kalau begitu kenapa Mbak Maya tidak putus saja sama dia?” tanya Rio dengan wajah penuh prihatin. Maya menggeleng dan menangis lagi. “Aku sudah mencoba berkali-kali. Tapi dia selalu bilang kalau tanpa dia, aku tidak akan ada apa-apa. Semua klien ku, posisi ku sekarang, bahkan uang sewa unit ini semuanya dari dia. Dia juga pernah mengancam akan menyebarkan kabar buruk tentang aku kalau berani pergi darinya. Aku merasa terjebak mas,” ucap Maya sambil memegang tangan Rio dengan erat. Perasaan tidak nyaman mulai muncul di hati Rio. Ia melihat wanita cantik di depannya yang sedang menderita tapi tidak berani melarikan diri. Tanpa sadar, tangannya pun meraih tangan Maya dengan lembut. “Mbak Maya, kamu tidak sendirian. Kalau ada yang bisa aku bantu, aku akan lakukan apa saja. Jangan biarkan dia terus menyakiti kamu seperti ini ya.” Maya melihat mata Rio yang penuh kesungguhan, dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, dia merasa ada orang yang benar-benar peduli padanya. ***Hari-hari setelah pertemuan terakhir dengan Nabila, hidup Rio mulai mengalami perubahan yang sangat aneh dan tak terduga. Awalnya ia mengira masalah dengan Nabila sudah selesai begitu saja, namun ternyata itu baru permulaan dari serangkaian kejadian ajaib yang membuat bulu kuduknya meremang. Kejadian pertama yang membuatnya kaget adalah pesan singkat yang masuk dari mantan selingkuhannya dulu, Sari. "Mas Rio, maaf ya selama ini sudah mengganggu. Aku rasa kita sudah cukup sampai di sini. Aku mau tobat dan memperbaiki hidupku. Jangan hubungi aku lagi ya. Selamat tinggal." Rio terbelalak. Baru saja Nabila menghilang, sekarang Sari juga tiba-tiba memutuskan hubungan secara permanen tanpa sebab yang jelas. Belum sempat ia mencerna itu, satu per satu nama wanita yang pernah dekat atau pernah berselingkuh dengannya mulai melakukan hal yang sama. Mereka mengirim pesan pamit, memblokir nomornya, dan seolah lenyap ditelan bumi. Tidak ada yang menuntut apa-apa, ti
Beberapa hari berlalu sejak Rio melepaskan cincin misterius itu. Awalnya, ia merasakan kelegaan yang luar biasa. Pikiran jernih, emosi stabil, dan nafsu yang kembali normal. Rio merasa seperti kembali menjadi dirinya yang dulu, Rio yang mencintai Dewi sepenuh hati dan tak pernah sekalipun berpikir untuk mengkhianatinya. Dewi pun terlihat lebih tenang dan bahagia, seolah beban berat yang sempat menyelimuti rumah tangga mereka telah terangkat. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Suatu sore, saat Rio sedang memeriksa laporan penjualan di kantornya, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal. "Mas Rio, ini aku, Nabila. Kita perlu bicara." Jantung Rio langsung berdegup kencang. Ia mengira setelah kejadian malam itu, Nabila akan menghilang dari hidupnya. Ia mencoba mengabaikannya, namun ponselnya kembali bergetar. "Ini penting, Mas. Aku tunggu di kafe biasa, jam 7 malam. Ini terakhir ka
Rio mengemudikan mobilnya dengan perasaan campur aduk. Hatinya bergemuruh, antara rasa bersalah yang menusuk dan kebingungan akan apa yang baru saja terjadi. Langit memang mendung, seolah memahami badai yang sedang berkecamuk di dalam hatinya. Ia tahu, ia harus menghadapi Dewi, istrinya yang sedang menanti di rumah dengan perut membuncit. Sesampainya di rumah, Rio mendapati Dewi sedang duduk di sofa ruang tamu, membaca buku dengan tenang. Aroma teh melati yang baru diseduh menyeruak, menciptakan suasana hangat yang justru membuat Rio semakin merasa tidak pantas. "Assalamualaikum," ucap Rio pelan, berusaha menyembunyikan getaran dalam suaranya. "Waalaikumsalam, Mas. Kok baru pulang?" tanya Dewi lembut, menatap suaminya dengan senyum. Senyum yang kini terasa seperti jutaan pisau menusuk jantung Rio. "Aku bikinin teh, Mas. Minum dulu biar enakan." Rio hanya mengangguk, melangkah gontai menuju sofa. Ia duduk di samping Dewi, me
Suasana di kamar mandi terasa hangat, namun hati Rio justru terasa dingin dan hampa. Air shower yang membasahi tubuhnya seolah tidak mampu membersihkan rasa kotor yang tiba-tiba menyelimuti hatinya. Ia berdiri mematung, menatap lantai keramik yang mengalirkan air bercampur sisa-sisa kenikmatan duniawi yang baru saja mereka nikmati. Di sebelahnya, Nabila sedang membasuh tubuhnya dengan gerakan lambat. Wajahnya tampak lelah namun masih memancarkan aura kepuasan. Namun, perlahan-lahan, senyum di wajah itu memudar seiring dengan memudarnya kabut nafsu yang tadi menguasai akal sehat mereka. Kini, realitas mulai menghantam keras. Rio menghela napas panjang, sangat panjang. Tangannya mengepal kuat, menampar pelan pipinya sendiri dalam hati. Apa yang sudah aku lakukan? batinnya berteriak panik. Ia baru saja mengkhianati kepercayaan Dewi, istri yang sangat setia dan mencintainya dengan tulus. Ia baru saja melakukan
Mata Rio terpaku pada bentuk tubuh Nabila yang terbentang di atas sofa. Meskipun nafsunya sangat besar, sejenak ia terhenti ingatan tentang Dewi yang sedang menunggu dirinya di rumah muncul tiba-tiba. Namun, godaan yang ada di depannya terlalu kuat untuk ditahan, dan segera ia merendahkan wajahnya perlahan ke arah payudaranya, dengan sentuhan lembut yang membuat Nabila mengeluarkan hembusan napas lembut. Bahkan sesekali Rio menggigit area ujung dada Nabila karena gemas. Nabila menyesuaikan posisinya hingga berada di bawah Rio, tubuhnya rileks namun penuh dengan hasrat yang sudah lama terpendam. Tangan Rio perlahan merayap ke arah bagian bawah tubuhnya, menyentuh lapisan tipis yang sudah lembap karena gairah yang tak bisa disembunyikan. Dan Rio langsung menarik kain itu dengan cepat, karena ia sudah tidak sabar ingin membalas perbuatan Nabila dulu. "Kenapa kita tidak melakukannya dengan lebih dalam waktu di Lombok?" bisik Rio dengan suara yang penuh nafsu saat i
Rio mencengkeram plastik buah di tangan kanannya sambil menatap wajah Nabila yang sedang tersenyum menyiratkan sesuatu. Meski hati masih berdebar karena pertemuan tadi, keputusannya sudah bulat ia tidak ingin sia-siakan kesempatan untuk bertemu dengan wanita yang telah mengusik pikirannya selama berbulan-bulan. "Boleh kah aku minta alamat apartemen dan nomor teleponmu," ucap Rio dengan suara yang sedikit bergetar, namun penuh tekad. "Saya ingin bisa menghubungimu ... atau hanya sekadar mampir." Nabila sedikit mendekat, bibirnya hampir menyentuh telinga Rio. "Kamu bisa datang, tapi kabarin dulu ya Pak Supervisor," bisiknya dengan nada yang menggairahkan. "Jangan sampai datang tiba-tiba, saya kan juga perlu waktu untuk menyambutmu dengan baik atau saya sedang tidak ada di apartemen saat itu" Saat mengucapkan kata-kata itu, ia menyentuh lembut dagu Rio dengan jemari telunjuknya sebelum mengambil selembar kertas dari kantong roknya dan menuliskan nomor serta alamat a
Hari-hari setelah kembali ke Jakarta, kehidupan Rio dan Dewi kembali berjalan seperti biasa. Rutinitas kerja, urusan rumah tangga, dan obrolan tentang liburan masih sering terdengar, namun ada sesuatu yang tersembunyi di dalam benak Rio. Setiap kali ia sendirian, wajah wanita asing yang pernah be
Setelah enam hari penuh dengan petualangan di Lombok dan Gili Trawangan, akhirnya tiba saatnya Rio dan Dewi harus kembali ke Jakarta. Pagi itu, mereka bangun lebih awal untuk menyelesaikan packing barang dan mengecek kembali semua pesanan yang telah dibuat di hotel. Suasana di kamar sedikit teras
Setelah menyantap sarapan bersama, suasana di antara Rio dan Dewi kembali menjadi lebih hangat. Rasa bersalah yang mengganggu hati Rio sedikit mereda saat melihat senyum bahagia istri tercintanya. Mereka memutuskan untuk menghabiskan hari itu dengan menjelajahi kawasan sekitar pulau, berharap bis
Gerakan lidah wanita misterius yang lihai dan penuh keahlian semakin memperkuat sensasi yang dirasakan Rio. Setiap sentuhan dan setiap gerakan membuat tubuhnya semakin terbakar oleh hasrat yang tak terkendali. Tak lama kemudian, dia mencapai klimaks dengan keras, cairannya muncrat ke wajah dan da







