แชร์

WANITA BARU DI LANTAI DUA

ผู้เขียน: Deameriawan
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-02-28 06:27:29

Setelah kejadian dengan Siska dan Iskandar, hampir seminggu Rio tidak bisa benar-benar rileks. Ia sering melihat Siska yang mulai kembali berjualan dengan wajah yang lebih tenang, meskipun kadang masih terlihat lesu. Iskandar juga mulai jarang keluar rumah dan terkadang membantu istrinya di warung, meskipun belum jelas apakah dia benar-benar berhenti judi.

Sore itu, saat Rio hendak keluar untuk membeli air mineral di warung dekat gerbang rusun, dia melihat seorang wanita sedang memerintahkan pekerja untuk membawa barang-barangnya masuk ke unit di lantai dua. Wanita itu memiliki rambut panjang berwarna coklat kemerahan yang terurai lembut, mengenakan blazer hitam yang rapi dan rok sampai lutut. Wajahnya cantik dengan alis yang jelas dan bibir yang sedikit menonjol. Rio merasa wajahnya sangat akrab, tapi tidak bisa ingat dari mana.

“Permisi mas, mau tanya nih unit nomor 207 ada di mana ya?” tanya wanita itu dengan suara lembut saat melihat Rio yang sedang memperhatikannya.

“Eh… Mbak dulu tinggal di lantai tiga bukan? Dua tahun lalu kalo gak salah pindah tugas ke Bali?” ucap Rio tanpa sengaja.

Wanita itu terkejut lalu tersenyum pelan. “Wah benar sekali! Mas masih ingat saya? Saya Maya. Ya, dua tahun yang lalu saya memang pindah tugas ke sana. Sekarang lagi pindah tugas ke Jakarta, dan kebetulan dapat kontrakan di sini lagi. Unit lama saya sudah ada yang huni, jadi sekarang dapat yang di lantai dua.”

Rio mengangguk dan menunjukkan arah unit 207. “Oh iya Mbak Maya, saya Rio. Tinggal di unit 305. Kalau ada yang perlu bantuan bilang aja ya.”

“Terima kasih banyak Mas Rio” ucap Maya sambil memberikan senyuman.

Beberapa hari kemudian, Rio sedang sedang membersihkan balkon kamarnya saat mendengar suara tangisan yang terdengar dari arah lantai dua. Suaranya sangat jelas karena malam hari yang sunyi. Tanpa berpikir panjang, Rio turun ke lantai dua dan berdiri di depan pintu unit Maya. Tangisan itu semakin keras, diselingi suara orang pria yang sedang memarahi keras.

“MAYA! KAMI BOLEH AJA NGGAK RESPON WA KU SAMPAI SEHARIAN! KAMU KEMARIN SORE KE MANA AJA?! APA KAMU SELINGKUH SAMA ORANG LAIN HAH?!” suara pria itu sangat marah.

“Tidak Mas Dika… aku baru saja selesai rapat tim sales sampai jam sembilan malam. HP aku kehabisan daya,” jawab Maya dengan suara gemetar.

“BOHONG! KAMU SELALU BISA CARI ALASAN! KAMU GAK BISA DIPERCAYA, KAMU PERGI DARI SINI! TAPI INGAT, SEMUA YANG KAMU MILIKI SEKARANG DARI AKU!” teriak pria itu lebih keras lagi, kemudian terdengar suara benda yang jatuh dan pecah.

Rio tidak tahan lagi dan mengetuk pintu dengan keras. “Permisi! Ada apa nih? Kalau ada masalah bisa bicarakan dengan tenang kan?”

Suara di dalam tiba-tiba hilang. Beberapa saat kemudian pintu terbuka, Maya berdiri dengan mata merah dan bibir yang memar. Di belakangnya, seorang pria tinggi dengan wajah kasar sedang menatap Rio dengan pandangan menyengat.

“Siapa kamu?! Berani mencampuri urusan orang lain!” teriak pria itu yang disebut Dika.

“Saya tetangganya disini mas, nama saya Rio. Kalau ada masalah, sebaiknya dibicarakan dengan baik. Tidak perlu marah-marah dan membuat keributan yang mengganggu tetangga lain,” jawab Rio dengan tenang tapi tegas.

Dika mendekat ke arah Rio dengan wajah memerah karena marah. “Kamu jangan sok baik ya! Urusan aku sama Maya bukan urusan kamu!”

“Kalau urusan kalian mengganggu orang lain dan ada yang terluka, itu jadi urusan semua orang di rusun ini,” ucap Rio sambil melangkah ke depan sedikit, melindungi Maya yang mulai bersandar ke belakang.

Dika melihat wajah Rio yang tidak mundur sedikit pun, lalu menghela nafas kasar. “Baiklah, aku akan pergi sekarang. Tapi ingat Maya, besok aku akan datang lagi. Jangan sampai kamu bolos ya!”

Setelah Dika pergi, Maya langsung menangis deras dan jatuh di depan pintu. Rio dengan cepat membantunya masuk ke dalam unitnya yang rapi dan penuh dengan berbagai produk kosmetik yang menarik.

“Terima kasih Mas Rio… kalau kamu tidak datang, aku tidak tahu apa yang akan terjadi,” ucap Maya sambil menyeka air matanya dengan tangan.

“Mbak Maya kenapa sampai begini sih? Kalau boleh tahu, siapa itu Dika dan apa yang terjadi?” tanya Rio dengan suara lembut saat memberikan gelas air putih kepada Maya.

Maya mengambil napas dalam-dalam sebelum mulai bercerita. “Dia adalah bos aku sekaligus pacar aku. Dua tahun yang lalu, saat aku bekerja di Bali, dia merekrut aku jadi sales supervisor. Awalnya dia sangat baik, memberikan banyak kesempatan dan membantu ku dalam banyak hal. Tapi lama kelamaan, dia mulai mengontrol setiap langkah ku. Dia tidak mengijinkan aku berteman dengan pria lain, harus melaporkan setiap aktivitas ku, bahkan memilihkan pakaian yang aku pakai.”

“Kalau begitu kenapa Mbak Maya tidak putus saja sama dia?” tanya Rio dengan wajah penuh prihatin.

Maya menggeleng dan menangis lagi. “Aku sudah mencoba berkali-kali. Tapi dia selalu bilang kalau tanpa dia, aku tidak akan ada apa-apa. Semua klien ku, posisi ku sekarang, bahkan uang sewa unit ini semuanya dari dia. Dia juga pernah mengancam akan menyebarkan kabar buruk tentang aku kalau berani pergi darinya. Aku merasa terjebak mas,” ucap Maya sambil memegang tangan Rio dengan erat.

Perasaan tidak nyaman mulai muncul di hati Rio. Ia melihat wanita cantik di depannya yang sedang menderita tapi tidak berani melarikan diri. Tanpa sadar, tangannya pun meraih tangan Maya dengan lembut. “Mbak Maya, kamu tidak sendirian. Kalau ada yang bisa aku bantu, aku akan lakukan apa saja. Jangan biarkan dia terus menyakiti kamu seperti ini ya.”

Maya melihat mata Rio yang penuh kesungguhan, dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, dia merasa ada orang yang benar-benar peduli padanya.

***

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • ASMARA RUSUN SIMPANG TIGA   MAIN API

    Setelah makan malam bersama para ibu-ibu di gerbang rusun, Rio dan Maya kembali ke unitnya dengan langkah yang pelan-pelan. Udara malam terasa sedikit hangat, dan lampu kamar yang baru dicat putih membuat ruangan terlihat lebih cerah dari biasanya. “Waduh, ternyata setelah dibersihin dan dicat, kamar kamu benar-benar beda banget Mas Rio,” ujar Maya sambil menutup pintu dengan lembut. “Biar aku bersihin meja aja, biar tidak ada bekas makanan.” “Gapapa kok Mbak, nanti saja saya yang bersihinnya. Kamu sudah capek membantu seharian,” kata Rio, tapi matanya tidak bisa lepas dari sosok Maya yang sedang membungkuk membersihkan sudut meja. Daster pendek yang dikenakannya sedikit menggeser, dan kali ini Rio tidak lagi mengalihkan pandangan. “Mas Rio… kamu lagi lihat apa sih?” tanya Maya menoleh, tapi wajahnya sudah mulai memerah. Dia sengaja tidak memperbaiki dasternya yang naik sampai ke paha, lalu perlahan berdiri dan menghadap Rio. “Kamu kan bi

  • ASMARA RUSUN SIMPANG TIGA   GAK SENGAJA

    Setelah merapikan buku-buku di rak dan menyusun pakaian di lemari, Maya mengusap dahinya yang sedikit berkeringat. “Wah Mas Rio, kamar kamu sekarang benar-benar jadi lebih nyaman. Kayak rumah baru ya kelihatannya!” ujarnya sambil menoleh ke arah Rio yang sedang menyimpan kuas cat dan ember. “Terima kasih banyak Mbak Maya. Kalau gak karena bantuanmu, mungkin sampai sekarang saya masih bingung ngurusin barang-barangnya. Dan selesainya pasti lebih lama” jawab Rio sambil mengusap tangan di celananya. Tiba-tiba, ia melihat Maya yang sedang membungkuk untuk merapikan sajadah di sudut kamar daster pendek yang dikenakannya sedikit menggeser, menampakkan paha putihnya yang lembut. Rio tidak sengaja menatap sejenak, hatinya berdesir lalu cepat-cepat meneguk ludah dan mengalihkan pandangan ke jendela. “Mas Rio capek? Mau saya pijet bahunya gak?” ajak Maya dengan suara lembut sambil berdiri dan mendekatinya. Tanpa menunggu jawaban, tangannya yang lembut sudah mulai memijat b

  • ASMARA RUSUN SIMPANG TIGA   CINCIN BERULAH

    Rio mengusap tangan Maya dengan lembut. “Tenang Mbak Maya, kita pasti bisa cari jalan keluar. Kalau perlu, aku bisa minta bantuan pak RT juga. Jangan terlalu kuatir.” Maya mengangguk perlahan, masih menangis tapi sudah mulai bisa mengendalikan emosinya. “Terima kasih banyak mas… aku cuma takut dia akan melakukan hal lebih buruk lagi.” Setelah menjaga Maya sampai larut malam dan memastikan dia sudah tenang, Rio kembali ke unitnya. Saat membuka kunci pintu, dia melihat cincin perak di jari telunjuknya milik mbah buyutnya. “Semoga kamu bisa bikin rejeki aku lancar ya,” gumam Rio sambil mencium cincin itu lalu langsung beristirahat. Keesokan paginya, Rio berangkat kerja seperti biasa ke Supermarket Jaya Makmur. Tapi saat memasuki supermarket, dia langsung terkejut. Antrian pembeli membentang panjang, kebanyakan adalah wanita dan anak-anak gadis yang terus mengirim senyuman kepadanya. “Waduh Rio, hari ini kayak ada promo besar?” tanya Budi, te

  • ASMARA RUSUN SIMPANG TIGA   WANITA BARU DI LANTAI DUA

    Setelah kejadian dengan Siska dan Iskandar, hampir seminggu Rio tidak bisa benar-benar rileks. Ia sering melihat Siska yang mulai kembali berjualan dengan wajah yang lebih tenang, meskipun kadang masih terlihat lesu. Iskandar juga mulai jarang keluar rumah dan terkadang membantu istrinya di warung, meskipun belum jelas apakah dia benar-benar berhenti judi. Sore itu, saat Rio hendak keluar untuk membeli air mineral di warung dekat gerbang rusun, dia melihat seorang wanita sedang memerintahkan pekerja untuk membawa barang-barangnya masuk ke unit di lantai dua. Wanita itu memiliki rambut panjang berwarna coklat kemerahan yang terurai lembut, mengenakan blazer hitam yang rapi dan rok sampai lutut. Wajahnya cantik dengan alis yang jelas dan bibir yang sedikit menonjol. Rio merasa wajahnya sangat akrab, tapi tidak bisa ingat dari mana. “Permisi mas, mau tanya nih unit nomor 207 ada di mana ya?” tanya wanita itu dengan suara lembut saat melihat Rio yang sedang memperhat

  • ASMARA RUSUN SIMPANG TIGA   KEMELUT UTANG

    Setelah turun dari bus dan naik ojek, Rio sampai di dekat gerbang Rusun Simpang Tiga pukul sekitar dua pagi. Badan yang lelah seolah ingin langsung menjemur diri di kasurnya, tapi perut yang keroncongan membuatnya berhenti di depan warung pecel lele milik Lek Minto yang masih menyala dengan lampu neon kuning kusam. “Pak Lek, satu porsi pecel lele besar ya, tambah tempe dan tahu!” teriak Rio sambil menjatuhkan tubuhnya di kursi plastik yang sedikit goyah. “Baik Mas Rio, sebentar saja!” jawab Lek Minto dari belakang meja masak yang berasap. Di sudut warung, tiga ibu-ibu warga rusun masih terjaga dan sedang duduk berkerumun sambil ngobrol. “Betul kan Bu Kartini, tadi jam sebelas lebih tuh tukang tagihnya datang lagi ke warung Siska,” ucap Ibu Yanti dengan suara pelan tapi jelas terdengar. “Bawa dua orang cowok tinggi, wajahnya kayak preman.” “Iya Bu, katanya hutangnya sudah sampai 2 juta rupiah. Karena suaminya Iskandar itu main judi on

  • ASMARA RUSUN SIMPANG TIGA   CINCIN TUAH

    Malam ini juga Rio bersiap-siap mandi, makan dan langsung keluar dari unit rusunnya dan Rio langsung memanggil ojek online untuk menuju ke stasiun bus. Rio naik bus dan menempuh perjalanan selama lebih dari sembilan jam, dia tiba di desa kecil tempat Mbah Buyutnya dulu tinggal. Rumah tua kayu yang masih berdiri tampak kokoh berdiri di tengah lahan yang luas.Pak Karsono sudah menunggu di depan rumah. “Mas Rio, kamu datang tepat waktu. Pembayaran akan dilakukan dua jam lagi. Sebelum itu, barangkali kamu mau menengok rumah Mbah Buyutmu dan mengambil surat dan barang yang perlu di bawa pulang ke Jakarta.”Rio masuk ke rumah yang sudah penuh dengan debu dan ingatan masa kecilnya. Di dalam kamar belakang dia menemukan sebuah lemari kayu kuno yang terkunci. Di balik tumpukan kain batik jadul dan buku-buku tua, jari telunjuk Rio tersentak oleh sesuatu yang dingin dan licin. Dia menariknya keluar dengan hati-hati.“Cincin?” bisik Rio sambil melihat benda perak tua

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status