MasukGerakan lidah wanita misterius yang lihai dan penuh keahlian semakin memperkuat sensasi yang dirasakan Rio. Setiap sentuhan dan setiap gerakan membuat tubuhnya semakin terbakar oleh hasrat yang tak terkendali. Tak lama kemudian, dia mencapai klimaks dengan keras, cairannya muncrat ke wajah dan dada sang wanita yang masih berjongkok di depannya.
Wanita itu hanya tersenyum lembut, mengusap sisa-sisa cairan di wajahnya dengan ujung jarinya dan kemudian menjilatnya perlahan. “Terima kasMata Rio terpaku pada bentuk tubuh Nabila yang terbentang di atas sofa. Meskipun nafsunya sangat besar, sejenak ia terhenti ingatan tentang Dewi yang sedang menunggu dirinya di rumah muncul tiba-tiba. Namun, godaan yang ada di depannya terlalu kuat untuk ditahan, dan segera ia merendahkan wajahnya perlahan ke arah payudaranya, dengan sentuhan lembut yang membuat Nabila mengeluarkan hembusan napas lembut. Bahkan sesekali Rio menggigit area ujung dada Nabila karena gemas. Nabila menyesuaikan posisinya hingga berada di bawah Rio, tubuhnya rileks namun penuh dengan hasrat yang sudah lama terpendam. Tangan Rio perlahan merayap ke arah bagian bawah tubuhnya, menyentuh lapisan tipis yang sudah lembap karena gairah yang tak bisa disembunyikan. Dan Rio langsung menarik kain itu dengan cepat, karena ia sudah tidak sabar ingin membalas perbuatan Nabila dulu. "Kenapa kita tidak melakukannya dengan lebih dalam waktu di Lombok?" bisik Rio dengan suara yang penuh nafsu saat i
Rio mencengkeram plastik buah di tangan kanannya sambil menatap wajah Nabila yang sedang tersenyum menyiratkan sesuatu. Meski hati masih berdebar karena pertemuan tadi, keputusannya sudah bulat ia tidak ingin sia-siakan kesempatan untuk bertemu dengan wanita yang telah mengusik pikirannya selama berbulan-bulan. "Boleh kah aku minta alamat apartemen dan nomor teleponmu," ucap Rio dengan suara yang sedikit bergetar, namun penuh tekad. "Saya ingin bisa menghubungimu ... atau hanya sekadar mampir." Nabila sedikit mendekat, bibirnya hampir menyentuh telinga Rio. "Kamu bisa datang, tapi kabarin dulu ya Pak Supervisor," bisiknya dengan nada yang menggairahkan. "Jangan sampai datang tiba-tiba, saya kan juga perlu waktu untuk menyambutmu dengan baik atau saya sedang tidak ada di apartemen saat itu" Saat mengucapkan kata-kata itu, ia menyentuh lembut dagu Rio dengan jemari telunjuknya sebelum mengambil selembar kertas dari kantong roknya dan menuliskan nomor serta alamat a
Berhari-hari setelah pertemuan tak terduga di kasir, kesibukan Rio semakin membanjiri waktu. Supermarket Jaya Makmur baru saja mengganti sistem kasir seluruhnya, dan sebagai supervisor, ia ditugaskan untuk memastikan transisi berjalan lancar. Jadwal pulangnya sering terganggu; terkadang ia harus lembur hingga larut malam hanya untuk menguji fitur baru atau melatih staf yang masih belum terbiasa. Dewi, istri yang penyayang, selalu mengerti keadaan suaminya. Setiap kali Rio pulang dengan badan lelah, ia selalu menemukan meja makan dihiasi hidangan favoritnya, dan kamar tidur yang sudah disiapkan hangat. Tak hanya itu, Dewi juga selalu memberikan pelayanan ranjang yang memuaskan karena mereka telah sepakat untuk segera memiliki anak. Namun, saat tubuhnya bergesekan dengan tubuh Dewi, saat kejantannya menyelinap ke dalam istri yang dicintainya, terkadang bayangan wanita dari Lombok muncul tanpa izin di benaknya. "Pasti akan sangat enak rasanya jika yang sekarang berada di bawa
Hari-hari setelah kembali ke Jakarta, kehidupan Rio dan Dewi kembali berjalan seperti biasa. Rutinitas kerja, urusan rumah tangga, dan obrolan tentang liburan masih sering terdengar, namun ada sesuatu yang tersembunyi di dalam benak Rio. Setiap kali ia sendirian, wajah wanita asing yang pernah bertemu dengannya di Lombok selalu muncul tanpa permisi. Wanita itu yang tiba-tiba mendekat, memberikan kenikmatan yang tak terduga, lalu menghilang secepat ia datang, tanpa nama, tanpa pesan. "Dasar wanita iseng!” gumam Rio pelan suatu sore saat sedang duduk di ruang staf Supermarket Kaya Makmur. Ia menggelengkan kepala, berusaha menghapus bayangan itu, namun ingatan itu justru semakin jelas. Ia merasa bersalah pada Dewi, istrinya yang begitu setia dan penuh cinta, tapi rasa penasaran dan kenangan fisik itu sulit untuk dilupakan sepenuhnya. Saat itu, jam kerja sedang berjalan padat. Sebagai supervisor, Rio biasanya memantau operasional dari ruangannya, tapi tiba-tiba suara
Setelah enam hari penuh dengan petualangan di Lombok dan Gili Trawangan, akhirnya tiba saatnya Rio dan Dewi harus kembali ke Jakarta. Pagi itu, mereka bangun lebih awal untuk menyelesaikan packing barang dan mengecek kembali semua pesanan yang telah dibuat di hotel. Suasana di kamar sedikit terasa sedih karena harus meninggalkan tempat yang telah memberikan banyak kenangan indah, namun juga penuh haru karena akan kembali ke rumah mereka sendiri. “Sayang, kamu sudah cek semua tas kan? Jangan sampai ada yang tertinggal ya,” ucap Dewi sambil memeriksa lagi sudut kamar sambil membawa tas tenteng yang berisi oleh-oleh untuk keluarga besarnya. Rio mengangguk sambil menutup koper terakhir. “Sudah semua Sayang, bahkan aku sudah ekstra hati-hati mengecek tas kamera kita. Foto-fotonya tidak boleh hilang kan? Itu bukti kenangan kita yang berharga,” jawabnya dengan senyum hangat. Mereka keluar dari hotel sekitar pukul 08.00 pagi dan menuju bandara Lo
Setelah menyantap sarapan bersama, suasana di antara Rio dan Dewi kembali menjadi lebih hangat. Rasa bersalah yang mengganggu hati Rio sedikit mereda saat melihat senyum bahagia istri tercintanya. Mereka memutuskan untuk menghabiskan hari itu dengan menjelajahi kawasan sekitar pulau, berharap bisa menemukan pengalaman baru yang menyenangkan. Sepanjang pagi hingga tengah hari, Rio terus mengelilingi area sekitar pantai dan pusat kota kecil di Gili Trawangan, namun sama sekali tidak menemukan bekas atau jejak wanita misterius yang telah memberikan kepuasan padanya di pagi hari. Pikirannya terkadang terganggu oleh rasa penasaran siapa sebenarnya wanita itu? Dari mana dia datang? Dan mengapa dia melakukan hal seperti itu? Namun setiap kali melihat wajah Dewi yang riang, dia segera mencoba untuk mengalihkan perhatiannya. “Sayang, ayo kita pergi berbelanja oleh-oleh,” ajak Dewi dengan semangat yang tinggi saat mereka sedang berjalan menyusuri jalan utama yang







