Share

GAK SENGAJA

Author: Deameriawan
last update Last Updated: 2026-03-02 14:32:11

Setelah merapikan buku-buku di rak dan menyusun pakaian di lemari, Maya mengusap dahinya yang sedikit berkeringat. “Wah Mas Rio, kamar kamu sekarang benar-benar jadi lebih nyaman. Kayak rumah baru ya kelihatannya!” ujarnya sambil menoleh ke arah Rio yang sedang menyimpan kuas cat dan ember.

“Terima kasih banyak Mbak Maya. Kalau gak karena bantuanmu, mungkin sampai sekarang saya masih bingung ngurusin barang-barangnya. Dan selesainya pasti lebih lama” jawab Rio sambil mengusap tangan di celananya. Tiba-tiba, ia melihat Maya yang sedang membungkuk untuk merapikan sajadah di sudut kamar daster pendek yang dikenakannya sedikit menggeser, menampakkan paha putihnya yang lembut. Rio tidak sengaja menatap sejenak, hatinya berdesir lalu cepat-cepat meneguk ludah dan mengalihkan pandangan ke jendela.

“Mas Rio capek? Mau saya pijet bahunya gak?” ajak Maya dengan suara lembut sambil berdiri dan mendekatinya. Tanpa menunggu jawaban, tangannya yang lembut sudah mulai memijat bahu dan pundak Rio dengan gerakan yang pas.

“Aduh… enak sekali Mbak. Kamu bisa pijet ya?” kata Rio sambil sedikit mengerutkan kening karena rasa nyaman yang datangnya tiba-tiba. Saat Maya sedikit menekan bagian pundak yang kaku, tubuh Rio sedikit menjorok ke depan tak sengaja tangannya menyentuh bagian dada Maya yang lembut.

“Eh!” teriak Maya pelan, wajahnya langsung memerah seperti apel merah. Dia sedikit mundur sambil menutupi dadanya dengan kedua tangan. “Maaf ya Mas… aku tidak sengaja…”

Rio juga langsung merah sampai telinga. “Bukan bukan, saya yang salah Mbak. Saya tidak sengaja menyentuhnya… Jadi pengen di terusin tapi takut kena gampar!” Keduanya saling memandang sebentar lalu tiba-tiba tertawa bareng.

“Yuk kita makan aja deh sebelum makanan dingin!” ajak Rio untuk menghilangkan kehebohan. Mereka keluar kamar dan duduk di teras kecil rusun yang sudah dilengkapi meja dan kursi plastik. Mangkuk tahu isi yang dibawa Maya masih hangat, ditambah gorengan tempe dan tahu yang sudah Rio beli sebelumnya.

“Mbak, aku cobain tahu isi nya ya. Rasanya enak banget. Serius enak!” ucap Rio sambil mengunyah tahu isi yang tadi dibawa oleh Maya. Sambil memberikan kode jempol yang berarti makanan itu enak dimulut Rio.

“Ketagihan ya. Kalau ada waktu nanti deh aku ajarin kamu bikin. Bahan-bahannya juga simpel kok udah gitu murah lagi,” jawab Maya sambil menikmati makanan gorengan lainnya. Setelah beberapa suapan selesai dihabiskan oleh Rio dan Maya, Rio tiba-tiba berdiri dengan cepat. “Mbak karena perutku masih lapar, aku mau pesen nasi pecel lele di warung Pak Minto biar bikin tambah kenyang! Mau ikut gak?”

“Aku ikut dong Mas! Sekalian mau beli es jus juga sekalian cuci mata sebentar ke bawah” kata Maya dengan senyum manis. Mereka berjalan menyusuri lorong rusun yang sudah mulai redup karena lampu jalan ada beberapa yang tidak menyala. Sampai di gerbang, mereka melihat beberapa ibu-ibu sedang duduk berjongkok di depan warung kecil milik Bu Sri.

“Wah Mas Rio, barusan renovasi rumah ya?” tanya Bu Sri dengan senyum ramah. “Siapa yang bantuin kamu? Kog gak woro-woro biar dibantuin. Kalau sendirian pasti gak selesai cepat.”

Rio mengangkat bahu sambil tersenyum. “Cuma ngecat aja kog bu biar lebih terang rumahnya. Tadi dibantu Mbak Maya. Dia yang bantu bersihin dan rapihin barang-barangnya. Kalau saya cuma sibuk ngecat aja.”

Maya yang berdiri di belakang Rio langsung memerah dan tersipu malu. “Cuma bantuan kecil aja Bu Sri,” ucapnya pelan.

“Waduh, Maya kamu baik banget. Mas Rio kamu beruntung punya tetangga yang baik kayak gitu,” ujar Bu Lina, tetangga dari unit 205. “Kalau begitu, jangan sampai sia-siakan ya Mas!” ucapnya sambil menepuk bahu Rio dan memberikan tatapan yang mengerti.

Rio hanya bisa tersenyum kaku sambil menggaruk kepalanya, sementara Maya semakin malu dan menunduk melihat tanah. Setelah nasi pecel lele datang, mereka makan sambil ngobrol santai dengan para ibu-ibu tentang rencana renovasi kecil di rusun dan acara arisan yang akan datang bulan depan.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • ASMARA RUSUN SIMPANG TIGA   MAIN API

    Setelah makan malam bersama para ibu-ibu di gerbang rusun, Rio dan Maya kembali ke unitnya dengan langkah yang pelan-pelan. Udara malam terasa sedikit hangat, dan lampu kamar yang baru dicat putih membuat ruangan terlihat lebih cerah dari biasanya. “Waduh, ternyata setelah dibersihin dan dicat, kamar kamu benar-benar beda banget Mas Rio,” ujar Maya sambil menutup pintu dengan lembut. “Biar aku bersihin meja aja, biar tidak ada bekas makanan.” “Gapapa kok Mbak, nanti saja saya yang bersihinnya. Kamu sudah capek membantu seharian,” kata Rio, tapi matanya tidak bisa lepas dari sosok Maya yang sedang membungkuk membersihkan sudut meja. Daster pendek yang dikenakannya sedikit menggeser, dan kali ini Rio tidak lagi mengalihkan pandangan. “Mas Rio… kamu lagi lihat apa sih?” tanya Maya menoleh, tapi wajahnya sudah mulai memerah. Dia sengaja tidak memperbaiki dasternya yang naik sampai ke paha, lalu perlahan berdiri dan menghadap Rio. “Kamu kan bi

  • ASMARA RUSUN SIMPANG TIGA   GAK SENGAJA

    Setelah merapikan buku-buku di rak dan menyusun pakaian di lemari, Maya mengusap dahinya yang sedikit berkeringat. “Wah Mas Rio, kamar kamu sekarang benar-benar jadi lebih nyaman. Kayak rumah baru ya kelihatannya!” ujarnya sambil menoleh ke arah Rio yang sedang menyimpan kuas cat dan ember. “Terima kasih banyak Mbak Maya. Kalau gak karena bantuanmu, mungkin sampai sekarang saya masih bingung ngurusin barang-barangnya. Dan selesainya pasti lebih lama” jawab Rio sambil mengusap tangan di celananya. Tiba-tiba, ia melihat Maya yang sedang membungkuk untuk merapikan sajadah di sudut kamar daster pendek yang dikenakannya sedikit menggeser, menampakkan paha putihnya yang lembut. Rio tidak sengaja menatap sejenak, hatinya berdesir lalu cepat-cepat meneguk ludah dan mengalihkan pandangan ke jendela. “Mas Rio capek? Mau saya pijet bahunya gak?” ajak Maya dengan suara lembut sambil berdiri dan mendekatinya. Tanpa menunggu jawaban, tangannya yang lembut sudah mulai memijat b

  • ASMARA RUSUN SIMPANG TIGA   CINCIN BERULAH

    Rio mengusap tangan Maya dengan lembut. “Tenang Mbak Maya, kita pasti bisa cari jalan keluar. Kalau perlu, aku bisa minta bantuan pak RT juga. Jangan terlalu kuatir.” Maya mengangguk perlahan, masih menangis tapi sudah mulai bisa mengendalikan emosinya. “Terima kasih banyak mas… aku cuma takut dia akan melakukan hal lebih buruk lagi.” Setelah menjaga Maya sampai larut malam dan memastikan dia sudah tenang, Rio kembali ke unitnya. Saat membuka kunci pintu, dia melihat cincin perak di jari telunjuknya milik mbah buyutnya. “Semoga kamu bisa bikin rejeki aku lancar ya,” gumam Rio sambil mencium cincin itu lalu langsung beristirahat. Keesokan paginya, Rio berangkat kerja seperti biasa ke Supermarket Jaya Makmur. Tapi saat memasuki supermarket, dia langsung terkejut. Antrian pembeli membentang panjang, kebanyakan adalah wanita dan anak-anak gadis yang terus mengirim senyuman kepadanya. “Waduh Rio, hari ini kayak ada promo besar?” tanya Budi, te

  • ASMARA RUSUN SIMPANG TIGA   WANITA BARU DI LANTAI DUA

    Setelah kejadian dengan Siska dan Iskandar, hampir seminggu Rio tidak bisa benar-benar rileks. Ia sering melihat Siska yang mulai kembali berjualan dengan wajah yang lebih tenang, meskipun kadang masih terlihat lesu. Iskandar juga mulai jarang keluar rumah dan terkadang membantu istrinya di warung, meskipun belum jelas apakah dia benar-benar berhenti judi. Sore itu, saat Rio hendak keluar untuk membeli air mineral di warung dekat gerbang rusun, dia melihat seorang wanita sedang memerintahkan pekerja untuk membawa barang-barangnya masuk ke unit di lantai dua. Wanita itu memiliki rambut panjang berwarna coklat kemerahan yang terurai lembut, mengenakan blazer hitam yang rapi dan rok sampai lutut. Wajahnya cantik dengan alis yang jelas dan bibir yang sedikit menonjol. Rio merasa wajahnya sangat akrab, tapi tidak bisa ingat dari mana. “Permisi mas, mau tanya nih unit nomor 207 ada di mana ya?” tanya wanita itu dengan suara lembut saat melihat Rio yang sedang memperhat

  • ASMARA RUSUN SIMPANG TIGA   KEMELUT UTANG

    Setelah turun dari bus dan naik ojek, Rio sampai di dekat gerbang Rusun Simpang Tiga pukul sekitar dua pagi. Badan yang lelah seolah ingin langsung menjemur diri di kasurnya, tapi perut yang keroncongan membuatnya berhenti di depan warung pecel lele milik Lek Minto yang masih menyala dengan lampu neon kuning kusam. “Pak Lek, satu porsi pecel lele besar ya, tambah tempe dan tahu!” teriak Rio sambil menjatuhkan tubuhnya di kursi plastik yang sedikit goyah. “Baik Mas Rio, sebentar saja!” jawab Lek Minto dari belakang meja masak yang berasap. Di sudut warung, tiga ibu-ibu warga rusun masih terjaga dan sedang duduk berkerumun sambil ngobrol. “Betul kan Bu Kartini, tadi jam sebelas lebih tuh tukang tagihnya datang lagi ke warung Siska,” ucap Ibu Yanti dengan suara pelan tapi jelas terdengar. “Bawa dua orang cowok tinggi, wajahnya kayak preman.” “Iya Bu, katanya hutangnya sudah sampai 2 juta rupiah. Karena suaminya Iskandar itu main judi on

  • ASMARA RUSUN SIMPANG TIGA   CINCIN TUAH

    Malam ini juga Rio bersiap-siap mandi, makan dan langsung keluar dari unit rusunnya dan Rio langsung memanggil ojek online untuk menuju ke stasiun bus. Rio naik bus dan menempuh perjalanan selama lebih dari sembilan jam, dia tiba di desa kecil tempat Mbah Buyutnya dulu tinggal. Rumah tua kayu yang masih berdiri tampak kokoh berdiri di tengah lahan yang luas.Pak Karsono sudah menunggu di depan rumah. “Mas Rio, kamu datang tepat waktu. Pembayaran akan dilakukan dua jam lagi. Sebelum itu, barangkali kamu mau menengok rumah Mbah Buyutmu dan mengambil surat dan barang yang perlu di bawa pulang ke Jakarta.”Rio masuk ke rumah yang sudah penuh dengan debu dan ingatan masa kecilnya. Di dalam kamar belakang dia menemukan sebuah lemari kayu kuno yang terkunci. Di balik tumpukan kain batik jadul dan buku-buku tua, jari telunjuk Rio tersentak oleh sesuatu yang dingin dan licin. Dia menariknya keluar dengan hati-hati.“Cincin?” bisik Rio sambil melihat benda perak tua

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status