LOGINApalagi sekarang?"Tunggu dulu, maksudmu apa? Aku tidur dengan Siska? Siapa yang bilang? Alex? Dia tahu dari mana?""Dia bilang pernah lihat kamu ketemu Siska di Club Z. Waktu kamu baru datang."Luna melipat tangan di dada. Dagunya terangkat. Wanita itu tengah menantang kejujuran sang suami.Ingatan Alfa seketika tertarik ke pusaran masa lalu. Di mana dia memang pernah make out dengan Siska."Bukan tidur dengan Siska," bantah Alfa."Lalu?" Kejar Luna."Make out," jawab Alfa dengan cengiran penuh rasa bersalah.Luna melotot sebelum akhirnya geleng kepala. Geram dengan kelakuan sang suami."Maaflah, terbawa suasana." "Yang betul dong minta maafnya.""Maaf, istriku. Lain kali aku tidak akan melakukannya lagi. Baik make out, maupun make love.""Aku tunggu buktinya.""Sure.""Malam ini tidur di luar. Sama itunya nanti dicuci.""Lah, kok gitu. Masak tidur di luar. Adem, Na. Aku sengaja pilih rumah di sini. Biar bisa kelon tiap malam ...."Alfa menganga mendengar vonis istrinya."Isi kepala
"Na, tunggu sebentar. Bisa kita bicara?""Apa? Kamu juga ingin protes kalau aku kurus. Tenang saja, dua minggu lagi berat badanku kujamin naik. Acara donor darah tidak akan ada masalah.""Bukan itu. Donor darah mah aman.""Terus apa?"Alex merendahkan tubuhnya, setengah berbisik. "Ini soal Kevin. Apa dia baik padamu. Maksudku, dia tidak membuatmu curiga atau sejenisnya?"Kening Luna berkerut halus. "Maksudmu apa? Aku tidak paham.""Begini."Alex lantas menceritakan soal Nine Club. Soal rumor yang beredar. Juga fakta yang ditemukan di lapangan."Jika dia kerap berada di sana. Apa tidak mungkin dia tahu atau bahkan terlibat. Aku tidak menuduhnya. Aku hanya ingin kamu waspada saat bersamanya.""Aku mencemaskanmu, Na."Luna mengerjap ketika Alex mengusap kepalanya. Luna tahu dia telah membuat Alex salah paham. Pria itu hingga kini masih menyukainya.Namun sampai sekarang, Luna belum menemukan keberanian untuk berterus terang pada Alex. Soal statusnya yang sudah punya suami."He em, aku ak
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"Seorang pelayan keluarga Hadi membukakan pintu. Restu berdiri di ambangnya."Bilang pada Ndoromu, saya ingin bertemu. Ada urusan penting."Sang pelayan mengangguk patuh. Restu dibiarkan menunggu di ruang tamu. Dia duduk di kursi ukir kayu jati klasik.Mata elang Restu sibuk memindai. Rumah ini dan furniture-nya terlalu mewah untuk pengangguran macam Hadi. Dan tukang shopping seperti Andini.Restu tahu, Hadi licik. Pria itu punya segudang cara untuk mendapatkan kekayaan tanpa perlu mengeluarkan keringat.Padahal sosok seperti dirinya. Bahkan seorang Alfa perlu begadang untuk menghasilkan uang. Perlu memeras otak agar modal mereka berputar lagi.Sedang Hadi, jam sepuluh saja masih belum buka mata. Restu siap angkat kaki. Ketika suara langkah terdengar mendekat.Pria itu mengangkat pandangan. Sampai dia jumpai sosok yang membuat Restu refleks mengumpat. "Demit mana lagi ini."Dari arah lantai dua. Andini menuruni tangga dengan cepat. Kakinya telanjang. S
"Pulang dan istirahatlah. Jangan dengarkan dia."Titah Hadiwijaya membuat Hadi yang baru datang bersama Andini menggeram.Alfa lantas menggandeng Luna. Membawanya pergi dari sana setelah pamit pada semua orang. Keduanya abaikan teriakan penuh kemarahan dari Hadi."Dia masih belum terima tahta diberikan pada Kaisar?""Orang tamak sepertinya tidak akan pernah terima apalagi puas dengan apa yang sudah ada di tangannya. Itulah kenapa Kakek sama sekali tidak mempertimbangkan dia untuk jadi penerus."Luna mengangguk paham. Mereka masuk ke mobil yang sudah disediakan oleh Jerri dan Restu. Dua orang yang ekspresinya bertolak belakang.Jerri masih dengan raut wajah kesal. Sementara Restu dengan kenetralannya. Restu memang setenang Kaisar dalam menghadapi sebuah situasi."Aku heran, kalian baru bertengkar seminggu full. Sekarang sudah mesra lagi. Yang kemarin pura-pura ya." Jerri tak tahan untuk berkomentar."Aku tidak perlu menjelaskan. Kau akan paham jika pernah mengalaminya. Betul tidak Rest
Pengakuan Alfa membuat Luna terbelalak. Jadi selama ini pria itu juga punya rasa padanya. Jadi rasa sukanya tidak bertepuk sebelah tangan."Na, aku tahu kebodohanku telah menyakitimu. Tapi mulai hari aku usahakan hal itu tidak terjadi lagi. Jangan pergi, jangan tinggalkan aku. Aku, aku tidak harus apa jika tidak ada dirimu."Alfa menundukkan kepala. Ia biarkan air mata menuruni pipinya. Sosok yang selalu tampak kuat dan menyebalkan di depan Luna. Kini menunjukkan sisi lain.Pria itu terisak untuk beberapa waktu hingga sentuhan tangan Luna membuatnya mendongak."Aku paling tidak bisa melihatmu terluka. Aku mencemaskanmu, Al."Demi apapun, rasa bahagia menyeruak di dada Alfa. Definisi cinta bukan melulu melalui kata aku cinta padamu. Tapi ada bentuk lain yang bisa menggambarkan perasaan itu.Dan Luna menunjukkannya dengan cara lain. Alfa segera memeluk Luna. Mendekap erat tubuh ringkih sang istri yang balas mengusap punggungnya."Kita mulai lagi dari awal ya? Cecar aku jika ada yang tid
"Dia menarik gugatannya. Dia tidak akan bercerai darimu sampai kapanpun."Keheningan jatuh di antara kakek dan cucu. Di depan keduanya sudah terhidang dua cangkir teh yang asapnya masih mengepul.Wangi melati menyeruak di antara mereka. Selain itu ada pisang rebus juga ubi rebus yang jadi pendamping acara minum teh mereka."Alfa, dia mencintaimu. Kamu tahu itu.""Aku pernah menyakitinya, Kek."Hadiwijaya memiringkan kepala. "Motifnya?""Tiga tahun lalu, ketika aku baru berpacaran dengan Luna. Ada orang yang menerorku. Dia mengancamku.""Awalnya aku tidak peduli. Sampai Ibu kecelakaan. Bayangkan Kek, Ibu yang punya kemampuan melindungi diri saja tidak luput dari kejaran mereka. Bagaimana dengan Luna."Alfa menghela napas. "Jadi aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami. Selain itu aku harus fokus pada proyekku. Aku tidak mau dia terluka. Dan perhatianku terbagi."Alfa mengakhiri penjelasannya."Yang pada akhirnya kamu sendiri yang terluka. Yang kamu sampai opname di ICU berhari-ha
Di tempat lain, seorang pria berperawakan tinggi besar, baru keluar dari air port. Seorang pria mengiringi langkahnya. Kaca mata hitam, sukses menyembunyikan tatapan elang sang pria. "Di mana dia?" "Jadi dosen di kota Yogyakarta." Tawa kecil menyambut jawaban sang asisten. "Main dosen-dosenan rup
"Kita mulai materinya. Dengarkan dan simak baik-baik. Karena akan ada tugas setelah ini."Gumam keberatan, kecewa membahana di seluruh kelas. Bisa Luna lihat, Alfa sempat mengedipkan sebelah mata padanya. Gadis itu berdecak kesal. Dia ingat bagaimana semalam Alfa memasukkannya paksa ke mobil. Me
Luna protes sepanjang jalan, entah ke mana Alfa membawanya. "Eh pak dosen. Tanggung jawab dong. Situ ngadain kelas tambahan, tapi situ malah melarikan diri. Satu lagi, saya gak mau dijodohin sama Bapak." "Itu bukan salah saya. Asistennya saja gak kompeten! Dengar ya Luna, bukan saya yang nentuin
"Lama amat," protes Rina yang akhirnya memesan bakso lebih dulu karena kelamaan menunggu Luna. "Pak dosen banyak tanya." Luna menggertakkan gigi. Ingat bagaimana dia berakhir menindih tubuh Alfa. Dengan lelaki itu tersenyum puas. Tangan Alfa bertengger manis di pinggang Luna kemudian turun menje







