Compartir

Bab 28

Autor: Hiro Sayank
last update Fecha de publicación: 2026-10-25 17:23:58

Motor sport milik Semesta akhirnya berhenti di depan sebuah area bangunan kos-kosan. Kamar-kamar berderet rapi di sana, menjadi tempat hunian para mahasiswa.

​Semesta dan Embun turun dari motor. "Yuk, masuk!" ajak Semesta sambil mendorong pintu salah satu kamar kos yang tidak terkunci.

​Embun melangkah masuk, mengedarkan pandangan mengamati ruangan tersebut. Kamar itu berukuran sedang dengan fasilitas kamar mandi di dalam. Di dalamnya hanya terdapat satu tempat tidur dan sebuah lemari pakaian.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado
Comentarios (1)
goodnovel comment avatar
My dream
Pinter banget memujuk dgn kata2 manis ya ta sampai mbun terpujuk… Mbun… siap2 kamu d ninuninu sama kk tiri huhuhu
VER TODOS LOS COMENTARIOS

Último capítulo

  • Abang Tiriku Yang Nakal   Bab 30

    Motor Semesta berhenti di depan sebuah gerobak mie ayam tepi jalan yang sederhana. "Kita mau makan di sini?" tanya Semesta heran.​"Iya, Kak," jawab Embun mantap.​"Kok kayak gini, Mbun? Nggak ada tempat yang lebih bagus?"​"Jangan dilihat dari tempatnya, Kak. Mie ayamnya enak banget. Yuk, turun!" ajak Embun.​Mereka memesan dua porsi mie ayam dan dua gelas es teh manis, lalu duduk di kursi plastik tepi trotoar.​"Kak Semesta belum pernah makan di tempat seperti ini, ya?" tanya Embun membuka percakapan.​"Belum," jawab Semesta datar.​"Kalau aku sering, Kak. Sebelum Ibu menikah sama Ayah, kehidupan kami pas-pasan. Jadi harus pintar berhemat dengan makan di tempat sederhana," jelas Embun. Semesta diam mendengarkan penjelasan adik tirinya tersebut.​Pesanan pun datang. Mereka menikmati hidangan yang disajikan. "Enak banget, Mbun!" celetuk Semesta di tengah suapannya.​Embun tersenyum manis. "Makanya makan pelan-pelan, Kak. Nih, sampai belepotan," ucap Embun refleks menyapu noda kuah di

  • Abang Tiriku Yang Nakal   Bab 29

    "Malah menangis!" celetuk Semesta dengan nada setengah berbisik. Ia masih berada di atas tubuh Embun, dengan sengaja menempelkan area sensitifnya dari luar balutan rok yang dikenakan gadis lugu tersebut. Suasana di dalam kamar kos yang sunyi membuat desiran napas mereka terdengar begitu jelas di telinga."Habisnya Kak Semesta bohong! Katanya tadi tidak akan seperti ini, katanya tadi cuma pakai tanganku saja," jelas Embun masih sambil terisak pelan. Air mata kecil menetes di sudut matanya, mencerminkan rasa takut bercampur polos yang membuat Semesta mendadak merasa dilema di antara hasrat dan nuraninya."Cerewet sekali! Iya-iya, gue nggak akan memaksa lo melakukan hal yang lebih jauh, anjing!" ucap Semesta mengalah. Kali ini ia sedikit beranjak dari atas tubuh Embun, meski tidak benar-benar meninggalkan gadis itu sepenuhnya. Ia hanya menggeser posisinya sedikit ke samping, namun bagian vital miliknya tidak lagi menempel pada Embun.Semesta kemudian meraih area sensitif miliknya sendiri

  • Abang Tiriku Yang Nakal   Bab 28

    Motor sport milik Semesta akhirnya berhenti di depan sebuah area bangunan kos-kosan. Kamar-kamar berderet rapi di sana, menjadi tempat hunian para mahasiswa.​Semesta dan Embun turun dari motor. "Yuk, masuk!" ajak Semesta sambil mendorong pintu salah satu kamar kos yang tidak terkunci.​Embun melangkah masuk, mengedarkan pandangan mengamati ruangan tersebut. Kamar itu berukuran sedang dengan fasilitas kamar mandi di dalam. Di dalamnya hanya terdapat satu tempat tidur dan sebuah lemari pakaian.​"Ini kamar kos siapa, Kak?" tanya Embun.​"Punya Rivan. Tapi jarang dipakai. Cuma buat kumpul-kumpul doang, atau buat dia kalau lagi mojok sama ceweknya," jelas Semesta. Embun manggut-manggut mengerti.​"Lo duduk dulu! Gue mau cuci muka sebentar," ucap Semesta melangkah ke kamar mandi.​Embun duduk di tepi kasur. Jantungnya berdegup kencang membayangkan apa yang akan ia lakukan sebentar lagi. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya.​Beberapa menit kemudian, Semesta keluar dari kamar

  • Abang Tiriku Yang Nakal   Bab 27

    ​"Maksudnya aku disuruh berhubungan intim sama Kak Semesta?" tanya Embun. Suaranya terdengar bergetar karena efek keterkejutannya yang baru saja terjadi di koridor Fakultas Ekonomi.​"Bukan. Maksud gue cuma pakai tangan lo doang," jawab Semesta datar. Kening Embun tampak mengernyit, masih diselimuti kebingungan.​"Jadi gini, Mbun. Tangan lo nanti pegang anunya gue."​"Anu? Anu itu apa, Kak?" tanya Embun polos.​Sialan, polos banget nih cewek, batin Semesta merutuk dalam hati.​"Anu itu ... junior gue."​Embun masih mengernyitkan dahi. "Junior?"​"Iya, junior. Junior tuh ini, Mbun." Semesta kembali meraih jemari Embun dan menempelkannya ke area sensitif di balik celananya. ​Embun terkejut, lalu secara refleks menarik tangannya kembali ke dada. "Memang aku disuruh ngapain dengan juniornya Kak Semesta?" tanya Embun sedikit takut-takut.​"Lo cuma gue suruh pegang doang. Habis itu lo gerakin pelan-pelan. Kayak gini." Semesta memeragakan gerakan tangan naik-turun seperti sedang mengocok bo

  • Abang Tiriku Yang Nakal   Bab 26

    Keesokan harinya di area kampus, suasana ruangan kelas fakultas ekonomi terdengar cukup riuh dan bising oleh percakapan para mahasiswa sebelum jam pelajaran dimulai."Hei, lo tahu tidak berita hangat hari ini? Semesta akhirnya mau meminta maaf secara langsung pada Edo tadi pagi di ruang Dekanat," bisik Dika kepada Jordan dengan nada suara tertahan. Obrolan rahasia itu terdengar samar oleh telinga Embun yang duduk tidak terlalu jauh dari meja mereka."Kok tumben banget seorang Semesta yang arogan mau mengalah begitu saja?" sahut Jordan penasaran sambil menaikkan sebelah alisnya."Paling juga dia dipaksa sama ayahnya. Ayah Semesta kan orang yang sangat berpengaruh dan langsung dipanggil pihak kampus kemarin sore akibat insiden itu. Lo tahu sendiri kan, kalau berhadapan dengan ayahnya, Semesta itu penurut banget tanpa bisa melawan," terang Dika memberikan analisis panjang lebar."Ssssh ... orangnya datang!" bisik Jordan memberikan isyarat dengan menyenggol lengan temannya. Obrolan mereka

  • Abang Tiriku Yang Nakal   Bab 25

    Cekrekkk!​Pintu ruang kerja Andi tiba-tiba terbuka. Dengan wajah sembap dan mata memerah, Semesta melangkah keluar dari ruangan tersebut. Penampilannya sudah kembali rapi terbalut kemeja, meskipun sorot kesedihan dan rasa sakit yang mendalam masih sangat jelas terpancar dari raut wajahnya.​Semesta dan Embun pun saling bertatap muka di koridor bawah yang remang-remang. Keduanya sama-sama terkejut, terutama Embun. Ia tertangkap basah sedang mengintip kejadian memilukan yang baru saja berlangsung di dalam ruangan pribadi ayahnya.​"Kak__" hampir saja Embun berucap memanggil. Namun Semesta memilih memalingkan wajah dan melenggang pergi begitu saja menyusuri koridor menuju tangga tanpa mengucapkan sepatah kata pun.​Embun bergegas mengekor langkah Semesta menaiki anak tangga menuju lantai dua. Ketika Semesta hendak mendorong pintu kamarnya, Embun bergerak cepat mencegahnya.​Setttt!​Embun meraih pergelangan tangan Semesta, menahannya. "Tunggu, Kak!" ucapnya cemas.​Mau tak mau Semesta m

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status