LOGINLayar ponsel yang menampilkan ancaman Dean terus terngiang di kepala Anaia sepanjang sisa kuliah sore. Fokusnya buyar total. Dosen di depan kelas yang menjelaskan teori pengolahan limbah sama sekali tak masuk ke dalam kepalanya."An, lo.. kenal dekat sama Kak Tristan, ya?" bisik Erin tiba-tiba dari sampingnya, menyikut lengan Anaia pelan.Anaia tersentak. "Hah? Eng-enggak. Kenapa emang?""Nggak sih, lo.. agak merinding aja dari tadi. Anak-anak senior di barisan panitia pada lihat kelompok kita terus. Terutama Kak Tristan," desis Erin sambil pura-pura mencatat slide. "Hati-hati deh, An. Kak Tristan itu terkenal dingin banget, tapi pengagumnya banyak. Banyak cewek senior yang naksir tapi mental semua.."Anaia makin meremas penanya. Bukan cuma Tristan, batinnya pahit. Ada satu orang lagi yang lebih mengganggunya. Seserang yang siap bikin hidupnya hancur.Pukul empat sore, perkuliahan berakhir. Mahasiswa berhamburan keluar gedung. Anaia sengaja mengulur waktu di dalam kelas hingga ruangan
Cengkeraman tangan Tristan di pergelangan Dean begitu kuat hingga Anaia bisa melihat jari-jari Tristan yang menegang. Sementara Dean meringis pelan, matanya melotot menatap Tristan yang berdiri menjulang di sampingnya."Gue tanya sekali lagi," suara Tristan rendah, tapi sarat ancaman. "Kalau dia memang mainan gue, apa urusannya sama lo?""Tristan..." gumam Anaia tercekat. Punggungnya masih merapat ke dinding beton koridor, jantungnya berdegup begitu kencang hingga rasanya mau melompat keluar.Dean berusaha menarik tangannya, tapi kuncian Tristan tak bergeming sedikit pun. "Lepasin. Ini urusan gue sama Anaia. Lo nggak berhak ikut campur karena lo nggak tahu apa-apa !"Tristan tertawa sinis. "Memangnya gue peduli?" Bukanya melepas, kini tangannya justru semakin kuat mencegkeram Dean. "Gue sama sekali nggak peduli urusan apa yang lo maksud tadi." Tristan menghempaskan tangan Dean ke udara hingga pria itu terseret satu langkah ke belakang. Tristan melangkah maju, memangkas jarak sampai D
Anaia menyembunyikan rasa takutnya agar tak makin menyeret Tristan dalam masalah."Aku ke... pulang dulu." Pamit Anaia.Tanpa memedulikan respons Tristan, Anaia berlari menuju unitnya yang berjarak beberapa pintu. Ia masuk, membanting pintu, lalu menguncinya ganda.Brak.Anaia menyandarkan punggungnya pada pintu dengan napas memburu. Ketakutan menghantamnya—dingin dan mencekik. Dering telepon dan ancaman di balik nama itu membuat jemarinya gemetar.Ia menatap layar ponselnya.Dean (8 missed call)Rasa mual dan tertekan menusuk perutnya. Anaia menggeleng kuat, berusaha menghalau memori buruk. Ia menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan detak jantungnya yang liar.Mengabaikan panggilan itu, Anaia mandi air hangat untuk membilas sisa gemetar, lalu berganti pakaian rapi menuju kampus.Pagi di Fakultas Teknik terasa bising oleh lalu lalang mahasiswa. Meski perkuliahan dimulai, atribut maba masih wajib dikenakan. Anaia berdiri di koridor dengan pita biru tua, kemeja putih, rok span hitam
Tristan tidak tahu berapa lama mereka sudah berada di posisi ini. Setengah jam? Satu jam? Ia tidak yakin.Yang pasti ia merasakan punggungnya sedikit sakit karena bertahan di posisi yang sama sejak tadi.. setelah ia merengkuh Anaia yang gemetaran di celah kasur dengan keadaan tubuh dingin dan bergetar hebat.Kedua tangan Tristan masih mendekap tubuh kecil itu dalam pelukannya tanpa suara. Keduanya pun masih berada di lantai meski setelah beberapa saat setelah itu listrik apartemen kembali menyala."Jangan matiin lampunya... jangan kunci pintunya..." gumam Anaia lirih, seperti setengah sadar.Tristan tersentak, mengerutkan dahi keherananan. Karena sejak tadi.. sejak ia menemukan Anaia gemetar ketakutan Tristan masih di sini. Ia tidak kemana mana.Tidak ada yang beranjak mematikan lampu lagi atau bergerak mengunci pintu.Ia sadar ketakutan Anaia bukan sekadar takut gelap biasa.Oh.. kenapa ia harus peduli?Tristan meneguk minuman dinginnya saat kembali. Ia melirik arlojinya yang menunju
"Tas aku tertinggal... Barang-barangku semua di sana. Ada dompet... sama kartu akses..." ucap Anaia panik, menatap Tristan dengan pandangan memohon yang tak bisa ditutupi.Tristan terpejam rapat, menghela napas lelah yang terdengar begitu berat. Pria itu menyandarkan badannya pada dinding koridor dingin, menatap Anaia lurus-lurus dengan pandangan tajam, menahan marah.-----Tristan masih memandanginya dengan tatapan tajam. Anaia langsung merasa bersalah. Si ceroboh.Ia tahu betul pria di depannya ini pasti semakin kesal padanya, jengah, marah, dan entah apa lagi yang ada di pikirannya."Sorry.." cicit Anaia lagi.Tristan melangkahkan kaki beberapa meter menjauh, tubuhnya sendiri masih basah kuyup dengan kain kemeja yang menempel dingin di kulit. Pria itu mengusap wajahnya yang basah, lalu merogoh saku, mencoba menghubungi sekuriti gedung atau siapa saja yang bisa membantu membukakan pintu unit Anaia. Namun, nihil. Nada sambung itu terputus berulang kali, ditelan cuaca buruk yang mengac
Masa orientasi berakhir. Sebelum perkuliahan dimulai, Anaia memenuhi ajakan ibunya untuk makan malam di rumah Bu Rhea. Sesuai janjinya, Bu Rhea ingin memamerkan koleksi buku musiknya.“Kamu juga suka main piano, kan, Anaia?” Bu Rhea memperlihatkan lembaran partitur Mozart dan Beethoven yang tersusun rapi di ruang tengah.“Wah, lengkap banget, Bu Rhea.”“Kamu boleh bawa pulang kalau mau. Dan kalau Anaia mau main piano di sini, tentu Ibu juga bakal senang.” Bu Rhea tersenyum, meski raut sedih membayang di wajahnya. “Dulu, Tristan juga suka main. Sekarang jarang sekali. Ibu jadi kangen dengarnya.”Makan malam tersaji di meja kayu berlapis kaca. Aroma rempah sup iga, tumis lada hitam, dan ayam panggang mentega memenuhi ruangan. Bu Rhea mengajak Marni dan Anaia duduk bersama—membuat keduanya canggung.“Nggak usah sungkan Anaia, Marni. Ayo kita makan bareng-bareng.”Mata Anaia melirik ke arah tangga saat seseorang turun.“Tristan, ikut makan sini,” ajak Bu Rhea.Dugaan Anaia tepat. Tristan







