Compartir

Sebuah Normal yang Baru

Autor: zuyyinald
last update Fecha de publicación: 2026-10-23 22:49:11

Tristan duduk di tengah meja kayu panjang, membolak-balik berkas proposal acara tahunan himpunan. Jemari tangan kanannya mengetuk-ketuk tepi meja kayu dengan irama teratur.

"Sponsorship dari perbankan udah masuk lima puluh persen, Tan. Tinggal nunggu konfirmasi dari pihak alumni buat pembicara utama," ujar Dimas, ketua panitia acara, seraya menggeser lembar transparansi anggaran ke arah Tristan.

Tristan mendongak, matanya menatap tajam ke arah lembaran anggaran tersebut sebelum mengangguk tipis
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Accidental Kiss With Senior Galak!   Code Blue

    Taksinya melaju membelah kemerahan lampu rem kendaraan di Jalan TB Simatupang. Di dalam kabin mobil yang ber-AC dingin, udara terasa begitu padat hingga menyulitkan dada untuk mengembang sempurna.Tristan duduk di sisi jendela, menatap kosong pada titik-titik air hujan yang mulai menempel di kaca luar, lalu pecah tersapu angin. Sepanjang perjalanan, ia sama sekali tidak membuka suara. Pikirannya melayang bebas kembali ke masa-masa lampau—ke sebuah sore bertahun-tahun lalu ketika papa masih meluangkan waktu duduk di teras rumah, atau saat mereka bermain piano bersama sebelum kesibukan korporasi dan ambisi keluarga merenggut figur itu perlahan-lahan dari sisinya.Juga sebelum perselingkuhan dan kekerasan yang menimpa mamanya terjadi.Ia selalu membayangkan kebenciannya pada sang ayah akan bertahan selamanya. Ia mengira dirinya punya cukup alasan untuk terus memelihara jarak dan kecewa. Namun, kenyataan bahwa nyawa seseorang bisa surut dalam hitungan detik membuat pertahanan itu terasa

  • Accidental Kiss With Senior Galak!   Apa-apa yang masih milikku

    Tristan berdiri di depan pintu putar lobi, menarik napas dalam-dalam lalu menghempasnya perlahan. Di dalam saku celananya, layar ponsel bergetar lagi. Nama Danendra menyala terang untuk kesekian kalinya dalam kurun waktu satu jam terakhir.Tristan mengabaikannya. Ia memilih mendongak sejenak, menatap puncak menara korporasi milik keluarganya sendiri—sebuah tempat yang seumur hidup ia hindari, dan hari ini, baru saja ia tolak mentah-mentah untuk dijadikan tempat bersembunyi.“Kamu baru saja menghancurkan masa depanmu sendiri, Tristan. Kamu nggak tahu apa yang sedang kamu hadapi,” bunyi penggalan pesan singkat dari sang paman yang baru saja masuk sesaat sebelum ia melangkah keluar lift.Tristan tidak membalas. Jari jemarinya justru mengeratkan genggaman pada tali ransel. Ia menjauhi zona perkantoran elit itu, untuk kembali ke kampus. Di sana, di meja panjang studio yang berantakan laptop dan beberapa teman satu kelompoknya, hidupnya masih masuk akal. Di sana, masalah diukur dari lemb

  • Accidental Kiss With Senior Galak!   Menunggu dengan Cemas

    Pukul sembilan lewat seperempat pagi.Udara di lantai dasar gedung perkantora di kawasan Sudirman terasa begitu kontras dengan suasana tenang di kampus. Di sini, segala sesuatunya bergerak cepat dalam balutan jas rapi, sepatu pantofel yang mengkilap, dan aroma kopi mahal bercampur kepanikan yang tak kasat mata.Tristan melangkah keluar dari dalam lift dengan kemeja hitam lengan panjang yang digulung sampai siku. Langkahnya mantap, meski semalam ia praktis tidak tidur barang sekejap pun. Di tangannya, sebuah map manila cokelat tipis berisi dokumen portofolio studinya tergenggam erat."Tris! Kamu baru datang?" suara berat memecah kebisingan lobi privat lantai sepuluh.Danendra muncul dari balik pintu kaca ruang rapat utama. Pria paruh baya berjas charcoal itu tampak mondar-mandir dengan ponsel di telinga sebelum akhirnya melihat keponakannya. Wajahnya menyiratkan kelegaan yang dipaksakan, disusul oleh raut tidak sabar begitu melihat penampilan Tristan yang sama sekali tidak mencerminka

  • Accidental Kiss With Senior Galak!   Luruh dan Runtuh

    Anaia duduk bersandar di tumpukan bantal di atas tempat tidur milik Tristan.Di pangkuannya, sebuah iPad tersaji menampilkan draf laporan studio perancangan, tetapi perhatiannya sama sekali tidak tertuju pada garis-garis digital di layar. Matanya terus mengikuti pergerakan Tristan yang baru saja melangkah keluar dari kamar mandi, menyeka rambutnya yang setengah basah dengan handuk kecil.Tristan tidak mengenakan atasan—hanya celana sweatpants abu-abu tipis yang menggantung santai di pinggulnya. "Kamu harus istirahat, Tris," suara Anaia memecah keheningan kamar yang begitu privat itu. Suaranya lembut, merayap tenang di antara keheningan malam. "Badan kamu masih hangat dari semalam."Tristan menghentikan usapan handuknya. Ia melemparkan kain lembut itu ke atas kursi sofa di ujung ranjang, lalu berjalan mendekat. Kasur empuk itu sedikit bergeser saat Tristan naik dan merebahkan tubuh tinggi jangkungnya di samping Anaia, bersandar pada headboard yang sama hingga bahu mereka bersentuhan

  • Accidental Kiss With Senior Galak!   Jangkar Kembali

    Pukul dua lewat dua belas menit pagi. Koridor apartemen tenggelam dalam sunyi. Cahaya kuning temaram dari lampu dinding koridor yang memantul di atas lantai keramik bersih. Anaia duduk di depan pintu unitnya. Di sampingnya, sebuah cangkir keramik berisi teh chamomile yang sudah mengepulkan sisa-sisa kehangatan terakhirnya tergeletak di lantai. Matanya sayu, dikelilingi lingkaran hitam tipis akibat semalaman tidak bisa memejamkan mata. Setiap kali ia mencoba merebahkan diri di atas tempat tidur, bayangan tepisan tangan Tristan di studio siang tadi dan berita tentang ayah pria itu yang masuk ICU terus berputar-putar di kepalanya. Sebuah bunyi klik mekanis dari arah lift menghentikan lamunan. Anaia mendongak cepat. Dari ujung koridor yang remang-remang, sesosok tubuh tinggi melangkah mendekat dengan langkah gontai, membawa beban yang tak kasat mata di atas pundaknya. Tristan. Pria itu tampak jauh lebih hancur dari semalam. Kemeja kotaknya kusut, kancing atasnya terbuka lebar, dan

  • Accidental Kiss With Senior Galak!   Di Ujung Jurang

    Tepisan tangan itu melayang begitu saja di udara studio yang mendadak hampa.Anaia tertegun di tempatnya. Jari-jarinya yang tadi menyentuh pundak pria itu menggantung kosong. Kejadian barusan tentu saja memicu bik-bisik mahasiswa di sana. Arash sempat mengambil satu langkah maju, berniat menengahi atau sekadar menawarkan jarak bagi kekacauan itu, namun Anaia menggeleng pelan tanpa menoleh. Pikirannya sudah tidak lagi di sini; ia bisa melihat punggung jangkung Tristan yang bergegas membelah kerumunan meja gambar, terseret oleh isak tangis tantenya yang menarik ujung jaket pria itu tanpa ampun.Langkah kaki mereka menggema tergesa menuruni tangga. Deby sempat memegang lengan Anaia, menawarkan segelas air putih atau sekadar tempat duduk, tetapi Anaia hanya menggeleng lemah. Ia tahu, apa yang sedang dihadapi Tristan di luar sana jauh lebih besar daripada sekadar urusan nilai tugas besar mereka.. atau bahkan sidang studio yang menanti di depan mata.---Aroma karbol dan cairan disinfekta

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status