MasukDario mendengus tipis dan memalingkan mukanya. “Kau sama sekali tak menarik untuk mendapatkan perhatianku, Angela.” “Kau akan memberikannya padaku, kan? Atau setidaknya meminjamkannya untukku?” tanya Angela pada Rhea. Kemudian suaranya berubah penuh permohonan dan kedua tangan di depan dada. “Aku berjanji akan bersikap lebih baik pada mantanmu dan ini terakhir kalinya aku membeli tas itu.” “Jangan coba-coba kau, Rhea,” hardik Dario. “Itu hadiah dariku? Suamimu. Dia bukan siapa-siapamu.” Rhea menatap Dario dan Angela bergantian. “Aku tak mungkin menggunakan semuanya, Dario. Warna dan modelnya sama.” “Apa?!” Angela melompat berdiri. Matanya membeliak tak percaya saat menatap Dario dan Rhea? “Tiga-tiganya kau yang membelinya?! Dan itu hanya ada tiga di muka bumi ini.” Rhea hanya meringis malu. Ini bukan pertama kalinya Dario memberinya hadiah yang diincar oleh Angela. Tapi ia merasa curiga saat minggu lalu Dario
Beberapa bulan kemudian … Begitu mobil berhenti, Dario lekas turun untuk membuka pintu penumpang. Menggunakan tangannya untuk dijadikan pegangan Rhea yang dengan hati-hati bergerak turun. “Sepertinya acaranya sudah dimulai.” Dario hanya membalas dengan gumaman kecil, pandangannya sibuk mengawasi kaki Rhea yang melangkah di sampingnya. Memastikan gaun panjang yang dikenakan wanita itu tidak membuat jalan wanita itu terganggu. “Kau tak mendengarku?” “Aku sudah bilang, seharusnya kau mengenakan gaun yang satunya lagi. Kita kembali ke mobil, tadi aku meminta pelayan meletakkannya di mobil untuk berjaga-jaga.” “Aku baik-baik saja, Dario.” “Bagaimana kalau gaunmu tersangkut di tengah-tengah kau melangkah, hah? Lalu kau jatuh dengan perut sebesar ini,” gerutu Dario. “Ini salahnya, menggelar pernikahan saat kau sedang hamil.” Rhea hanya menghela napas rendahnya. Tanganny
“Sepuluh minggu tiga hari.” Dokter menjawab pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh Angela. Yang masih tengah menggerak-gerakkan alat di kulit perutnya. Mendengarkan penjelasan dokter tentang berat, ukuran, dan bentuknya yang mulai sempurna. Juga gejala-gejala kehamilan yang mulai dirasakannya. Yang paling melegakan, kandungannya tumbuh dengan baik.“Setelah anak ini lahir, aku akan mempertimbangkan untuk bercerai denganmu. Dan kita akan membicarakan tentang kesepakatan apa pun …”“Apa maksudmu?” Langkah Enrio seketika terhenti, tubuhnya berputar menghadap wanita itu untuk memastikan apa yang baru saja didengarnya adalah memang kata-kata yang baru saja diucapkan oleh wanita itu.“Aku hanya tak ingin keluargaku memanfaatkanmu lebih banyak lagi setelah perbuatan Paul pada anak Dario. Kali ini kesepakatan …”“Berhentilah bicara atau kau akan membuat anakku tertekan,” penggal Enrio dengan suara penuh penekanan.“A-apa?”“Bercerai
“Semuanya?”Eric mengangguk dengan mantap. “Ya, Tuan. Semuanya.”“Dan dia yang melakukannya?”“Ya, Tuan.”“Kenapa kau tidak bisa mempercayai kebaikan orang, Dario?” sela Rhea dengan nada gusar. “Orang, bukan Enrio,” koreksi Dario penuh penekanan. Lalu melemparkan tatapan tajam dan penuh curiganya pada Rhea. “Baru beberapa saat yang lalu kau mengatakan agar aku tak meninggalkanmu dan sekarang kau terdengar membelanya, Rhea. Apa yang dikatakannya padamu?”“Hanya beberapa hal.”“Dan apakah itu?”Rhea beralih pada Eric, yang kemudian berpamit keluar setelah mendapatkan tatapan tajamnya. “Aku tahu kau tak akan mempercayainya, jadi aku tak berminat mengatakannya padamu.”“Dan kau lebih mempercayai dia dibandingkan suamimu sendiri?”“Saat membicarakan soal kepercayaan, kau tahu aku lebih mempercayai Enrio, Dario. Kami saling mengenal sudah hampir sepuluh tahun, berkencan selama lima tahun s
Ruangan tersebut begitu sunyi ketika Seth melangkah masuk. Ia menutup pintu dengan perlahan. Memastikan tak memecah kesunyian yang begitu pekat. Begitu melewati sekat kaca yang memisahkan ruang untuk pengunjung dan ruang perawatan, pandangannya langsung mengarah pada ranjang pasien yang di samping dinding kaca. Di sampingnya, Rhea duduk dengan kepala berbaring di tepi ranjang.Pamannya masih tampak begitu tenang dengan mata terpejam. Luka goresan kaca mobil yang mengenai wajah sempurna sang paman sudah mengering. Operasi tiga hari yang lalu juga berjalan dengan lancar meski sang paman sempat mengalami pendarahan yang begitu hebat. Kondisi vitalnya juga normal. Tetapi entah kenapa paman berengseknya itu tak juga membuka mata. Membuat Rhea lebih menderita lagi, yang tak bisa diterimanya.“Bangun, Rhea,” bisik Seth sambil menyentuh pundak wanita itu dengan lembut.“Kau sudah datang lagi?” Rhea mengucek matanya dan menatap wajah Seth yang tampak sega
Suara tamparan tersebut bergema di seluruh ruangan. Menciptakan keheningan yang begitu menegangkan. Saat kepala Angela terdongak dengan pipi kanannya yang memerah, air mata menggenang di kedua mata.“Siapa yang menyuruhmu untuk bersikap lancang seperti ini, hah?” Mata Renata terlihat memerah, nyaris seperti darah. “Kau hanya perlu menjadi menantu yang patuh. Itu satu-satunya cara kau bisa bertahan sebagai istrinya. Saat Dario mati, kau tahu siapa yang akan menjadi penguasa Carlos Group, kan? Aku hanya perlu menjentikan jari untuk menghancurkan keluargamu.”“Kenapa kau masih tak menyadari posisimu, hah? Kau hanyalah pengganti. Kau hanyalah batu loncatan bagi putraku yang sangat berharga untuk sampai di puncak kejayaannya.” Renata menjambak rambut Angela hingga kepala wanita itu terdongak ke atas. “Hanya Rhea satu-satunya wanita yang akan membuat Enrio bahagia.”Air mata Angela mengalir lebih deras, meskipun begitu tak ada suara isakan yang keluar







