Share

Part 3 Berapa Harganya?

Penulis: Luisana Zaffya
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-02 08:59:12

"Berapa banyak yang kau inginkan?"

Mona mendengus, mengisap rokoknya dan membiarkan asapnya mengepul di wajah Rhea. "Kau pikir mama datang hanya untuk mengemis padamu?"

Rhea tak mengiyakan meski mulutnya gatal untuk menjawab ya. Mama tirinya itu benar-benar jelmaan ibu tiri iblis yang ada di dongeng Cinderella. Pembawa sial untuk keluarganya dan karena wanita picik itulah ayahnya meninggal

"Meskipun ya, tapi mama mencarimu untuk menyelamatkanmu dari kemiskinan ini."

"Berapa banyak?" Rhea mengulang. Tak akan tertarik pada apa pun itu yang ditawarkan wanita itu. Satu-satunya hal yang diinginkan Mona hanyalah untuk keuntungan wanita itu sendiri.

"Berapa yang kau punya?"

"Aku akan mendapatkan berapa pun yang kau inginkan." Belum pernah Rhea mengucapkan kebohongan selancar ini. Tetapi hanya itu cara yang dimilikinya untuk mengulur waktu, pada apa pun rencana licik yang coba dipikirkan Mona si culas. Sekarang ia hanya ingin wanita itu jahat itu keluar dari apartemennya. Jauh dari anak-anaknya.

Mona tertawa, tertawa begitu keras. "Kalau kau punya berapa pun itu yang kuinginkan, kau tak akan tinggal di tempat kumuh ini, kan?"

Rhea menggigit bibir bagian dalamnya. Sangat dipahami kalau sang ibu tirinya tersebut tidak percaya kebohongannya. Wanita itu lebih tahu apa itu kebohongan.

"Pertama, kita akan mengurus anak-anakmu itu."

Bibir Rhea mengering. Tak pernah memiliki keberanian sebesar ini saat berhadapan Mona. Mona jelas tipe orang yang akan menggunakan segala cara untuk mendapatkan keinginannya. "M-maksudmu?"

Mona menyeringai. "Bukankah mereka akan menghalangi karirmu?"

"Kenapa itu jadi urusanku?"

"Kau sudah menjual semua warisan yang ditinggalkan ayahmu, kan?"

Rhea tak akan menyangkal semua itu. Biaya perawatan Enrio dua tahun belakangan dan keempat bayinya jelas membutuhkan biaya yang tak sedikit. Dan ia tak hanya menghabiskan semua yang ditinggalkan sang ayah yang berhasil diselamatkan dari wanita ular ini untuknya. Tetapi juga semua yang didapatkannya selama tiga tahu bekerja di perusahaan Carlos.

Mona berdiri di depan Rhea, tubuh besar dan tingginya mendominisi tubuh Rhea yang kurus dan sedikit lebih pendek darinya. "Aku sudah menghubungi panti asuhan yang akan menampung mereka."

"Tidak." Rhea menggeleng. Sebelum bantahannya keluar lagi, rambutnya sudah dicengkeram oleh Mona dan ditarik ke belakang hingga kepalanya terdongak dengan paksa.

"Kenapa? Kau begitu menyukai mereka?"

"Mereka anakku."

"Ck, satu saja sudah merepotkan. Ini ada empat. Siapa ayah mereka? Mungkin bisa bermanfaat kalau dia orang yang cukup penting dan berkantong tebal."

Rhea menggeleng. "Aku tak tahu."

Mona mendecih. "Sepertinya kita memang ditakdirkan menjadi ibu dan anak, sayang. Kau sama murahannya denganku. Seharusnya ayahmu bisa membuka matanya, setidaknya beberapa saat sebelum kematiannya. Sayang aku tak sempat memberitahunya."

"Dia sudah melakukannya. Jika tidak, semua warisan itu akan jatuh di tanganmu dengan sia-sia." Rhea tak bisa menahan lidahnya untuk membalas. Jambakan Mona semakin menguat sebagai reaksi bahwa wanita ular itu mendapatkan jawaban yang sepadan untuk kejahatannya.

"Seharusnya kau lebih baik untuk menyembunyikan dirimu. Aku menemukanmu dengan mudah hanya dengan beberapa juta."

Sekali lagi Rhea dipaksa percaya bahwa Mona benar. Tetapi ia tak punya uang lebih banyak lagi bahkan untuk menyewa apartemen yang keamanannya lebih baik.

"Jadi, ikut denganku atau beberapa orang datang untuk membawa mereka."

"Bagaimana aku tahu kau akan menepati janjimu untuk tidak menyentuh mereka."

Mona tertawa. "Kita lihat seberapa baik sikapmu malam ini."

***

Rhea tahu dengan sangat pasti, kemana pun ibu tirinya itu membawanya. Tempatnya bukanlah tempat yang bagus. Pakaian ketat dan hanya sepanjang setengah pahanya sudah menjadi petunjuk yang pasti. Tetapi ia tak punya banyak pilihan.

Dadanya sudah terasa begitu sesak saat Mona mendorongnya dengan paksa memasuki klub malam tersebut. Asap rokok yang memenuhi ruangan, lampu kelap-kelip yang menusuk pemandangannya, dan suara musik yang nyaris menghancurkan gendang telinganya.

Tarikan ibu tirinya di lengannyalah yang mengarahkan langkah kakinya. Keduanya menaiki tangga, suara musik sedikit teredam dan menyusuri lorong panjang tersebut. Berbelok lagi dan berhenti di sebuah pintu.

"Hanya menemani makan, kan?" Rhea tak pernah berharap lebih, tetapi ketakutan yang merambati dadanya benar-benar membuatnya putus asa hingga harus mempercayai wanita jahat itu.

"Minum tentu saja." Seringai Mona sebelum mendorong pintu ruangan tersebut dan kembali menyeret Rhea ke dalam.

Rhea menelan ludahnya melihat ruangan luas dengan kursi berbentuk U. Berbagai makanan dan minuman sudah memenuhi meja kaca tersebut. Dan satu-satunya orang yang duduk di ruangan tersebut adalah pria seumuran Mona yang bersandar di tengah sofa. Mengamati penampilannya dari ujung kepalan hingga ujung kaki.

"Barang bagus."

"Tentu saja. Kapan aku pernah mengecewakanmu." Mona mendorong Rhea memutari meja dan duduk tepat di samping si pria yang langsung merangkulnya.

Tangan pria itu terulur, mengangkat dagu Rhea yang tertunduk dalam. "Kau ambil atau tidak?"

Si pria mengeluarkan amplop coklat dari dalam saku jasnya dan menyerahkannya pada Mona.

"Dia tidak terbiasa melayani siapa pun. Mungkin sudah tidak perawan, tetapi aku jamin rasanya sama seperti perawan."

Kepala Rhea segera menoleh pada Mona, mendelik tak percaya. "A-apa maksudmu?"

Senyum Mona berubah menjadi seringai. "Aku tak pernah memintamu untuk percaya padaku, kan?"

Rhea melepaskan rangkulan si pria. "Perjanjiannya tidak seperti itu."

"Perjanjianya, malam ini kau ikut denganku dan aku tidak akan menyentuh mereka." Mona membuka amplop tersebut, mengambil beberapa lembar uang dan meletakkannya di meja. "Untuk biaya taksimu pulang nanti."

"Tidak." Rhea sudah berdiri, tetapi lengannya ditarik pria tua itu dan kembali terjatuh ke dalam rangkulan. "Aku tidak mau."

"Selamat menikmati, Anton."

"Lepaskan." Rhea berusaha melepaskan kedua tangan si Anton, menatap ke arah pintu yang sudah menelan tubuh Mona.

"Aku sudah membayar mahal ibumu."

"Dia bukan ibuku!"

"Ya, apa pun hubungan kalian." Senyum Anton terlalu lebar. Menjulurkan wajahnya dan berusaha untuk mengambil ciuman di bibir Rhea yang masih tak berhenti meronta.

Rhea masih berusaha menghindar, hingga akhirnya pria tua itu mulai dibuat kesal dan mencengkeram wajahnya. Tak menyerah, wanita itu mengerahkan seluruh tenaganya dan mendorong dada Anton. Menggigit jemari Anton yang meremas mulutnya saat berusaha mengendalikan rontaannya.

"Sialan!" umpat Anton, melepaskan pegangannya dari Rhea dan mendaratkan satu tamparan kuat di pipi menggunakan tangannya yang tidak terluka.

Tubuh Rhea jatuh tersungkur di lantai, dan kesempatan itu datang saat Anton memeriksa bekas gigitan di ibu jarinya yang berdarah. Wanita itu melompat berdiri dan berlari keluar dari ruangan tersebut, merasa sangat beruntung pintunya tidak dikunci. Ia berlari menyusuri lorong, menuruni tangga, dan menabrak beberapa orang saat menemukan pintu keluar.

"Mau ke mana kau, hah?!" Baru saja kakinya menginjak jalanan beraspal di tengah mobil-mobil yang diparkir, jambakan Mona mendarat di kepalanya.

"Lepaskan, wanita ular." Rhea memegang cengkeraman tangan Mona yang semakin kuat. Memberontak menggunakan kedua kaki dan tangannya untuk membuat gerakan apa pun yang membuat Mona mulai kewalahan. Rhea tak memedulikan rasa sakit di kepalanya, tak peduli pada lututnya yang mendarat lebih dulu di aspal, dan tak peduli pada pipinya yang masih terasa perih karena tamparan dari pria tua bernama Anton.

"Kau berani melawanku?!" Kedua mata Mona yang membulat tampak mengerikan. Berjongkok di depan Rhea yang mulai kehabisan napas. "Apa kau tahu berapa dia membayarmu, hah?"

"Aku bukan pelacurmu." Meski hatinya menjerit oleh rasa sakit karena jambakan Mona, Rhea tak akan merintih.

"Kau akan ..."

"Berapa harganya?" Suara tersebut datang di tengah ketegangan yang semakin menjadi.

Pegangan Mona melonggar karena perhatiannya yang tiba-tiba teralih, Rhea ikut menoleh ke samping dan melihat Dario Carlos berdiri hanya beberapa meter dari kedua wanita itu

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ada Kembar Empat Di Balik Selimut   Part 50 Sumpah Enrio

    ‘Bagaimana cara dia terlibat dengan proyek itu?’ Rhea menarik napas dengan perlahan. ‘Awasi saja perkembangannya. Pastikan saja dia tidak mengambil manfaat yang tak dibutuhkan hanya karena pernikahan Angela dan Enrio.’Rhea mengetuk pintu setelah Dario mengakhiri panggilan tersebut. Mendorong pintu dan berjalan masuk dengan ketenangan yang terjaga. “Makan malammu.”Dario menutup berkas dan mematikan layar komputer. Menyingkirkan semua yang ada di depannya untuk nampan yang dibawa Rhea. “Anak-anak?”“Sudah tidur setelah makan.”Dario mengangguk singkat. Menangkap lengan Rhea sebelum membalikkan badan. “Temani aku.”Rhea membeku, memberikan satu anggukan dan duduk di kursi di depan meja. Tak ada perbincangan apa pun selama Dario menandaskan isi piring dan cangkir kopinya. “Aku akan membawanya ke dapur.”“Biarkan saja.”Rhea kembali duduk di kursinya. Dario meletakkan nampan tersebut ke sudut meja, menatap lurus p

  • Ada Kembar Empat Di Balik Selimut   Part 49 Ibu Enrio

    Angela mengernyit, menatap Enrio yang memberinya anggukan singkat sebelum kemudian berpaling pada Rhea. Yang sama terkejutnya dengan Angela.Rhea menatap wanita paruh baya tersebut. Sejak mengenal Enrio dan berhubungan dengan pria itu, Enrio memang cukup tertutup tentang ibunya. Dan dari gosip yang pernah didengar dan tak sepenuhnya ia percaya, mengatakan bahwa ibu Enrio sudah mati dalam sebuah kecelakaan. Bahkan ada yang mengabarkan kalau wanita itu telah bunuh diri.Hubungan ibu Dario dan ibu Enrio memang tidak cukup baik. Sama seperti pertikaian antara Dario dan Enrio. Selebihnya, dirinya tak tahu apa pun.“Saya sangat senang bertemu dengan Anda, nyonya Renata.”“Panggil saja mama.” Renata merangkum wajah Angela dengan lembut. “Kau sangat cantik. Lebih cantik dari yang kubayangkan.”Rhea seketika merasa berada di tempat yang tidak tepat. Sejenak ia membalas tatapan Enrio lalu melangkah ke samping. Dan ia baru mendapatkan langkah p

  • Ada Kembar Empat Di Balik Selimut   Part 48 Wanita Itu

    Dengusan dingin yang membalasnya tentu saja bukan milik Enrio. Wajah Rhea terdongak dan meneguk ludahnya yang terasa pekat dengan ketegangan di wajah Dario. "D-dario?""Ya, sangat jelas ini aku, istriku.""A-aku ... kupikir kita salah kamar.""Ini memang kamar untuk kita.""T-tapi ...""Kenapa? Kau tak suka kejutannya?" Dario menelengkan kepalanya ke samping. Ya, memang ia sudah memesan ruangan ini dengan pengaturan sebaik mungkin untuk pasangan yang baru menikah."J-jadi ini memang ..." Rasa panas menyebar ke seluruh permukaan wajah Rhea.Dario tersenyum, sedikit merundukkan wajah untuk menyapukan ciuman di bibir Rhea. Bersamaan dengan denting pintu lift yang terdengar di belakangnya. "Aku harus mengurus sesuatu. Kau bersiaplah.""B-bersiap?"Dario mengambil kantong putih yang tepat berada di samping mereka. Menggenggamkan kantong tersebut di tangan Rhea.Rhea tak perlu membuka kanto

  • Ada Kembar Empat Di Balik Selimut   Part 47 Ancaman Paul

    Rhea tercekat napasnya sendiri. Menatap keraguan yang melekati tatapan Seth. "Kenapa dengan golongan darahmu?""Golongan darahku A-, dan mereka B. B+, B-, atau B saja tapi mereka memiliki golongan darah yang sama. Apakah mungkin aku anak angkat keluarga ini?""Apa yang kau bicarakan, Seth? Kau tidak mabuk, kan?"Seth menggeleng dengan lesu, kemudian menjatuhkan kepalanya di punggung sofa sambil memasang muka cemberut yang dibuat-buat. "Pikiranku lebih aneh lagi saat mabuk.""Oh ya?""Hanya pemikiranku saja. Aku selalu menjadi orang yang asing di tengah paman Enrio dan Dario. Mereka ... seolah tidak sama denganku.""Apa maksudmu?""Kau tahu, kakek dan nenek memiliki mata hijau. Itulah sebabnya paman Dario, paman Enrio dan papaku juga memilikinya. Dan kau bisa lihat mereka." Seth menunjuk keempat kembar. Yang memang memiliki manik hijau meski dengan cara yang berbeda. Ada yang terang seperti milik Caiiley, sediki

  • Ada Kembar Empat Di Balik Selimut   Part 46 Permohonan Rhea

    “Kau terlihat seperti bersungguh-sungguh,” gumam Dario tak peduli.“Aku memang.” Rhea merasakan matanya yang mulai perih dan kembali terbatuk. “Meskipun Enrio berusaha membujukku, aku sudah memutuskan keputusanku dan tak akan merubahnya. Aku tak mungkin menukar cintaku dengan si kembar. Aku akan mulai melupakan perasaan cintaku padanya.”Mata Dario memicing tajam.“Kumohon percayalah padaku.”“Kau terlalu banyak memohon, Rhea. Kau tak berpikir aku akan bosan mendengarnya?”“Aku akan melakukan apa pun yang kau inginkan?”“Apa pun?”Rhea mengangguk dengan cepat.“Tak masalah jika aku ingin anak darimu, kan?”Rhea membelalak. “A-anak?” Suaranya tercekat keras.“Kau tahu, anak adalah ikatan yang tak akan diputuskan dengan mudah. Yang akan selalu mengingatkan batasan untukmu saat kau lupa diri.”“T-tapi …”Dario melepaskan pegangannya, tubuh Rhea kembali tenggelam dan berusaha

  • Ada Kembar Empat Di Balik Selimut   Part 45 Pengaturan Diam-Diam Angela

    Dario melirik tak tertarik pada wanita yang sudah berdiri telanjang di hadapannya tersebut. Jubah tidurnya teronggok di lantai, melingkari kedua kaki jenjang tersebut. Well, harus diakuinya, wanita itu memiliki tubuh yang sempurna. Lekukan yang begitu menggoda dan ukuran dada yang membuat pria manapun meneteskan air liur. Tak lebih kecil dari yang dimiliki Rhea, tetapi milik Rhea terasa pas di tangannya.Sial, kenapa dia memikirkan Rhea? Matanya kembali menatap manik si wanita yang berpose memamerkan kesempurnaan tubuh dan wajahnya. Sangat tahu bagaimana cara menyenangkan seorang pria, dan lagi-lagi ia tak suka berselera pada wanita yang terlalu menginginkannya. Kepolosan Rhea selalu memberinya kepuasan dan saat ini juga, dirinya membayangkan membawa wanita itu ke tempat tidur. Dan sebaiknya bayangan ini tidak bertahan lama karena ia ingin segera melaksanakannya.“Berapa dia membayarmu?”Senyum si wanita membeku, dan seketika menyadari ketidak tertari

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status