แชร์

Adik Angkatku Istri Kedua Suamiku
Adik Angkatku Istri Kedua Suamiku
ผู้แต่ง: Lapini

1. Cindya Memergoki Suami & Adiknya

ผู้เขียน: Lapini
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-03-10 11:07:45

Cindya tertegun dengan pemandangan yang terpampang di depan matanya. Jantungnya berdegup lebih kencang daripada biasanya, mencoba mencerna apa yang baru saja dilihatnya. Dharmatio—suaminya—dan Harena—adik perempuannya—sedang berpelukan di ruang tamu. Situasi ini membuat otaknya berputar dengan berbagai pertanyaan yang sulit ia abaikan.

“Mas Tio ….”

Dharmatio dan Harena sama-sama terkejut melihat kehadiran Cindya. Wajah Harena pucat seolah ingin menjelaskan sesuatu, sementara Dharmatio dengan segera melepaskan pelukannya, tetapi tetap memandang Harena dengan ekspresi khawatir. “Kamu baik-baik saja, Harena?” tanya Dharmatio dengan nada lembut, memastikan kondisi Harena.

Cindya yang berdiri di ambang pintu memicingkan mata, membuat suasana semakin berat. Ia melangkah mendekati mereka dengan langkah yang mantap namun perlahan, kedua tangannya terlipat di depan dada. Ekspresi wajahnya sulit dimengerti—gabungan antara kecewa, bingung, dan kesal.

“Harena, kenapa kamu ada disini? Dan kamu, kenapa kamu ada di rumah pada jam segini?” tanyanya dengan suara tenang tetapi penuh tekanan.

Harena segera mengangkat tangan, seperti ingin menjelaskan, tetapi mulutnya tidak segera mengeluarkan kata-kata. Sementara Dharmatio mengambil langkah ke depan, mencoba menjembatani suasana yang tegang itu. "Cindya, aku bisa jelaskan," katanya dengan nada hati-hati.

Cindya menatap suaminya tanpa berkedip, menunggu jawaban yang jelas. “Aku menunggu penjelasanmu,” katanya dengan nada lebih rendah, meskipun hatinya sedang bergolak.

Dharmatio menarik napas panjang, lalu mengarahkan pandangannya ke Harena, memberikan isyarat agar adik iparnya membantu menjelaskan. Harena, yang terlihat gelisah, akhirnya berbicara. "Kak, aku datang ke sini karena aku butuh bantuan. Aku merasa tertekan akhir-akhir ini, dan aku tidak tahu harus bicara dengan siapa. Aku pikir Mas Tio ada di rumah, jadi aku datang ke sini," katanya, suaranya sedikit gemetar.

Cindya tetap memandang mereka bergantian, masih mencoba menilai kejujuran dari kata-kata Harena. "Terus, kenapa kalian berpelukan?" tanyanya lagi, menajamkan tatapannya.

Dharmatio segera menjawab. "Harena tadi menangis, Sayang. Dia menceritakan banyak hal yang membuatnya merasa tertekan. Aku mencoba menenangkan dia, dan dia spontan memelukku. Itu saja."

Harena mengangguk cepat, mencoba mendukung penjelasan Dharmatio. "Itu benar, Kak. Aku hanya merasa sangat sedih, dan aku tidak tahu harus bagaimana lagi."

Cindya menghela napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya. Meski penjelasan mereka masuk akal, masih ada rasa ganjil yang belum hilang dari hatinya. 

"Lain kali, Harena, kalau kamu merasa tertekan, aku harap kamu bisa langsung bicara padaku. Aku selalu ada untukmu,” ucap Cindya kepada Harena yang diangguki oleh perempuan dihadapannya saat ini, lalu atensinya kini beralih menatap suaminya. “Aku ingin kamu memberitahuku jika sesuatu seperti ini terjadi. Kita adalah keluarga, dan aku ingin semua hal terbuka di antara kita," tambahnya dengan nada tegas namun lembut.

Dharmatio mengangguk penuh penyesalan. "Aku mengerti, Sayang. Aku seharusnya segera memberitahumu."

Harena mendekati Cindya, memegang tangannya dengan penuh rasa bersalah. "Aku minta maaf, Kak. Aku tidak bermaksud membuatmu marah atau merasa tidak nyaman."

Cindya menatap Harena dengan mata yang mulai melunak. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengangguk perlahan. "Baiklah, aku percaya kalian. Tapi aku harap kedepannya, kita bisa saling terbuka tanpa ada kejadian-kejadian seperti ini."

Suasana perlahan kembali tenang, meskipun hati Cindya masih menyimpan sedikit keraguan. Namun, ia memilih untuk percaya dan melanjutkan hari-harinya, memupuk komunikasi yang lebih baik di antara mereka semua.

*

Keesokan paginya, langkah Cindya terasa ringan menuju ruang makan, tetapi langkah itu mendadak terhenti ketika ia melihat pemandangan yang tak terduga. Di meja makan, hanya ada Dharmatio dan Harena. Suaminya sedang menyuap Harena dengan potongan kecil buah, dan Harena tertawa kecil sambil menerima suapan itu. Keceriaan yang terpancar dari keduanya terasa janggal di mata Cindya. 

“Kaliann ….”

Hati Cindya mencelos. Ekspresi wajahnya segera berubah menjadi datar, tetapi matanya mencerminkan sorot penuh kecurigaan. Tanpa sepatah kata, ia melangkah mendekati mereka. Kedua tangannya terlipat di depan dada, langkahnya mantap tetapi perlahan. Kehadirannya langsung menyita perhatian mereka berdua.

Dharmatio yang tadinya sedang tersenyum kini tampak kaget, buru-buru menjauhkan tangannya dari Harena. Harena pun terlihat gugup, memalingkan wajah seperti seseorang yang ketahuan melakukan sesuatu yang tak seharusnya. 

Momen itu seperti adegan dalam film, di mana seseorang tertangkap basah. Ruangan yang tadi penuh tawa tiba-tiba menjadi sunyi, hanya ada bunyi jam dinding yang berdetak.

"Selamat pagi," ucap Cindya dingin, matanya bergantian menatap Dharmatio dan Harena. Suaranya tenang, tetapi ada tekanan yang tidak bisa diabaikan.

"Ah, iya … pagi, Sayang," jawab Dharmatio dengan senyum canggung, mencoba mengubah suasana yang jelas sudah berubah aneh. Ia berusaha terlihat santai, tetapi nada bicaranya mengkhianati kegelisahannya.

"Harena baru saja datang dan kami... hanya sedang sarapan bersama," tambah Dharmatio, sambil melirik Harena seolah meminta dukungan.

Harena langsung angkat bicara, suaranya terdengar tergesa-gesa. "Benar, Kak. Aku hanya... aku hanya mampir sebentar karena aku harus ke kampus nanti," ujarnya, tetapi tangannya yang memegang sendok sedikit gemetar.

Cindya memicingkan mata, tetapi ia tetap berdiri di sana tanpa berkata sepatah kata pun, mengamati keduanya dengan cermat. Dadanya terasa sesak, pikirannya bergejolak dengan pertanyaan yang tak bisa ia abaikan. Tapi kemudian, ia menarik napas panjang, mencoba meredam emosi yang hampir meledak.

"Aku harap aku tidak mengganggu momen kalian," ucap Cindya akhirnya, dengan nada yang terdengar lebih menyindir daripada ramah. Ia berbalik menuju dapur, tanpa menunggu jawaban dari keduanya.

Di dapur, Cindya menenangkan pikirannya sambil menuangkan segelas air. Bagaimanapun, ia adalah seorang istri sekaligus kakak yang menginginkan keharmonisan keluarga. Dengan hati yang berat, ia memutuskan untuk tidak memperpanjang masalah ini—untuk saat ini.

Beberapa saat kemudian, Cindya kembali ke ruang makan dengan wajah yang dipaksakan tenang. "Aku ingin ini jelas, Harena. Aku tidak keberatan kamu sering ke sini, tetapi jika ada sesuatu yang perlu aku tahu, aku harap kamu dan Dharmatio berbicara langsung kepadaku," ucapnya tegas, pandangan matanya tajam menembus keduanya.

Dharmatio menunduk sedikit, wajahnya menunjukkan rasa bersalah. "Tidak ada apa-apa, Cindya. Aku janji. Harena hanya adik ipar yang membutuhkan dukungan. Tidak ada yang lebih dari itu," katanya pelan, tetapi suaranya terdengar tulus.

Harena juga segera angkat bicara. "Aku minta maaf, Kak. Aku tidak bermaksud membuatmu merasa tidak nyaman. Aku hanya mencari kenyamanan, dan aku merasa Mas Tio adalah sosok yang bisa mendengarkan," ujarnya, wajahnya terlihat menyesal.

Cindya mengangguk perlahan, meskipun hatinya masih terasa berat. "Baiklah. Aku percaya kalian, tapi aku tidak ingin ada situasi seperti ini lagi. Jangan buat aku harus terus merasa curiga."

Hari itu berlalu dengan keheningan yang lebih dalam daripada biasanya, tetapi Cindya mencoba untuk mempercayai suami dan adiknya. Namun, jauh di lubuk hatinya, ada luka kecil yang mulai terbentuk. Ia berusaha keras untuk tidak membiarkan luka itu tumbuh menjadi sesuatu yang lebih besar.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Adik Angkatku Istri Kedua Suamiku   89. Akankah berakhir Happy?

    Satu bulan kemudian ….Cindya mengetuk pintu dihadapannya saat ini, menunggu pemilik unit apartement muncul dihadapannya. Sesekali mengetukkan ujung sepatunya pada lantai lorong apartement, melihat ke kanan dan kiri.Clek!Cindya menoleh saat mendengar pintu terbuka, ia tersenyum lebar saat mendapati suaminya yang terkejut melihat kehadirannya.“Hai, Mas,” sapanya dengan tenang dan santai, mengangkat tangan kanannya ke udara. Ia memicingkan kepala, “Kamu nginep di apartement Harena ternyata. Aku kira kamu di kantor, soalnya semalem Arlan bilang kalau kamu ada pekerjaan yang harus di selesaikan. Ini pekerjaan kamu? Nemenin Harena sama bayinya?” tuturnya sarkas.Dharmatio menipiskan bibir, ia berusaha untuk menahan istrinya supaya tidak menorobos masuk ke dalam unit apartement. Tetapi tenaganya kalah. Sang istri dengan menahan amarah kepadanya, jadi tenaganya lebih kuat dibandingkan dirinya.“HARENA!”“Cindya, jangan teriak-teriak. Kesya baru saja tidur,” ucap Dharmatio, ia menahan leng

  • Adik Angkatku Istri Kedua Suamiku   88. Sebentar lagi selesai?

    Beberapa minggu kemudian ….Cindya menaikkan sebelah alisnya saat mendapatkan satu pesan dari ‘Harena’, kontak nama yang sebelumnya ia namakan ‘Adekkku’ kini berubah setelah perselingkuhan antara suaminya dan Harena diketahui olehnya.Ia bergerak dengan perlahan setelah melihat ke sisi kanannya, putrinya tertidur dengan pulas sambil memeluk boneka beruang. Sudah satu minggu tidak sekamar dengan suaminya-Dharmatio-. Satu minggu yang lalu, mereka berdebat cukup panjang, energi terkuras habis-habisan, dan berakhir menjauh satu sama lain.Cindya terkekeh setelah membaca dari Harena, isi pesan tersebut berisi ‘Mas Dharma ada di apartement aku. Mbak ada masalah apa sama Mas Tio?’“Munafik,” gumamnya, dan satu kata itulah yang secara spontan diketik olehnya, tetapi segera dihapus lalu diganti dengan ‘Tidak tahu. Aku baik-baik saja sama Mas Tio.’Cindya tidak puas dengan hal tersebut, ia memutuskan untuk turun dari ranjang dengan sangat hati-hati, tidak ingin membuat putrinya itu terganggu.

  • Adik Angkatku Istri Kedua Suamiku   87. Dua Situasi Yang Berbeda

    Cindya melangkahkan kaki mendekati meja nomor 30 yang berada di dekat kaca sebuah restaurant yang cukup ramai, terlihat beberapa meja sudah terisi oleh pelanggan.“Hai.”Seorang laki-laki menoleh, tersenyum kepada Cindya, dan spontan berdiri. Zandi, sahabat Cindya itu kini berdiri dihadapan Cindya yang tertawa.Siapapun yang melihatnya, akan berprangsaka bahwa mereka merupakan sepasang kekasih yang sedang jatuh cinta. Wajah Cindya maupun Zandi sangat cerah, benar-benar menandakan bahwa mereka bahagia ketika bertemu seperti saat ini.“Duduk ….” ucap Zandi setelah beberapa menit terdiam, mengulurkan tangannya mempersilahkan Cindya untuk duduk. Sahabatnya itu mengindahkan tanpa bersuara.“Sorry ya lama, tadi ada kerjaan yang harus aku selesaikan,” ujar Cindya, menyimpan slingbag-nya di atas meja, dan memfokuskan atensi hanya untuk Zandi yang melakukan hal yang sama.“It’s okey. Aku juga sampai,” ucap Zandi dengan suaranya yang lembut, membuat wanita yang duduk berhadapan dengannya ini te

  • Adik Angkatku Istri Kedua Suamiku   86. Hari Pertama Cindya Bekerja

    Suara sepatu heels beradu dengan lantai keramik di lobby perkantoran, membuat beberapa karyawan yang baru tiba dan berada di depannya menoleh. Cindya, wanita itu mengenakan celana panjang berwarna abu-abu, blouse berwarna biru yang dilapisi oleh blazer abu-abu.Beberapa karyawan melebarkan kedua mata terkejut dengan kehadiran Cindya sepagi ini di kantor. Sedangkan Cindya melangkah melewatinya dengan menebar senyum ramahnya.“Cindya … aku tidak tahu kalau kamu akan datang lebih pagi hari ini.”Cndya mennghentikan langkahnya, menoleh dan senyumnya mereka melihat seorang wanita dengan rambut ponytail, kemeja coklat dan celana panjang berwarna coksu mendekat ke arahnya.“Jelas dong, ini kan hari pertama aku kerja setelah tertunda beberapa hari,” ujar Cindya, kembali melangkahkan kedua kakinya beriringan dengan Amel yang mengangguk-anggukkan kepala.“Aku kira, kamu tidak jadi bekerja di sini. Mungkin, di kantor your mother,” balas Amel, berdiri di sisi kanan Cindya yang bergumam pelan. Mer

  • Adik Angkatku Istri Kedua Suamiku   85. Deeptalk with Zandi

    Cindya menatap sang bunda yang duduk tenang memperhatikannya di ruang keluarga, ia tidak perlu khawatir tentang kedua anaknya yang sedang dijaga dan diajak main oleh Zandi dan sang papa.“Kamu serius tentang itu? Kamu mau kerja di kantor Papa?” tanya Arcinta, mencoba untuk mencari tahu apakah putrinya itu sudah sangat yakin atau belum dengan keputusan tersebut. “Kamu tetap akan bertemu dengan Dharma,” lanjutnya.Cindya tersenyum tipis, “Aku yakin, Bunda. Dan untuk itu, aku bisa membuat semua karyawan Papa itu tutup mulut. Dengan begitu, mereka tidak akan ada yang membocorkan aku kerja di kantor papa.”“Kamu tidak takut kalau kamu dipandang memanfaatkan kekuasaan papa?”Cindya bergumam pelan, mencoba untuk membuat tubuhnya rileks dengan bersandar dan melipat keduanya. Atensinya menatap sang bunda yang tidak mengalihkan atensi kepadanya. Jujur saja, pemikiran itu tidak menjadi beban untuknya.“Selama aku kerja dengan baik, sangat baik, dan membawa perubahan terhadap kantor Papa, kenapa

  • Adik Angkatku Istri Kedua Suamiku   84. Kapan hari itu tiba?

    Cindya menghela nafasnya perlahan, ia memperhatikan kamarnya yang dahulu ditempati olehnya sebelum menikah. Tidak ada yang berubah, furniture dan barang-barang miliknya masih pada tempatnya.Sesuai dengan pembicaraannya dengan kedua orangnya satu jam yang lalu, papanya yang tegas, memaksanya untuk kembali ke rumah ini, tanpa memberitahu Dharmatio-suaminya-.Suara bayi yang ada di troli bayi membuat perhatian Cindya teralihkan. Wanita itu melangkahkan kaki ke depan, berjongkok lantas tersenyum manis menatap Echa yang bergerak minta untuk dilepaskan.“Gak mau. Adek diem aja ya di situ, Bunda mau tidur,” ucap Cindya, memperhatikan ekspresi Echa yang berubah menjadi cemberut, keningnya mengkerut.Wanita itu beranjak, berbalik badan, lantas saat ingin melangkahkan kedua kaki jenjangnya, suara tangis Echa memenuhi kamar ini. Sehingga membuat Cindya berbalik badan, lalu melepaskan tali yang menahan Echa untuk tidak bergerak banyak, dan menggendongnya.“Anak cantik, gak boleh nangis,” ucap C

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status