MANTAN WITH BENEFIT

MANTAN WITH BENEFIT

last updateLast Updated : 2025-08-20
By:  DityaRCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
25 ratings. 25 reviews
117Chapters
1.8Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Bagaimana bisa dia tiba-tiba memelukku? Dia pikir kita ini masih suami istri, apa? Dulu kita memang pernah bersama. Sebelum dia meninggalkanku tanpa ada penjelasan apa pun. Dan sekarang? Dia kembali mengusikku dengan mengaku kehilangan ingatan. Dia mengira kalau aku masih suaminya. Gila. Secara formal, sih, kita belum resmi berpisah. Sebenarnya surat cerai kita sudah ada di kantor pengacara, tapi belum ada satu pun dari kita yang menandatanganinya. Dan sayangnya hatiku sudah mengatakan sebaliknya. Aku muak banget sama semua drama ini. Katanya dia cuma ingin mengingat kehidupannya di Pecang. Kota kecil di mana semua kenangan kita tersimpan. Sementara aku cuma ingin tahu alasan kenapa dia pergi. Begitu ingatannya pulih, aku akan meninggalkannya. Karena bagiku, enggak bakal ada yang namanya kesempatan kedua. Tetapi ... seperti yang bisa kalian tebak, semuanya enggak berjalan sesuai rencana. ──୨ৎ────୨ৎ── Pecang with Benefit Season I

View More

Chapter 1

Malam Pertama 🔥

୨ৎ K H A L I S A જ⁀➴

Setelah mengunci rapat pintu kamar, suamiku berdesis di telingaku, “Sayang, ini kan malam pertama kita. Tebak, apa yang bakal aku lakuin pertama kali di kamar ini?”

Pertanyaan itu membuatku tertunduk malu, "Kamu mau kita … hemm … sekarang?" Akhirnya suaraku keluar, kedua tanganku masih melingkar di lehernya.

 "Ini malam pertama kita," bisiknya sambil mengurai satu per satu kancing kebayaku yang bertemakan bunga melati. Memang agak sedikit transparan. "Terus mau nunggu sampai kapan lagi?"

Sesekali kulihat wajah Alzian yang enggak pernah berhenti menatap wajahku dengan senyum riangnya. Telunjuknya pun mengangkat daguku dengan lembut agar aku enggak terus tertunduk malu.

 “Khalisa, aku ini udah jadi suamimu. Jadi enggak usah pakai malu-malu segala, deh! Sekarang kita ini udah halal untuk berdua-duaan di kamar kayak gini. Enggak usah takut digerebek Satpam atau pak Guru kaya dulu lagi,” canda Alzian, mencoba mencairkan suasana.

Aku mengangguk sambil sedikit tertawa. Tetapi tetap saja, aku merasa malu meski di dalam dekapan suamiku sendiri, karena sekarang aku merasa ada barang yang keras menempel di pahaku.

Benar saja, sebilah tongkat yang bernama Junior itu mulai menegang. Aku pun menatap Alzian yang merah merona, dia langsung mencapai bibirku dengan sigap. Satu tangannya menjelajah di setiap bidang dadaku serta satunya lagi tengah asyik menyapu di bagian bawah.

Segera, kami berdua pun langsung melompat ke ranjang yang dipenuhi dengan bunga Peony. Sepertinya Alzian sudah enggak sabar lagi untuk menjalankan tugasnya, dia langsung membuka semua gaunku serta bajunya.

Sepuluh menit berlalu. Alzian membuka lebar kedua kakiku, dan buru-buru aku menahannya, "Tapi, aku belum siap!" 

Aku sempat merengut, tapi sentuhan tangannya yang selembut beludru itu, perlahan membimbing bibirku untuk tersenyum.

  "Tenang aja Khalisa, nggak apa-apa, kok. Sakitnya itu cuma di awal-awal aja, percaya, deh! Pas kita berdua udah basah, itu pasti bakal jadi enak, dan kamu pasti ketagihan," bisiknya, mencoba menenangkanku.

 Tapi bukannya tenang, pikiranku malah ke mana-mana. "Tunggu … Kok, kayaknya kamu udah paham benar, sih? Kamu pernah ngelakuin ini sama siapa sebelum sama aku? Hah, jujur!"

 Aku dorong dadanya spontan, membuat tubuhnya sedikit terhuyung. Namun dia kembali mendekat, memelukku dengan panik. "Enggak ada … sumpah, kamu yang pertama!"

  "Halah ... Bohong!" seruku sambil berusaha melepaskan pelukannya, "Lepasin, atau aku bakal teriak?"

  "I—iya ... Okay!"

 Begitu aku berhasil lepas, segera kurapikan kebayaku. Rasanya akan jauh lebih baik kalau aku berada di depan, bersama saudara-saudara yang lain untuk menyambut para tamu undangan. Toh, sekarang masih jam delapan malam. Pasti masih ada saja tamu yang datang. Apalagi ini malam minggu.

 Aku nyaris saja membuka pintu kamar, tapi tiba-tiba namaku terdengar lantang dari belakang, "Khalisa!"

 Suara itu membuatku berhenti. "Udah, lah! Jangan ajak aku ngomong, kecuali kamu emang mau jujur semuanya sama aku, Alzian!"

  "Khal—"

  "Sssttttt," potongku.

 Aku enggak mau ambil pusing lagi. Mungkin baginya ini cuma hal sepele. Tapi buatku, ini bukan perkara kecil.

Kenapa, sih, kebanyakan laki-laki di dunia ini berharap mendapatkan istri yang belum pernah disentuh, alias masih suci atau perawan?

Bahkan mereka selalu berlomba-lomba untuk jadi yang pertama menyentuhnya. Tapi kenapa standar itu enggak bisa berlaku juga untuk perempuan, untukku?

 Aku mengabaikannya. Begitu tanganku menyentuh gagang pintu dan mulai menariknya, tiba-tiba sebuah sentuhan ringan mendarat di bahuku, "Khalisa?"

 "Hemm," desisku sambil menepis tangannya yang menjijikan itu.

"Kebayamu," ucapnya, sedikit gemetar. "Benerin dulu kebayamu kalau mau keluar!"

Aku berbalik, kita pun saling tatap.

 "Maksudnya?" tanyaku pelan.

Dia tunjuk dadaku. Dan baru kusadari kalau posisi Bra-ku bergeser ke dalam gara-gara ciuman singkat tadi. Kebaya putih yang sedikit transparan ini pun membuat kismis mungilku tampak lebih jelas dari yang kuduga.

  "Oh, maaf," timpalku sembari merapikan si mungil yang menyembul malu-malu.

Saat aku kembali menatapnya, air matanya sudah terjun bebas, mengalir melewati leher dan dada, lalu menghilang di atas perutnya. Ada yang ganjil saat pandanganku tertuju pada bokser hitam itu.

Jiplakan si Junior tampak jelas, dan dari serat-serat kainnya, mengalir cairan berwarna putih pucat. Jujur, aku masih belum mengerti, apakah itu sisa air mata yang sempat lenyap tadi, atau ada cairan lain.

Aku angkat alis. "Alzian? Ka—kamu?" Sebelum tubuhnya benar-benar jatuh di lantai, aku sempat menangkap lengannya. "Kamu sakit?"

Wajahnya pucat. Tangannya mencengkeram bokser. Dia pun roboh, wajahnya menatap lampu gantung. 

"Enggak, aku enggak apa-apa," gumamnya.

  "Tapi kamu pucat banget!"

Dia enggak menjawab. Tatapannya goyah. Lalu, dengan berat, dia berdiri dan mengangkat bahunya tinggi-tinggi. "Aku kuat, kok. Nih, lihat, kan!"

Aku masih berlutut di depannya. Tiba-tiba, aroma aneh menyelinap ke hidungku. Refleks, aku pun menutup hidung dengan kedua tangan. Mataku membelalak, tertuju pada si Junior yang bersembunyi di balik kain hitam itu, tampak aneh dan membuatku mual.

"Alzian?" pekikku sambil menggigit bibir, menahan tawa. "Kamu udah keluar secepat ini, huumm?"

Wajah Alzian langsung berubah. Matanya berkedip cepat, napasnya tertahan, dan bibirnya sedikit terbuka. Sampai akhirnya yang keluar dari mulutnya cuma satu kata, "Maaf."

Aku mengangkat alis, "Maaf?" berpura-pura galak dengan meninggikan nadaku. "Buat apa kamu minta maaf?"

Aku berdiri dan sekarang mata kita sejajar. Bibirnya bergetar, "Khalisa, aku sumpah, aku nggak tah—"

"Ssst!!" Cepat, jari telunjukku membelah bibirnya. Matanya melebar dan tubuhnya menegang. Saat aku mendekat, napasnya makin enggak beraturan. "Sayang ..." bisikku lembut, masih menahan tawa. "... aku enggak marah, kok."

Raut bingung terpampang di wajahnya. Dan kali ini aku menang. "Kita baru nikah sembilan jam yang lalu. Terus kamu pikir aku bakal marah cuma gara-gara hal kayak gini?" 

Dia masih diam, bengong.

Aku pun tersenyum, lalu perlahan menaruh bibirku di telinganya, "Kalau kamu emang beneran cowok, harusnya kamu nggak boleh nyerah di ronde pertama, Alzian!"

Dan sekarang ... Wajahnya jadi makin pucat.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Comments

10
100%(25)
9
0%(0)
8
0%(0)
7
0%(0)
6
0%(0)
5
0%(0)
4
0%(0)
3
0%(0)
2
0%(0)
1
0%(0)
10 / 10.0
25 ratings · 25 reviews
Write a review
user avatar
Shadinda
khalisa km hruz bahagiaa
2025-08-07 08:33:21
1
user avatar
Mom Yuyun
Kasian..... kasian........ mertuanya juga tega bener ya Allah menantu sendiri juga.
2025-08-06 22:27:27
2
user avatar
Sukma Fitri
GUNANYA SUAMI APA SIH! GAK BECUS BGT, MASAK IYA ISTRI DIBIARIN GITU AJA DIPAKE SAMA MANTANNYA!
2025-08-06 22:12:35
4
user avatar
EMI S
Suka pkoknyaaaa, lanjut
2025-08-06 21:56:36
4
user avatar
Ginanjar
critanya sangatt menggairahkann
2025-08-06 21:24:05
4
user avatar
Hinangi
Perginya Khalisa kenapa si? Penasaran, palingan dia mau hapus jejak krna pernah tidur sama Papanya Zian
2025-08-06 20:38:55
4
user avatar
Robbiatul
ceritanya udah mulai panas dingin thor
2025-08-06 19:56:52
4
user avatar
Yesica
Untung aja Alzian gak tahu kalau Khalisa pernah selingkuh sama papa mertua,
2025-08-06 19:35:59
3
user avatar
Suhartini
Kaliza amnesia gr2 si heksa, dr awl juga udah ngerusak rumah tgg orang tu anak!!! ...
2025-07-07 13:30:57
3
user avatar
Mentari senja
makin suka sma alur ceritanya,, tpi buat khalisa sma alzian balik lgi ya thor
2025-07-04 19:17:27
4
user avatar
Umi Nuraeni
mertuanya bener2 lqnat, heran. kenapa nda lapor ke Al atau ke heksa kan tentara. udah bener km minggat dari rumah itu Nda usah blmbalik lgi
2025-07-04 16:21:13
3
user avatar
Sheva
kok lama banget si thor up nya? Keburu lupa ....
2025-07-04 16:06:37
4
user avatar
Putu Ariani
baru nikah aja cobaanya banyak bgt
2025-07-04 15:52:18
5
user avatar
Moh Daim
Heksa sableng menang banyak dia
2025-07-02 16:50:25
5
user avatar
Melani indah
Up lagi kak
2025-05-25 23:17:50
6
  • 1
  • 2
117 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status