Bagaimana bisa dia tiba-tiba memelukku? Dia pikir kita ini masih suami istri, apa? Dulu kita memang pernah bersama. Sebelum dia meninggalkanku tanpa ada penjelasan apa pun. Dan sekarang? Dia kembali mengusikku dengan mengaku kehilangan ingatan. Dia mengira kalau aku masih suaminya. Gila. Secara formal, sih, kita belum resmi berpisah. Sebenarnya surat cerai kita sudah ada di kantor pengacara, tapi belum ada satu pun dari kita yang menandatanganinya. Dan sayangnya hatiku sudah mengatakan sebaliknya. Aku muak banget sama semua drama ini. Katanya dia cuma ingin mengingat kehidupannya di Pecang. Kota kecil di mana semua kenangan kita tersimpan. Sementara aku cuma ingin tahu alasan kenapa dia pergi. Begitu ingatannya pulih, aku akan meninggalkannya. Karena bagiku, enggak bakal ada yang namanya kesempatan kedua. Tetapi ... seperti yang bisa kalian tebak, semuanya enggak berjalan sesuai rencana. ──୨ৎ────୨ৎ── Pecang with Benefit Season I
View More୨ৎ K H A L I S A જ⁀➴
Setelah mengunci rapat pintu kamar, suamiku berdesis di telingaku, “Sayang, ini kan malam pertama kita. Tebak, apa yang bakal aku lakuin pertama kali di kamar ini?” Pertanyaan itu membuatku tertunduk malu, "Kamu mau kita … hemm … sekarang?" Akhirnya suaraku keluar, kedua tanganku masih melingkar di lehernya. "Ini malam pertama kita," bisiknya sambil mengurai satu per satu kancing kebayaku yang bertemakan bunga melati. Memang agak sedikit transparan. "Terus mau nunggu sampai kapan lagi?" Sesekali kulihat wajah Alzian yang enggak pernah berhenti menatap wajahku dengan senyum riangnya. Telunjuknya pun mengangkat daguku dengan lembut agar aku enggak terus tertunduk malu. “Khalisa, aku ini udah jadi suamimu. Jadi enggak usah pakai malu-malu segala, deh! Sekarang kita ini udah halal untuk berdua-duaan di kamar kayak gini. Enggak usah takut digerebek Satpam atau pak Guru kaya dulu lagi,” canda Alzian, mencoba mencairkan suasana. Aku mengangguk sambil sedikit tertawa. Tetapi tetap saja, aku merasa malu meski di dalam dekapan suamiku sendiri, karena sekarang aku merasa ada barang yang keras menempel di pahaku. Benar saja, sebilah tongkat yang bernama Junior itu mulai menegang. Aku pun menatap Alzian yang merah merona, dia langsung mencapai bibirku dengan sigap. Satu tangannya menjelajah di setiap bidang dadaku serta satunya lagi tengah asyik menyapu di bagian bawah. Segera, kami berdua pun langsung melompat ke ranjang yang dipenuhi dengan bunga Peony. Sepertinya Alzian sudah enggak sabar lagi untuk menjalankan tugasnya, dia langsung membuka semua gaunku serta bajunya. Sepuluh menit berlalu. Alzian membuka lebar kedua kakiku, dan buru-buru aku menahannya, "Tapi, aku belum siap!" Aku sempat merengut, tapi sentuhan tangannya yang selembut beludru itu, perlahan membimbing bibirku untuk tersenyum. "Tenang aja Khalisa, nggak apa-apa, kok. Sakitnya itu cuma di awal-awal aja, percaya, deh! Pas kita berdua udah basah, itu pasti bakal jadi enak, dan kamu pasti ketagihan," bisiknya, mencoba menenangkanku. Tapi bukannya tenang, pikiranku malah ke mana-mana. "Tunggu … Kok, kayaknya kamu udah paham benar, sih? Kamu pernah ngelakuin ini sama siapa sebelum sama aku? Hah, jujur!" Aku dorong dadanya spontan, membuat tubuhnya sedikit terhuyung. Namun dia kembali mendekat, memelukku dengan panik. "Enggak ada … sumpah, kamu yang pertama!" "Halah ... Bohong!" seruku sambil berusaha melepaskan pelukannya, "Lepasin, atau aku bakal teriak?" "I—iya ... Okay!" Begitu aku berhasil lepas, segera kurapikan kebayaku. Rasanya akan jauh lebih baik kalau aku berada di depan, bersama saudara-saudara yang lain untuk menyambut para tamu undangan. Toh, sekarang masih jam delapan malam. Pasti masih ada saja tamu yang datang. Apalagi ini malam minggu. Aku nyaris saja membuka pintu kamar, tapi tiba-tiba namaku terdengar lantang dari belakang, "Khalisa!" Suara itu membuatku berhenti. "Udah, lah! Jangan ajak aku ngomong, kecuali kamu emang mau jujur semuanya sama aku, Alzian!" "Khal—" "Sssttttt," potongku. Aku enggak mau ambil pusing lagi. Mungkin baginya ini cuma hal sepele. Tapi buatku, ini bukan perkara kecil. Kenapa, sih, kebanyakan laki-laki di dunia ini berharap mendapatkan istri yang belum pernah disentuh, alias masih suci atau perawan? Bahkan mereka selalu berlomba-lomba untuk jadi yang pertama menyentuhnya. Tapi kenapa standar itu enggak bisa berlaku juga untuk perempuan, untukku? Aku mengabaikannya. Begitu tanganku menyentuh gagang pintu dan mulai menariknya, tiba-tiba sebuah sentuhan ringan mendarat di bahuku, "Khalisa?" "Hemm," desisku sambil menepis tangannya yang menjijikan itu. "Kebayamu," ucapnya, sedikit gemetar. "Benerin dulu kebayamu kalau mau keluar!" Aku berbalik, kita pun saling tatap. "Maksudnya?" tanyaku pelan. Dia tunjuk dadaku. Dan baru kusadari kalau posisi Bra-ku bergeser ke dalam gara-gara ciuman singkat tadi. Kebaya putih yang sedikit transparan ini pun membuat kismis mungilku tampak lebih jelas dari yang kuduga. "Oh, maaf," timpalku sembari merapikan si mungil yang menyembul malu-malu. Saat aku kembali menatapnya, air matanya sudah terjun bebas, mengalir melewati leher dan dada, lalu menghilang di atas perutnya. Ada yang ganjil saat pandanganku tertuju pada bokser hitam itu. Jiplakan si Junior tampak jelas, dan dari serat-serat kainnya, mengalir cairan berwarna putih pucat. Jujur, aku masih belum mengerti, apakah itu sisa air mata yang sempat lenyap tadi, atau ada cairan lain. Aku angkat alis. "Alzian? Ka—kamu?" Sebelum tubuhnya benar-benar jatuh di lantai, aku sempat menangkap lengannya. "Kamu sakit?" Wajahnya pucat. Tangannya mencengkeram bokser. Dia pun roboh, wajahnya menatap lampu gantung. "Enggak, aku enggak apa-apa," gumamnya. "Tapi kamu pucat banget!" Dia enggak menjawab. Tatapannya goyah. Lalu, dengan berat, dia berdiri dan mengangkat bahunya tinggi-tinggi. "Aku kuat, kok. Nih, lihat, kan!" Aku masih berlutut di depannya. Tiba-tiba, aroma aneh menyelinap ke hidungku. Refleks, aku pun menutup hidung dengan kedua tangan. Mataku membelalak, tertuju pada si Junior yang bersembunyi di balik kain hitam itu, tampak aneh dan membuatku mual. "Alzian?" pekikku sambil menggigit bibir, menahan tawa. "Kamu udah keluar secepat ini, huumm?" Wajah Alzian langsung berubah. Matanya berkedip cepat, napasnya tertahan, dan bibirnya sedikit terbuka. Sampai akhirnya yang keluar dari mulutnya cuma satu kata, "Maaf." Aku mengangkat alis, "Maaf?" berpura-pura galak dengan meninggikan nadaku. "Buat apa kamu minta maaf?" Aku berdiri dan sekarang mata kita sejajar. Bibirnya bergetar, "Khalisa, aku sumpah, aku nggak tah—" "Ssst!!" Cepat, jari telunjukku membelah bibirnya. Matanya melebar dan tubuhnya menegang. Saat aku mendekat, napasnya makin enggak beraturan. "Sayang ..." bisikku lembut, masih menahan tawa. "... aku enggak marah, kok." Raut bingung terpampang di wajahnya. Dan kali ini aku menang. "Kita baru nikah sembilan jam yang lalu. Terus kamu pikir aku bakal marah cuma gara-gara hal kayak gini?" Dia masih diam, bengong. Aku pun tersenyum, lalu perlahan menaruh bibirku di telinganya, "Kalau kamu emang beneran cowok, harusnya kamu nggak boleh nyerah di ronde pertama, Alzian!" Dan sekarang ... Wajahnya jadi makin pucat.୨ৎ A L Z I A Nજ⁀➴ Setahun kemudian... Aku sama Khalisa masuk ke Brine & Barrel malam sebelum musim turis dimulai di Pecang. Tempatnya ramai banget, seperti biasa. Khalisa tertawa waktu lihat banyak minuman Khalisa Takes Flight mejeng di meja-meja. “Kenapa, Marlin?” tanyaku saat dia menyodorkan minuman favoritnya Khalisa, Melting Heart, terus geser ke arah dia. Habis itu, dia tuangkan juga punyaku, No Stout for You. “Enggak apa-apa, aku baru aja balik dari Bandung, naik penerbangan pagi buta. Capek banget.” “Oh iya, liburan cewek-cewek, ya? Kedengaran seru,” kata Khalisa. Aku lingkarkan tangan ke bahu Khalisa dan menarik dia makin dekat. “Enggak lebih seru dari liburan sama aku plus minuman warna-warni pakai payung kecil, kan?” Kita baru saja balik dari Bali. Bisa dibilang, kita lebih sering di kamar daripada di pantai. Itu bulan madu kedua kita, dan ya ... worth it banget. Kita memutuskan buat bikin pesta pernikahan sebelum musim turis. Melihat tempat ini penuh beg
✎ᝰ. ──୨ৎ────୨ৎ── Aku lakuin itu. Dan rasanya lebih nyakitin dari apa pun yang pernah aku rasain. Aku ninggalin Alzian pagi ini, dengan alasan yang enggak masuk akal banget. “Aku sudah enggak bahagia” Aku pengecut. Tapi aku tahu, kalau aku enggak bisa kasih dia anak, kita pasti bakal hancur suatu hari nanti. Aku pernah lihat, gimana program Fertilitas ngehacurin pernikahan Papa sama Mama. Dan hatiku enggak bakal sanggup melihat itu terjadi di antara aku dan Alzian. Waktu aku pergi, aku yakinin ke diri aku sendiri kalau aku kuat buat ngelepasin dia. Bahkan saat aku sudah sampai bawah gunung dan mulai ragu. Aku butuh kekuatan penuh buat enggak balik ke rumah itu lagi, ke pelukannya. Alzian udah cukup sering kehilangan orang dalam hidupnya, apalagi setelah Mamanya meninggal. Da
୨ৎ K H A L I S A જ⁀➴Aku mengeluh pelan waktu dengar ada yang mengetok pintu. Hal terakhir yang harus aku hadapi hari ini ya dua orang itu. Aku sayang banget sama Connie dan Shaenette, tapi semoga saja bukan mereka.Aku matikan TV dan buka pintu. Betapa shock-nya aku saat lihat siapa yang berdiri di sana.Mama.Dia ulurkan tangan dengan ekspresi pahit. "Boleh masuk?" tanya dia.Aku buka jalan dan minggir. Dia sudah jauh-jauh dari Jogja."Ya udah, masuk aja."Aku balik ke sofa dan duduk, menunggu dia ikut duduk juga.Dia malah duduk di kursi depanku, terus taruh satu buku di tengah meja.Aku menatapnya, dan dia mengangguk. Ya, itu jurnal yang sudah lama aku cari."Gimana bisa Mama—"Dia angkat tangan. "Maaf, Khalisa. Mama pikir Mama bisa ngelindungin kamu dengan nyimpan itu. Setelah kamu kecelakaan, Mama masuk kamar kamu buat ambil baju yang mau Mama cuci. Ketemu buku ini ... dan ya, Ma
Enggak ada rencana, sih. Jadi memang agak sedikit berantakan, tapi semoga saat momennya tiba, aku tahu harus berbuat apa. Aku enggak mau melibatkan saudara-saudara cewekku buat persiapan ini.Tapi aku mau Khalisa tahu, walaupun banyak hal yang lagi dipertaruhkan, aku tetap memilih dia. Dan dia juga memilih aku.“Kok semuanya lagi di rumah, sih?” gumamku, saat melihat mobil-mobil di garasi.Mobil semua keluarga.Aku keluar dan dengar ada suara ramai-ramai di halaman belakang, jadi aku ikuti sumber suaranya dan menemukan Danny, Almorris, sama Luno lagi main di belakang bareng sekumpulan anak anjing di kandang kecil.“Kalian mau bisnis anjing, nih?” tanyaku.Luno menengok ke arahku. “Enggak lah, itu anaknya Popol. Dia baru punya anak,” jawab dia sambil senyum.Aku lupa kalau anjing Labrador kuningnya sempat menghamili anjing tetangga. Pemilik si anjing betina enggak mau mengurusi anak-anaknya dan bilang begitu anak-anaknya
୨ৎ A L Z I A N જ⁀➴Aku pelan-pelan geser dari Khalisa, meninggalkan dia di kasur. Terus aku pakai celana training. Setelah itu, jalan ke dapur, ambil Bir.Sudah malam banget, hampir tengah malam. Aku turun ke tempat api unggun. Setelah menyalakan apinya, aku duduk di kursi, menikmati Bir sambil bengong.Jujur saja, aku enggak pernah merasa seputus asa ini dalam hidupku. Rasanya mirip banget waktu aku melihat Papa mencoba menyelamatkan Mama dari ganasnya ombak teluk. Dan ekspresi panik di wajahnya saat sadar dia enggak bisa berbuat apa-apa.Sekarang, wanita yang aku cinta lagi berduka karena peluang dia buat punya anak.Aku mengerti maksud dia. Teman kerjaku, Nick, pernah cerita soal itu. Mahal, makan waktu, dan bikin emosi naik turun. Tapi aku percaya kita bisa jalani ini berdua.Dan setidaknya sekarang aku tahu kenapa dia meninggalkan aku. Itu bikin semuanya lebih mudah diterima ketimbang kalau dia pergi gara-gara cowok lain.
Aku mengangguk pelan. " Yakin.""Emang enggak bisa cari cara lain, ya?"Aku tatap dia lurus. "Dokter tadi itu cara lainnya. Dia lihat hasil yang sama kayak Dr. Agnes. Dan itu alasan aku ninggalin kamu, Alzian. Karena aku ngerasa enggak bisa kasih kamu keturunan. Aku terima kalau sekarang kamu mau ninggalin aku. Aku enggak bisa kasih hal yang kamu pinginin."Dia diam."Jadi sekarang ... kamu mau ninggalin aku lagi?""Aku cuma pingin kamu punya kehidupan yang kamu mimpiin. Kehidupan yang pantas kamu dapetin.""Hidup yang aku mau tuh kamu, Khalisa. Cuma kamu."Aku mengeluh, terus menutup muka pakai bantal. Aku ingin banget teriak, tapi aku tahan."Tapi aku tahu kamu pingin punya keluarga besar. Kamu udah sering bilang gitu dari dulu.""Kamu tadi bilang masih ada opsi pakai fertilitas, kan? Masih ada harapan.""Kamu tahu enggak, itu mahalnya kayak gimana? Dan kemungkinan berhasilnya kecil banget. B
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Comments