LOGIN
“Tolong hamili aku ….” Kata Ella, tersendat.
Suaminya itu menatap Ella dengan dingin. “Cari saja pria lain. Aku tidak akan menyentuhmu, sampai kapanpun."
Tubuh Ella gemetar mendengar respon dingin suaminya itu.
Dia tidak akan merendahkan harga dirinya di depan pria ini kalau saja tidak dalam keadaan terdesak.
5 bulan ini dunia Ella runtuh. Karena anaknya yang baru berusia 2,5 tahun mengidap leukemia. Dia sudah protes kepada Tuhan, kenapa tidak dia saja yang sakit.
Bahkan, meminta Tuhan memindahkan penyakit itu ke tubuhnya. Namun hingga malam ini, Tuhan belum menjawab do’anya.
Karena itu, Ella menanggalkan harga dirinya dan mendatangi Mario di ruang kerjanya, meminta pria itu untuk menghamilinya. Sebab Ella butuh darah tali pusat untuk menyembuhkan Sisi.
Tapi jawaban Mario barusan apa? Tidak mau menghamilinya? Ella tidak menduga.
“Kamu pikir aku mau kamu sentuh?” balas Ella, kemudian menyesal. Dia tahu bukan begini caranya berbicara dengan Mario.
Namun Ella terlambat. Rahang Mario sudah mengeras.
Ella berusaha merendahkan harga dirinya lebih rendah lagi. Karena hingga tadi siang, petugas bank darah tali pusat umum masih mengatakan belum ada HLA yang cocok dengan Sisi. Sebab sangat sedikit orang yang mau menyumbangkan darah tali pusat. Kebanyakan orang menyimpan darah tali pusat untuk keluarga mereka sendiri.
“Kalau ada cara lain, aku tidak akan memintamu menghamiliku. Sisi terkena leukemia akut jenis ALL. ALL perkembangannya sangat agresif. Harapan hidupnya mungkin hanya 5 tahun,” kata Ella.
“Kamu berlebihan. Pronosisnya bagus,” ujar Mario.
“Meskipun pronosisnya bagus, tapi dia susah sekali dibujuk untuk kemo. Dia takut suntik, sepertimu,” balas Ella.
Mario diam.
Kemudian Ella mengimbuhi, “Aku butuh darah tali pusat untuk menyembuhkan Sisi. Tapi, hanya darah tali pusat dari saudara kandung yang punya peluang tinggi. Jadi, tolong … hamili aku.”
“Kenapa kamu membuatku mengulanginya? Cari saja pria lain,” keputusan Mario tidak berubah.
Ella menahan air matanya agar tidak jatuh, meskipun ucapan Mario bagai sebilah pisau yang mengoyak tubuhnya. Tubuh Ella nyeri, membayangkan nasib Sisi jika Mario tetap tidak mau menghamilinya.
Akhirnya, Ella hanya bisa sabar menghadapi Mario. “Kalau misal aku cari pria lain, lalu HLAnya tidak cocok. Bagaimana? Apa kamu mau menghamiliku?”
“Sepertinya tadi sudah kujawab. Sampai kapanpun aku tidak akan menyentuhmu,” ulang Mario, seperti sengaja menyakiti Ella.
Butiran kristal Ella menetes hangat di pipi. Mario juga melihat itu di wajah cantik Ella, tapi dia tetap dingin.
“Kita bisa ikut program bayi tabung, kalau kamu mau. Dengan begitu aku bisa hamil tanpa kita bersentuhan,” Ella tidak menyerah.
Mario diam.
Sementara di luar pintu, Zega, adik Mario mematung di depan pintu yang terbuka sedikit itu. Tadinya dia mau masuk untuk menemui Mario, ternyata tak sengaja mendengar percakapan suami istri ini.
Zega mendengar Ella menangis. Sekarang dia tahu duduk perkaranya, ternyata Mario tidak mau menghamili Ella, padahal Ella butuh darah tali pusat untuk menyembuhkan Sisi. Zega tidak menyangka kakaknya lebih brengsek dari dia.
“Apa yang harus kulakukan agar kamu menolongku, sekali ini saja,” isak Ella.
“Menceraikanmu? Mengijinkanmu menikah dengan wanita lain? Katakan,” imbuh Ella, siap melakukan apapun untuk kesembuhan Sisi.
Mario tahu betul sifat ayahnya, Ray Alexander. Kalau dia cerai dengan Ella, pasti dia akan dipecat dari jabatannya sebagai CEO Grup MD dan bahkan, dicoret dari daftar keluarga. Karena itu, lebih baik saat ini begini meskipun tidak betah.
“Aku tidak akan menghamilimu. Camkan itu baik-baik, agar aku tidak perlu mengulanginya berkali-kali.”
“Apa kamu tidak peduli dengan Sisi?!” kesabaran Ella habis. Dadanya sesak saat mengatakan ini.
“Apa kamu baru sadar?” tanya balik Mario. “Lagihan dia cuma anak perempuan. Kalau anak laki mungkin akan kupertimbangkan, karena bisa jadi penerusku.”
Detik berikut, Ella melempar Mario dengan sepatunya heelsnya. Dan Mario menghajar Ella dengan ikat pingangnya. Hal ini sudah biasa terjadi diantara mereka, sejak awal menikah. Ella meraung, lalu Mario pergi.
3 tahun ini, selalu Ella yang berusaha menghangatkan rumah tangga. Tapi Mario selalu mencoba merusaknya. Ella berdiri, berjalan menuju kamar tidur Sisi. Sisi tidur pulas dan tangis Ella pecah di ambang pintu.
“Sisi akan baik-baik saja.”
Ella terkejut. Dia menatap pria tinggi, tampan dan atletis di sampingnya dengan heran. Zega?
Zega mengeluarkan tangannya dari saku, lalu mengulurkan saputangannya.
“Terima kasih.” Saat Ella mengambil saputangan dari tangan Zega, Sisi bangun dan seperti biasa, bayi berusia 2,5 tahun itu masih suka menangis setiap bangun tidur tidak ada ibunya.
“Biar aku saja." Zega melangkah mendekati Sisi.
Ella terperangah. Adik iparnya ini tidak pernah menyentuh anak kecil, sama seperti Mario. Apalagi menenangkan anak menangis. Memang Zega bisa?
Kediaman Alexander. Pukul 21.00 Zega belum makan malam karena ketiduran di kamar Sisi. Sekarang dia pergi ke dapur dan melihat Ibunya sedang menghangatkan lauk. Zega mengejutkan ibunya dengan memeluknya dari belakang. "Zega! kamu mengageti Ibu. Apa kamu ingin Ibu mati?!" omel Margaret. Zega tertawa. "Tentu saja Zega tidak ingin Ibu mati. Zega berdoa agar Ibu diberi jantung yang baru dan umur panjang. Tapi ngomong-ngomong, bagaimana Ibu tahu Zega yang memeluk Ibu?" "Karena cuma kamu yang suka peluk Ibu dari belakang," kata Margaret. Zega tersenyum. "I love you, Bu." Margaret menarik nafas. "I love you, Too." "Kurasa Ibu nggak mencintaiku," tukas Zega. Margaret menoleh ke samping, menatap Zega. "Kalau Ibu tidak cinta, bagaimana kamu bisa sebesar ini?!" "Bukan itu yang Zega maksud," Zega menatap ibunya. Margaret terdiam, tahu maksud Zega. Kalau cinta harusnya merestui hubungan Zega dengan Ella. Margaret melepaskan diri dari pelukan Zega, mematikan kompor lalu meni
5 bulan kemudian. Waktu berlalu dengan cepat. Margaret sudah melakukan operasi pemasangan ring. Ray sudah mengundurkan diri secara resmi dari perusahaan dan menemani Margaret melakukan pemulihan. Mario sudah kembali menjadi CEO grup MD. Margaret sudah membeli tanah milik keluarga Ella dengan harga 300 milyar. Harga itu jauh diatas pasar karena paman dan bibi Ella sengaja menaikkan harga. Padahal, harusnya hanya 200 milyar. Sekarang, tanah itu atas nama Sisi dan tidak seorangpun tahu Margaret yang mengeluarkan uang, kecuali Ella. Tanah itu sekarang sedang dibangun. Tapi Ray dan Erick mengalami kebuntuan ketika menyelidiki kasus korupsi Mario dan Zega. Akhirnya mereka berhenti. Namun bukan berarti menyerah. Sekarang mereka meletakkan orang kepercayaan mereka di perusahaan, untuk memata-matai Mario dan Zega. Siang ini langit cerah. Secerah wajah Ella dan Poppy yang sedang melakukan aktifitas diluar rumah. Karena hari ini weekend. 5 bulan ini, setiap weekend Ella dan Poppy
Beberapa hari setelah itu Margaret masuk rumah sakit. Karena stress memperburuk kondisi jantungnya. Saat ini Ray duduk di ruang dokter yang menangani Margaret. Wajah Ray tidak setenang biasanya. Meski mulutnya tidak mengatakan sepatah katapun, tapi matanya menyiratkan kekuatiran. Dia mendengarkan penjelasan Dokter yang menangani Margaret sejak divonis jantung 15 tahun lalu. "Saya sarankan, Nyonya melakukan pemasangan ring ke empat, Tuan," kata Dokter Meilin. "Apa setelah pasang ring ke 4, istri saya masih bisa hidup normal, Dok?" tanya Ray. "Masih, Tuan Ray. Selama Nyonya tetap menjaga pola hidup sehat seperti yang selama ini kami sarankan," jawab Dokter usia 48 tahun itu. Ray menganguk-angguk. "Ya sudah, silahkan dijadwalkan. Lakukan yang terbaik untuk Istri saya." "Baik, Tuan." Usai menemui Dokter Meilin, Ray kembali ke kamar Margaret. Dia tersenyum tipis, lalu duduk di kursi di sampingnya. Tapi sebelum bicara, dia menyuruh asisten pribadinya menunggu di luar kamar.
Setelah Ella keluar, Margaret merenung. Dari obrolan tadi Margaret mengetahui satu hal. Bahasa cinta Ella ternyata waktu berkualitas, bukan pelayanan seperti yang waktu itu dia duga. Karena Ella mengatakan Zega enak diajak bicara dan momong Sisi. Itu adalah bentuk menghabiskan waktu bersama. Usai mendudukkan Zega dan Ella, Margaret menyuruh pegawainya memanggil Mario. Tak lama, putra sulungnya itu datang. Margaret tersenyum. "Ibu ingin ngobrol denganmu sebentar." "Ibu mau ngobrolin apa?" jawab Mario sembari duduk setengah meter di depan Margaret. "Tentang Ella," jawab Ella. "Ella?" Mario tampak malas mendengar nama itu. Tapi bibirnya tidak berani jujur. "Ella kenapa?" "Bagaimana perkembangan dia, setelah kamu lakukan saran Ibu?" tanya Margaret. "Biasa saja." "Sekarang coba cara lain," kata Margaret. "Ajak dia quality time. Merawat Sisi bersama, ngobrol bersama, mengerjakan hal bersama, bahkan kalau perlu kamu antar kemanapun dia pergi. Hangat, dan tidak memaksa." M
Margaret menatap Ella yang duduk setengah meter di depannya dengan kepala menunduk dan bahu turun. Margaret tahu, bicara dengan Ella tidak perlu banyak-banyak, karena menantunya ini orang yang logis dan tahu etika. Kalau sampai jatuh cinta dengan Zega, pasti Zega yang menggodanya. Karena itu dia juga tidak akan memarahi Ella. "Kamu pasti tahu kenapa Ibu panggil kesini," Margaret membuka pembicaraan. "Iya, Bu. Ella janji tidak akan mengulangi," jawab Ella, dengan kepala tetap menunduk. Margaret menarik nafas. Lega dan sudah dia duga jawaban Ella akan seperti ini. "Tapi Ibu ingin tahu. Apa kamu mencintai Zega?" Margaret menggali informasi. Ella mendongak, menatap Margaret. Lalu kembali menunduk. "Ibu tidak akan marah kalaupun iya," imbuh Margaret. Ella masih tidak mau bicara. Sementara Margaret menunggu Ella jujur. Hening. Satu menit, dua menit, 5 menit berlalu. Dan Margaret tahu jawabannya meski Ella tidak mengatakan sepatah katapun. Jawabannya adalah ya. Tapi Ell
Ella merasa ada yang menggoyang-goyang bahunya. Dia membuka mata dan melihat Sisi sedang membangunkannya. "Kenapa, Sayang?" tanya Ella. "Nenek mencari Ibu." Nenek? Ella sontak bangun. "Dimana nenek?" Sisi menunjuk pintu. Tepat saat suara Margaret kembali terdengar. "Ella, kamu di dalam?" tanya Margaret. Ella menatap pintu dengan horor. Dia segera membangunkan Zega. "Zega, ada Ibu, cepat sembunyi!" Ella panik. Zega tampak malas bangun. Dia memejam mata kembali. Tapi begitu sadar hari sudah siang, dia sontak bangun. "Sudah jam 8?" gumam Zega, tidak percaya. "Iya, aku tidak tega membangunkanmu," jawab Ella, jujur. "Sekarang ada Ibu di luar, cepat sembunyi." "Kenapa sembunyi?" tanya Zega. "Aku belum siap kena masalah." Ella menarik Zega ke kamar mandi. "Awas kalau kamu keluar," ancam Ella lalu menutup pintu kamar mandi. Setelah itu Ella mendekati Sisi. "Sisi, bisakah kita bekerja sama?" tanya Ella. "Apa itu?" "Tidak boleh ada yang tahu Om Zega ada di sini,"







