LOGIN“Terima kasih,” Ella jadi sungkan.
Pada dasarnya, Ella memang sungkan kepada Zega. Bukan karena adik iparnya ini lebih tua dari dia, tapi karena Zega pria! Kalau Zega wanita, mungkin beda cerita. Entah kenapa dari dulu Ella paling malu dengan lawan jenis.
Karena itu meski hubungan mereka tidak ada masalah, juga tidak bisa dibilang dekat.
Sehingga bantuan seperti ini sudah sangat membuat Ella gugup tak karuan. Tidak enak hati, merasa merepotkan dan hutang budi.
“Ibu … dimana Ibu?”
Isak Sisi menarik-narik Ella, tapi dia tetap tidak berani masuk ke dalam sana. Akhirnya Ella menuju kamarnya. Dia membasuh wajah sebelum melihat punggungnya yang panas dan perih setelah dicambuki oleh Mario.
Selama ini, Ella menyembunyikan semua keburukan Mario. Bukan karena cinta, tapi demi Sisi. Dia tidak mau Sisi jadi korban perceraian, seperti dirinya.
Ella mengompres punggungnya dengan air Es sembari merenung. Dia bingung, jika Mario tidak peduli dengan Sisi, masih perlukah dia mempertahankan rumah tangga ini?
Usai mengompres punggungnya Ella kembali ke kamar Sisi. Sisi sudah tidur lagi tapi Zega entah kemana. Ella turun ke lantai satu. Dia melihat Tya, ARTnya sedang menonton televisi.
“Bibi lihat Zega?”
“Tuan Zega sudah pulang, Nyonya.”
Ella kecewa, padahal dia ingin mengucap terima kasih sekali lagi kepada adik iparnya itu.
Saat ini, Ella melihat Ito, satpam rumah masuk ke dapur.
Ito tersenyum. “Nyonya belum istirahat?”
“Belum.”
Ito kembali senyum lalu ke dapur. Sementara Ella duduk di dekat Tya, ikut menonton sinetron meski pikirannya kembali ke Sisi.
Tak lama, Tya heran melihat Ito. “Ito, malam-malam begini kamu mau minum dua gelas kopi?”
“Nggak, satunya lagi buat Tuan Zega.”
Ella sontak menoleh, “Zega belum pulang?”
“Belum, Nyonya. Masih menunggu taksi.”
Taksi?
Dahi Ella mengernyit. Kenapa Zega menunggu taksi?
Akhirnya Ito cerita, “Tuan Zega sedang diusir dari rumah sama Tuan besar Ray. Tapi Nyonya jangan bilang kalau tahu dari saya.”
Zega diusir dari rumah?
Bukan cuma Ella yang melonggo tapi juga Tya.
“Tya, awas kalau kamu keceplosan!” imbuh Ito.
“Suudzon banget sama aku?!”
“Karena mulutmu gak ada resletingnya!”
“Apa bedanya sama kamu?!” balas Tya, kesal.
Ella hanya geleng-geleng kepala melihat mantan sejoli ini. Dari pada mendengarkan mereka, lebih baik menemui Zega. Ella melihat Zega duduk di pos satpam sembari merokok.
Sepertinya Zega sadar kalau ada yang memperhatikan dari jauh. Zega menatap wanita tinggi, langsing, putih, cantik dan anggun yang berjalan menuju arahnya.
‘Bagaimana kalau aku yang menghamilimu?’ Zega segera mengusir pikiran yang tak seharusnya.
“Kupikir kamu sudah pulang,” suara lembut Ella.
“Belum, masih habisin rokok.”
Ella tersenyum. Tapi dalam hati protes, kenapa Zega tak menjawab saja kalau masih menunggu taksi? Sehingga dia bisa membalas budi kepada adik iparnya ini dengan cara meminjami mobil.
Ella tahu betul bagaimana sifat ayah mertuanya kalau sudah mengusir anaknya. Ayah mertuanya itu pasti tidak hanya mengusir dari rumah tapi juga memecat Zega. Pasti juga tidak mengijinkan Zega membawa sesenpun uang.
Karena Mario dulu juga diancam seperti itu ketika tidak mau menikahinya. Ella semakin ingin membantu Zega sebagai balas budi.
“Tumben kamu kesini?” pancing Ella.
“Ada perlu sama kakak.” Zega menyesap rokoknya untuk terakhir kali. Lalu dia matikan putungnya di atas asbak.
Zega sudah mendengar dari Ito kalau Ella sering dipukuli Mario. Heran saja, kenapa Ella masih tahan dengan Mario padahal sudah diselingkuhi, dipukuli. Tapi Zega tak bisa bilang apa-apa, hidup itu memang pilihan.
“Sudah ketemu dia?” lanjut Ella.
“Sudah. Gimana kabar pengobatan Sisi?” tanya balik Zega.
Ella menarik nafas dalam.
“Seperti yang kubilang waktu itu. Tubuh Sisi resistance terhadap kemoterapi. Belum menemukan donor sumsum tulang yang cocok dan … belum menemukan donor tali pusat yang cocok,” suara Ella tampak putus asa.
Zega tetap pura-pura tidak pernah mendengar percakapan Ella dan Mario di ruang kerja.
“Kalau gitu bikin adik aja buat Sisi, jadi gak perlu repot-repot cari darah tali pusat.”
Ella tersenyum getir. Andai Zega tahu Mario tidak mau menghamilinya.
“Kenapa, kamu malas hamil lagi?” imbuh Zega.
Ella menggeleng. “Aku tidak bisa hamil lagi karena sudah steril.”
Dahi Zega mengernyit, kenapa Ella menutupi kebrengsekan Mario? tapi dia bisa apa kalau Ella memang mau menutupi? Ini hidupnya Ella.
“Apa ada cara lain?” tanya Zega, pada akhirnya.
Ella menengadah ke langit. “Ada, transplantasi haploidentik. Tapi hal itu tidak bisa kulakukan di sini, karena rumah sakit di negara ini belum bisa melakukan transplantasi itu. Aku akan pulang ke negaraku. Di sana aku bisa melakukannya.”
Zega mencuci tangan dan mulutnya di toilet pengunjung dekat lobby. Setelah itu menuju mobilnya. Pukul 12 malam dia baru sampai rumah orang tuanya. Zega papasan dengan Mario sebelum masuk kamar. "Oh, tidur di sini?" "Iya, Ayah menyuruhku tinggal di sini." Zega menganguk-angguk. Ada enaknya kalau Ella tinggal di rumah ini. Bisa bertemu tiap hari. "Dari mana kamu?" tanya Mario. "Club malam," sahut Zega, asal. Mario tidak bertanya lagi lalu masuk ke dalam kamar. Zega menyusul dan sukses membuat Mario kaget. Zega duduk di sofa depan ranjang. Dia melihat ada beberapa alkohol di atas meja. Mario menyusul Zega duduk. Membuka botol alkoholnya, menuang ke gelas lalu memberikan ke Zega. "Aku sudah minum tadi," tolak Zega, takut mabuk. Karena tidak lucu jika dia mabuk lalu cerita habis membuat Ella orgasme. Mario akhirnya minum sendiri. "Aku tidak tahu kenapa Ayah menyuruhku kembali sama Ella." "Bilang aja kalau tidak cinta," saran Zega. "Sudah. Tapi kamu tahu, Ayah bila
Ella tahu ada yang salah dengan dirinya. Harusnya dia takut dan menyuruh Zega pulang, setelah malam ini Zega melebihi batas. Tapi entah kenapa malah ingin Zega menginap di sini. Apa karena uang? Setelah Ella pikir-pikir, sepertinya memang iya. Dia suka uang, apalagi sejak punya anak. Tapi, sepertinya bahaya menerima uang dari Zega. Sebab Zega terlalu tampan dan gagah untuk dia hadapi.Mungkin beda cerita jika dia seorang Istri yang bahagia, tercukupi lahir dan batin. Masalahnya, dia bukan istri yang bahagia. Ella menatap Zega. "Zega ... aku mau mengembalikan uangmu." "Kenapa?" "Hanya ingin mengembalikan," dusta Ella. "Jangan bicara setengah-setengah, aku tidak paham." Zega mengambil jam tangannya di atas meja lalu memakainya di pergelangan tangan kiri."Ya aku cuma ingin mengembalikan," ulang Ella. "Apa karena malam ini?" Ella terkesiap. Bagaimana Zega bisa menebak setepat itu? Usai memakai jam tangan, Zega meraih ponselnya di atas meja, memasukkan ke dalam saku ce
Usai membagi makanan ke tim produksi, Ella menuju kantor Poppy. "Bestiieeee," Poppy langsung menyambut, memeluk, dan mencium Ella. "Aku sibuk banget hari ini. Sampai belum makan. Kejar target supaya bonus keluar." Ella tertawa. "Ini, makan dulu. Nanti bilang terima kasihnya sama dia. Dia yang beliin." Ella menunjuk Zega yang masih melihat display. "Oh ya? doy yang beliin?" tanya Poppy, antusias sekaligus malu. "Ya." Ella tidak heran Poppy memanggil Zega doy. Memang begitulah sahabatnya ini, semua yang ganteng dipanggil doy. "Jadi ingin kuabadikan ramennya. Btw kok kamu gak bilang kalau datang sama si ganteng? tahu gitu make up ku gak kehapus." Ella terkekeh melihat sikap Poppy setiap melihat Zega. "Tobat, Pop. Kasihan pacarmu." "Mumpung si ganteng lagi ke sini. Kan dia gak pernah datang." Poppy meraih kaca di meja kerjanya. Mengurai rambut panjangnya, mengoles lipstik dan memakai soflennya lagi. Dia juga mengganti sandal flatnya dengan high heels. Ella hanya tertawa me
Ella memang sangat menghormati ayah mertuanya. Karena orang terkaya di negeri Roshell ini baik kepadanya. Bahkan, dulu ayah mertuanya sering menyuruhnya lapor jika Mario macam-macam sama dia. Tapi Ella tidak pernah lapor, justru menutupi semua kesalahan Mario. Salah satunya soal kandungan. Ayah dan Ibu mertuanya sudah bilang sejak awal kalau ingin punya banyak cucu, terutama laki. Karena Zega tidak mau menikah, beban bikin cucu ada di pundaknya. Sementara Mario tidak mau menyentuhnya. Ella tidak punya pilihan lain selain berbohong bahwa dia sudah steril. Meskipun dia tahu, jika tidak ada cucu laki, grup MD akan jatuh ke tangan orang lain. Yaitu paman Mario yang saat ini dipenjarakan oleh Zega karena korupsi. "Kalau kamu tidak mau lapor ke Ayah dan Ibu, bisa tinggal di rumah," ujar Ray. Ella menatap ayah mertuanya. Meski ayah mertuanya tidak mengatakan secara gamblang, dia paham. Kalau dia dan Mario tinggal bersama mereka, Mario tidak akan berani memperlakukan dia semena-mena.
Beberapa jam sebelumnya. Meski baru tidur jam 4 pagi, jam 5 pagi Ella sudah bangun. Karena jam 5-7 adalah jadwal suster melakukan pengecekan berkala kepada Sisi. Seperti nadi, suhu, dan lain sebagainya. Di jam itu juga jadwalnya Sisi minum obat antibiotik, anti nyeri, dan lain-lain. Usai memberi Sisi sarapan, Ella mengunci pintu dan kembali tidur karena matanya masih mengantuk. Ella tidur di ranjang. Tapi baru saja memejamkan mata, Zega sudah menyusulnya, memeluknya seperti guling sembari menciumi pipinya. "Zega, aku bukan Istrimu," keluh Ella. "Karena itu ayo menikah." "Kita tidak akan menikah," Ella menegaskan. "Kenapa tidak mau? apa 1 triliun kurang?" Apa 1 triliun kurang? "Meski kamu beri 2 triliun, aku tetap tidak mau nikah denganmu." Zega menatap Ella. Ella membuang wajah, menghindari tatapan Zega karena takut ketahuan bohong. Tentu saja kalau Zega memberinya 2 triliun, dia akan semakin dilema. Karena total kekayaannya hanya 2 triliun. Tapi Ella tahu, tida
"Aku nggak mikirin Emma. Cuma mikirin kamu." Mario kembali memeluk Ella sembari mencium lehernya. Namun Ella menolak. Dia berusaha melepaskan diri dari Mario lalu melarikan diri. Bruk! "Aw!" Ella terbangun begitu dahinya membentur lantai. Mata Ella mengerjap beberapa kali melihat dirinya jatuh di dekat ranjang dan tergulung selimut. Ella bingung. Apa dia hanya mimpi? Apa Mario tidak benar-benar datang kesini? tapi kenapa suaranya, pelukannya, dan aroma alkoholnya begitu nyata? Ella perlahan bangun dan mengintip ke atas ranjang. Mata Ella membelalak, ternyata Zega! "Zega! kurang ajar sekali kamu mabuk dan menyusup ke dalam selimutku!" maki Ella, lirih, takut membangunkan Sisi. Zega tersenyum. "Kurang ajar gimana? kamu Istriku." Istri? "Aku bukan Istrimu!" "Kamu Istriku." Ella menarik nafas dalam. Bicara dengan orang mabuk memang percuma. Ella melihat jam masih menunjukkan pukul 4 pagi. Dia juga masih mengantuk. Ella menarik selimut dan bantalnya lalu membawany







