Home / Urban / Adik Ipar Terkaya / Part 05: Rencana Apa?

Share

Part 05: Rencana Apa?

last update publish date: 2023-05-19 22:46:52

"Walau bagaimana pun itu, aku harus taat dan patuh kepada suamiku. Bagaimana bisa aku mengikuti ajakanmu, Bang. Sementara ada Bang Habib di sampingku," jawab Nabila tegas. Nabila juga sebenarnya merasa risih dengan tawaran Abizar yang sudah diluar batas dan tingkah laku yang tidak sewajarnya.

"Oh, ya." Abizar bertepuk tangan atas jawaban yang diberikan Nabila. Dia tidak menyangka kalau adik yang selama ini patuh dan taat kepada dirinya ternyata sudah berani melawan. "Racun apa yang kamu berikan kepada istrimu sehingga sudah berani membangkang?" tanya Abizar sambil menarik kerah baju adik iparnya. "Apa jangan-jangan kamu telah mencuci otak Nabila agar melawanku?" amuknya tanpa bisa meredam amarah yang sudah membuncah sejak mengetahui Nabila berubah dan tidak patuh lagi kepadanya.

"Aku tidak ada membasuh otaknya sama sekali," balas Habib sambil berusaha meronta. "Jika tidak percaya, silakan saja tanya kepada Nabila!"

Abizar melirik ke arah Nabila. Dia melepaskan terkamannya lalu melangkah menghampiri adiknya.

"Apa benar yang dikatakan suamimu?!" seru Abizar dengan nada tinggi dari biasanya. Darahnya mendidih dan ingin rasanya meluapkan larva emosi sekarang juga kepada Nabila yang sudah berani melawan.

"Bukan kah seorang istri harus patuh dan taat kepada suaminya?" sela Nabila tegas.

"Suami seperti apa yang kamu katakan, Nabila?!" Abizar semakin tersulut emosi. Dia sudah naik pitam mendengar jawaban yang sangat menjijikkan. "Kalau pria itu menjerumuskan kamu ke dalam jurang yang nista. Apa kamu tetap taat terhadap titahnya?!" sentak Abizar tidak mau kalah.

"Aku rasa suamiku masih wajar dan tidak pernah menjerumuskanku selama kami bersama," balas Nabila. Dia mencoba menjauh dari abangnya. "Aku baru teringat sejak pertama kali calon suamiku datang dan ingin mempersuntingku. Abang selalu berkelit bahkan sejuta alasan untuk tidak bersua dengan suamiku." Nabila terdiam mencoba mengontrol emosinya. "Aku sempat berpikir kenapa Abang tega dan sampai hati untuk mempersulit calon suamiku pada saat itu untuk menghalalkanku," ujar Nabila dengan lantangnya.

Bola mata Abizar berputar-putar. Dia berdecak pinggang lalu membuang napas. Kesal dan kecewa kini mendera dirinya.

"Aku melakukan itu karena bukan suatu tanpa alasan, Nabila. Aku tidak mau pria yang ingin menjadikan dirimu ratu dalam bahtera rumah tangganya menderita ketika kamu menjadi tanggungjawabnya," kelakar Abizar. Dia masih saja berkelit untuk menutupi topengnya.

"Dari segi hal apa Abang bisa menjudge kalau pria yang ingin melamarku bahkan sekarang ini sudah menjadi imamku tidak bisa memberikan nafkah lahir dan batin." Jawaban Nabila membuat Habib melayang. Walaupun Nabila tetap pada pendiriannya untuk menunjukkan kesetiaannya kepada Habib.

"Pria ini tidak jelas asal-usulnya. Terus dia tidak mempunyai penghasilan tetap. Untuk sekedar memberikan hadiah di hari ulang tahunmu saja dia tidak bisa." Abizar melipat kedua tangannya lalu di letakkan sejajar dengan dada. "Kamu itu harus bangun, Nabila! Jangan terlalu terbuai oleh cinta. Orangnya saja pemalas dan tidak mau bekerja keras. Bagaimana dia akan membahagiakanmu bahkan memberikan nafkah kepadamu!"

"Hewan melata saja masih bisa bertahan hidup. Padahal dia sangat dibenci Tuhan karena ikut mengobarkan api pada saat Nabi Ibrahim dibakar hidup-hidup. Begitu juga dengan binatang haram masih terus bisa berkeliaran," seru Nabila untuk menyangkal perkataan abangnya yang selalu menyepelekan Habib. "Itu artinya setiap makhluk hidup sudah ada rezekinya masing-masing," jelasnya lagi sambil menghela napas. "Bagaimana dengan manusia yang jauh lebih sempurna. Selagi hamba-Nya masih mau berusaha dan berdoa, pasti ada jalan rezekinya." Nabila sudah tidak habis pikir untuk menjelaskannya kepada Abangnya. "Tolong buka mata, ketok hati. Dan tolong untuk yakin dan percaya atas keagungan Sang Pencipta Alam Semesta." Nabila membuang napas lalu mencoba menenangkan pikiran agar hati dan jiwanya bisa tenang. "Aku yakin, in sya Allah pasti ada jalan rezeki setiap ciptaan Tuhan."

"Buktinya saja, kamu makin kurus dan raut wajahmu tirus," balasnya menyeringai. "Belum lagi tempat tinggal yang tidak layak huni," sindirnya. Tiada hari yang indah tanpa mencemooh Habib. "Terus mau kemana-mana naik motor butut dan bahkan mogok di tengah jalan setiap bepergian."

Habib memang mengakui hal itu. Apa yang dikatakan Abizar kepada Nabila adalah benar adanya. Namun, ada satu hal yang belum diketahuinya. Ia masih mengikuti permainan kakak iparnya itu.

"Lebih bagus kamu hidup bersama kakak sampai mati daripda pria tidak berguna itu. Lihat! Kakak punya segalanya. Apapun yang kamu pinta langsung aku turutin." Abizar merasa menang dan yakin kalau Nabila bakalan terhasut oleh ucapannya. "Tidur di atas kasur empuk, pakai AC. Kalau laper tinggal makan. Bahkan hidupmu selalu bergelimang harta," jelasnya sambil senyum semirk.

"Buat apa hidup mewah bergelimang harta kalau hasil ko—," jawab Nabila terjeda. Dia hampir saja keceplosan kalau Abizar pernah ketahuan sama Nabila. Bahwasanya abangnya itu telah menggelapkan uang tempat dia bekerja.

Abizar langsung keringat dingin. Wajahnya yang tadi garang kini berubah pias.

"Kalau suatu saat kedok abang ketahuan, aku rasa tidur pun tak kenyang, makan pun tak lelap." Nabila tidak mau kalah. Namun, dia sengaja menyelipkan lelucon agar abangnya tidak terlalu tegang. Ternyata lelucon itu dijadikan sebuah senjata untuk melumpuhkan Nabila.

"Itu buktinya kamu tidak baik-baik saja, Nabila. Ucapanmu saja sudah belepotan. Aku banting tulang mencari nafkah untuk membiayaimu bahkan menyisihkan waktuku untuk tetap bisa menjaga dan merawatmu semasa kecil." Abizar sudah tidak tahu lagi harus bagaimana untuk menjelaskan kepada adiknya. "Semenjak menjadi wanita pria sampah ini yang menyebarkan virus kepada kamu." Abizar terus memojokkan Habib. Segala macam cacian dia lontarkan. "Kamu itu sudah terpapar virus gila olehnya," ujar Abizar sambil menunjuk ke arah Habib. Dia tidak habis pikir kalau adik kandungnya benar-benar gila. "Aku tidak mau kalau kamu semakin gila gegara pria tidak berguna itu," racaunya dengan wajah merah.

"Ya ... aku sudah gila. Itu semua karena ulahmu, Bang."

"Ini nih, efek tidak pernah dikasih makanan bergizi sama suaminya. Otaknya sudah korslet." Abizar tertawa lepas. "Kekhawatiranku kini mulai terbongkar."

"Kenapa Abang bisa khawatir kalau suamiku tidak mampu memberiku makan?!" sanggahnya semakin tidak terima. "Sejak aku dan suamiku menakodahi bahtera rumah tangga. Aku tidak pernah dibuatnya menderita bahkan makan saja pun tidak boleh lewat dari jam biasanya." Nabila telah terbakar api emosi. Sehingga urat di lehernya jelas terlihat.

"Suamiku manusia, sama seperti Abang. Sama-sama makhluk ciptaan Tuhan yang begitu sempurna." Nabila menelan ludahnya dengan terpaksa.

"Sudahlah! Tidak ada gunanya meluapkan emosi untuk membalas. Abaikan saja cemoohan, Bang Abizar," bela Habib. "Ayo kita pergi sebelum Mall tutup," imbuhnya kembali sambil menarik lengan istrinya.

Kali ini Abizar tidak tinggal diam. Dia mengepalkan tangan dengan keras. Urat nadi terlihat jelas di pergelangan tangan. Gemertak gigi yang putih dan rapi membuat rahangnya mengeras.

"Dasar manusia laknat!" Sebuah pukulan telak mengudara. Namun, Nabila menepis sehingga wajahnya kena hantaman abangnya. Wajah Abizar memerah melihat pukulannya mendarat tidak tepat pada sasaran. "Adikku sayang," ucap Abizar lirih.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Adik Ipar Terkaya   Part 37B: Apa yang Terjadi

    Suasana semakin memanas. Manusia mana yang mau terlahir ke dunia dengan cara tidak sah di mata hukum negara dan juga di mata hukum Islam. 'Kalau boleh memilih, aku juga tidak mau lahir dari cara yang salah,' ucap Abizar bermonolog.Suasana hening seketika. Habib mengulas senyum bahagia. Ia merasa menang atas perdebatan yang sangat alot itu."Wajar saja tingkah lakumu seperti ibumu!" ejek Abizar sponta dengan ekspersi datar. Dia memutar balikkan fakta.Habib tertawa terbahak-bahak tanpa peduli dengan sang ayah. Sementara Abizar dan Hermawan saling adu pandang. Mereka kira Habib sudah gila."Apa aku tidak salah dengar?!" tanya Habib memperjelas perkataan Abizar. Retinanya mengarah ke arah Hermawan. "Apakah aku wajar dan pantas dikatakan gila?" imbuhnya meyakinkan apa yang baru saja dikatakan Abizar kepadanya.Hermawan hanya diam membisu. Dia tidak berani menjawab. Walau bagaimanapun itu Habib dan Abizar anak kandung alias darah dagingnya sendiri. Walaupun itu Abizar tidak dalam alam sa

  • Adik Ipar Terkaya   Part 37: Terkulai Layu

    "Secepatnya!" balasnya menimpali.Rossa memang istri sirinya, Hermawan. Dia sempat tanam saham duluan daripada menikahi ibunya, Habib. Namun, itu tidak terendus alias semua tersimpan rapi tanpa ada yang tahu.Seketika Habib mengulas senyum melihat Abizar. "Betapa malangnya nasibmu," sindir Habib kepada Abizar. Ternyata kamu anak yang tidak diinginkan." Ledekan Habib membuat Abizar semakin marah.Biasanya dia yang selalu menghina dan mengolok-olok Habib. Sekarang malah terbalik seratus delapan puluh derajat Celcius. Api amarah kini terpaut di wajahnya. Dia ingin sekali membungkam mulut adik tirinya agar bisa diam. Namun, dia sadar akan kesehatan Hermawan. Walaupun dia tidak pernah memanggil ayah atau pun bapak kepada pria yang terbaring lemas di atas brangkar."Kenapa kamu diam?!" pancing Habib kembali. Wajahmu nggak usah ditekuk seperti itu. Coba deh berkaca, kamu laksana menahan berak," ujar Habib terus mengejek."Persetan!" Akhirnya, Abizar tidak sanggup menahan gejolak larva amarah

  • Adik Ipar Terkaya   Part 36B

    Abizar melepaskan cengkeramannya lalu membuang napas kasar."Ceritanya seperti ini," ucap Hermawan lirih. Dia memejamkan mata sekejap sembari menghela napas. Setelah jiwa dan raganya sudah merasa tenang. Barulah dia mulai buka suara. "Sayang, aku hamil!" ucap Rossa kepada Hermawan ketika mereka berdua janjian ketemuan di waktu makan siang."Tidak mungkin! Aku selalu memakai pengaman dan jika pun itu tidak. Aku tidak pernah mengeluarkannya di dalam. Jangan mengada-ada kamu, Rossa!" tolak Hermawan atas perkataan Rossa yang baru saja dia dengar.Rossa terisak mendengar perkataan calon suaminya. Dia sudah merelakan perawannya direguk oleh Hermawan. Ternyata apa yang dia harapkan telah sirna menjadi suami seorang pria kaya raya. Tidak peduli semua mata tertuju kepadanya. Isaknya semakin kuat dan semakin membuat retina pengunjung cafe semakin penasaran."Kamu tega, sayang!" ucap Rossa terisak. Dia memukul-mukul dada Hermawan sekuat hati sangking kesalnya. "Jangan coba-coba mengganggu hidup

  • Adik Ipar Terkaya   Part 36: Minta Tanggungjawab

    Part 36: Minta TanggungjawabSiska baru saja tersadar ketika dirinya sudah ada di atas brangkar rumah sakit. Padahal dia baru saja merasa di atas motor dan terprental dari atas lalu meringis kesakitan."Aa-aku ada di mana?!" racaunya sesekali menyapu ruangan sekitar. Di samping kanan ada Abizar. Dia terkejut dan terbangun dari tidurnya. Ternyata sudah pukul dua puluh tiga lewat lima belas menit. Sangking lelahnya Abizar, dia tertidur pada saat menjaga Siska yang baru saja kecelakaan."Di rumah sakit," jawab Abizar sambil menguap. Setelah selesai menguap, dia mengucek terinya dan kembali meneruskan perkataannya, "tadi kamu kecelakaan.""Ini pasti gara-gara, Habib," umpatnya dengan menekuk wajah kesal. "Bisa kamu kasih pelajaran agar dia tidak semena-mena kepadaku, Bang?!" ucapnya lirih. Di sebelah kanan bagian betis terasa sakit akibat ditimpa motor pada saat dirinya terseret."Kasih pelajaran seperti apa? Dia saja telah menang telak dan sudah mengetahui sisi kelemahanku," jelas Abizar

  • Adik Ipar Terkaya   Part 35: Sudah Kutransfer

    "Kenapa kamu malah diam saja tua bangka! Seharusnya kamu ngoceh membela aku sebagai anakmu. Bukan hanya meratap seperti anak TK meminta mainan tidak dikasih sama ibunya." Siska benar-benar tidak ada akhlak ngatain Hermawan tua bangka. Padahal selama ini dia hidup hedon dan glamour karena uang yang dikasih Hermawan kepadanya."Hentikan ucapanmu!" bentak Hermawan dengan menaikkan suaranya dari biasanya. Dia mencoba duduk dan bersandar ke dinding ruangan. Habib membantu sang ayah. Namun, Hermawan tidak mau dibantu sang anak. "Aku bisa sendiri, kok," imbuhnya membuat Siska tersenyum puas."Siska! Mulai dari sekarang kamu harus angkat kaki dari rumahku!" racau Hermawan setelah dadanya tenang. Dan kamu tidak boleh menggunakan fasilitas yang aku berikan kepadamu!" desisnya menimpali.Raut wajahnya terlihat memerah seolah tidak suka atas informasi yang dia dapatkan barusan."Tidak bisa begitu, Yah!" bujuknya agar Hermawan menarik ucapannya. Aku mau tidur di mana kalau tidak boleh tinggal di r

  • Adik Ipar Terkaya   Part 34: Jangan Berharap Lebih

    Habib mengindahkan ide suster dengan cepat. Kini semua sudah aman dan terkendali."Kenapa sudah tidak ada orang?! tanya Siska ketika sudah di depan kamar mayat. "Pasti ada yang tidak beres ini," imbuhnya memasang wajah heran. Mau bertanya pun sudah tidak ada orang. Akhirnya dia kembali ke ruang informasi untuk mencari tahu keberadaan jenazah ayahnya.***Di kamar yang berbeda masih di lokasi rumah sakit. Habib menyuap Hermawan dengan lembut. Sang ayah yang selama ini ia rindukan kasih sayangnya kini sudah terkulai layu di atas brangkar rumah sakit."Ayah harus kuat makan agar ada tenaga," ucap Habib parau. Suaranya terasa serak menahan Isak tangis. Andai saja sang ayah mendengar apa katanya dulu sebelum menikah dengan Rossa. Mungkin beliau tidak menderita seperti ini. Bukan kebahagiaan yang dia dapat, hanya derita yang tercipta selama bersama dengan Rossa."Sudah!" tolak Hermawan. Dia tidak mau lagi menghabiskan makanan yang telah disediakan oleh pihak rumah sakit. "Ayah sudah kenyang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status