LOGIN"Bukan itu. Toko roti ini bersebelahan dengan bar yang menjual minuman keras. Papan namanya juga tertutup sama papan nama bar itu. Nggak banget." Kata Athena sambil terus menggeleng - gelengkan kepalanya. Sandro tertegun. Toko roti di sebelah bar? Ia tanpa sengaja pernah melihat toko roti itu. Toko roti yang papan namanya nyaris tertutup oleh papan nama bar. Toko roti itu sudah tutup setiap kali ia datang. Sudah lewat jam duabelas malam saat Sandro datang ke sana. "Apa nama toko rotinya itu adalah Caesar?" Tanya Sandro. Tiga pasang mata kini menatapnya dengan terkejut. Darimana Sandro tahu?Sandro mengedipkan sebelah matanya pada Kirana. "Bar yang itu." Bisiknya yang membuat Kirana langsung mengerti. "Bapak tahu?" Tanya Athena tidak dapat menahan diri. Sandro menghela nafas. Ia menggigit lagi rotinya dan mengatakan, "Roti ini benar - benar enak." Katanya seperti pada diri sendiri. Kirana juga tersenyum seperti meminta pengertian Athena. Athena mengerti kalau mereka tidak ingi
Evara merasa lemarinya sudah sesak dengan pakaian yang terus dibelikan Ariana untuknya. Kali ini Ariana membelikannya beberapa setelan blazer. "Kamu membutuhkannya bila Kamu mulai bekerja, Sayang." Pungkas Ariana membalas protes dari Evara. "Baiklah. Terimakasih, Ma." Sahut Evara sambil membawa baju - baju itu ke dalam paviliunnya. "Ah," Keluh Evara setelah membuka lemari gantungnya. Lemari yang cukup besar itu sudah penuh dengan gaunnya. "Di lemari Adam saja." Katanya mengambil keputusan. Ia segera bergeser ke lemari Adamis dan membuka lemari gantungnya. Eva terpana untuk sesaat. Bukan karena lemari gantung Adamis penuh juga tapi ia melihat sebuah jaket yang sudah lama tidak dilihatnya. Jaket yang dulu selalu di pakai Brian bahkan saat ia bekerja. Evara menjatuhkan setelan - setelan blazernya untuk memegang dan mengusap jaket itu dengan penuh perasaan. "Ada apa, Sayang?" Pertanyaan Adamis mengejutkannya. Bahkan ia tidak mendengar Adamis masuk ke paviliun mereka. Mata Adam
Poksi terlihat seperti hilang akal. Ia hanya diam seperti pesakitan yang tertangkap basah. "Poksi? Jawab Mama!" Teriak Sang Mama tidak sabar. Bahu Poksi luruh seperti airmata sang Mama yang mulai luruh. "Apa Kamu nggak mau bertanggungjawab? Dimana anak itu sekarang?" Tanya Mama Poksi lagi dalam isak tangisnya. "Vi.. Viona memilih menggugurkan kandungannya." Kata Poksi dengan suara seperti tercekik. "Poksi? Kamu menyetujuinya?" Raung Sang Mama. Ia memang tidak menyukai Viona tapi mendengar ada benih Poksi di rahim Viona membuatnya tersentuh dan merasakan sesuatu yang lain. Poksi diam karena tidak mampu menjawab. Ia memang lari dari tanggung jawab karena ia mulai merasa bosan pada Viona yang semakin menyebalkan menurutnya. "Karena itu Kamu minta cuti kuliah dan berlibur di Aussie?!" Teriak Sang Mama mulai kalap. Lukman Hakim merasa sudah saatnya ia menengahi pertikaian sepihak antara Sang Mama pada Poksi. Sang mama yang terus mencecar Poksi tanpa ada perlawanan dari Poksi. "Bu
"Viona itu dekat dengan mamanya. Dia akan menghubungi mamanya. Dia nggak akan bisa menghubungi mamanya kalau mamanya tetap di sini." Kata Alvaro memberi alasan yang dapat meyakinkan polisi itu. Semalaman Lukman Hakim sudah mencoba menghubungi Viona melalui ponsel Adelia sampai beberapa kali tapi Viona tidak mengangkatnya. "Sebentar." Kata polisi itu. Ia mengambil ponselnya untuk menghubungi Lukman Hakim dan menyatakan alasan yang diberikan Sandro. Ternyata Lukman Hakim menyetujuinya. "Baiklah, Pak. Ibu boleh pulang." Kata Polisi itu. Alvaro menggenggam tangan Adelia saat memberikan kunci mobilnya. "Kamu bisa menyetir sampai rumah, kan? Atau Aku pesankan taxi online?" Tanyanya dengan lembut. "Aku bisa. Tapi bagaimana denganmu? Kamu baru pulang. Pasti Kamu lelah, Sayang." Kata Adelia khawatir. Alvaro mengusap pipi istrinya untuk membuatnya tenang. "Aku nggak papa. Polisi hanya menginginkan salah satu dari Kita di sini. Dan itu nggak akan lama. Pulanglah."Adelia menghela nafas
Viona sudah sampai di rumah lama Athena. Tetangganya juga sudah memberikan kuncinya. "Apa ini anak Atha?" Tanya pak Rodi dengan tatapan menyelidik. Viona tidak ingin banyak bicara. Ia hanya menganggukkan kepalanya. Rumah Athena sangat kotor karena tidak ada yang mengurusnya. Rumput - rumput juga menjulang tinggi di pekarangan rumah. 'Ini justru bagus. Polisi nggak akan sampai ke sini.' kata hati Viona puas. Tapi ia mengeluh saat membuka pintu. Bau debu yang pekat membuat Caesar terbatuk -batuk. "Rumah apa kandang sapi, sih?" Ia lalu menoleh pada Mina yang berdiri tertegun di belakang mereka. "Jangan diam aja. Bersihkan rumah ini. Awas, harus bersih!" Titahnya. Dalam hati ia merasa bersukur karena ide sang Mama untuk membawa Mina. Mina meletakkan tas miliknya dan koper milik Viona. Matanya mengitari ke sekeliling rumah. "Sapunya dimana, Nyonya?" Tanyanya sambil memegang hidungnya. 'Rumah ini berapa lama nggak ditempati? Sangat bau! Kenapa Nyonya Viona ingin tinggal di sini?
Poksi melihat sang mama masih terdiam karena terkesima. "Apa Aku salah, Ma? Apa Aku salah karena memberi peringatan pada Tiffany? Dia temanku juga, Ma. Dia banyak membantuku sebelumnya." Kata Poksi dengan nafas berat. Tiffany membantunya hingga ia dapat bebas berduaan dengan Viona dalam melakukan hubungan di luar batas. Mama Poksi menghela nafas setelah menutup mulutnya. "Kamu nggak salah, Nak. Kamu sudah melakukan sesuatu yang benar. Tapi kenapa Kamu hanya memberinya chat? Kenapa Kamu nggak telpon aja dia?"Ucapan sang mama membuat Poksi terhenyak. Ia memberikan chat dengan nomor baru yang tidak diketahui oleh Tiffany. Ia juga hanya memberi peringatan agar Tiffany lebih mewaspadai orang dan keadaan di sekitarnya. "Aku.. Aku.. Terlalu takut, Ma." Aku Poksi jujur. Ia juga merasa tidak enak hati bila Viona sampai mengetahui perbuatannya. Satu hal yang belum jujur ia katakan pada sang mama. Viona pernah mengandung anaknya! 'Meski anak itu nggak pernah lahir tapi mama seharusnya be
"Apa Kita tidak buka dulu kadonya?" Tanya Evara selepas Adamis mencium pelipisnya. "Apa Kamu sangat ingin tau?" Adamis balik bertanya. Ia sendiri merasa enggan mengetahui kado apa yang diberikan oleh keluarga Alea. Itu megingatkannya pada Alea yang agresif dan membuatnya sebal! Tapi itu adalah ka
"Semuanya terserah keinginanmu, Sayang. Kita bisa pulang kapan saja bila Kamu menginginkannya." Kata Adamis. Panggilan sayang darinya membuat pipi Evara memerah. Ia menganggap Adamis tidak tau malu karena menunjukkan kemesraannya di depan Ariana. "Tapi.. Tapi.." Kata Evara gugup. "Tapi apa, Eva?
Evara bangun dari sofa yang ia duduki bersama Athena. Ia melihat Ariana tampil sangat cantik dengan gaun yang sama dengan Safira. Ariana melihat Safira dan mencoba menyapa, "Besan sudah datang."Safira memaksakan senyum. Entah kenapa sejak datang tadi ia terus menerus merasa insecure. Ariana meng
Merasa malu karena terpergok, Evara berusaha melepaskan tangan Adamis. Adamis juga langsung melepaskan tangannya. Evara mendekati Ariana. "Tadi Aku mau jatuh jadi Adamis memegangku, Ma."Evara berusaha menjelaskan. Ia takut Ariana salah paham. "Aku mau mandi dulu." Kata Adamis sambil membalikkan







