ログインBagaimanapun Kirana sangat menyayangi Tiffany. Ia tidak ingin Tiffany kelaparan karena malas makan atau tidak berselera dengan makanan yang ia sediakan. Kenapa Tiffany tidak dapat menghargai kasih sayangnya yang besar itu? Tiffany sudah keluar kamar dan mendengar ucapan Kirana. Ia langsung berjalan berjingkat ke dapur dan bersembunyi di balik pintu. Rencananya bila sang mama masuk ke kamarnya ia akan segera keluar lewat pintu belakang. 'Biar dia kaget dan papa akan ngomelin dia karena nggak merhatiin Aku!' kata Tiffany dalam hati. Tapi yang terjadi bukanlah apa yang ia inginkan. Sandro mencegah dengan menahan tangan Kirana. Lalu ia berbicara dengan keras agar Tiffany dapat mendengar ucapannya, "Biarkan dia, Sayang. Dia sudah besar. Kalau dia ingin makan di kamar ya biarkan saja. Kalau dia nggak mau makan juga nggak papa. Nanti dia akan makan kalau dia lapar." Kata Sandro sambil menyuap nasinya. Mata Tiffany membulat sempurna. Ia mendengar semua kalimat yang diucapkan papanya deng
Safira terlihat blingsatan melihat adegan kemesraan yang berlangsung di depan matanya. 'Apa - apaan Ariana ini? Apa ia mau pamer?!' hati Safira menjerit. "Aku cuma memberinya selamat atas pernikahan Kalian! Tapi kenapa dia malah bilang 'sorry'?" kata Safira gemas. Ia tidak habis pikir kenapa Sunny menolak uluran tangannya dan mengatakan maaf. Itu sungguh aneh! "Aku tidak mengerti apa yang dia katakan. Tapi ia ingin menjabat tanganku jadi aku langsung meminta maaf karena aku tidak dapat menerimanya." Jelas Sunny pada Ariana. Ariana mengerti. "Ia ingin memberimu selamat atas pernikahan Kita." Jawab Ariana. "Oh, begitu." Sahut Sunny sambil melihat ke arah Safira. "Sebaiknya Kamu memang harus belajar bahasa Indonesia, Sayang." Kata Ariana lagi. "Siap." Balas Sunny singkat. Yang terpenting baginya adalah Ariana sekarang sudah berada di sisinya. Tanpa sadar ia membawa Ariana meninggalkan Safira untuk menuju kamar pengantin mereka tanpa ucapan selamat tinggal. Ariana juga melupakan
Alea masuk ke ruangannya dengan nafas sedikit terengah. Dulu ia turun di depan lobby dan pihak kantor yang bertugas akan membawa mobilnya ke tempat parkir. Begitu juga saat bersama Axel atau Alvian. "Kamu terlambat, Al! Terlambat banget - banget!" Sindir Axel. Ia langsung menyerahkan setumpuk berkas di meja Alea. "Input seperti biasa." Katanya lagi. Pekerjaan remeh yang diberikan pada Alea oleh sang papa sebagai pembelajaran karena ketidak peduli annya selama ini. Pekerjaan remeh tapi tidak dapat diabaikan atau ditunda sama sekali. Alea mendengus, "Sudah bagus Aku nggak bolos! Jangan cari gara - gara sama Aku, Ax!" Semprot Alea. Axel tertawa. Adik satu - satunya ini memang sangat temperamental. Ia hanya segan pada Alvian. "Mama dulu ngidam apa, ya?" Tanya Axel sambil lalu. Ia seperti berbicara pada dirinya sendiri tapi sukses membuat Alea terpancing. Alea menautkan alisnya. Apa maksud Axel? "Apa maksudmu?" Tanyanya tidak tahan. Ia melepaskan berkas yang sudah ia pegang la
"Kalau Kamu nggak makan, seumur hidup Mama nggak akan membuatkan nasi goreng lagi!" Ancam Artika. Alea terpaksa memakan nasi gorengnya dengan enggan. Tapi nikmatnya nasi goreng dan perutnya yang lapar segera membuang rasa enggan itu. Ia menghabiskan nasinya dengan cepat. "Minumlah dulu. Mama akan mengantarmu ke kantor." Kata Artika lebih tegas lagi. Alea melongo. Ia tidak menyangka sang mama akan mengantarnya. "Aku bisa pergi sendiri, Ma." Kata Alea berharap. Artika sudah kembali dengan kunci mobil di tangan. "Nggak boleh! Mama akan mengantarmu!" Kata Artika. Andara melarang Alea membawa mobil sendiri ke kantor karena takut ia malah akan melantur kemana - mana di jam kerja. Seperti saat mendatangi Adamis sebelum ia menikah. Alea terpaksa menurut dengan bibir yang maju hampir sekian senti. 'Kenapa Papa dan Mama hari ini? Kenapa mereka jadi begitu menyebalkan?" Dengus hatinya kesal. Artika melihatnya dari kaca spion di atasnya. "Itu bibir jangan maju begitu. Siapa yang mau na
Siska hanya berpraduga. Tidak ada yang memperhatikan mereka. Semua sibuk dengan pasangan mereka masing - masing. Ariana tiba - tiba teringat pada para pelayan. Mereka pasti menunggu mereka selesai makan. Ia lalu bertepuk tangan. Ia ingin para pelayan juga merasakan kebahagiannya. Mariska datang dan membungkuk di hadapannya. "Ada yang bisa Saya bantu, Nyonya?" Tanyanya dengan takzim. Ariana mengangguk. "Panggil semua temanmu. Kita makan sama - sama di sini." Titahnya. Mariska terperanjat. "Tapi, Nyonya..""Cepatlah. Pasti Kalian sudah lapar. Siapa yang nggak mau akan kupecat!" Titah Ariana sedikit memaksa. Tentu saja ia tidak sungguh - sungguh dengan ucapannya tentang pemecatan itu. "Baik, Nyonya."Mariska segera berlari menuju kumpulan pelayan yang menunggu di dalam pantry. "Nyonya Ariana meminta Kita makan sekarang!" Beritahunya. "Tapi Mar, mereka belum selesai makan." Protes Atuna. "Sekarang atau Kita akan dipecat!" Kata Mariska lagi. "Apa?!""Hah?!""Serius?""Makanya
Papa Randy adalah seorang dosen di sebuah perguruan tinggi swasta. Kecelakaan merenggut nyawanya. Ia meninggalkan Rania yang hampir gila karena rasa kehilangan yang tiba - tiba. Randy memutuskan untuk berhenti kuliah dan bekerja serabutan untuk mencukupi keluarganya. Tapi itu tidak cukup. Denada membutuhkan biaya banyak untuk kuliahnya. Sampai suatu hari teman nongkrong di bar membutuhkan jasanya untuk menyingkirkan kekasihnya. "Aku bosan! Aku muak! Dia menempel terus seperti lintah!""Lalu Aku harus bagaimana?""Singkirkan Dia! Bagaimanapun caranya! Tenang, Ran. Aku akan membayarmu dengan pantas!"Randy memulai usaha kotornya. Ia menabrak korban pertamanya hingga tewas di tempat. Randi menjadi salah satu pelaku tabrak lari yang tidak tertangkap. Ia menjadi berdarah dingin tapi tetap lembut pada keluarganya. Imbalan yang sepadan membuatnya ketagihan. Ia tidak harus membanting tulang untuk mendapatkan uang. Ia melakukannya. Lagi dan lagi. Dengan modus operandi yang berbeda. Namanya m
Athena menggeleng. Ia ingin cepat - cepat pulang dan berbicara serius dengan Safira. Ia berencana tidak akan lama berpacaran dengan Siska karena ia ingin segera menjadikannya sebagai istrinya. "Aku harus pulang." Katanya sambil mengusap rambut Siska yang turun ke dahinya. Siska mengangguk. Ia men
Athena pulang dan langsung menemui Safira. Tapi sebelum ia mengatakan sesuatu Ibunya itu sudah mengatakan, "Aku sedang nggak ingin berdebat denganmu, Atha. Aku lelah."Athena menelan semua kalimat yang ingin keluar dari mulutnya. Ia mendengus pelan sebelum membalikkan langkahnya dan keluar dari ka
"Apa Kamu bekerja?" Tanya Safira dengan tatapan yang membuat Siska takut. Athena memberi isyarat pada Evara dengan matanya dan kakaknya itu langsung bergeser. Ia mengerti kalau Athena ingin melindungi kekasihnya dengan berada di sisinya. Athena langsung duduk di sebelah Siska dan menggenggam sebe
"Aku harap Kita tidak melihatnya lagi untuk seterusnya." Katanya sambil mengusap tangan Evara yang merangkul lengannya. "Tapi.. Bagaimana kalau Dia menunggu.. Di luar?" Tanya Evara menduga. Apa itu benar? Ariana kembali merasa dunia menjadi sempit. "Apa Kita suruh sopir menjemput Kita di pintu s







