로그인Andara juga mendekat untuk memeluk Alea. Begitu juga Alvian dan Axel. Ternyata dari tadi mereka berdiri tidak jauh dari Alea dan Lukman Hakim. Mereka mengamati kedua pasangan itu dengan banyak harapan di benak mereka. Adamis dan Evara juga menyaksikan drama singkat dua pasangan yang sedang berbahagia itu. "Apa Kamu cemburu?" Tanya Evara iseng. Adamis manyun. "Aku justru lega karena kuman itu benar - benar pergi dari hidupku!" Sangkal Adamis kesal. Masa' ia cemburu pada Alea? Tidak akan! "Adam!" Tegur Evara karena Adamis menyebut Alea kuman. Adamis tidak peduli. Ia menggandeng tangan Evara untuk menjauhi tempat itu. "Sudah saatnya Kita istirahat." Katanya memaksa. "Tapi tamunya masih banyak, Adam." Protes Evara. "Kasihan Ibu kalau berdiri sendirian di pelaminan." Kata Evara lagi. "Siapa bilang Ibumu sendirian? Lihat, tuh!" Tunjuk Adamis. Mata Evara lurus mengikuti telunjuk Adamis diarahkan. Mata Evara terbelalak. Ia melihat Safira duduk berdua dengan Rodi di dekat stand ba
Suara musik dari organ tunggal mulai mengalun. Dewi dan Burhama tidak ingin menyewa orkestra atau semacamnya. "Hiburan ini di dengar oleh masyarakat sekitar. Mereka nggak terbiasa dan mungkin tidak dapat menikmati. Yang biasa - biasa saja." Begitu pendapat Dewi yang langsung disetujui oleh Burhama. Artis lokal naik ke panggung dan menyumbangkan suaranya. Penonton langsung bertepuk tangan karena kemerduan suaranya tidak kalah dengan penyanyi yang sering tampil di televisi. Di dekat meja prasmanan, duduk Alea bersama Lukman Hakim. Dari jauh pasangan itu terlihat sangat serasi. Dengan warna baju yang senada dan kerupawan keduanya. Yang laki - laki terus menatap wanitanya dengan mesra sedang yang wanita tertunduk seperti menikmati makanannya. "Jangan menatapku terus." Protes Alea jengah. "Kenapa? Aku sedang menatap calon istriku."Alea mendongak cepat. Ia balik menatap mata Lukman Hakim dengan segudang pertanyaan bergulung di kepalanya. "Kenapa bengong? Cepat makannya, Kamu belum be
Rombongan dari rumah lama Safira sudah berjalan mendekat. Athena melambai - lambaikan tangannya agar mereka bisa melihatnya. "Atha! Maaf, Kami kemalaman!" Teriak Yona seraya memeluk Athena tanpa ragu. Athena langsung mendorongnya. "Yon, sekarang Aku suami orang." Katanya seraya melihat Siska. "Emang kenapa? Nggak papa kan, Sis?" Tanya Yona tidak terima.Siska tersenyum dengan wajah merah. Ia tidak suka Athena dipeluk perempuan lain tapi ia juga tidak dapat melarangnya begitu saja. "Minggir! Minggir! Yon, gantian!""Iya! Yang mau salamam bukan cuma Kamu aja!""Ibu Safira, Ibu cantik sekali! Nggak kalah sama pengantinnya!"Suara mereka seperti dengungan yang menyesakkan telinga Siska. Tapi ia tetap melayani mereka bersalaman dengan senyum manisnya. Safira yang kecewa tidak terlalu antusias menyalami tetangga - tetangganya itu. Pujian salah satu dari mereka juga tidak membuatnya bahagia. Ia lalu duduk setelah semua tetangga sudah menyalaminya. "Langsung makan aja." Kata Evara mani
Beberapa jam yang lalu,Ranti membuka pintu. Ia baru saja akan membereskan kamar Alea saat dering bel terdengar. Seorang laki - laki tampak memunggunginya. Warna kemejanya senada dengan pakaian keluarga Andara. Hanya ini bukan batik. Garis - garis putih itu terlihat manis. Ranti hampir mengeluarkan suaranya untuk bertanya saat orang itu membalikkan tubuhnya. "Selamat siang." Sapa pemuda itu. Ranti merasa pernah melihatnya tapi ia lupa kapan dan dimana. "Siang, Pak. Ingin mencari siapa?" Tanyanya formal karena orang ini terlihat formal. "Alea menungguku." Sahut pemuda itu singkat dan percaya diri. Ranti sedikit membelalakkan matanya. "Nona Alea? Tapi.. Tapi ia sudah pergi." Ceplosnya. Pemuda itu terlihat terkejut. "Sudah pergi? Apa sama semua keluarganya?" Tanyanya. Ranti mengangguk. "Kenapa dia nggak menungguku?" Desis pemuda itu pelan dan Ranti kurang dapat mendengarnya? "Apa?" Tanya Ranti. "Kapan mereka berangkat?" Alih - alih menjawab pertanyaan Ranti, pemuda itu justr
"Kamu itu kelihatan kaku dan galak, Sayang. Aku juga dulu takut padamu." Kata Evara mengingatkan dengan mimik lucu. Adamis menarik pinggang Evara dan memeluknya. "Sekarang kan Aku itu ngangenin. Kamu aja nggak bisa lepas dari Aku." "Siapa bilang?" Bantah Evara meski dalam hati ia mengakui kebenarannya. "Aku yang bilang."Adamis mulai mengecup wajah Evara. Dari kening, pipi lalu terakhir bibirnya. Cup, Cup, Cup! "Adam!" Jerit Evara malu. Meski kecupan di bibirnya hanya sekilas tapi itu cukup membuat orang - orang di sekitar mereka terkesima karena mendapat tontonan gratis. "Kenapa? Ada yang salah? Aku mencium istriku, bukan istri orang." Sahut Adamis cuek. Evara berdiri. Pipinya terasa panas. Ia tahu masih banyak orang yang sedang melihat mereka. "Aku lihat Ibu dulu." Katanya seraya bergegas ke rumah Siska. Di tempatnya Athena masih harus menyalami tamu - tamu yang datang. Kali ini keluarga Burhama dari Kebumen datang. "Itu nenek dan Kakekku." Beritahu Siska dengan suara
Sandro dan Kirana datang setelah ashar. Meski tampak lelah mereka terlihat senang. "Tidak sangka Kamu menyimpan harta karun di sini, Atha." Kata Sandro tertawa. Sandro dan Kirana menatap takjub kediaman Siska yang ternyata bukan orang kampung biasa. Kirana memeluk Siska dan menyampaikan salam dari Tiffany untuknya. "Dia udah sehat sekarang." Kata Kirana. Ia menyembunyikan kesedihannya. Siska tahu, itu berarti Tiffany sekarang tidak berada di rumah sakit lagi tapi berada di penjara untuk menjalani hukumannya. "Semua akan berlalu, Bu Kirana. Yang penting Ibu masih bisa berkunjung ke tempat Tiffany. Sampaikan salamnya sudah kuterima." Sahut Siska bijak. Athena memperkenalkan pasangan itu pada kedua orangtua Siska. "Bu Kirana ini teman kerjaku, Bu, Yah. Dan ini suaminya." Kata Athena. Dewi dan Burhama menerima mereka dengan hangat. "Silahkan menikmati hidangannya, Pak, Bu." Kata Dewi hangat. Kirana mengangguk dan kembali menoleh pada Athena. "Yang mana Ibumu, Atha?" Tanyanya b
Athena tersenyum sinis saat akhirnya perceraiannya dengan Viona diputuskan untuk ditunda hingga Viona melahirkan.Athena berdiri dengan kedua tangan terkepal. Ia berjalan mendekati hakim yang memproses perceraiannya dengan Viona. "Pak Hakim, apa Anda tau kalau anak dalam kandungannya itu benar - b
Kirana mengira ia sedang tidur karena ia tidur menghadap tembok. Tapi ia mendengar langkah Kirana berhenti di depan ranjangnya. Ia lalu berbalik dengan perlahan dan menatap Kirana yang menjadi serba salah. "Eh, anu.. Kamu sendirian?" Tanya Kirana akhirnya. Gadis itu mengangguk dan tersenyum tipis
"Tiff! Tiff! Bangun! Sebenarnya apa yang sudah Kamu lakukan?" Kata Kirana sambil mengguncang tubuh Tiffany. Tentu saja tidak ada reaksi dari Tiffany. Dua perawat datang, "Sudah ada kamar." Beritahunya pada Kirana. Mereka segera mendorong tempat tidur Tiffany setelah melepaskan selang infus yang
"Jadi kapan Kalian akan menikah?" Tanya Mahestra di rapat keluarga yang diadakan setelah makan malam. Ia mengatakannya dalam bahasa Indonesia sehingga Evara dan Moanda mengerti atas apa yang ia sampaikan. Evara menatap wajah Ariana yang menundukkan wajahnya karena malu. Ia belum siap mendapat per







