Home / Romansa / Adinda / Ketika Hati Dan Logika Bertolak Belakang

Share

Ketika Hati Dan Logika Bertolak Belakang

Author: Adiarizki
last update publish date: 2021-05-04 22:42:55

Adinda yang baru saja kembali bersama Andara. Tampak canggung karena teman-temannya memperhatikan mereka. Adinda tidak ingin berada dekat dengan Balai Desa. Ia memilih duduk di bagian halaman parkir yang bersebelahan dengan jalan. Tentu saja, Andara menemaninya dengan setia. Di sana keduanya hanya duduk diam tanpa bicara.

“Hayo!!! Lagi apa kalian berdua di tempat remang-remang,” canda Zami dengan raut wajah riangnya.

Adinda dan Andara sama-sama terperanjat. Dengan kompak melirik ke arah sumber suara. Zami dari arah belakang berjalan menghampiri keduanya. Zami satu-satunya sahabat Andara yang tidak ikut membenci pemuda itu, ketika Adinda memilih dekat dengannya. Zami juga selalu menunjukkan sikap netral. Ia memilih tak terlalu ingin berharap banyak dari gadis yang ia sendiri tahu tak akan ia dapatkan.

“Hai, kalian kenapa? Roman-romannya masalah hati ini,” celetuk Zami menghampiri keduanya.

“Aisshhh!” umpat Andara dengan raut wajah kesal.

“Din, ada apa?” kata Zami, “kasih tahu Aa (Kakak dalam bahasa Sunda.)”

Adinda mengangkat wajahnya, dia melemparkan senyuman pada Zami sebelum meninggalkan kedua pemuda itu. Adinda berjalan menghampiri Tiwi yang sedang menyantap jagung bakar. Gadis manis dengan kerudung merah itu menyambut Adinda dengan sangat baik. Ia juga memberikan h=jagung bakar pada Adinda. Tiwi ini anak tetangga Adinda yang rumahnya berada paling pojok.

“Kenapa itu, Perawan Kota,” celetuk Zami sambil menunjuk Adinda yang sudah membaur pada teman-teman mereka yang lain.

“Pokoknya! Kalian siap-siap patah hati selamanya!” tukas Andara yang langsung berdiri dan meninggalkan Zami sendirian.

“Kenapa ‘sih itu orang berdua?”

Zami yang tidak mengerti maksud dari perkataan sahabatnya. Ia tampak menggaruk kepala. Zami merupakan salah satu sahabat, Andara dari ke lima pemuda yang telah lama dekat dan menjalin pertemanan. Andara, dan Bima merupakan yang paling muda di antara mereka berlima.

Dari kelima sahabat itu hanya Andara merupakan bagian dari Tim Voli Tanjung Sejagat. Dia juga satu tim dengan Giyo yang merupakan kapten dalam tim. Ajaibnya lagi, semenjak kedatangan Adinda di kampung itu kelima-limanya jadi aktif bermain voli. Terlebih sebelum kembalinya Giyo. Mereka selalu mencari cara agar bisa melihat gadis cantik ‘si anak baru.

“Adinda ikut aku senentar.”

Ketika Adinda tengah asyik berbincang dengan teman-teman wanitanya. Andara datang dan langsung menarik tangannya. Pemuda itu mengajak Adinda menjauh dari kerumunan. Kini keduanya berada di pinggir lapangan dengan minim pencahayaan. Adinda tampak berusaha melepaskan tangannya dari genggaman kuat Andara. Dengan postur tubuh tinggi dan perawakan sedikit jangkung.

“Lepaskan tangan aku, And!” pekik Adinda.

Andara menuruti kemauan Adinda. Ia terlihat beberapa kali menarik kemudian menghembuskan nafas kuat. Sebelum akhirnya dia bisa mengungkapkan isi hatinya. Adinda memegangi pergelangan tangannya yang memerah. Sepertinya gadis itu kesakitan karena ia sedikit meringis.  

“Adinda! Jujur sama aku, apa kamu ada hubungan sama Giyo?” tanya Andara dengan nada yang sulit diaturnya.

Adinda hanya terdiam dengan pandangan tertuju pada pergelangan tangannya. Adinda kali ini mendapat desakan dari pria yang selama ini selalu ada dan membelanya. Andara meraih kedua tangan Adinda kembali dan menggenggamnya erat. Adinda mengerutkan dahinya. Namun gadis itu masih bungkam.

“Adinda. Aku mohon. Aku sangat mengharapkan kejujuran dari kamu,” pinta Andara dengan nada yang lirih.

“Hmm. And. Sebelumnya aku minta maaf sama kamu―” Adinda tidak mampu menyelesaikan kalimatnya. Ia menundukkan kembali wajahnya, hal itu sudah cukup menjadi jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan oleh Andara padanya.

“Kenapa? Kenapa harus dia, Din? Apa enggak ada pria lain lagi di kampung ini,” bisik Andara yang berusaha mengatur nada suaranya.

“Aku juga bingung And.”

Perlahan genggaman tangan Andara melemah. Pada akhirnya, genggaman itu benar-benar terlepas dengan sendirinya. Percuma saja sekuat apa pun dia bertahan dan menggenggamnya. Bila hanya satu pihak yang berkeinginan mempertahankan. Tapi di sisi yang lain sudah lama berpaling darinya. Kini, wajah Andara yang tertunduk lesu. Ia diam seakan kehabisan kata. Beberapa saat keduanya hanya berdiri dalam diam dengan sinar remang dari lampu jalan.

“Maafkan aku, And. Aku sendiri pun tidak tahu mengapa aku lebih memilih dia, dari pada kamu yang sudah nyata menyayangi aku,” ungkap Adinda dengan menatap sayu pada Andara.

“Aku kurang apa, Din?” tanya Andara lirih.

“And. Kamu enggak memiliki kekurangan sedikit pun, kamu sempurna.”

“Lalu? Mengapa kamu memilih dia, dibandingkan aku yang katamu sempurna.”

Adinda tampak bingung harus menjawab apa, ia terdiam tak mampu membalas. Adinda berbalik sepertinya ia berniat meninggalkan, Andara. Namun, sejurus kemudian langkahnya terhenti. Ketika tangan kanannya ditahan oleh Andara. Ia menoleh dan tampak Andara berdiri di belakangnya dengan garis wajah yang serius. Sorot matanya tajam. Bibirnya bungkam.

“Kenapa, And? Aku harus pergi dari sini. Aku enggak mau kamu akan mendapat masalah ketika dia tahu aku terlalu dekat denganmu,” pinta Adinda dengan wajah yang memelas.

“Asal kamu tahu saja, Dinda. Aku tidak pernah takut dengan dia atau siapa pun,” tegas Andara dengan meyakinkan.

“Aku tahu itu, Andara. Tapi aku tidak mau kamu terseret masalah dengan kelompoknya juga.”

“Ingat, Dinda. Aku akan mencari cara agar bisa terus dekat denganmu! Bahkan aku rela melakukan hal yang lebih gila dari yang ada di pikiranmu.”

Adinda mendekat pada Andara. Ia menatap lurus ke mata Andara. Wajahnya seakan meminta untuk jangan melakukan hal itu, akan tetapi bibirnya bungkam. Ia masih terdiam dalam tatapannya. Andara menaikkan kedua alisnya seolah bertanya.

“Andara. Kamu ini, pemuda yang banyak digemari gadis cantik. Kenapa kamu tidak mencoba membuka hati untuk mereka saja,” ujar Adinda setengah memohon.

“Kalau aku menginginkan mereka. Maka sebelum kamu ada di sini sudah aku lakukan itu! Tapi, aku tidak berminat sedikit pun dengan―semua. Dan ini hatiku enggak ada yang bisa mengaturnya,” sergah Andara dengan rona wajah merah padam.

Adinda menundukkan wajah. Jelas sekali ia sendiri juga tampak bingung dengan situasi yang tengah dihadapinya. Di satu sisi ia sangat mengetahui isi hati dan perasaan, Andara. Karena beberapa waktu yang lalu mereka juga sudah membahasnya. Namun di sisi lain. Dia mencintai dan tak ingin, Giyo kembali menjadi salah sangka padanya.

“Adinda. Kamu ingat waktu pertama kali kamu aku bawa ke rumah?” tanya Andra dengan nada yang lembut.

“Hmmm,” jawaban singkat yang diberikan oleh Adinda.

“Asal kamu tahu, dari sanalah Ibu dan Ayahku mulai menyukai kamu,” tutur Andara dengan sorot mata yang tak sedetik pun beralih dari wajah menawan wanita pujaannya.

Adinda mengangkat kembalinya. Kali ini adu pandang antar keduanya berlangsung cukup lama. Sebelum akhirnya, keduanya dikejutkan dengan suara keributan yang berasal dari arah rumah Giyo. Terdengar jelas tengah terjadi kegaduhan di sana. Dan orang-orang mulai berdatangan. Jarak tempat acara keduanya hanya berjarak 4 rumah.

“Giyo!” pekik Adinda yang langsung berlari mengarah ke sumber suara gaduh.

Andara hanya terpaku melihat betapa khawatirnya, Adinda ketika itu bersangkutan dengan Giyo. Tapi sama sekali dia tidak menunjukkan kepanikan itu, di saat Andara menjauhi mereka dengan keadaan emosi. Andara yang sudah tersadar dari terkejutnya. Kini memilih berlari menyusul wanita yang ia cintai. Biar bagaimanapun, pastilah ia tidak akan rela membiarkan wanitanya mendekati sumber masalah lebih jauh lagi.

Adinda mengambil jalan pintas dengan bermaksud masuk dari arah samping rumah Giyo. Akan tetapi langkahnya terhenti seketika. Kini Adinda tepat berhadapan dengan seorang pria yang terlihat mabuk berat. Adinda hanya terdiam mematung di tempatnya. Mata bulat dengan bulu mata lentiknya kini terbelalak. Jelas ia merasakan kengerian saat berhadapan dengan keadaan seperti ini.

“Dinda! Hahahaha! Ternyata benar dugaanku. Memang bocah ingusan sedangku cari,” ujar pria itu, “bagaimana gadis kecil dan lemah sepertimu bisa mencuci otak Raja Cobra kami!”

Pria dengan tato naga merah pada bagian lengannya. Rambut gondrong pria itu terlihat lepek dan kusut tak terurus. Ia menyeringai seram dengan bola mata merah. Mulutnya juga mengeluarkan bau yang menyengat. Khas minuman keras. Pria itu mendekati Adinda secara perlahan. Adinda mundur secara perlahan pula. Kini Adinda terdesak pada tembok rumah orang lain.

“Seujung kuku saja kausentuh dia. Benar-benar kuhabisi kaumalam ini Bajingan!” suara itu terdengar sangat murka dengan nada berat dan menyeramkan.

Perlahan muncul sosok pria yang sangatlah dikenal oleh Adinda. Kulit wajahnya selalu terlihat putih pucat. Kini seakan tengah mengalami ruam—. Roman wajahnya merah padam dengan sorot mata tajam tanpa ampun. Langkahnya tak dapat diprediksi. Tahu-tahu ia sudah di dekat pria yang menghadang, Adinda.

 Pria tadi langsung menjauh dari tubuh Adinda. Sehingga Giyo dapat memeluk gadis itu langsung. Badan Adinda terlihat bergetar. Dengan lembut Giyo membelai wajah Adinda. Giyo berusaha semampunya menenangkan Adinda. Setelah Adinda dapat mengendalikan ketakutannya. Giyo langsung menuntun Adinda menjauh dari pria yang masih diam di tempatnya tak berkutik.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Adinda   Giyo Is Back!

    Pagi datang tanpa pesan dari Giyo. Adinda sempat memeriksa ponselnya ketika baru bangun. Kebiasaan itu sudah dilakukan hampir setiap hari. Bahkan, sebelum ia benar-benar membuka mata dengan sempurna. Biasanya akan ada pesan dari Giyo yang menanyakan apakah ia sudah bangun, sudah sarapan, atau sekadar mengingatkannya agar tidak pergi terlalu jauh.Pagi ini tidak ada apa-apa. Adinda menatap layar beberapa detik, kemudian meletakkan ponsel di atas meja. Adinda merasa ada sedikit rasa lega yang muncul tanpa ia sadari. Ia tidak perlu memikirkan harus menjawab apa. Tidak perlu merasa bersalah karena membalas terlambat. Tidak perlu menjelaskan ke mana ia akan pergi. Setelah mandi, Adinda turun ke dapur dan menemukan ibunya sedang menyiapkan adonan kue."Sudah bangun?" tanya Pujimaharani."Sudah, Ma.""Mau bantu?"Adinda langsung mengambil celemek yang tergantung di dekat kulkas. "Boleh."Pagi itu mereka menghabiskan waktu hampir dua jam di dapur. Tidak ada percakapan berat. Mereka hanya memb

  • Adinda   Ruang

    Dia memilih merebahkan tubuh pada batu besar di pinngir aliran air. Adinda memejamkan mata sebentar. Kemudian membuka kembali. Langit di atas sana terbentang nyata. Biru bersih. Adinda mengedarkan pandangannya. Air yang jatuh dari ketinggian tampak berkilau dan memantulkan cahaya matahari seperti tirai perak. Dikelilingi oleh pepohonan lebat, lumut hijau di bebatuan, serta tanaman paku liar yang tumbuh subur. Di sela-sela suara air, terdengar samar-samar suara burung liar berkicau dan serangga hutan yang menyatu dengan alam. Semuanya membaur menjadi satu.“Tempat yang sama dengan dia yang berbeda,” suara itu menyadarkan Adinda.“Mi.”“Kamu masih ingat dia, ‘kan?” desak Hilmi yakin dengan pernyataannya.“Enggak. Aku hanya menikmati suasa.”“Halah. Kamu tuh enggak bersyukur jadi wanita. Sudah dapat Giyo. Masih saja mikirin laki-laki lain.”“Kamu tau apa soal perasaanku!&rd

  • Adinda   Dua Kenangan Satu Tempat

    Suara motor berhenti di depan rumah. Adinda tidak perlu melihat untuk tahu siapa yang datang. Dia sudah hapal dengan deruan tersebut. Bunyi yang dulunya selalu ditunggu olehnya. Entah sejak kapan ia mulai ingin mengabaikan semuanya. Malah ada rasa ingin mendengar bahana dari motor yang lain. Entahlah sejakk kapan. Suara dentuman rendah yang berat dan dalam (deep rumble), seperti suara guntur yang tertahan di kejauhan. Lebih dirindukannya, dibandingkan suaranya terdengar padat, berat, dan berirama rapat. Yang berasal dari motor milik Giyo.Beberapa detik kemudian, suara Giyo terdengar dari balik pagar. “Dinda!”Adinda menoleh. Giyo berdiri sambil melepas helmnya.“Ada apa?”Giyo tersenyum. “Siap-siap.”Adinda mengernyit. “Buat apa?”“Kita pergi.”“Ke mana?”“Air terjun.”Gerakan tangan Adinda terhenti. Air terjun. Entah mengapa, dua kata sederhana itu membuat pikirannya langsung terlempar pada sebuah kenangan lama. Bukan dengan Giyo. Tapi Andara. Saat itu mereka belum memiliki hubunga

  • Adinda   Penyesalan

    Malam itu, tiga orang berada di tempat berbeda. Andara mengira Adinda telah memilih Giyo. Giyo mengira Adinda semakin bergantung kepadanya. Dan Adinda. Ia hanya tahu satu hal. Semakin lama ia diam, semakin sulit untuk keluar. Namun, rahasia itu masih aman. Belum ada seorang pun yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Dan untuk sementara, Adinda memilih membiarkannya tetap begitu. Di luar sana, semua orang melihat sebuah kisah cinta. Hanya Adinda yang tahu bahwa di balik kisah itu, ada ketakutan yang tidak pernah mampu ia ceritakan.Ia berdiri dan membuka lemari. Hari itu ia berniat membantu ibunya membuat kue. Setidaknya dengan sibuk, pikirnya, ia tidak perlu memikirkan Andara dan juga Giyo. Di dapur, Pujimaharani sedang mengaduk adonan. Adinda kemudian duduk di kursi kecil dekat meja. Ibunya memperhatikannya.“Dinda, tolong ambilkan tepung.”Adinda mengambil tepung dari rak. “Ini, Bu.”“Terima kasih.” 

  • Adinda   Mulai Ada Rasa Kehilangan

    Sejak percakapan terakhir dengan ayahnya, Adinda semakin sering menghabiskan waktu di dalam kamar. Bukan karena ia ingin menghindari keluarganya. Ia hanya tidak tahu harus bersikap seperti apa. Di luar kamar, ia harus menjadi Adinda yang biasa. Anak perempuan yang tersenyum ketika ibunya memanggil. Anak yang menjawab pertanyaan ayahnya dengan sopan. Anak yang sesekali membantu pekerjaan rumah. Namun, begitu pintu kamar tertutup, semua kepura-puraan itu runtuh. Adimda juga jarang ikut bergabung bersama teman-temannya lagi.Adinda duduk di tepi ranjang sambil memandangi layar ponselnya. Satu nama muncul di sana.Andara.Pesan terakhirnya masih belum dibalas. “Dinda, kalau kamu butuh teman bicara, aku ada.”Adinda sudah membaca pesan itu berkali-kali. Setiap kali ingin membalas, jarinya berhenti. Ia ingin mengetik banyak hal.Aku butuh kamu. Aku takut. Tolong jangan pergi.Tetapi pada akhirnya, tidak satu pun kalimat itu dikirim. Adinda meletakkan ponselnya di samping bantal. Ia menarik

  • Adinda   Obrolan Bukan Perbincangan

    Pagi itu, Giyo datang ketika embun masih menempel di ujung daun kopi. Motornya berhenti di depan rumah Anjas dengan suara mesin yang cukup keras untuk membuat beberapa ekor ayam berlarian ke halaman tetangga. Ia mematikan mesin, merapikan rambut menggunakan jemari, kemudian memandang rumah besar yang selama beberapa bulan terakhir sudah terasa seperti rumah keduanya.Namun, kali ini ada sesuatu yang berbeda. Ia tidak datang untuk mengobrol santai dengan Anjas. Tidak pula untuk sekadar mencari Adinda dari balik jendela kamarnya. Pagi itu, Anjas sendiri yang memintanya datang. Giyo menelan ludah. Ia melangkah menuju teras. Belum sempat mengetuk pintu, suara Anjas sudah terdengar dari dalam.“Masuk.”Giyo berhenti sebentar. Kemudian membuka pintu.“Assalamualaikum, Pak.”“Waalaikumsalam.”Anjas duduk di kursi panjang dengan kedua tangan b

  • Adinda   Wanitanya Segalanya

    Bima dan Hendri langsung menjauh dari dua orang yang terlihat semakin lengket. Giyo benar-benar ingin memperlihatkan siapa dia sebenarnya. Andara semakin dibuat kesal karena Adinda sama sekali tidak menolak perlakuan Giyo padanya, sedangkan dia saja yang sudah lebih dulu dekat dan sering kali men

  • Adinda   Gejolak Cemburu Membara

    Beberapa saat berlalu, Adinda masih menanti apa yang ingin disampaikan oleh Giyo. Ia menatap pemuda itu lekat. Tahu-tahu Giyo mengangkat wajahnya dan menatap lurus ke depan. Justru yang membuat sorot mata keduanya beradu. Pandangan itu seakan menyatu tak ingin dipisahkan. Namun bibir masih terkun

  • Adinda   Pesta Tahun Baru

    Tak terasa, waktu sudah hampir petang. Kini sang kembang ranum sudah berhenti dengan rasa bimbangnya. Ia bersiap dengan riasan tipisnya. Gaun panjang berwarna hitam, dengan jaket berbahan jeans, ditambah dengan sepasang sepatu Sneakers senada dengan gaunnya. Adinda tampak gugup. Ia duduk

  • Adinda   Segitiga Dalam Cinta

    Tanpa sadar ia malah tersenyum mendengar kalimat yang diucapkan Giyo. Jelas sekali senyum itu ditujukannya untuk sang pemuda. Ia seakan memahami makna dari kata-kata yang baru saja dilontarkan oleh sang pujaan. Adinda tahu, bahkan sangat sadar pada siapa ia sedang jatuh hati. Namun, apa daya seor

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status