Home / Romansa / Adinda / Sekali Masuk, Tidak Bisa Keluar Lagi!

Share

Sekali Masuk, Tidak Bisa Keluar Lagi!

Author: Adiarizki
last update publish date: 2021-07-11 20:35:23
“Din, entar siang kami main ke rumah kamu, ya,” ujar Tiwi saat bertemu di balai.

“Maaf Wi. Nanti siang aku ada keperluan sama Kak Giyo,” sahut Adinda dengan santai seraya menaiki motornya.

“Tapi, kita sudah lama enggak kumpul. Kamu sekarang suka menyendiri, kalau enggak pasti sama Kak Giyo.”

“Iya namanya juga dia pacar aku. Udah, ya Wi aku duluan.”

Semenjak kejadian hari itu, Adinda memang menutup diri. Dia menjauhi, Andara, dua sahabatnya, dan teman-temannya yang lain. Semenjak itu pula, ia
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Adinda   Ruang

    Dia memilih merebahkan tubuh pada batu besar di pinngir aliran air. Adinda memejamkan mata sebentar. Kemudian membuka kembali. Langit di atas sana terbentang nyata. Biru bersih. Adinda mengedarkan pandangannya. Air yang jatuh dari ketinggian tampak berkilau dan memantulkan cahaya matahari seperti tirai perak. Dikelilingi oleh pepohonan lebat, lumut hijau di bebatuan, serta tanaman paku liar yang tumbuh subur. Di sela-sela suara air, terdengar samar-samar suara burung liar berkicau dan serangga hutan yang menyatu dengan alam. Semuanya membaur menjadi satu.“Tempat yang sama dengan dia yang berbeda,” suara itu menyadarkan Adinda.“Mi.”“Kamu masih ingat dia, ‘kan?” desak Hilmi yakin dengan pernyataannya.“Enggak. Aku hanya menikmati suasa.”“Halah. Kamu tuh enggak bersyukur jadi wanita. Sudah dapat Giyo. Masih saja mikirin laki-laki lain.”“Kamu tau apa soal perasaanku!&rd

  • Adinda   Dua Kenangan Satu Tempat

    Suara motor berhenti di depan rumah. Adinda tidak perlu melihat untuk tahu siapa yang datang. Dia sudah hapal dengan deruan tersebut. Bunyi yang dulunya selalu ditunggu olehnya. Entah sejak kapan ia mulai ingin mengabaikan semuanya. Malah ada rasa ingin mendengar bahana dari motor yang lain. Entahlah sejakk kapan. Suara dentuman rendah yang berat dan dalam (deep rumble), seperti suara guntur yang tertahan di kejauhan. Lebih dirindukannya, dibandingkan suaranya terdengar padat, berat, dan berirama rapat. Yang berasal dari motor milik Giyo.Beberapa detik kemudian, suara Giyo terdengar dari balik pagar. “Dinda!”Adinda menoleh. Giyo berdiri sambil melepas helmnya.“Ada apa?”Giyo tersenyum. “Siap-siap.”Adinda mengernyit. “Buat apa?”“Kita pergi.”“Ke mana?”“Air terjun.”Gerakan tangan Adinda terhenti. Air terjun. Entah mengapa, dua kata sederhana itu membuat pikirannya langsung terlempar pada sebuah kenangan lama. Bukan dengan Giyo. Tapi Andara. Saat itu mereka belum memiliki hubunga

  • Adinda   Penyesalan

    Malam itu, tiga orang berada di tempat berbeda. Andara mengira Adinda telah memilih Giyo. Giyo mengira Adinda semakin bergantung kepadanya. Dan Adinda. Ia hanya tahu satu hal. Semakin lama ia diam, semakin sulit untuk keluar. Namun, rahasia itu masih aman. Belum ada seorang pun yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Dan untuk sementara, Adinda memilih membiarkannya tetap begitu. Di luar sana, semua orang melihat sebuah kisah cinta. Hanya Adinda yang tahu bahwa di balik kisah itu, ada ketakutan yang tidak pernah mampu ia ceritakan.Ia berdiri dan membuka lemari. Hari itu ia berniat membantu ibunya membuat kue. Setidaknya dengan sibuk, pikirnya, ia tidak perlu memikirkan Andara dan juga Giyo. Di dapur, Pujimaharani sedang mengaduk adonan. Adinda kemudian duduk di kursi kecil dekat meja. Ibunya memperhatikannya.“Dinda, tolong ambilkan tepung.”Adinda mengambil tepung dari rak. “Ini, Bu.”“Terima kasih.” 

  • Adinda   Mulai Ada Rasa Kehilangan

    Sejak percakapan terakhir dengan ayahnya, Adinda semakin sering menghabiskan waktu di dalam kamar. Bukan karena ia ingin menghindari keluarganya. Ia hanya tidak tahu harus bersikap seperti apa. Di luar kamar, ia harus menjadi Adinda yang biasa. Anak perempuan yang tersenyum ketika ibunya memanggil. Anak yang menjawab pertanyaan ayahnya dengan sopan. Anak yang sesekali membantu pekerjaan rumah. Namun, begitu pintu kamar tertutup, semua kepura-puraan itu runtuh. Adimda juga jarang ikut bergabung bersama teman-temannya lagi.Adinda duduk di tepi ranjang sambil memandangi layar ponselnya. Satu nama muncul di sana.Andara.Pesan terakhirnya masih belum dibalas. “Dinda, kalau kamu butuh teman bicara, aku ada.”Adinda sudah membaca pesan itu berkali-kali. Setiap kali ingin membalas, jarinya berhenti. Ia ingin mengetik banyak hal.Aku butuh kamu. Aku takut. Tolong jangan pergi.Tetapi pada akhirnya, tidak satu pun kalimat itu dikirim. Adinda meletakkan ponselnya di samping bantal. Ia menarik

  • Adinda   Obrolan Bukan Perbincangan

    Pagi itu, Giyo datang ketika embun masih menempel di ujung daun kopi. Motornya berhenti di depan rumah Anjas dengan suara mesin yang cukup keras untuk membuat beberapa ekor ayam berlarian ke halaman tetangga. Ia mematikan mesin, merapikan rambut menggunakan jemari, kemudian memandang rumah besar yang selama beberapa bulan terakhir sudah terasa seperti rumah keduanya.Namun, kali ini ada sesuatu yang berbeda. Ia tidak datang untuk mengobrol santai dengan Anjas. Tidak pula untuk sekadar mencari Adinda dari balik jendela kamarnya. Pagi itu, Anjas sendiri yang memintanya datang. Giyo menelan ludah. Ia melangkah menuju teras. Belum sempat mengetuk pintu, suara Anjas sudah terdengar dari dalam.“Masuk.”Giyo berhenti sebentar. Kemudian membuka pintu.“Assalamualaikum, Pak.”“Waalaikumsalam.”Anjas duduk di kursi panjang dengan kedua tangan b

  • Adinda   Penyelidikan Ayah

    Sejak pagi itu, Anjas tidak bisa berhenti memikirkan putrinya. Ada sesuatu yang salah. Ia tidak tahu persis apa, tetapi naluri seorang ayah membuatnya sulit mengabaikan perubahan yang terjadi di rumahnya sendiri. Bahkan senyumnya pun sudah tidak sama. Dulu, hanya dengan membawa sekeranjang mentimun dari kebun, Anjas bisa mendengar tawa putrinya memenuhi ruang tengah. Sekarang, sekeranjang buah segar itu hanya dibiarkan di atas meja.Tidak disentuh. Tidak ditanyakan. Tidak pula menjadi alasan bagi Adinda untuk keluar kamar. Anjas duduk di teras sambil menyalakan sebatang rokok. Pujimaharani yang sedang menyusun kue ke dalam wadah plastik beberapa kali meliriknya. Ia tahu suaminya sedang memikirkan sesuatu.“Mas.”Anjas mengangkat wajah. “Iya?”“Jangan merokok banyak-banyak.”Anjas melihat rokok di antara jarinya. Bara merahnya sudah hampir menyentuh ujung. Ia mematikannya.“Dinda belum keluar?”Pujimaharani menggeleng.“Dari tadi pagi.”“Sudah makan?”“Sedikit.”“Sedikit itu berapa?”

  • Adinda   Ketika Hati Dan Logika Bertolak Belakang

    Adinda yang baru saja kembali bersama Andara. Tampak canggung karena teman-temannya memperhatikan mereka. Adinda tidak ingin berada dekat dengan Balai Desa. Ia memilih duduk di bagian halaman parkir yang bersebelahan dengan jalan. Tentu saja, Andara menemaninya dengan setia. Di sana keduanya hany

  • Adinda   Wanitanya Segalanya

    Bima dan Hendri langsung menjauh dari dua orang yang terlihat semakin lengket. Giyo benar-benar ingin memperlihatkan siapa dia sebenarnya. Andara semakin dibuat kesal karena Adinda sama sekali tidak menolak perlakuan Giyo padanya, sedangkan dia saja yang sudah lebih dulu dekat dan sering kali men

  • Adinda   Gejolak Cemburu Membara

    Beberapa saat berlalu, Adinda masih menanti apa yang ingin disampaikan oleh Giyo. Ia menatap pemuda itu lekat. Tahu-tahu Giyo mengangkat wajahnya dan menatap lurus ke depan. Justru yang membuat sorot mata keduanya beradu. Pandangan itu seakan menyatu tak ingin dipisahkan. Namun bibir masih terkun

  • Adinda   Adinda Maharani,

    Malam itu adalah malam yang paling ditunggu kalangan muda-mudi di Desa Tanjung Agung. Segala persiapan menyambut pesta tahun baru sudah diatur—sebaik mungkin. Agar segalanya berjalan dengan lancar. Adinda, masih duduk di kamarnya sambil membaca sebuah buku yang baru saja dibelikan oleh sang ibu.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status