MasukSuara motor berhenti di depan rumah. Adinda tidak perlu melihat untuk tahu siapa yang datang. Dia sudah hapal dengan deruan tersebut. Bunyi yang dulunya selalu ditunggu olehnya. Entah sejak kapan ia mulai ingin mengabaikan semuanya. Malah ada rasa ingin mendengar bahana dari motor yang lain. Entahlah sejakk kapan. Suara dentuman rendah yang berat dan dalam (deep rumble), seperti suara guntur yang tertahan di kejauhan. Lebih dirindukannya, dibandingkan suaranya terdengar padat, berat, dan berirama rapat. Yang berasal dari motor milik Giyo.Beberapa detik kemudian, suara Giyo terdengar dari balik pagar. “Dinda!”Adinda menoleh. Giyo berdiri sambil melepas helmnya.“Ada apa?”Giyo tersenyum. “Siap-siap.”Adinda mengernyit. “Buat apa?”“Kita pergi.”“Ke mana?”“Air terjun.”Gerakan tangan Adinda terhenti. Air terjun. Entah mengapa, dua kata sederhana itu membuat pikirannya langsung terlempar pada sebuah kenangan lama. Bukan dengan Giyo. Tapi Andara. Saat itu mereka belum memiliki hubunga
Malam itu, tiga orang berada di tempat berbeda. Andara mengira Adinda telah memilih Giyo. Giyo mengira Adinda semakin bergantung kepadanya. Dan Adinda. Ia hanya tahu satu hal. Semakin lama ia diam, semakin sulit untuk keluar. Namun, rahasia itu masih aman. Belum ada seorang pun yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Dan untuk sementara, Adinda memilih membiarkannya tetap begitu. Di luar sana, semua orang melihat sebuah kisah cinta. Hanya Adinda yang tahu bahwa di balik kisah itu, ada ketakutan yang tidak pernah mampu ia ceritakan.Ia berdiri dan membuka lemari. Hari itu ia berniat membantu ibunya membuat kue. Setidaknya dengan sibuk, pikirnya, ia tidak perlu memikirkan Andara dan juga Giyo. Di dapur, Pujimaharani sedang mengaduk adonan. Adinda kemudian duduk di kursi kecil dekat meja. Ibunya memperhatikannya.“Dinda, tolong ambilkan tepung.”Adinda mengambil tepung dari rak. “Ini, Bu.”“Terima kasih.” 
Sejak percakapan terakhir dengan ayahnya, Adinda semakin sering menghabiskan waktu di dalam kamar. Bukan karena ia ingin menghindari keluarganya. Ia hanya tidak tahu harus bersikap seperti apa. Di luar kamar, ia harus menjadi Adinda yang biasa. Anak perempuan yang tersenyum ketika ibunya memanggil. Anak yang menjawab pertanyaan ayahnya dengan sopan. Anak yang sesekali membantu pekerjaan rumah. Namun, begitu pintu kamar tertutup, semua kepura-puraan itu runtuh. Adimda juga jarang ikut bergabung bersama teman-temannya lagi.Adinda duduk di tepi ranjang sambil memandangi layar ponselnya. Satu nama muncul di sana.Andara.Pesan terakhirnya masih belum dibalas. “Dinda, kalau kamu butuh teman bicara, aku ada.”Adinda sudah membaca pesan itu berkali-kali. Setiap kali ingin membalas, jarinya berhenti. Ia ingin mengetik banyak hal.Aku butuh kamu. Aku takut. Tolong jangan pergi.Tetapi pada akhirnya, tidak satu pun kalimat itu dikirim. Adinda meletakkan ponselnya di samping bantal. Ia menarik
Pagi itu, Giyo datang ketika embun masih menempel di ujung daun kopi. Motornya berhenti di depan rumah Anjas dengan suara mesin yang cukup keras untuk membuat beberapa ekor ayam berlarian ke halaman tetangga. Ia mematikan mesin, merapikan rambut menggunakan jemari, kemudian memandang rumah besar yang selama beberapa bulan terakhir sudah terasa seperti rumah keduanya.Namun, kali ini ada sesuatu yang berbeda. Ia tidak datang untuk mengobrol santai dengan Anjas. Tidak pula untuk sekadar mencari Adinda dari balik jendela kamarnya. Pagi itu, Anjas sendiri yang memintanya datang. Giyo menelan ludah. Ia melangkah menuju teras. Belum sempat mengetuk pintu, suara Anjas sudah terdengar dari dalam.“Masuk.”Giyo berhenti sebentar. Kemudian membuka pintu.“Assalamualaikum, Pak.”“Waalaikumsalam.”Anjas duduk di kursi panjang dengan kedua tangan b
Sejak pagi itu, Anjas tidak bisa berhenti memikirkan putrinya. Ada sesuatu yang salah. Ia tidak tahu persis apa, tetapi naluri seorang ayah membuatnya sulit mengabaikan perubahan yang terjadi di rumahnya sendiri. Bahkan senyumnya pun sudah tidak sama. Dulu, hanya dengan membawa sekeranjang mentimun dari kebun, Anjas bisa mendengar tawa putrinya memenuhi ruang tengah. Sekarang, sekeranjang buah segar itu hanya dibiarkan di atas meja.Tidak disentuh. Tidak ditanyakan. Tidak pula menjadi alasan bagi Adinda untuk keluar kamar. Anjas duduk di teras sambil menyalakan sebatang rokok. Pujimaharani yang sedang menyusun kue ke dalam wadah plastik beberapa kali meliriknya. Ia tahu suaminya sedang memikirkan sesuatu.“Mas.”Anjas mengangkat wajah. “Iya?”“Jangan merokok banyak-banyak.”Anjas melihat rokok di antara jarinya. Bara merahnya sudah hampir menyentuh ujung. Ia mematikannya.“Dinda belum keluar?”Pujimaharani menggeleng.“Dari tadi pagi.”“Sudah makan?”“Sedikit.”“Sedikit itu berapa?”
Sudah beberapa minggu terakhir Anjas merasa rumahnya tidak lagi sama. Bukan karena cat dindingnya berubah. Bukan pula karena perkebunan di belakang rumah semakin luas. Bahkan bukan karena istrinya kini semakin sibuk membuat kue untuk dititipkan ke warung-warung sekitar desa. Ada sesuatu yang berubah. Dan perubahan itu bernama Adinda. Anjas mulai menyadarinya sejak suatu pagi ketika ia melihat putrinya keluar dari kamar tanpa mengenakan kerudung. Langkah lelaki itu terhenti.Tangannya yang sedang memegang cangkir kopi bahkan hampir saja terlepas.“Din.” Adinda yang sedang berjalan menuju dapur berhenti.“Iya, Yah?” Anjas menatap putrinya dari ujung kepala sampai kaki.“Kerudungmu mana?” Adinda menyentuh rambutnya.“Oh ... Anu,” ia tertawa kecil, “Dinda lupa.”“Lupa?”“Iya.” Anjas tidak langsung menjawab.Selama bertahun-tahun, Adinda memang bukan anak yang sempurna. Kadang ia keras kepala. Kadang terlalu banyak bicara. Kadang juga malas jika disuruh membantu pekerjaan rumah. Tetapi ada
Tanpa sadar ia malah tersenyum mendengar kalimat yang diucapkan Giyo. Jelas sekali senyum itu ditujukannya untuk sang pemuda. Ia seakan memahami makna dari kata-kata yang baru saja dilontarkan oleh sang pujaan. Adinda tahu, bahkan sangat sadar pada siapa ia sedang jatuh hati. Namun, apa daya seor
Andara tampak sudah mampu menguasai dirinya. Ia sudah kembali tenang. Dengan tersenyum bahagia, Andara meyakinkan dirinya sendiri. Bahwa apa yang dikatakan ayah dari wanitanya akan menjadi nyata. Yah, tentu itu juga salah satu pintanya pada sang pencipta.“Pak, kalau begitu say
Setelah cukup lama berbincang bersama Bapak Anjas. Akhirnya, Andara menyampaikan maksud kedatangannya yang sebenarnya ke sana. Sepertinya ia sengaja mengajak Pak Anjas membahas masalah pesta yang digelar muda-mudi pada penyambutan tahun baru. Agar ia dapat mengetahui apa pandangan.
Adinda masih betah berdiri memperhatikan pria yang tengah asyik bercerita bersama sang ayah. Kedua orang itu tampak cocok dalam beberapa hal. Entah bagaimana, keduanya tampak memiliki karakteristik yang sama. Serta keduanya tampak sama-sama memiliki pendirian yang teguh. Tak dapat digoyahkan deng







