Beranda / Romansa / Adinda / Wanitanya Segalanya

Share

Wanitanya Segalanya

Penulis: Adiarizki
last update Tanggal publikasi: 2021-05-04 05:56:05

Bima dan Hendri langsung menjauh dari dua orang yang terlihat semakin lengket. Giyo benar-benar ingin memperlihatkan siapa dia sebenarnya. Andara semakin dibuat kesal karena Adinda sama sekali tidak menolak perlakuan Giyo padanya, sedangkan dia saja yang sudah lebih dulu dekat dan sering kali menyatakan isi hatinya. Tidak berani berlaku demikian terhadap wanita yang sangat dicintainya. Andara tampak kecewa, wanita yang dijaganya hanya diam saja ketika di dekap pria lain.

“Dinda. Aku bahkan belum berani menggenggam tanganmu. Tapi kamu dengan mudahnya memberikan tanganmu padanya!” hardik Andara dalam remang cahaya.

Ia terduduk lemas di tengah lapangan. Berteman sunyi dan gelap gulita. Dapat dipahami betapa hancur hatinya saat ini. Tak akan mudah baginya melihat wanita yang ia cintai disentuh pria lain. Andara memegangi dahinya. Mata itu terlihat berkaca-kaca. Jelas kecewa itu sangat berat dirasanya.

Tidak lama setelah itu, Giyo menundukkan kepalanya. Ia langsung melepaskan tangan Adinda yang digenggamnya. Adinda melirik wajah Giyo seakan ingin melontarkan pertanyaan. Giyo balas menatap wajah gadis cantik yang sangat dicintainya. Giyo tersenyum simpul. Perlahan kedua tangannya memegangi wajah mungil Adinda. Kini sang gadis lugu benar-benar sudah terbuai perlakuan pemuda yang memberikannya pengalaman baru.

“Dinda, kamu tidak aman bersama denganku,” ungkap Giyo lirih.

Adinda yang sebelumnya memejamkan mata. Kini kembali membuka matanya dengan raut wajah penuh tanya. Adinda terlihat bingung dengan perkataan Giyo. Entah sudah berapa kali Giyo melakukan hal ini padanya. Selalu mematahkan harapnya di saat dia tengah menikmati suasana. Adinda menatap Giyo dengan tatapan kosong.

“Aku takut, Dinda. Aku takut tidak mampu menahan diri lebih jauh lagi,” kata Giyo dengan menundukkan wajahnya.

“Kamu itu aneh! Kamu takut melukai aku, tapi kamu mengikat hatiku. Sudahlah! Aku capek, Kak. Lebih baik kamu kembali,” balas Adinda dengan melepaskan tangan Giyo dari wajahnya.

“Din. Kamu harus paham dengan keadaan aku. Aku ingin predator Dinda!”

“TERUS KENAPA KAMU DEKATI AKU, GIYO!!”

Teriakan Adinda mengundang perhatian orang-orang di sekitar mereka. Kini puluhan pasang mata tertuju pada keduanya. Adinda tampak benar-benar kesal dengan pria yang memang tidak jelas apa maunya. Adinda berdiri. Giyo mengikuti dan berusaha menenangkannya. Namun, kali ini Adinda menepis tangan Giyo yang ingin memegang pundaknya.

“Mau kamu apa sebenarnya! Kaubuat aku terlihat rendah di hadapan semua orang, tapi dengan sekejap kamu bilang,’Kamu takut melampaui batas!’ Cih! Aku muak mendengarnya Giyo!” seru Adinda tertahan karena ia sengaja memelankan suaranya agar tidak didengar yang lain.

“Dinda. Aku ini tidak sebaik Andara, aku hanya takut kamu akan membenciku pada akhirnya,” balas Giyo dengan lirih.

“Sudahlah! Kalau kamu tidak menyukaiku, lebih baik mulai detik ini kita saling berjauhan.”

“Dinda bukan itu maksudku.”

Adinda membalik tubuhnya dan bersiap meninggalkan Giyo. Ia menoleh ke belakang setelah itu langsung berjalan meninggalkan Giyo. Kali ini Giyo tidak menghentikannya. Ia perlahan berjalan kembali pada tempat acaranya yang tidak berjauhan dari sana. Andara yang melihat Adinda menuju tempat yang gelap langsung berlari menyusul gadis itu, bagaimanapun kecewa hatinya namun ia tetap tidak akan tega melihat wanitanya terluka.

“Dinda! Tunggu aku,” panggil Andara.

Adinda terus berjalan menuju jalan raya yang tampak lenggang. Andara mengejarnya, menarik tangannya, dan langsung memeluk tubuh gadis yang ia cintai. Bertepatan dengan itu, secara serentak kembang api memenuhi langit gelap. Memberikan warna-warni indah. Adinda menangis dalam pelukan pria yang selalu sabar menemaninya.

“Please, Din. Jangan bertindak nekat,” ujar Andara panik.

Pelukan yang diberikan Andara tampak tulus. Ia sangat mencintai gadis ini. Adinda masih sesenggukan dalam dekapan Andara. Setelah ia dapat menenangkan diri, Andara mengendurkan dekapannya. Dengan lembut Andara memegangi pundak Adinda.

Prang! Prang!

Giyo yang sejak tadi berdiam diri di pojok ruang tamunya. Semenjak kembalinya ia dari mengunjungi Adinda. Suasana rumahnya saat ini sangat riuh dan berisik. Banyak orang berlalu-lalang sesuakanya. Aroma keras menyengat dari luar. Sampah kacang dan makanan ringan lainnya berserakan. Namun tetap saja, Giyo tidak bergeming meski baru saja terdengar benda pecah.

“Giyo. Ayolah bergabung bersama yang lain,” bujuk salah seorang temannya yang terlihat memiliki perawakan yang besar.

“Kalian lanjut saja, aku sedang tidak berselera,” jawab Giyo singkat.

“Ayolah, Bang! Masa hanya karena satu wanita Abang jadi loyo begini,” ejek temannya itu.

“Aku sedang tidak berselera, Zen. Pergilah.”

“Abang kenapa semenjak dekat sama cewek itu jadi cengeng begini! Wanita kayak begitu banyak Bang. Di Club Stars Ladies juga bertebaran.”

Reaksi Giyo langsung berubah. Ketika pria itu menyebutkan bahwa Adinda sama saja, dengan wanita malam yang banyak mereka temui selama ini. Giyo bangkit dengan sorot mata tajam yang mematikan. Melihat reaksi yang ditunjukkan Giyo, pemuda yang bernama Zenix itu secara spontan menjauh dari Giyo. Dia langsung menuju pintu berniat berlari keluar.

“Coba ulangi lagi perkataan kautadi Zen!” perintah Giyo dengan raut wajah dingin.

“Maaf Bang. Aku enggak maksud menyamakan dia sama mereka, aku asal bicara saja,” sesal Zenix dengan wajah pucat pasi.

“Sekali lagi aku dengar ada yang menjelekkan, Adinda Maharani akan langsung berhadapan dengan aku!” peringatan yang disampaikan Giyo untuk seluruh anggotanya yang ada di sana.

Brakk!!

Giyo memukul pintu rumahnya hingga terdapat retakkan kecil pada bekas pukulannya. Setelah itu dia masuk ke dalam rumahnya. Dengan tertatih ia menaiki tangga menuju kamar pribadinya. Cinta benar sudah merasuki hati pemuda dengan julukan Raja Cobra tersebut, ia juga tak mampu menahan amarah saat mendengar wanita yang dicintainya dijelek-jelekkan.

“Ada apa, Zen?” tanya anggota lainnya.

“Entahlah! Kayaknya cewek itu sudah mencuci otak Bang Giyo,” balas Zenix.

“Kali ini kamu benar, Zen. Sejak Bang Giyo dekat sama cewek itu, dia suka galau enggak jelas,” sahut yang lain.

“Cewek mana?” tanya seseorang yang terlihat baru tiba.

“Eh, Bos.”

Semua yang ada di sana langsung membungkuk pada pria itu, ia terlihat berbeda umur cukup jauh dari mereka semua. Pria itu datang mengendarai mobil mewah yang di letakkan di depan rumah warga. Ia juga terlihat sangat dihormati. Sepertinya dia adalah pemimpin dari kelompok mereka yang sebenarnya. Pria itu langsung diberi kursi untuk duduk.

“Di mana anak emasku?” tanyanya pada Zenix.

“Ada di atas, Bos, sebentar akan saya panggilkan.” Zenix langsung bergegas menuju kamar Giyo.

“Bang Giyo! Abang dicari sama Bos Dragon,” panggil Zenix dari depan pintu kamar Giyo.

“Siapa? Dragon! Mau apa dia ke sini?” tanya Giyo masih enggan membukakan pintu.

“Beliau ingin menemui, Abang. Katanya, sih aku juga enggak tahu.”

“Oke. Sebentar lagi.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
ci panda
wkwkwk spertinya harus siap2 nabung soalnya ceritanya bagus bangeeet! eh kak author ada sosmed engga? aku pingin follow kakak~
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Adinda   Ruang

    Dia memilih merebahkan tubuh pada batu besar di pinngir aliran air. Adinda memejamkan mata sebentar. Kemudian membuka kembali. Langit di atas sana terbentang nyata. Biru bersih. Adinda mengedarkan pandangannya. Air yang jatuh dari ketinggian tampak berkilau dan memantulkan cahaya matahari seperti tirai perak. Dikelilingi oleh pepohonan lebat, lumut hijau di bebatuan, serta tanaman paku liar yang tumbuh subur. Di sela-sela suara air, terdengar samar-samar suara burung liar berkicau dan serangga hutan yang menyatu dengan alam. Semuanya membaur menjadi satu.“Tempat yang sama dengan dia yang berbeda,” suara itu menyadarkan Adinda.“Mi.”“Kamu masih ingat dia, ‘kan?” desak Hilmi yakin dengan pernyataannya.“Enggak. Aku hanya menikmati suasa.”“Halah. Kamu tuh enggak bersyukur jadi wanita. Sudah dapat Giyo. Masih saja mikirin laki-laki lain.”“Kamu tau apa soal perasaanku!&rd

  • Adinda   Dua Kenangan Satu Tempat

    Suara motor berhenti di depan rumah. Adinda tidak perlu melihat untuk tahu siapa yang datang. Dia sudah hapal dengan deruan tersebut. Bunyi yang dulunya selalu ditunggu olehnya. Entah sejak kapan ia mulai ingin mengabaikan semuanya. Malah ada rasa ingin mendengar bahana dari motor yang lain. Entahlah sejakk kapan. Suara dentuman rendah yang berat dan dalam (deep rumble), seperti suara guntur yang tertahan di kejauhan. Lebih dirindukannya, dibandingkan suaranya terdengar padat, berat, dan berirama rapat. Yang berasal dari motor milik Giyo.Beberapa detik kemudian, suara Giyo terdengar dari balik pagar. “Dinda!”Adinda menoleh. Giyo berdiri sambil melepas helmnya.“Ada apa?”Giyo tersenyum. “Siap-siap.”Adinda mengernyit. “Buat apa?”“Kita pergi.”“Ke mana?”“Air terjun.”Gerakan tangan Adinda terhenti. Air terjun. Entah mengapa, dua kata sederhana itu membuat pikirannya langsung terlempar pada sebuah kenangan lama. Bukan dengan Giyo. Tapi Andara. Saat itu mereka belum memiliki hubunga

  • Adinda   Penyesalan

    Malam itu, tiga orang berada di tempat berbeda. Andara mengira Adinda telah memilih Giyo. Giyo mengira Adinda semakin bergantung kepadanya. Dan Adinda. Ia hanya tahu satu hal. Semakin lama ia diam, semakin sulit untuk keluar. Namun, rahasia itu masih aman. Belum ada seorang pun yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Dan untuk sementara, Adinda memilih membiarkannya tetap begitu. Di luar sana, semua orang melihat sebuah kisah cinta. Hanya Adinda yang tahu bahwa di balik kisah itu, ada ketakutan yang tidak pernah mampu ia ceritakan.Ia berdiri dan membuka lemari. Hari itu ia berniat membantu ibunya membuat kue. Setidaknya dengan sibuk, pikirnya, ia tidak perlu memikirkan Andara dan juga Giyo. Di dapur, Pujimaharani sedang mengaduk adonan. Adinda kemudian duduk di kursi kecil dekat meja. Ibunya memperhatikannya.“Dinda, tolong ambilkan tepung.”Adinda mengambil tepung dari rak. “Ini, Bu.”“Terima kasih.” 

  • Adinda   Mulai Ada Rasa Kehilangan

    Sejak percakapan terakhir dengan ayahnya, Adinda semakin sering menghabiskan waktu di dalam kamar. Bukan karena ia ingin menghindari keluarganya. Ia hanya tidak tahu harus bersikap seperti apa. Di luar kamar, ia harus menjadi Adinda yang biasa. Anak perempuan yang tersenyum ketika ibunya memanggil. Anak yang menjawab pertanyaan ayahnya dengan sopan. Anak yang sesekali membantu pekerjaan rumah. Namun, begitu pintu kamar tertutup, semua kepura-puraan itu runtuh. Adimda juga jarang ikut bergabung bersama teman-temannya lagi.Adinda duduk di tepi ranjang sambil memandangi layar ponselnya. Satu nama muncul di sana.Andara.Pesan terakhirnya masih belum dibalas. “Dinda, kalau kamu butuh teman bicara, aku ada.”Adinda sudah membaca pesan itu berkali-kali. Setiap kali ingin membalas, jarinya berhenti. Ia ingin mengetik banyak hal.Aku butuh kamu. Aku takut. Tolong jangan pergi.Tetapi pada akhirnya, tidak satu pun kalimat itu dikirim. Adinda meletakkan ponselnya di samping bantal. Ia menarik

  • Adinda   Obrolan Bukan Perbincangan

    Pagi itu, Giyo datang ketika embun masih menempel di ujung daun kopi. Motornya berhenti di depan rumah Anjas dengan suara mesin yang cukup keras untuk membuat beberapa ekor ayam berlarian ke halaman tetangga. Ia mematikan mesin, merapikan rambut menggunakan jemari, kemudian memandang rumah besar yang selama beberapa bulan terakhir sudah terasa seperti rumah keduanya.Namun, kali ini ada sesuatu yang berbeda. Ia tidak datang untuk mengobrol santai dengan Anjas. Tidak pula untuk sekadar mencari Adinda dari balik jendela kamarnya. Pagi itu, Anjas sendiri yang memintanya datang. Giyo menelan ludah. Ia melangkah menuju teras. Belum sempat mengetuk pintu, suara Anjas sudah terdengar dari dalam.“Masuk.”Giyo berhenti sebentar. Kemudian membuka pintu.“Assalamualaikum, Pak.”“Waalaikumsalam.”Anjas duduk di kursi panjang dengan kedua tangan b

  • Adinda   Penyelidikan Ayah

    Sejak pagi itu, Anjas tidak bisa berhenti memikirkan putrinya. Ada sesuatu yang salah. Ia tidak tahu persis apa, tetapi naluri seorang ayah membuatnya sulit mengabaikan perubahan yang terjadi di rumahnya sendiri. Bahkan senyumnya pun sudah tidak sama. Dulu, hanya dengan membawa sekeranjang mentimun dari kebun, Anjas bisa mendengar tawa putrinya memenuhi ruang tengah. Sekarang, sekeranjang buah segar itu hanya dibiarkan di atas meja.Tidak disentuh. Tidak ditanyakan. Tidak pula menjadi alasan bagi Adinda untuk keluar kamar. Anjas duduk di teras sambil menyalakan sebatang rokok. Pujimaharani yang sedang menyusun kue ke dalam wadah plastik beberapa kali meliriknya. Ia tahu suaminya sedang memikirkan sesuatu.“Mas.”Anjas mengangkat wajah. “Iya?”“Jangan merokok banyak-banyak.”Anjas melihat rokok di antara jarinya. Bara merahnya sudah hampir menyentuh ujung. Ia mematikannya.“Dinda belum keluar?”Pujimaharani menggeleng.“Dari tadi pagi.”“Sudah makan?”“Sedikit.”“Sedikit itu berapa?”

  • Adinda   Ketika Hati Dan Logika Bertolak Belakang

    Adinda yang baru saja kembali bersama Andara. Tampak canggung karena teman-temannya memperhatikan mereka. Adinda tidak ingin berada dekat dengan Balai Desa. Ia memilih duduk di bagian halaman parkir yang bersebelahan dengan jalan. Tentu saja, Andara menemaninya dengan setia. Di sana keduanya hany

  • Adinda   Gejolak Cemburu Membara

    Beberapa saat berlalu, Adinda masih menanti apa yang ingin disampaikan oleh Giyo. Ia menatap pemuda itu lekat. Tahu-tahu Giyo mengangkat wajahnya dan menatap lurus ke depan. Justru yang membuat sorot mata keduanya beradu. Pandangan itu seakan menyatu tak ingin dipisahkan. Namun bibir masih terkun

  • Adinda   Pesta Tahun Baru

    Tak terasa, waktu sudah hampir petang. Kini sang kembang ranum sudah berhenti dengan rasa bimbangnya. Ia bersiap dengan riasan tipisnya. Gaun panjang berwarna hitam, dengan jaket berbahan jeans, ditambah dengan sepasang sepatu Sneakers senada dengan gaunnya. Adinda tampak gugup. Ia duduk

  • Adinda   Segitiga Dalam Cinta

    Tanpa sadar ia malah tersenyum mendengar kalimat yang diucapkan Giyo. Jelas sekali senyum itu ditujukannya untuk sang pemuda. Ia seakan memahami makna dari kata-kata yang baru saja dilontarkan oleh sang pujaan. Adinda tahu, bahkan sangat sadar pada siapa ia sedang jatuh hati. Namun, apa daya seor

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status