首頁 / Romansa / Adinda / Pesta Tahun Baru

分享

Pesta Tahun Baru

作者: Adiarizki
last update publish date: 2021-04-25 16:24:47

Tak terasa, waktu sudah hampir petang. Kini sang kembang ranum sudah berhenti dengan rasa bimbangnya. Ia bersiap dengan riasan tipisnya. Gaun panjang berwarna hitam, dengan jaket berbahan jeans, ditambah dengan sepasang sepatu Sneakers senada dengan gaunnya. Adinda tampak gugup. Ia duduk di tepi tempat tidurnya. Beberapa kali ia melirik jam yang ada di dinding kamarnya. Kemudian memainkan jemari tangannya seolah mereka tengah mengalami keram.

“Assalamualaikum,” terdengar suara Andara memberikan salam.

“Waalaikumsallam. Eh, Nak Andara. Ayo masuk dulu. Dinda masih bersiap,” sahut Pak Anjas. Sungguh ramah dan bersahabat sikap sang ayah menyambut tamu putrinya.

“Baik, Pak.”

Sungguh santun perilaku, Andara. Ia langsung mencium tangan, Pak Anjas yang sudah lama menaruh rasa kagum terhadap etika sang pemuda. Semua orang tua, pasti akan menaruh hati pada pemuda yang berkelakuan baik. Ketika ada beberapa orang―yang mendekati anak gadisnya. Sudah di pastikan setiap orang tua akan menginginkan kebaikan untuk anaknya. Tak akan membiarkan putri mereka jatuh pada orang yang salah.

Bapak Anjas langsung mengajak Andara masuk ke dalam rumah. Keduanya terdengar berbincang santai. Ibu Puji datang membawakan mereka teh hangat dan sepiring pisang goreng. Adinda yang mendengar kedekatan, Andara dan orang tuanya hanya tertunduk di depan cermin. Ia menatap lurus ke depan dengan penuh makna. Garis mukanya melukiskan sebuah kebimbangan. Sejak pertama Adinda memang sudah memilih, Andara.

Namun, setelah kehadiran Giyo. Ia mulai ragu apakah hatinya masih sepenuhnya untuk, Andara. Atau justru telah terbagi pada hati yang baru. Giyo membawa warna baru dalam hidupnya. Banyak hal baru yang ia tahu ketika bersama dengan Giyo. Bukan hanya tentang keburukan pria itu, akan tetapi ia mulai mengerti bagaimana mereka yang dianggap meresahkan bertahan di tengah masyarakat. Adinda bahkan condong menyukai waktu bersama dengan Giyo.

“Harusnya kamu yang ada di sana, Giyo. Bukan dia,” gumam Adinda lirih.

“Harusnya aku juga bisa menyukai, Andara yang nyatanya memang sangat baik. Tapi ....”

 Ia menghentikan kalimatnya. Kemudian wajahnya yang terlihat layu tertunduk menatap lantai. Untuk beberapa saat Adinda hanya berdiam diri. Ia tidak melakukan sesuatu yang berarti. Sepertinya gadis itu juga masih terbayang akan beberapa jam yang lalu. Sampai detik ini, Adinda belum juga mengaktifkan telepon selulernya.

Setelah ia terlihat cukup semangat. Ia menemui pemuda tampan yang sejak tadi menantunya. Tentu saja penampilan, Adinda akan menarik perhatian Andara yang tampak sangat takjub. Setelah berpamitan dengan kedua orang tuanya, Adinda melangkahkan kaki menuju halaman rumahnya. Kini kabut mulai menebal. Pertanda sang gulita akan segera tiba menyapa dunia.

Ia menaiki sepeda motor yang selama ini sudah menemaninya. Andara jelas terlihat bangga karena mampu membawa wanita yang selama ini menjadi rebutan. Wajah berseri sang pemuda jelas sekali menunjukkan rasa bahagianya. Tidak lama mereka sudah tiba. Ternyata hampir semuanya sudah berkumpul. Seiring berjalannya waktu sang malam pun sudah sepenuhnya datang.

Mereka mulai melakukan berbagai persiapan. Adinda langsung bergabung bersama rombongan wanita untuk menyiapkan menu selingan. Beberapa di antara mereka menggoda, Adinda yang datang bersama pemuda idaman. Adinda tidak pernah ambil pusing dengan ocehan mereka, ia langsung mengerjakan apa yang bisa ia perbuat.

“Din. Kamu dipanggil, Andara sebentar ke depan,” ujar salah seorang gadis yang merupakan warga penduduk asli sana.

“Iya. Terima kasih ya, Wi,” sahut Adinda langsung beranjak dari duduknya.

“Sama-sama, Din.”

Adinda berjalan menuju bagian depan Balai Desa. Di mana mereka melangsungkan acara malam ini. Dikarenakan kampung mereka jauh dari pusat kota. Ditambah dengan hutan yang masih sangat lebat. Maka mereka semua masih memakai listrik dari PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air.) untuk itu pencahayaan yang dihasilkan pun masih belum begitu jelas. Sudah pasti berbeda dengan pencahayaan di kota.

Adinda sempat mencari ke beberapa tempat. Pada akhirnya, ia melihat Andara tengah sibuk membelah kayu bakar. Perlahan ia menghampirinya. Tentu saja, kehadiran Adinda di sana membangkitkan semangat, Andara menjadi lebih berkobar. Adinda tersenyum dan berjongkok di hadapan pemuda itu, ia memperhatikan gerak gerik Andara dengan seksama. Hingga membuat Andara tersipu.

“Ada apa, And?” tanya Adinda dengan nada yang lembut.

“Sebenarnya tidak ada yang penting. Aku hanya ingin minta tolong pegangi ini,” sahut Andara menyerahkan telepon genggamnya.

“Ya ampun, And. Kalau hanya itu, bukannya kamu bisa titip dengan yang lain,” kata Adinda seraya tersenyum menenangkan.

“Aku tidak bisa percaya sepenuhnya dengan orang lain, Din.” Andara tersenyum melihat wanitanya dengan tatapan kagum.

“Dasar kamu. Ada banyak orang di sini, kenapa harus aku coba.”

“Karena hanya kamu yang bisa membuat aku luluh.”

Adinda mengambil telepon genggam itu, seraya menggelengkan kepalanya. Kemudian ia langsung menyimpan benda itu ke dalam saku jaketnya. Adinda ikut duduk di dekat, Andara. Ia malah membantu menyusun kayu yang sudah dibelah. Andara memandanginya hangat. Sungguh tatapan itu penuh rasa cinta.

Sorot matanya tidak dapat teralihkan dari wajah menawan sang wanita pujaan hati. Seketika bibirnya mengembang menyajikan sunggingan senyuman—sangat menawan. Setelah itu, keduanya ikut bergabung dengan yang lain. Mereka dengan suka cita menyiapkan segala menu untuk dibakar pada pemanggangan yang telah disiapkan. Andara duduk di sebelah, Adinda yang sedang mengupas jagung muda. Keduanya tampak berbincang dengan akrab.

“Wei, Giyo!” pekik salah seorang pemuda yang berada di bagian parkir.

Mendengar nama itu disebut, Adinda secara spontan menoleh ke arah asal―.  Di sana sudah berdiri seorang pria. Dengan penampilan tampak sedikit lebih mencolok. Sweeter berwarna ungu pastel dengan paduan kemeja dengan sebagai dalamannya. Cara jalannya yang sedikit sempoyongan. Serta anting yang digunakannya malam itu, lebih cantik dengan rantai panjang yang menjuntai.

Perlahan ia mendekat ke arah Adinda dan juga Andara yang terdiam. Seketika, Adinda menundukkan pandangannya. Matanya sayu, dengan roman muka yang lemah. Adinda duduk di bagian sedikit lebih gelap dari sisi kiri Andara. Sehingga jika tidak diperhatikan benar. Maka tidak akan disadari bahwa ia ada di sana.

“An. Mana Adikku?” tanya Giyo secara langsung kepada Andara.

“Adik? Memangnya, Abang ini punya Adik?” Andara malah balik bertanya.

“Adinda! Mana dia!” seru Giyo dengan kening yang berkerut.

“Oh, Dinda. Lah, ini masa enggak bisa lihat,” sahut Andara yang juga tampak tidak menyukai kehadiran Giyo di sana.

“Hmm?”

Giyo memiringkan kepalanya memperhatikan bagian yang ditunjuk Andara. Matanya melengkung membentuk bulan sabit. Sudut bibirnya terangkat ke atas. Giyo tampak sangat lega bisa melihat wanita yang membuatnya hampir menggila. Baru saja dia hampir mengamuk di tempat pesta yang diadakannya sendiri. Semua itu disebabkan karena ada mata-matanya yang melapor. Bahwa sang pujaan tengah terlibat perbincangan akrab bersama, Andara.

“Hai, Din,” sapa Giyo. Jelas itu hanya sekedar basa-basi.

“Hai, Kak. Ada apa?” tanya Adinda masih duduk di tempatnya.

“Bisa kita bicara sebentar?”

“Mau ngomong apa? kenapa enggak di sini saja,” sela Andara.

“Ada hal yang harus aku bicarakan sama, Adinda. Dan ini hanya kami berdua yang paham!” balas Giyo.

“Sudah-sudah. Enggak apa kok, And. Sebentar saja,” sahut Adinda menengahi.

“Oke. Aku akan pergi dari sini. Tapi kamu ingat, kalau ada apa-apa panggil aku,” ujar Andara dengan tatapan sengit menatap Giyo.

Adinda mengiyakan dengan anggukkan kepala. Akhirnya Andara menjauh dari keduanya. Kini hanya ada Giyo dan Adinda yang saling tertunduk. Giyo tampak ragu mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya. Sedangkan, Adinda seakan menanti sesuatu yang akan diucapkan oleh Giyo. Sungguh pemandangan yang sedikit langka. Melihat seorang Giyo Ramadhan berada di tengah acara pemuda desa yang dikenal bertolak belakang dengan pola pikirnya.

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Adinda   Musuh Dalam Selimut

    Sebuah map berwarna cokelat didorong ke hadapan Giyo. Di dalamnya terdapat salinan laporan keuangan, daftar mitra perusahaan, catatan pengiriman, serta sejumlah dokumen yang sebagian halamannya diberi penanda merah. Giyo membukanya tanpa banyak bicara. Pada awalnya, semua tampak seperti laporan perusahaan distribusi biasa. Ada angka pemasukan, biaya operasional, nama pemasok, dan jadwal pengiriman. Namun, semakin jauh ia membaca, semakin banyak hal yang terasa janggal.Beberapa pengiriman tercatat memiliki berat yang berbeda antara dokumen gudang dan laporan penerimaan. Ada pembayaran kepada perusahaan yang tidak tercantum dalam daftar mitra resmi. Beberapa transaksi juga menggunakan nama perusahaan yang sama, tetapi dengan alamat berbeda. Giyo mengangkat salah satu lembar."Ini apa?"Bram meliriknya. "Transaksi lama.""Transaksi lama yang mana? Nomor pengirimannya berbeda, tetapi nama penerimanya sama.""Kamu teliti juga.""Saya sedang berusaha memahami kenapa Anda mau membayar lima

  • Adinda   Jebakan Halus

    Adinda menyadari ada sesuatu yang berbeda pada Giyo sejak laki-laki itu datang sore itu.Giyo duduk di teras rumah seperti biasanya, dengan segelas teh yang mulai kehilangan kehangatannya di atas meja. Sesekali ia menjawab pertanyaan Adinda, bahkan sempat tersenyum ketika perempuan itu menceritakan tingkah salah seorang temannya. Namun, pikirannya seolah berada di tempat lain. Pandangannya beberapa kali jatuh pada layar ponsel, lalu kembali ke halaman tanpa benar-benar memperhatikan apa pun.Adinda mengenali kebiasaan itu.Dulu, ketika Giyo sedang menghadapi masalah dengan orang-orangnya, ia sering menunjukkan wajah serupa. Bedanya, dahulu Giyo akan bercerita dengan caranya sendiri, meskipun hanya sedikit. Belakangan ini, laki-laki itu semakin sering menyimpan sesuatu di balik jawaban-jawaban singkatnya.“Kamu ada masalah?” tanya Adinda akhirnya.Giyo mengangkat kepala. “Kenapa?”“Dari tadi kelihatan melamun.”“Cuma banyak pikiran.”“Pikiran tentang apa?”Giyo mengusap wajahnya, kemud

  • Adinda   Rp. 5.000.000.000

    Beberapa minggu terakhir, Adinda mulai terbiasa dengan ruang yang dulu ia minta sendiri. Pada awalnya ia menikmati perubahan itu. Tidak ada lagi Giyo yang tiba-tiba muncul di depan rumah hanya untuk mengajaknya pergi. Tidak ada pesan bertubi-tubi ketika Adinda belum sempat membalas. Bahkan, ketika Giyo tidak datang selama dua atau tiga hari, Adinda bisa menghabiskan waktu dengan ibunya tanpa terus memikirkan bagaimana perasaan lelaki itu.Namun ternyata kebebasan memiliki sisi lain yang tidak pernah ia pikirkan. Ada hari-hari ketika Adinda membuka ponselnya dan tidak menemukan pesan dari Giyo. Awalnya ia tidak peduli. Hari kedua, ia masih biasa saja. Hari ketiga, ia mulai bertanya-tanya. Apakah Giyo benar-benar sedang memberinya ruang? Atau mungkin ia sudah mulai terbiasa tanpa dirinya? Pertanyaan itu semakin sering muncul ketika Giyo tidak lagi datang ke rumah selama beberapa hari.Sore itu Adinda duduk di teras sambil menyelesaikan lukisannya. Matahari mulai turun di balik pepohonan

  • Adinda   Giyo Is Back!

    Pagi datang tanpa pesan dari Giyo. Adinda sempat memeriksa ponselnya ketika baru bangun. Kebiasaan itu sudah dilakukan hampir setiap hari. Bahkan, sebelum ia benar-benar membuka mata dengan sempurna. Biasanya akan ada pesan dari Giyo yang menanyakan apakah ia sudah bangun, sudah sarapan, atau sekadar mengingatkannya agar tidak pergi terlalu jauh.Pagi ini tidak ada apa-apa. Adinda menatap layar beberapa detik, kemudian meletakkan ponsel di atas meja. Adinda merasa ada sedikit rasa lega yang muncul tanpa ia sadari. Ia tidak perlu memikirkan harus menjawab apa. Tidak perlu merasa bersalah karena membalas terlambat. Tidak perlu menjelaskan ke mana ia akan pergi. Setelah mandi, Adinda turun ke dapur dan menemukan ibunya sedang menyiapkan adonan kue."Sudah bangun?" tanya Pujimaharani."Sudah, Ma.""Mau bantu?"Adinda langsung mengambil celemek yang tergantung di dekat kulkas. "Boleh."Pagi itu mereka menghabiskan waktu hampir dua jam di dapur. Tidak ada percakapan berat. Mereka hanya memb

  • Adinda   Ruang

    Dia memilih merebahkan tubuh pada batu besar di pinngir aliran air. Adinda memejamkan mata sebentar. Kemudian membuka kembali. Langit di atas sana terbentang nyata. Biru bersih. Adinda mengedarkan pandangannya. Air yang jatuh dari ketinggian tampak berkilau dan memantulkan cahaya matahari seperti tirai perak. Dikelilingi oleh pepohonan lebat, lumut hijau di bebatuan, serta tanaman paku liar yang tumbuh subur. Di sela-sela suara air, terdengar samar-samar suara burung liar berkicau dan serangga hutan yang menyatu dengan alam. Semuanya membaur menjadi satu.“Tempat yang sama dengan dia yang berbeda,” suara itu menyadarkan Adinda.“Mi.”“Kamu masih ingat dia, ‘kan?” desak Hilmi yakin dengan pernyataannya.“Enggak. Aku hanya menikmati suasa.”“Halah. Kamu tuh enggak bersyukur jadi wanita. Sudah dapat Giyo. Masih saja mikirin laki-laki lain.”“Kamu tau apa soal perasaanku!&rd

  • Adinda   Dua Kenangan Satu Tempat

    Suara motor berhenti di depan rumah. Adinda tidak perlu melihat untuk tahu siapa yang datang. Dia sudah hapal dengan deruan tersebut. Bunyi yang dulunya selalu ditunggu olehnya. Entah sejak kapan ia mulai ingin mengabaikan semuanya. Malah ada rasa ingin mendengar bahana dari motor yang lain. Entahlah sejakk kapan. Suara dentuman rendah yang berat dan dalam (deep rumble), seperti suara guntur yang tertahan di kejauhan. Lebih dirindukannya, dibandingkan suaranya terdengar padat, berat, dan berirama rapat. Yang berasal dari motor milik Giyo.Beberapa detik kemudian, suara Giyo terdengar dari balik pagar. “Dinda!”Adinda menoleh. Giyo berdiri sambil melepas helmnya.“Ada apa?”Giyo tersenyum. “Siap-siap.”Adinda mengernyit. “Buat apa?”“Kita pergi.”“Ke mana?”“Air terjun.”Gerakan tangan Adinda terhenti. Air terjun. Entah mengapa, dua kata sederhana itu membuat pikirannya langsung terlempar pada sebuah kenangan lama. Bukan dengan Giyo. Tapi Andara. Saat itu mereka belum memiliki hubunga

  • Adinda   Sang Juara Voli

    Andara tampak sudah mampu menguasai dirinya. Ia sudah kembali tenang. Dengan tersenyum bahagia, Andara meyakinkan dirinya sendiri. Bahwa apa yang dikatakan ayah dari wanitanya akan menjadi nyata. Yah, tentu itu juga salah satu pintanya pada sang pencipta.“Pak, kalau begitu say

  • Adinda   Andara Mahardika

    Setelah cukup lama berbincang bersama Bapak Anjas. Akhirnya, Andara menyampaikan maksud kedatangannya yang sebenarnya ke sana. Sepertinya ia sengaja mengajak Pak Anjas membahas masalah pesta yang digelar muda-mudi pada penyambutan tahun baru. Agar ia dapat mengetahui apa pandangan.

  • Adinda   Giyo Ramadhan

    Adinda masih betah berdiri memperhatikan pria yang tengah asyik bercerita bersama sang ayah. Kedua orang itu tampak cocok dalam beberapa hal. Entah bagaimana, keduanya tampak memiliki karakteristik yang sama. Serta keduanya tampak sama-sama memiliki pendirian yang teguh. Tak dapat digoyahkan deng

  • Adinda   Adinda Maharani,

    Malam itu adalah malam yang paling ditunggu kalangan muda-mudi di Desa Tanjung Agung. Segala persiapan menyambut pesta tahun baru sudah diatur—sebaik mungkin. Agar segalanya berjalan dengan lancar. Adinda, masih duduk di kamarnya sambil membaca sebuah buku yang baru saja dibelikan oleh sang ibu.

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status