Share

Segitiga Dalam Cinta

Tanpa sadar ia malah tersenyum mendengar kalimat yang diucapkan Giyo. Jelas sekali senyum itu ditujukannya untuk sang pemuda. Ia seakan memahami makna dari kata-kata yang baru saja dilontarkan oleh sang pujaan. Adinda tahu, bahkan sangat sadar pada siapa ia sedang jatuh hati. Namun, apa daya seorang gadis lugu. Ia tak akan mampu menolak atau pun menghindar.

Terlebih ini kali pertama untuknya jatuh cinta kepada orang yang memiliki karakter jauh berbeda dengannya. Sebuah jalinan kasih dalam diam, yang sudah dapat dipastikan akan terus begitu. Berlaku kucing-kucingan dengan keadaan. Terkadang, ia menangis di pojok kamar dalam heningnya malam. Tentu saja ia juga ingin merasakan jatuh cinta layaknya, gadis pada umumnya.

Mereka yang bisa dengan bebas bertemu. Meski di depan orang tuanya. Sayangnya hal itu tidak berlaku untuknya. Ia memilih meletakkan hatinya pada orang yang tidak disukai keluarganya. Andai ia dapat menentukan pada siapa hatinya akan terpaut, pastilah ia akan memilih Andara Mahardika yang sudah jelas mendapat restu. Akan tetapi hatinya memilih berpaling dari pilihan pertama. Dan memilih untuk berlabuh pada dia yang sudah dimasukkan dalam buku hitam.

“Halo. Dinda, kamu masih di sana?” ujar Giyo kembali melontarkan kalimatnya.

“Ia, Kakak. Aku masih di sini, kenapa?” sahut Adinda diiringi senyuman tipis.

“Kenapa kamu diam, apa kamu senang akan pergi berdua dengan, Andara!” rajuk Giyo dengan nada suara terdengar menggemaskan.

“Kak. Aku mau jujur tentang―” kalimat Adinda sengaja ia hentikan. Adinda berusaha menahan tawa. Seakan sudah tahu bagaimana tanggapan sang Ketua Gangsters.

“Apa! jangan bilang kamu suka sama anak itu!” Giyo terdengar panik menanti lanjutan kalimat yang akan diucapkan wanitanya.

Adinda di kamarnya memegangi perut karena menahan tawa. Ia memang sangat suka menggoda Giyo. Bahkan banyak teman-teman mereka mengatakan hanya Adinda yang bisa membuat Giyo panik setengah mati. Ketika satu hari ia tidak menemukan Adinda, dia bertanya pada salah satu anggotanya. Dan diberitahu kalau Adinda sedang mencari kayu bakar dihutan berdua dengan salah satu anggota gang Giyo yang lain.

Tanpa pikir panjang, Giyo langsung mendatangi lokasi yang di maksud. Sesampainya di sana, Adinda tertawa melihat wajah Giyo yang pucat. Sejak hari itu, Adinda menjadi sangat suka menggoda Giyo. Sebenarnya Giyo sangat perhatian pada Adinda, bahkan ia tak sanggup membiarkan Adinda harus ikut-ikutan gadis lain yang melakukan aktivitas bertani. Baik Giyo atau pun Bapak Anjas memiliki pola pikir yang sama yaitu, wanita seperti Adinda terlalu berharga untuk menantang matahari.

“Aku―” kembali Adinda menghentikan perkataannya.

“Dinda! Jangan mulai lagi!”

“Hahaha. Aku hanya mau bilang. Kalau aku baru tahu ada ketua gangster yang cemburuan.”

Gelak tawa itu menggema dalam kamar tidur Adinda. Jelas sekali, Adinda merasa sangat puas sudah mengerjai sang pujaan hati. Nyatanya memang benar, Giyo sangat mudah terbakar rasa cemburu. Giyo akan tetap tidak suka melihat Adinda dengan pria lain, sekalipun itu saudaranya sendiri. Minggu yang lalu, Giyo pernah memarahi sepupunya yang datang dari luar desa. Pemuda itu mengobrol dengan Adinda. Dan itu menjadi pemantik kemarahannya.

“Dinda ....” Giyo tak mampu berkata-kata lagi.

“Hahaha.”

Sepertinya, Giyo di sana merasa lega meski harus menahan malu. Sebagai pria yang sangat menghargai Adinda. Ia tak pernah marah, meski Adinda selalu berbuat sesukanya terhadapnya. Giyo kerap kali mendapat teguran dari anggota lainnya. Ia terlalu mengalah pada, Adinda. Namun, Giyo tak pernah mendengarkannya. Bagi dia apa pun yang dilakukan Adinda adalah benar.

Perbincangan melalui telepon seluler itu berlangsung alot. Dan menciptakan tawa yang nyata pada wajah indah sang perawan kota. Roman mukanya kini tampak semakin berseri mendapatkan kata-kata manja nan indah dari sang pujaan. Sungguh roman asmara yang manis. Meski harus melawan norma yang ada. Tak ada yang paham bagaimana hati kedua saling terpaut.

“Din, tunggu waktu yang tepat aku akan maju,” ungkap Giyo dengan nada yang serius.

“Untungnya aku masih setia menunggumu memperjelas semuanya, Kak.”

Kedekatan keduanya memang masih hanya sebatas teman dekat. Belum ada kejelasan status. Giyo masih belum berani mempertegas seperti apa hubungan ini akan dibawa. Itu juga yang membuat Adinda masih berhak untuk dekat dengan siapa pun, termasuk Andara. Adinda sendiri bingung ada apa dengan Giyo. Keduanya sudah sedekat itu, akan tetapi masih sebatas teman tidak lebih.

Cinta itu jelas sekali dirasakan oleh Giyo. Namun, tampaknya ia masih ragu untuk benar-benar menarik Adinda masuk ke dalam dunia kelamnya. Bukan tak cinta. Tapi sepertinya ia juga sadar risiko membawa Adinda ke dalam lingkungannya yang keras. Sering kali Giyo hanya duduk termenung di pinggir sungai yang ada di samping rumah, Adinda. Tanpa melakukan sesuatu hal yang berarti.

“Din, aku sangat menginginkan kamu. Tapi, aku sadar diri―” ucapan Giyo terpotong karena disela oleh Adinda.

“Stop, Kak! Aku tidak mau dengar kamu merendahkan diri lagi,” sela Adinda yang memang tidak pernah suka bila Giyo merendah.

“Din. Kamu harus sadar aku ini siapa!”

“Aku tahu kamu siapa! Aku juga sadar kamu itu Cowok Berengsek! Tapi, please jangan paksa aku untuk menjauhi kamu. Aku enggak akan bisa.”

Kali ini Giyo yang terdiam. Adinda langsung terlihat malas melanjutkan perbincangan itu kembali. Dia memilih mengakhiri panggilan. Lalu mematikan telepon selulernya. Adinda langsung menjatuhkan tubuhnya pada kasur. Sambil memeluk guling. Adinda memukuli guling dalam pelukannya. Air matanya perlahan menetes.  

Di tempat lain, Giyo kembali berusaha menghubungi Adinda. Namun, nomor yang dia tuju sedang tidak bisa dihubungi. Giyo membanting benda tersebut, hingga berderai. Giyo menendangi dan memukuli tembok yang ada di dekatnya. Sedangkan Andara tampak sumbringah saat masuk ke dalam rumahnya. Sang ibu yang sedang duduk di ruang tamu. Terlihat sadar apa yang menyebabkan anak sulungnya begitu.

“Pasti dari rumah Kakak Sayangnya,” ujar sang ibu dengan mencibirkan bibirnya.

“Ibu. Tahu saja apa yang membuat anaknya bahagia,” sahut Andara langsung duduk di samping cinta pertama dalam hidupnya.

“Apa kabar dia?” tanya sang ibu.

“Dia baik, Bu. Semakin hari wajahnya bertambah cantik,” ungkap Andara dengan wajah merah merona.

Sang ibu hanya mampu menggelengkan kepalanya. Tentunya Beliau sangat menyadari perasaan yang kini dirasakan oleh sang putra sulung. Beliau juga sangat menyukai, Adinda karena selain wajahnya cantik. Tapi ia juga memiliki kepribadian yang sangat baik, tutur katanya terjaga, perilakunya juga sangat santun. Adinda memang sudah mendapatkan ruang dalam keluarga Andara.

Sayangnya, kini sang gadis telah menemukan hati yang baru. Bahkan ia tak pernah ingin mendengar kejelekan pria pujaannya dibicarakan. Andara masuk ke kamarnya untuk beristirahat sejenak. Ia tentu saja lelah setelah membantu teman-temannya mendirikan tenda. Andara lelap dalam tidurnya. Adinda masih terlihat gelisah dalam kamarnya. Beberapa kali ia terlihat ragu untuk kembali mengaktifkan telepon genggamnya.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status