MasukTanpa sadar ia malah tersenyum mendengar kalimat yang diucapkan Giyo. Jelas sekali senyum itu ditujukannya untuk sang pemuda. Ia seakan memahami makna dari kata-kata yang baru saja dilontarkan oleh sang pujaan. Adinda tahu, bahkan sangat sadar pada siapa ia sedang jatuh hati. Namun, apa daya seorang gadis lugu. Ia tak akan mampu menolak atau pun menghindar.
Terlebih ini kali pertama untuknya jatuh cinta kepada orang yang memiliki karakter jauh berbeda dengannya. Sebuah jalinan kasih dalam diam, yang sudah dapat dipastikan akan terus begitu. Berlaku kucing-kucingan dengan keadaan. Terkadang, ia menangis di pojok kamar dalam heningnya malam. Tentu saja ia juga ingin merasakan jatuh cinta layaknya, gadis pada umumnya.
Mereka yang bisa dengan bebas bertemu. Meski di depan orang tuanya. Sayangnya hal itu tidak berlaku untuknya. Ia memilih meletakkan hatinya pada orang yang tidak disukai keluarganya. Andai ia dapat menentukan pada siapa hatinya akan terpaut, pastilah ia akan memilih Andara Mahardika yang sudah jelas mendapat restu. Akan tetapi hatinya memilih berpaling dari pilihan pertama. Dan memilih untuk berlabuh pada dia yang sudah dimasukkan dalam buku hitam.
“Halo. Dinda, kamu masih di sana?” ujar Giyo kembali melontarkan kalimatnya.
“Ia, Kakak. Aku masih di sini, kenapa?” sahut Adinda diiringi senyuman tipis.
“Kenapa kamu diam, apa kamu senang akan pergi berdua dengan, Andara!” rajuk Giyo dengan nada suara terdengar menggemaskan.
“Kak. Aku mau jujur tentang―” kalimat Adinda sengaja ia hentikan. Adinda berusaha menahan tawa. Seakan sudah tahu bagaimana tanggapan sang Ketua Gangsters.
“Apa! jangan bilang kamu suka sama anak itu!” Giyo terdengar panik menanti lanjutan kalimat yang akan diucapkan wanitanya.
Adinda di kamarnya memegangi perut karena menahan tawa. Ia memang sangat suka menggoda Giyo. Bahkan banyak teman-teman mereka mengatakan hanya Adinda yang bisa membuat Giyo panik setengah mati. Ketika satu hari ia tidak menemukan Adinda, dia bertanya pada salah satu anggotanya. Dan diberitahu kalau Adinda sedang mencari kayu bakar dihutan berdua dengan salah satu anggota gang Giyo yang lain.
Tanpa pikir panjang, Giyo langsung mendatangi lokasi yang di maksud. Sesampainya di sana, Adinda tertawa melihat wajah Giyo yang pucat. Sejak hari itu, Adinda menjadi sangat suka menggoda Giyo. Sebenarnya Giyo sangat perhatian pada Adinda, bahkan ia tak sanggup membiarkan Adinda harus ikut-ikutan gadis lain yang melakukan aktivitas bertani. Baik Giyo atau pun Bapak Anjas memiliki pola pikir yang sama yaitu, wanita seperti Adinda terlalu berharga untuk menantang matahari.
“Aku―” kembali Adinda menghentikan perkataannya.
“Dinda! Jangan mulai lagi!”
“Hahaha. Aku hanya mau bilang. Kalau aku baru tahu ada ketua gangster yang cemburuan.”
Gelak tawa itu menggema dalam kamar tidur Adinda. Jelas sekali, Adinda merasa sangat puas sudah mengerjai sang pujaan hati. Nyatanya memang benar, Giyo sangat mudah terbakar rasa cemburu. Giyo akan tetap tidak suka melihat Adinda dengan pria lain, sekalipun itu saudaranya sendiri. Minggu yang lalu, Giyo pernah memarahi sepupunya yang datang dari luar desa. Pemuda itu mengobrol dengan Adinda. Dan itu menjadi pemantik kemarahannya.
“Dinda ....” Giyo tak mampu berkata-kata lagi.
“Hahaha.”
Sepertinya, Giyo di sana merasa lega meski harus menahan malu. Sebagai pria yang sangat menghargai Adinda. Ia tak pernah marah, meski Adinda selalu berbuat sesukanya terhadapnya. Giyo kerap kali mendapat teguran dari anggota lainnya. Ia terlalu mengalah pada, Adinda. Namun, Giyo tak pernah mendengarkannya. Bagi dia apa pun yang dilakukan Adinda adalah benar.
Perbincangan melalui telepon seluler itu berlangsung alot. Dan menciptakan tawa yang nyata pada wajah indah sang perawan kota. Roman mukanya kini tampak semakin berseri mendapatkan kata-kata manja nan indah dari sang pujaan. Sungguh roman asmara yang manis. Meski harus melawan norma yang ada. Tak ada yang paham bagaimana hati kedua saling terpaut.
“Din, tunggu waktu yang tepat aku akan maju,” ungkap Giyo dengan nada yang serius.
“Untungnya aku masih setia menunggumu memperjelas semuanya, Kak.”
Kedekatan keduanya memang masih hanya sebatas teman dekat. Belum ada kejelasan status. Giyo masih belum berani mempertegas seperti apa hubungan ini akan dibawa. Itu juga yang membuat Adinda masih berhak untuk dekat dengan siapa pun, termasuk Andara. Adinda sendiri bingung ada apa dengan Giyo. Keduanya sudah sedekat itu, akan tetapi masih sebatas teman tidak lebih.
Cinta itu jelas sekali dirasakan oleh Giyo. Namun, tampaknya ia masih ragu untuk benar-benar menarik Adinda masuk ke dalam dunia kelamnya. Bukan tak cinta. Tapi sepertinya ia juga sadar risiko membawa Adinda ke dalam lingkungannya yang keras. Sering kali Giyo hanya duduk termenung di pinggir sungai yang ada di samping rumah, Adinda. Tanpa melakukan sesuatu hal yang berarti.
“Din, aku sangat menginginkan kamu. Tapi, aku sadar diri―” ucapan Giyo terpotong karena disela oleh Adinda.
“Stop, Kak! Aku tidak mau dengar kamu merendahkan diri lagi,” sela Adinda yang memang tidak pernah suka bila Giyo merendah.
“Din. Kamu harus sadar aku ini siapa!”
“Aku tahu kamu siapa! Aku juga sadar kamu itu Cowok Berengsek! Tapi, please jangan paksa aku untuk menjauhi kamu. Aku enggak akan bisa.”
Kali ini Giyo yang terdiam. Adinda langsung terlihat malas melanjutkan perbincangan itu kembali. Dia memilih mengakhiri panggilan. Lalu mematikan telepon selulernya. Adinda langsung menjatuhkan tubuhnya pada kasur. Sambil memeluk guling. Adinda memukuli guling dalam pelukannya. Air matanya perlahan menetes.
Di tempat lain, Giyo kembali berusaha menghubungi Adinda. Namun, nomor yang dia tuju sedang tidak bisa dihubungi. Giyo membanting benda tersebut, hingga berderai. Giyo menendangi dan memukuli tembok yang ada di dekatnya. Sedangkan Andara tampak sumbringah saat masuk ke dalam rumahnya. Sang ibu yang sedang duduk di ruang tamu. Terlihat sadar apa yang menyebabkan anak sulungnya begitu.
“Pasti dari rumah Kakak Sayangnya,” ujar sang ibu dengan mencibirkan bibirnya.
“Ibu. Tahu saja apa yang membuat anaknya bahagia,” sahut Andara langsung duduk di samping cinta pertama dalam hidupnya.
“Apa kabar dia?” tanya sang ibu.
“Dia baik, Bu. Semakin hari wajahnya bertambah cantik,” ungkap Andara dengan wajah merah merona.
Sang ibu hanya mampu menggelengkan kepalanya. Tentunya Beliau sangat menyadari perasaan yang kini dirasakan oleh sang putra sulung. Beliau juga sangat menyukai, Adinda karena selain wajahnya cantik. Tapi ia juga memiliki kepribadian yang sangat baik, tutur katanya terjaga, perilakunya juga sangat santun. Adinda memang sudah mendapatkan ruang dalam keluarga Andara.
Sayangnya, kini sang gadis telah menemukan hati yang baru. Bahkan ia tak pernah ingin mendengar kejelekan pria pujaannya dibicarakan. Andara masuk ke kamarnya untuk beristirahat sejenak. Ia tentu saja lelah setelah membantu teman-temannya mendirikan tenda. Andara lelap dalam tidurnya. Adinda masih terlihat gelisah dalam kamarnya. Beberapa kali ia terlihat ragu untuk kembali mengaktifkan telepon genggamnya.
Sebuah map berwarna cokelat didorong ke hadapan Giyo. Di dalamnya terdapat salinan laporan keuangan, daftar mitra perusahaan, catatan pengiriman, serta sejumlah dokumen yang sebagian halamannya diberi penanda merah. Giyo membukanya tanpa banyak bicara. Pada awalnya, semua tampak seperti laporan perusahaan distribusi biasa. Ada angka pemasukan, biaya operasional, nama pemasok, dan jadwal pengiriman. Namun, semakin jauh ia membaca, semakin banyak hal yang terasa janggal.Beberapa pengiriman tercatat memiliki berat yang berbeda antara dokumen gudang dan laporan penerimaan. Ada pembayaran kepada perusahaan yang tidak tercantum dalam daftar mitra resmi. Beberapa transaksi juga menggunakan nama perusahaan yang sama, tetapi dengan alamat berbeda. Giyo mengangkat salah satu lembar."Ini apa?"Bram meliriknya. "Transaksi lama.""Transaksi lama yang mana? Nomor pengirimannya berbeda, tetapi nama penerimanya sama.""Kamu teliti juga.""Saya sedang berusaha memahami kenapa Anda mau membayar lima
Adinda menyadari ada sesuatu yang berbeda pada Giyo sejak laki-laki itu datang sore itu.Giyo duduk di teras rumah seperti biasanya, dengan segelas teh yang mulai kehilangan kehangatannya di atas meja. Sesekali ia menjawab pertanyaan Adinda, bahkan sempat tersenyum ketika perempuan itu menceritakan tingkah salah seorang temannya. Namun, pikirannya seolah berada di tempat lain. Pandangannya beberapa kali jatuh pada layar ponsel, lalu kembali ke halaman tanpa benar-benar memperhatikan apa pun.Adinda mengenali kebiasaan itu.Dulu, ketika Giyo sedang menghadapi masalah dengan orang-orangnya, ia sering menunjukkan wajah serupa. Bedanya, dahulu Giyo akan bercerita dengan caranya sendiri, meskipun hanya sedikit. Belakangan ini, laki-laki itu semakin sering menyimpan sesuatu di balik jawaban-jawaban singkatnya.“Kamu ada masalah?” tanya Adinda akhirnya.Giyo mengangkat kepala. “Kenapa?”“Dari tadi kelihatan melamun.”“Cuma banyak pikiran.”“Pikiran tentang apa?”Giyo mengusap wajahnya, kemud
Beberapa minggu terakhir, Adinda mulai terbiasa dengan ruang yang dulu ia minta sendiri. Pada awalnya ia menikmati perubahan itu. Tidak ada lagi Giyo yang tiba-tiba muncul di depan rumah hanya untuk mengajaknya pergi. Tidak ada pesan bertubi-tubi ketika Adinda belum sempat membalas. Bahkan, ketika Giyo tidak datang selama dua atau tiga hari, Adinda bisa menghabiskan waktu dengan ibunya tanpa terus memikirkan bagaimana perasaan lelaki itu.Namun ternyata kebebasan memiliki sisi lain yang tidak pernah ia pikirkan. Ada hari-hari ketika Adinda membuka ponselnya dan tidak menemukan pesan dari Giyo. Awalnya ia tidak peduli. Hari kedua, ia masih biasa saja. Hari ketiga, ia mulai bertanya-tanya. Apakah Giyo benar-benar sedang memberinya ruang? Atau mungkin ia sudah mulai terbiasa tanpa dirinya? Pertanyaan itu semakin sering muncul ketika Giyo tidak lagi datang ke rumah selama beberapa hari.Sore itu Adinda duduk di teras sambil menyelesaikan lukisannya. Matahari mulai turun di balik pepohonan
Pagi datang tanpa pesan dari Giyo. Adinda sempat memeriksa ponselnya ketika baru bangun. Kebiasaan itu sudah dilakukan hampir setiap hari. Bahkan, sebelum ia benar-benar membuka mata dengan sempurna. Biasanya akan ada pesan dari Giyo yang menanyakan apakah ia sudah bangun, sudah sarapan, atau sekadar mengingatkannya agar tidak pergi terlalu jauh.Pagi ini tidak ada apa-apa. Adinda menatap layar beberapa detik, kemudian meletakkan ponsel di atas meja. Adinda merasa ada sedikit rasa lega yang muncul tanpa ia sadari. Ia tidak perlu memikirkan harus menjawab apa. Tidak perlu merasa bersalah karena membalas terlambat. Tidak perlu menjelaskan ke mana ia akan pergi. Setelah mandi, Adinda turun ke dapur dan menemukan ibunya sedang menyiapkan adonan kue."Sudah bangun?" tanya Pujimaharani."Sudah, Ma.""Mau bantu?"Adinda langsung mengambil celemek yang tergantung di dekat kulkas. "Boleh."Pagi itu mereka menghabiskan waktu hampir dua jam di dapur. Tidak ada percakapan berat. Mereka hanya memb
Dia memilih merebahkan tubuh pada batu besar di pinngir aliran air. Adinda memejamkan mata sebentar. Kemudian membuka kembali. Langit di atas sana terbentang nyata. Biru bersih. Adinda mengedarkan pandangannya. Air yang jatuh dari ketinggian tampak berkilau dan memantulkan cahaya matahari seperti tirai perak. Dikelilingi oleh pepohonan lebat, lumut hijau di bebatuan, serta tanaman paku liar yang tumbuh subur. Di sela-sela suara air, terdengar samar-samar suara burung liar berkicau dan serangga hutan yang menyatu dengan alam. Semuanya membaur menjadi satu.“Tempat yang sama dengan dia yang berbeda,” suara itu menyadarkan Adinda.“Mi.”“Kamu masih ingat dia, ‘kan?” desak Hilmi yakin dengan pernyataannya.“Enggak. Aku hanya menikmati suasa.”“Halah. Kamu tuh enggak bersyukur jadi wanita. Sudah dapat Giyo. Masih saja mikirin laki-laki lain.”“Kamu tau apa soal perasaanku!&rd
Suara motor berhenti di depan rumah. Adinda tidak perlu melihat untuk tahu siapa yang datang. Dia sudah hapal dengan deruan tersebut. Bunyi yang dulunya selalu ditunggu olehnya. Entah sejak kapan ia mulai ingin mengabaikan semuanya. Malah ada rasa ingin mendengar bahana dari motor yang lain. Entahlah sejakk kapan. Suara dentuman rendah yang berat dan dalam (deep rumble), seperti suara guntur yang tertahan di kejauhan. Lebih dirindukannya, dibandingkan suaranya terdengar padat, berat, dan berirama rapat. Yang berasal dari motor milik Giyo.Beberapa detik kemudian, suara Giyo terdengar dari balik pagar. “Dinda!”Adinda menoleh. Giyo berdiri sambil melepas helmnya.“Ada apa?”Giyo tersenyum. “Siap-siap.”Adinda mengernyit. “Buat apa?”“Kita pergi.”“Ke mana?”“Air terjun.”Gerakan tangan Adinda terhenti. Air terjun. Entah mengapa, dua kata sederhana itu membuat pikirannya langsung terlempar pada sebuah kenangan lama. Bukan dengan Giyo. Tapi Andara. Saat itu mereka belum memiliki hubunga
Andara tampak sudah mampu menguasai dirinya. Ia sudah kembali tenang. Dengan tersenyum bahagia, Andara meyakinkan dirinya sendiri. Bahwa apa yang dikatakan ayah dari wanitanya akan menjadi nyata. Yah, tentu itu juga salah satu pintanya pada sang pencipta.“Pak, kalau begitu say
Setelah cukup lama berbincang bersama Bapak Anjas. Akhirnya, Andara menyampaikan maksud kedatangannya yang sebenarnya ke sana. Sepertinya ia sengaja mengajak Pak Anjas membahas masalah pesta yang digelar muda-mudi pada penyambutan tahun baru. Agar ia dapat mengetahui apa pandangan.
Adinda masih betah berdiri memperhatikan pria yang tengah asyik bercerita bersama sang ayah. Kedua orang itu tampak cocok dalam beberapa hal. Entah bagaimana, keduanya tampak memiliki karakteristik yang sama. Serta keduanya tampak sama-sama memiliki pendirian yang teguh. Tak dapat digoyahkan deng
Malam itu adalah malam yang paling ditunggu kalangan muda-mudi di Desa Tanjung Agung. Segala persiapan menyambut pesta tahun baru sudah diatur—sebaik mungkin. Agar segalanya berjalan dengan lancar. Adinda, masih duduk di kamarnya sambil membaca sebuah buku yang baru saja dibelikan oleh sang ibu.







