Mag-log in"Kamu tahu kan Banyu? Orang yang serakah dan bejat pasti hanya akan mementingkan hawa nafsunya. Pria di dalam sana adalah contohnya," jawab Wening tanpa mengalihkan pandangannya dari celah kamar utama. Banyu ikut mengarahkan pandangannya ke balik celah pintu mahoni. Matanya yang tajam mengamati lekuk tubuh Marni yang sengaja memanjakan Jadipura, serta sang pejabat Kadipaten yang bergerak membabi buta dalam igauan mabuknya. Banyu tersenyum sinis melihat pria tua itu yang tidak bisa membedakan mana nyai besar, mana pelayan dapur. "Bagaiamana jadinya kalau Jadipura tahu yang bercinta dengannya adalah seorang pelayan. Tapi... Mungkin tidak akan jadi masalah karena setiap pelayan di rumahnya sudah menjadi budak napsunya!" raung Banyu di dalam hati. Wening mengalihkan pandangan sepenuhnya pada Banyu. Di dalam remang lorong yang sepi, mata mereka saling mengunci. "Kalau Jayendra tahu pejabat yang diagung-agungkannya menikmati 'istrinya' di sini, menurutmu apa yang akan terjadi, Banyu?"
Tangan Jadipura yang menggebu-gebu mulai melonggarkan ikatan kemben tersebut. Sama sekali tidak ada perlawanan. Tubuh wanita di dalam dekapannya justru terlihat pasrah, membiarkan sentuhan kasar itu bergerak makin jauh tanpa penolakan sedikit pun. Membuat Jadipura tersenyum penuh kemenangan. Desah napas halus terlepas dari bibir wanita itu, sengaja memancing dan memberi ruang bagi Jadipura untuk bertindak lebih jauh. "Lakukan sesukamu, Tuan..." bisik suara yang meluncur lembut itu. Suara itu bukan nada dingin milik Wening, melainkan intonasi bermanja yang amat dihafal oleh siapapun yang sering melintasi dapur kediaman Jayendra. Jadipura yang berada di puncak gairah tak memedulikan perbedaan suara itu. Pengaruh alkohol yang pekat telah mengubur rapat akal sehatnya. Ia menyeringai makin lebar, merasa bujuk rayu dan martabat jabatannya berhasil menaklukkan sang nyai rumah. Jadipura menjatuhkan tubuh wanita itu ke atas peraduan. Ia menelan salivanya saat melihat gundukan yang ber
Jadipura melangkah makin dalam ke dalam kamar, lalu menutup pintu mahoni di belakangnya hingga rapat. Senyum mesumnya kian lebar saat melihat wanita itu masih bergeming di depan meja rias. Wanita itu hanya memakai kain kemben yang punggungnya tertutup rambut panjangnya. "Jangan takut, Nyai," tutur Jadipura seraya menepuk-nepuk dada dengan congkak. "Kamu tahu sendiri siapa saya, bukan? Jabatan saya di Kadipaten ini bukan sembarang posisi. Sekali saya mendesis pada Kanjeng Bupati, urusan tanah, emas, bahkan nyawa seseorang bisa berubah dalam sekejap." Ia melangkah perlahan mengitari area kamar, memamerkan cincin-cincin bermata akik tebal yang menghiasi jemarinya. "Jayendra itu memang kaya, tapi kekayaannya tidak ada artinya tanpa jaminan dari pejabat seperti saya. Kalau kamu bersikap manis dan tahu cara menyenangkan orang yang tepat, hidupmu di rumah ini bisa jauh lebih dihormati, Nyai. Saya bisa memberikan apa pun yang tidak sanggup diberikan suamimu." Bualan itu melayang begitu s
Logistik yang kami butuhkan sangat banyak, Juragan. Kira-kira apa Juragan mampu? Masalahnya kami..." Jadipura sengaja menggantung kalimatnya. "Tenang saja, Tuan-Tuan," potong Jayendra tanggap, mengibaskan tangannya santai dengan nada sombong yang tak terbantahkan. "Harta kekayaan keluarga saya tidak akan habis kalau hanya untuk mengirimkan beras ke kamp militer milik Tuan." Kenyataan bahwa keluarga Jayendra sangatlah kaya memang bukan isapan jempol semata. Namun, di balik tumpukan pundi-pundi emas dan lumbung padi yang melimpah itu, ada derita para petani desa. Kekayaan itu terus menumpuk karena Jayendra tanpa ampun menarik upeti dan sewa tanah yang mencekik leher rakyat kecil. Dan itu tanpa sepengetahuan Wening. Mendengar sesumbar sang tuan tanah, Gusti muda dan Jadipura saling lempar pandangan sebelum akhirnya menyunggingkan senyum puas. "Luar biasa," puji Gusti muda sembari terkekeh pelan. "Kesombonganmu ini sungguh beralasan, Jayendra. Pasokan beras untuk militer kami jelas bu
Marni mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Merasa diusir secara halus di depan bangsawan tampan itu, dadanya bergemuruh kesal. Namun, tatapan Jayendra yang seperti hendak menelan dirinya hidup-hidup membuat Marni tidak berani membantah. Dengan gerakan lambat yang disengaja agar tetap memamerkan lekuk tubuhnya, Marni membungkuk hormat lalu berbalik melangkah mundur menuju arah dapur. Gusti muda itu terkekeh pelan, sepasang matanya mengawal langkah Marni hingga gadis itu menghilang di balik dinding lorong. "Rupanya kediamanmu ini penuh dengan perhiasan indah, Jayendra," ujar Gusti dengan nada jenaka yang menyindir. "Istrimu memiliki wibawa seorang nyai besar, sementara pelayanmu tahu benar cara memanjakan mata tamu." Jayendra tertawa hambar, mengusap tengkuknya yang terasa panas. "Hanya bunga-bunga desa biasa, Gusti. Jangan sampai mengalihkan perhatian Tuan-Tuan agung. Bagaiamana kalau kita lupakan masalah tadi dan cairkan suasana dengan minuman berkulaitas?" Jayendra memberi kode pada
"sayang sekali tidak ada hiburan dari anak-anak Nyai Santika karena kita tidak jadi bertemu di sana," ujar Jadipura seraya menyesap wedhangnya. "Benar, Tuan. Tapi, apa yang membuat Tuan Jadipura mengubah tempat pertemuan?" tanya Jayendra dengan penasaran. Jadipura tidak segera menjawab pertanyaan itu. Ia memberi jeda beberapa saat hingga akhirnya ia membuka mulut. "Kamu tahu, di Griya Dharmo itu punya banyak telinga. Itulah alasanku merubah tempat pertemuan. Juragan Jayendra tidak keberatan, bukan?" "Ah, tentu tidak, Tuan," jawab Jayendra dengan kekehan kecil yang dipaksakan. "Tentu saja saya tidak merasa keberatan. Saya justru merasa sangat terhormat atas kehadiran Tuan Jadipura di sini." Jadipura lalu mengarahkan pandangannya ke samping. "Saya yakin dinding di sini tidak memiliki telinga. Betul begitu, Gusti?" ujar Jadipura, meminta pembenaran pada pemuda yang duduk di sebelahnya. Dilihat dari balutan busana mewahnya, pemuda itu jelas memiliki kedudukan yang jauh lebih tinggi d







