Chapter: 67. Terbuai oleh sang kusirIni rumah siapa, Banyu? Sangat indah dan rapi," tanya Wening saat memasuki sebuah kediaman yang penuh pepohonan di halaman depan. Seluruh halaman terlihat rapi dan bersih. "Ini tempat saya bekerja sebelumnya, Ndoro. Pemiliknya pindah ke desa sebelah, jadi rumah ini kosong. Tapi cukup terawat." Wening mengernyit heran mendengar jawaban Banyu. Langkahnya mendadak terhenti. Ia menahan lengan Banyu seraya berkata, "Apa tidak apa-apa kalau kita masuk ke sini?" Banyu tersenyum, kemudian maju selangkah, mengikis jarak diantara mereka. Menyentuh hidung Wening dengan jari telunjuknya. "Ndoro Ayu tenang saja. Saya sudah diizinkan oleh pemilik rumah. Katanya Ndoro Ayu ingin lebih leluasa," jawab Banyu dengan tatapan menggoda. Wening memukul bahu Banyu pelan. Pipinya merona karena malu. "Monggo, Ndoro Ayu. Ndoro Ayu mau makan apa? Biar saya suruh pengurus rumah untuk menyediakan," tawar Banyu. "Kamu yakin tidak apa-apa, Banyu?" Dari wajahnya, Wening masih terlihat ragu dengan keputusa
Last Updated: 2026-09-20
Chapter: 66. Tidak Akan Menceraikanmu!"Kamu ngapain? Kok keluar dari ruangan itu?" tanya Wening seraya menunjuk ruang kerja Jayendra dengan dagunya. Kedua tangannya terlipat di depan dada. Wajahnya terlihat serius, tanpa ada sedikitpun keramah-tamahan. Tatapan matanya yang tajam seolah menuntut penjelasan seketika itu juga. "Ndoro Ayu. Juragan memanggil saya—" "Ada apa?" potong Wening tidak sabar dengan kening yang berkerut. "Tidak seperti biasanya." Wajah Wening masih menunjukkan ekspresi tidak bersahabat, yang membuat Banyu sedikit memicingkan sudut matanya. Ada keanehan yang menggelitik benaknya. Padahal, baru beberapa jam lalu sepulang dari ladang, istri juragannya itu masih bersikap manis seperti biasa. "Yah... Hanya bertanya tentang istrinya yang pergi tanpa pamit," jawab Banyu dengan nada santai dan tatapan menggoda. "Cih! Apa pedulinya," gumam Wening kemudian, mengibaskan rasa kesalnya seraya memalingkan muka sejenak. "Kamu jawab apa?" Banyu tersenyum tipis, menyimpan maksud tersembunyi. Dengan gerak
Last Updated: 2026-09-20
Chapter: 65. Rencana Selanjutnya "Seharian Ndoro Ayu pergi ke mana, Banyu?! Bahkan tidak ada sepatah kata pun pamit padaku!" tanya Jayendra dengan nada yang sedikit tinggi. Pria itu menyergap Banyu yang baru saja melangkah masuk ke dalam area kandang kuda yang beraroma jerami basah. Jayendra menuntut jawaban pasti. Amarah dan kecemasan menumpuk di dadanya, terlebih setelah Wening terang-terangan menolak untuk menemui atau sekadar membukakan pintu kamar untuknya. "Nuwun sewu, Ndoro Juragan," jawab Banyu tenang, menurunkan pandangannya rapat-rapat ke tanah. "Ndoro Ayu pergi ke ladang. Beliau hanya mengawasi para buruh yang sedang memanen padi." "Hanya itu?" Kening Jayendra berkerut dalam, matanya menyipit penuh curiga. "Nggih, Ndoro Juragan. Hanya itu." Jayendra tak lagi membalas. Tanpa mengacuhkan Banyu, ia berbalik dan berlalu begitu saja membawa kegelisahan yang kian menggerogoti pikirannya. Sepeninggal juragannya, Banyu perlahan mendongakkan kepala. Sudut bibirnya terangkat, menyunggingkan senyum miring yang
Last Updated: 2026-09-20
Chapter: 64. Sudah CukupWening yang ingin menghindar dari Jayendra, pergi mengajak Banyu dengan alasan minta diantar oleh sang kusir. Mereka menaiki kuda berkeliling ke sekitar desa. Ia juga pergi ke ladang untuk mengecek padinya yang sedang di panen. "Menurutmu, apa Marni benar-benar hamil, Nyu?" tanya Wening. Tubuhnya naik turun seirama dengan langkah kaki kuda yang membawanya. Ia duduk di depan Banyu seraya bersandar pada dada pria itu. Dada yang hangat itu terasa begitu menenangkan. Aroma keringat dan matahari dari tubuh Banyu berpadu dengan udara persawahan. Rasanya Wening ingin berlama-lama bersandar pada dada bidang pria itu, melarikan diri sejenak dari jerat kemunafikan di kediaman suaminya. "Kenapa Ndoro Ayu bertanya seperti itu?" tanya Banyu pelan, memecah hening di antara mereka berdua di atas punggung kuda yang berjalan santai. Wening menghela napas panjang. "Entahlah. Saya juga tidak yakin dengan perasaan saya, Banyu. Tapi, gelagat Marni sangat aneh." "Benar atau tidak dugaan itu, bukan lag
Last Updated: 2026-09-19
Chapter: 63. Tak Sudi!Setelah selesai memeriksa Marni, pandangan Mbok dukun kembali menghadap Kanjeng Ibu. "Bagaiamana, Mbok? Benar, bocah ini hamil?" tuntut Kanjeng tidak sabar. "Nuwun sewu, Ndoro besar. Belum terlihat jelas, mungkin karena baru sepuluh hari. Bisa menunggu satu bulan lagi untuk memastikan. Tapi, dari wajah pucatnya sepertinya iya." Suasana mendadak hening. Wajah Marni semakin pucat, tangannya berkeringat dingin. Debaran jantungnya, tidak usah ditanyakan lagi. Rasanya seperti ada genderang perang sedang ditabuh di dalam dada Marni. Namun, ada secuil rasa lega di hatinya setelah mendengar jawaban dari paraji yang memeriksanya. Namun, dari pengamatan Wening, tatapan Mbok dukun terlihat aneh. Matanya menyimpan keraguan, namun sepertinya terlalu takut untuk diungkapkan. Sedangkan Marni hanya tersenyum canggung sembari mengangguk. "Rum, ambilkan upah buat Mbok dukun!" titah Kanjeng Ibu pada pelayan kepercayaannya. Rum membawa satu ekor ayam jago, beras satu karung goni, masih ditamb
Last Updated: 2026-09-19
Chapter: 62. Sudah Berapa Lama?Disaat tatapan semua orang itu terlihat penuh penghakiman, Mbok Suti menghampiri Marni dan meraih tangannya. Menariknya untuk duduk di kursi kayu panjang berhadapan dengan Banyu. Tatapan canggung juga terjadi saat bola matanya beradu dengan manik hitam Banyu. Membuat bola mata itu bergerak liar ke sembarang arah karena gugup. "Apa aku juga harus hamil anak Juragan supaya naik pangkat?" Sebuah cibiran meluncur begitu saja dari bibir salah satu abdi yang sedang mengupas bawang. Nada dan tatapannya penuh cibiran yang membuat Marni menundukan pandangannya. "Jangan, Tin. Nasibnya tidak jelas. Iya kalau benar-benar dinikahi, kalau cuma diambil anaknya saja gimana? Jongos kaya kita mana ada harganya." Temannya ikut menimpali. Lalu tawa itu menggema di ruangan berdinding kayu tersebut. "Tin!" Suara Mbok Suti menjadi alarm berhentinya gunjingan yang terjadi di dapur. "Makan. Bagaimana nasibmu, tunggu keputusan Ndoro Besar dan Ndoro Juragan." Mbok Suti menyodorkan sepiring nasi dengan
Last Updated: 2026-09-19