Share

Bab 15

Author: Toyusa
last update publish date: 2026-07-19 12:24:09

"Mira! Buka pintunya!" suara itu berat dan berwibawa.

​Itu suara Brata.

​Mira buru-buru mengambil kemeja yang tadi ia buang ke lantai dan memakainya asal-asalan, bahkan tanpa mengancingkannya dengan benar. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia melompat dari ranjang dan membuka kunci pintu.

​Pintu terbuka. Brata berdiri di sana dengan wajah yang terlihat sangat kusut. Tatapan pria itu tajam, namun ada raut kecemasan yang mendalam di matanya. Pria itu langsung melangkah masuk dan menutup p
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Aduh Ndoro, Ini Sudah Berlebihan   Bab 18

    ​"Ayo keluar," perintah Brata mutlak.​"Mas! Kamu mau bawa dia ke mana?! Urusan kita belum selesai!" jerit Ratna tak terima melihat suaminya justru membawa pergi pelayan itu.​Namun Brata tak menoleh. Ia menutup pintu kamar utama dengan bantingan keras, meninggalkan Ratna yang menangis histeris di dalam.​Sepanjang lorong menuju dapur, Brata tidak melepaskan genggamannya dari lengan Mira. Gadis itu terus terisak pelan, bahunya bergetar hebat, memainkan peran sebagai korban yang trauma. Begitu mereka tiba di area dapur yang sepi, Brata melepaskan tangannya dan berbalik menatap Mira.​Raut wajah pria itu melunak, dipenuhi rasa bersalah yang teramat dalam. Tangannya terulur ragu, lalu dengan sangat hati-hati menyentuh puncak kepala Mira yang tadi dijambak oleh Ratna.​"Masih sakit?" tanya Brata, suaranya kini terdengar serak dan begitu pelan.​Mira meringis kecil, merendahkan pandangannya sambil mengusap sisa air mata. "T-tidak apa-apa, Ndoro... Saya yang salah. Saya ceroboh membiarkan s

  • Aduh Ndoro, Ini Sudah Berlebihan   Bab 17

    Menjelang siang, tiba waktunya Ratna meminum obat pereda nyeri dan vitamin pasca-persalinan.​Mira menyiapkan nampan berisi segelas air putih hangat dan beberapa butir pil. Sebelum melangkah keluar dari dapur, ia merogoh saku celemeknya.Di sana terdapat sebuah sapu tangan pria berwarna abu-abu gelap dengan inisial 'B.Y' di sudutnya. Itu sapu tangan milik Brata yang ia temukan jatuh di kolong meja kerja kemarin sore, saat ia bersembunyi dari amukan Ratna.​Dengan sangat sengaja, Mira menyelipkan sapu tangan itu ke dalam saku daster lusuhnya, membiarkan sedikit bagian kain berinisial itu menyembul keluar, cukup untuk ditangkap oleh mata yang jeli.​Saat Mira mendorong pintu kamar utama, suasana di dalam terasa sangat suram. Tirai tertutup rapat, dan Ratna duduk bersandar di ranjang dengan wajah ditekuk, memancarkan aura permusuhan yang kental.​"Permisi, Nyonya. Waktunya minum obat," ucap Mira lembut, melangkah masuk dengan kepala menunduk

  • Aduh Ndoro, Ini Sudah Berlebihan   Bab 16

    Kokok ayam jantan dari kejauhan membelah kabut pagi. Di ruang makan, keheningan yang mencekam menyelimuti meja, hanya suara denting sendok yang beradu dengan porselen yang terdengar.​Ratna duduk di kursi rodanya, wajahnya tampak pucat pasi dengan perban tipis di dahinya, akibat benturan kemarin. Tatapannya kosong, namun setiap kali ia melirik ke arah Mira yang sedang menyajikan sarapan, matanya akan menyipit tajam seperti silet yang siap mengiris.​Brata sendiri lebih banyak diam. Pria itu menyembunyikan tangannya di bawah meja, jemarinya terus bergerak gelisah. Ia tampak seperti seseorang yang sedang menyimpan rahasia besar di balik topeng ketegasannya.​"Mas," suara Ratna memecah keheningan, terdengar serak dan dingin. "Aku ingin pelayan ini dipecat hari ini juga."​Tangan Mira yang sedang menuang air putih ke gelas Ratna sedikit bergetar. Ia sengaja menumpahkan beberapa tetes air ke taplak meja, lalu dengan wajah ketakutan, ia segera mengambil serbet untuk membersihkannya.​"Maaf,

  • Aduh Ndoro, Ini Sudah Berlebihan   Bab 15

    "Mira! Buka pintunya!" suara itu berat dan berwibawa.​Itu suara Brata.​Mira buru-buru mengambil kemeja yang tadi ia buang ke lantai dan memakainya asal-asalan, bahkan tanpa mengancingkannya dengan benar. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia melompat dari ranjang dan membuka kunci pintu.​Pintu terbuka. Brata berdiri di sana dengan wajah yang terlihat sangat kusut. Tatapan pria itu tajam, namun ada raut kecemasan yang mendalam di matanya. Pria itu langsung melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya dengan sekali dorongan.​"Ndoro? Ada apa? Nyonya... bagaimana?" tanya Mira, berusaha memasang wajah bingung dan sedikit ketakutan.​Brata tidak menjawab. Pria itu menyapu pandangannya ke kamar yang sempit dan remang tersebut, lalu berhenti pada wajah Mira yang masih memerah dengan sisa-sisa gairah yang belum sepenuhnya sirna. Brata mendekat, memangkas jarak hingga mereka nyaris bersentuhan.​"Tadi itu... hampir saja," bisik Brata, suaranya parau dan sarat akan penyesalan yang

  • Aduh Ndoro, Ini Sudah Berlebihan   Bab 14

    ​"B–Bi Sumi..." sahut Mira gugup, refleks menundukkan kepala.​"Aku tanya, dari mana saja kamu, Nduk?!" desak Bi Sumi, melangkah mendekat dengan raut wajah mengeras. "Nyonya Ratna mengamuk keliling rumah mencarimu sampai jatuh pingsan! Dan kamu... tiba-tiba muncul dari arah lorong depan dengan baju yang kusut seperti ini. Habis dari mana kamu, hah?!"​Mira memaksakan bahunya bergetar, memanggil kembali air mata buatan yang selalu menjadi senjata utamanya.​"S-saya takut, Bi..." isak Mira, suaranya pecah dan bergetar hebat. "Waktu dengar Nyonya teriak-teriak memanggil nama saya... saya ketakutan. Saya ingat Nyonya mau menampar saya tadi pagi. Jadi... jadi saya lari ke gudang belakang, Bi. Saya sembunyi di balik tumpukan karung beras..."​Bi Sumi memicingkan mata, tak percaya begitu saja. "Gudang belakang? Lalu kenapa kamu muncul dari arah lorong ruang kerja Ndoro Brata?"​"S-saya baru berani keluar setelah keadaan sepi, Bi. Saya memutar lewat lorong depan karena pintu belakang dikunci

  • Aduh Ndoro, Ini Sudah Berlebihan   Bab 13

    "MIRA! KELUAR KAMU!" jeritan Ratna melengking, memantul di dinding ruangan.Amarah seolah mematikan seluruh saraf sakit di tubuhnya. Ratna bergerak liar di atas kursi rodanya, memutar kursi itu ke sana kemari untuk menyisir ruangan seperti orang kesetanan. Dengan napas memburu, ia menyibak tirai beludru tebal di dekat jendela secara kasar, menarik paksa pintu lemari arsip hingga engselnya berderit, lalu menendang tumpukan koran di sudut ruangan hingga berhamburan. ​"Keluar kamu, perempuan murahan! Aku tahu kamu sembunyi di ruangan ini! MIRA!!"​Di bawah meja, Mira menekan punggungnya sejauh mungkin ke sudut gelap kolong tersebut. Ia mematung, bahkan tidak berani berkedip. Keringat dingin menetes perlahan dari pelipisnya. ​"Ratna, cukup! Hentikan kegilaan ini!" Brata melangkah cepat, berusaha mencengkram lengan istrinya untuk menghentikan kursi roda itu.Wajah pria itu pias, campur aduk antara panik setengah mati dan amarah yang memuncak. "Kamu benar-benar sudah kehilangan akal sehat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status