로그인Caramel tak ingin ambil pusing dan semakin menambah beban pikiran, ia pun segera menyelesaikan tugasnya mengantarkan minuman pesanan Dirga. Caramel langsung segera kembali ke tempat bartender dan duduk sebentar di belakang ruangan.
“Kenapa wajahmu ditekuk begitu?” Andi baru saja selesai berganti seragam, setengah jam lagi ia akan bekerja untuk menggantikan shift Caramel yang sudah hampir habis. “Cuma capek aja,” jawab Caramel seadanya. Sudahlah ia lelah seharian ini bekerja dan digoda oleh banyak pria hidung belang, Caramel juga harus melihat secara langsung perselingkuhan sang kekasih. “Kalau ada masalah tuh, ngomong aja ke aku, Cara,” ucap Andi dengan nada suara lembut. “Bawel ah!” Andi hanya tersenyum saja mendengar tanggapan Caramel yang sangat ketus kepadanya. “Sudah sana, kamu ke ruang istirahat karyawan aja, disana ada kokoh,” ucap Andi dan Caramel pun hanya bisa mengangguk saja. “Ada yang lagi galau nih kayaknya,” ucap seorang pria yang sejak tadi dipanggil oleh Caramel dan juga Andi dengan sebutan Kokoh. “Enggak, Koh, lebay banget kalau sampai Cara ada drama galau segala,” ucap Caramel sambil mendaratkan bokongnya di sofa dan mengambil sebotol air mineral yang selalu disediakan di meja. “Lihatlah, kayaknya si primadona kita ini beneran lagi galau deh, nggak biasanya Caramel jadi anak yang pendiam begitu,” ujar Kokoh membuat Caramel memberikan lirikan tajam ke atasannya yang saat ini sedang dikelilingi oleh para wanita cantik yang juga bekerja di club itu sebagai wanita panggilan. “Kokoh, plis deh, ya, jangan bikin Cara emosi,” ucap Cara sambil memajukan bibirnya, ia cemberut karena diledek seperti itu oleh sang manager. Hanya Caramel seorang yang berani bersikap seperti itu kepada manajer club, sebab sikapnya yang terkadang sangat kekanakan membuat manager di club itu sudah menganggap Caramel seperti adiknya sendiri sehingga tak ada karyawan pria di club yang berani macam-macam kepada Caramel, justru mereka menjaga Caramel. “Sudah, Cara. Jika memang saat ini mood kamu sedang sangat buruk, lebih baik kamu pulang saja. Lagian, shift kerja kamu jamnya juga udah habis kan?” ucap Kokoh dan Caramel mengangguk dengan pelan. “Lagipula jam kerja kamu juga udah habis kan?” Kokoh meneguk wine yang masih tersisa sedikit di gelas. Akibat kebiasaan diri yang selalu meminum minuman seperti itu dalam ukuran yang banyak membuat manager itu nggak akan gampang KO. “Iya, Koh,” sahut Caramel walaupun dalam pikirannya ia masih memikirkan beberapa pria di depan yang sudah mengincar Caramel. Caramel tidak bisa membayangkan bagaimana respon para pelanggan disana jika Caramel sudah berganti pakaian. “Tadi pacarmu menghubungi Kokoh, katanya—” Caramel seketika mendeliki tajam. Reaksi seperti itu hanya Caramel tunjukkan membuat beberapa orang di ruang istirahat itu pun langsung terkejut. “Apa yang dia katakan?” tanya Caramel, tatapan sangat tajam gadis itu berikan kepada sang atasan. ‘Dugaanku ternyata benar. Ternyata Cara lagi ada masalah dengan Gesta,’ batin Kokoh yang sudah memiliki firasat buruk dari awal. “Tidak ada hal penting. Dia hanya menanyakan apakah kamu sudah tiba disini atau belum, hanya itu saja karena tadi Kokoh sedang sibuk banget, jadi nggak bisa angkat telepon lama-lama,” ucap Kokoh membuat semburat wajah kecewa sangat terlihat jelas di wajah cantik Caramel. ‘Ck! Bahkan dia sama sekali nggak ada efforts untuk nyamperin aku ke tempat kerjaku dan meminta maaf.’ Caramel menghela napas kasar, “Cara mau ganti baju dulu ya, Koh, habis itu pulang. Bye, Koh! Bye, Tante!” ucap Caramel pada orang-orang yang sudah ia kenal. Caramel sudah keluar dari ruang ganti. Saat ini ia mengenakan kembali kemeja putih dan juga celana cut bray berwarna krem, sangat senada dengan warna kulit Caramel yang putih bersih. Setelah keluar dari ruang ganti, Caramel melewati meja bartender dan menyempatkan diri untuk berpamitan dengan Andi. “Di, aku pamit duluan, ya. Kerjanya yang semangat!” Caramel memberikan tepukan singkat di bahu Andi sehingga pria itu pun tersenyum. “Iya, Cara. Kamu udah pesen ojek atau jalan lagi hari ini?” tanya Andi. “Jalan kaki, gajiku bulan ini kan belum cair lagi, sekarang waktunya untuk ngirit dulu,” ujar Caramel dengan senyum manis khas miliknya. “Mau aku anterin dulu nggak?” tanya Andi membuat Caramel segera memberikan tatapan sinisnya kepada sang sahabat. “Apakah kamu mau bikin si kokoh memecat kamu, Andi?” ujar Caramel sehingga Andi hanya bisa nyengir kuda saja. “Sudah, ya, aku pulang duluan. Semangat shift malamnya, ya. Kalau udah mulai ngerasa ngantuk, segera buat kopi,” ucap Caramel dengan sedikit suaranya yang agak meledek Andi. Caramel berjalan perlahan membelah banyaknya orang yang sudah memenuhi berbagai ruangan disana dengan pasangan mereka masing-masing dan juga gelas berisi minuman alkohol. Caramel juga sama sekali tidak menghiraukan semua godaan dari para om-om yang sangat tertarik dengan kecantikan dari wajah Caramel yang sangat alami. Caramel memeriksa ponselnya saat benda pipih itu terus saja bergetar, memberitahukan jika ada seseorang yang sedang berusaha untuk menghubungi Caramel. “Ibu?” gumam Caramel dan dia dengan segera mengangkat panggilan ibunya ditengah ramainya orang-orang yang sedang memilih sayuran di pasar tradisional tersebut. “Ya, Ibu? Ada apa? Maaf, Bu, Cara baru bisa menjawab panggilan Ibu, tadi Cara lagi nyebrang,” ucap Caramel. Gadis itu sangat memfokuskan pendengarannya hanya pada ponsel sebab di sekitarnya benar-benar sangat berisik sekali. “Nak, kamu hari ini nggak lembur, kan?” “Iya, Bu, Cara nggak lembur kok. Kenapa? Apakah Ibu ingin menitip sesuatu? Ibu mau makanan apa?” tanya Caramel dengan suara lembutnya. “Ini, Gesta ada di rumah, Ibu suruh tunggu beberapa menit lagi, karena Ibu tahunya kamu hari ini nggak bakalan lembur. Jadi, Ibu nggak salah ya, Nak?” ucap Ibunya Caramel membuat hati Caramel yang awalnya sudah mendingin dan mencoba untuk berdamai dengan keadaan justru malah menjadi panas kembali. Entah api dari mana dan juga pemantik api yang asalnya tidak diketahui, Caramel ingin sekali meminta ibunya untuk mengusir Gesta dari rumah mereka, namun di sisi lain Caramel juga tak ingin orang tuanya mengetahui jika hubungannya dengan Gesta yang sudah berhasil mengambil hati ibunya sedang sangat berantakan. 'Apa yang ingin dia lakukan dengan datang ke rumahku?' batin Caramel, hatinya masih tidak terima dengan perlakuan Gesta terhadap hubungan mereka.“Dean, apakah mau kita bawa masalah ini ke hukum saja?” Rey memperhatikan gerak-gerik Dean yang hanya fokus pada layar ponsel, auranya terlihat sedang marah pada suatu hal sehingga Rey berinisiatif untuk mendekat pada Dean. “Kau mendapat kabar update apa dari orang suruhanmu itu?” tanya Rey setelah berhasil mengintip sesuatu yang sedang dilihat Dean. “Aku juga tadi sempat menanyakan jadwal kegiatan Dirga untuk hari esok kepada sekretarisnya. Dia ada waktu senggang di sore hari, apakah kau mau menemui dia di antara jam 4 sampai 6?” tanya Rey dan ia masih berhati-hati memilih kalimat supaya amarah Dean tidak semakin terpancing. “Tidak perlu. Biarkan saja waktu yang memaksanya untuk meminta maaf kepadaku,” sahut Dean dan sungguhan membuat Rey sangat syok. “Kau serius, Bro?” Rey mengedipkan mata beberapa kali saking tidak menyangkanya jika Dean akan membuat keputusan seperti ini. “Ya, aku serius. Sekarang kau istirahatlah, terima kasih banyak karena sudah membantuku untuk menemukan
Caramel tersedak, ia langsung segera minum air putih, rasa sakit sekaligus panas pada tenggorokannya sangat terasa sekali, karena ia memilih seafood dengan varian saus padang. “Oh, jadi ini alasan kamu selalu memblokir nomorku dan sama sekali tidak memberikan aku kesempatan untuk menemuimu lagi, Caramel?” Caramel mengepalkan tangannya melihat pria yang teramat sangat ia benci pada kehidupan ini justru kembali lagi menampakkan wajah di hadapannya dengan urat malu yang sudah putus. “Apa? Kenapa kau memelototi aku seperti itu? Urusan kita bahkan belum pernah selesai, Cara, tapi justru kau malah sudah jalan dengan pria lain? Wahhhh, bravooo!!!!” Gesta bertepuk tangan dengan raut wajah yang sangat menyebalkan. “Urusan apa? Bukankah aku dan kamu sudah tidak punya urusan apapun? Kau urus saja jalang itu, supaya dia makin pintar merawat badan juga wajahnya agar kamu semakin terpikat!” ucap Caramel, ucapannya sangat sarkas membuat Andi dan juga Gesta sangat terkejut, karena Caramel yang se
“Kokoh ….” Caramel terdiam sebentar, karena ia tidak akan mungkin mengatakan alasan yang sebenarnya, bisa-bisa kejadian memalukan itu akan tersebar kemana-mana. Kokoh menarik Caramel supaya menjauh lebih dulu dari orang-orangnya Dean. “Maaf, Koh, Cara pikir Cara bisa mengakses CCTV, ternyata tidak semudah itu ya?” ucap Caramel, ia masih belum menemukan alasan yang pas untuk menjawab pertanyaan dari Kokoh. “Sekarang memang seperti itu, ini semua dikarenakan telah terjadi beberapa hal. Lalu, kau belum menjawab pertanyaan Kokoh yang tadi. Kenapa kamu tiba-tiba banget mau memeriksa rekaman CCTV? Kamu kan paling malas jika Kokoh suruh untuk memeriksa CCTV jika telah terjadi suatu hal. Namun sekarang …?” tanya Kokoh. “Itu hanya tentang meluruskan kesalahpahaman saja dengan pelanggan, Koh. Tapi bukan suatu hal yang sangat fatal kok,” jawab Caramel. Sebisa mungkin Caramel tidak menunjukkan wajah paniknya saat mengatakan sebuah kebohongan itu. “Jika memang hal seperti ini terjadi lagi dan
“Aku hanya bertanya saja, kenapa kamu sampai terkejut seperti itu?” Sisil menatap curiga pada Caramel, karena menganggap respon yang diberikan sahabatnya ini terlalu berlebihan, padahal pertanyaan yang sedang ia tanyakan hanyalah pertanyaan biasa yang bisa ditanyakan oleh siapa saja. “Aku sedang tidak memiliki hubungan apapun dengan lawan jenis, Sil. Memangnya ada apa? Kenapa tiba-tiba sekali malah bertanya mengenai tuan Dean?” tanya Caramel, ia bertanya dengan sangat hati-hati supaya dirinya tidak terjebak dengan pertanyaannya sendiri. “Aku ingin mengejutkan kamu begitu kamu sedang menutup pintu ruanganmu dan tidak sengaja mendengar ucapanmu tadi. Apakah kau memiliki hubungan dengan tuan Dean?” Sekali lagi Sisil bertanya dan kali ini bisa dengan segera disangkal oleh Caramel. “Tidak ada hubungan apapun. Aku menyebut nama tuan Dean hnya karena takut tidak bisa mengakses CCTV karena jabatanku disini hanyalah sebagai kepala divisi saja kan. Jadi aku sempat berpikir kalau yang bisa me
“Maaf, tapi saya sangat tidak tertarik dengan penawaran Anda!” tegas Caramel. Otot rahangnya sudah keras, ia sangat benci sekali dengan situasi dirinya selalu saja akan mendapatkan pelecehan. “Lalu, jika memang kau tidak tertarik dengan uang, kenapa pada saat malam itu kau tidak menolaknya?” ucap Dirga yang tak pernah Caramel sangka akan terucap oleh pria itu, dan disaat yang bersamaan juga Caramel menampilkan wajah pucatnya. ‘Ba-bagaimana tuan Dirga bisa mengetahuinya? Apakah akses CCTV di setiap kamar VVIP sudah bocor?’ batin Caramel. Pikirannya sudah kacau, dan ia juga mengira kalau semua rekan kerjanya pasti sudah mengetahui hal tersebut, karena Dirga saja yang bukan siapa-siapa di club itu sudah mengetahui kegiatan Caramel bersama dengan Dean, apalagi internalnya bukan? “Kenapa aku bisa mengetahuinya? Aku yakin, pertanyaann itu pasti sedang kau pikirkan, kan?” Dirga menarik pinggang Caramel sehingga tubuh keduanya sudah berhimpitan, dengan sebelah tangan Dirga yang masih meme
Semenjak Caramel bertemu dengan kedua orang tua Dean pada malam itu, ia sudah tidak melihat lagi Dean mengunjungi bar beberapa hari ini. Caramel hanya lebih sering melihat Dirga dan dua pria lainnya yang memang sudah menjadi langganan di club. Dengan keadaan yang seperti ini membuat Caramel mengambil kesimpulan jika Dean memang hanya menggunakannya untuk satu hari saja sebagai pasangan dan demi menghindari perjodohan yang ingin dilakukan kembali oleh nyonya Mariana. “Aku harus mengembalikan cincin ini kepadanya, namun sampai detik ini saja aku belum melihat dia datang mengunjungi bar. Setidaknya perasaanku akan menjadi jauh lebih tenang jika cincin mahal ini sudah aku kembalikan, daripada nantinya hilang, kan resikonya lebih besar,” gumam Caramel. Pandangannya terus mengarah ke meja Dirga, dan ternyata pria itu menyadari sorot mata Caramel.\ Setelah beberapa saat ia memperhatikan Caramel dan memastikan jika tatapan wanita itu memang mengarah kepadanya, Dirga lantas mengangkat tangam







