แชร์

Bab 117

ผู้เขียน: NACL
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-12 11:57:48

Bab 117

“Seratus juta? Dua ratus juta? Atau lima ratus juta?” Rayan bicara lagi, dan kali ini nadanya terlalu pongah sebagai pria. Ia juga geleng-geleng seakan mencemooh ucapan yang dilontarkan oleh Dhava barusan. “Segitu aja? Aku juga punya, biarpun hanya manajer di Perusahaan keluarga istriku, aku ini nggak miskin, Dhava!”

Rayan mendecak, menyembunyikan seringai dustanya pada pria yang menjadi pesaing utama dalam masa depan rumah tangganya ini. Diana merupakan asset terbesarnya, sapi perahnya, menikahi wanita itu sama dengan mendapat kebebasan finansial seumur hidup.

“Lima miliar, atau sepuluh miliar, asalkan kamu ceraikan Diana! Sekarang juga!!” Dhava mendesak Rayan, mencengkeram kerah kaus pria itu.

Dhava sadar, mungkin jika Rayan setuju dan mau, ia akan menjual seluruh saham miliknya di Perusahaan alat Kesehatan milik keluarganya. Tentu semua sebanding dengan apa yang didapatkannya, Diana—wanita itu bahkan lebih mahal dari sekadar harta. Sialnya ia baru sadar belakangan ini.

Bahk
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (1)
goodnovel comment avatar
D___Zura
yg panjang lah thor babnyaaaa
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 117

    Bab 117“Seratus juta? Dua ratus juta? Atau lima ratus juta?” Rayan bicara lagi, dan kali ini nadanya terlalu pongah sebagai pria. Ia juga geleng-geleng seakan mencemooh ucapan yang dilontarkan oleh Dhava barusan. “Segitu aja? Aku juga punya, biarpun hanya manajer di Perusahaan keluarga istriku, aku ini nggak miskin, Dhava!”Rayan mendecak, menyembunyikan seringai dustanya pada pria yang menjadi pesaing utama dalam masa depan rumah tangganya ini. Diana merupakan asset terbesarnya, sapi perahnya, menikahi wanita itu sama dengan mendapat kebebasan finansial seumur hidup.“Lima miliar, atau sepuluh miliar, asalkan kamu ceraikan Diana! Sekarang juga!!” Dhava mendesak Rayan, mencengkeram kerah kaus pria itu.Dhava sadar, mungkin jika Rayan setuju dan mau, ia akan menjual seluruh saham miliknya di Perusahaan alat Kesehatan milik keluarganya. Tentu semua sebanding dengan apa yang didapatkannya, Diana—wanita itu bahkan lebih mahal dari sekadar harta. Sialnya ia baru sadar belakangan ini.Bahk

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 116

    Hentak langkah Rayan tergesa-gesa melewati setiap undakan anak tangga. Seringai liciknya masih terukir di bibir, tangan berkulit cokelat gelapnya itu mengepal, menonjolkan urat-uratnya. Melihat istrinya dicumbu pria itu bukan lagi rasa cemburu yang menggelegak dalam dada, persetan dengan perasaan murahan itu. Logikanya justru mendorong bahwa ini salah satu bukti nyata yang tidak boleh dilewati.“Pa?” panggil Rayan, melihat pria paruh baya itu menuju ruang baca.Denver menoleh dan dahi keriputnya mengerut. “Kenapa? Diana demam tinggi lagi?”Rayan menggeleng. “Bukan, Pa. Tapi Papa harus lihat ini! Tolong ikuti saya!”“Penting?” Denver mengangkat alisnya, lalu melirik pada jam di tangannya.Rayan mengangguk tegas. “Sangat penting, Pa. Ini tentang Dhava.”Denver mengambil napas panjang sejenak sebelum melangkah mengikuti menantu pria satu-satunya di sini.Rayan memimpin Denver kembali menuju lantai dua dengan kecepatan yang membuat napas sang ayah mertua mulai memburu.Sepanjang jalan, Ray

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 115

    “Mas Dhava?” panggil Diana. Suaranya tetap tenang, tetapi sorot mata karamelnya menumpuk luka yang dalam.Dhava terpaku melihat kekasihnya yang kabur malam itu. Perlahan ia berdiri dan meraih tangan Diana. Namun, wanita itu menepis, dan menyembunyikan tangan di balik punggungnya.“Mas, mau jenguk aku? Aku udah sehat, aku nggak kenapa-napa, aku Cuma … kembung,” celoteh Diana, dan membuang wajah di akhir kalimatnya.Perasaan sesak ini datang lagi. Rasa yang sama seperti lima tahun lalu, saat tahu pria itu memilih temannya sendiri, daripada ia yang sudah sejak kecil menyukainya.“Diana?” panggil Dhava. Suaranya pelan dan tatapannya tidak lepas dari wajah lembut dan cantik itu. “Baby,” bisiknya.Tangan Dhava masih terulur, menggantung begitu saja di udara. Alih-alih menerima uluran tangan pria itu, Diana lebih memilih duduk. Tetap sama, membuang pandangannya jauh-jauh.“Aku akan menjelaskan foto itu—”Diana menyela cepat, “Kebetulan. Aku mau tanya itu. Aku tahu kalian suami istri, tapi ng

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 114

    “Ahh … itu … urusan aku, Sayang.” Renita menyeringai, menerima setiap hujaman dalam dari kemaskulinan pria itu.“Aku mau kamu pastikan ini terjadi, Dion. Aku butuh tiga minggu lagi di sini. Lakukan tugasmu sampai aku hamil!!!”Dion mengangguk di sela keringat yang menetes dan gerakan liar pinggulnya. Entah keberuntungan atau musibah bisa menikmati tubuh Renita, perempuan cantik, seorang influencer yang bahkan memberinya uang setiap bulan, sejak bertahun-tahun lalu. Hanya karena berhasil menjadikannya seorang ibu, dari anak yang tidak akan pernah bisa memanggilnya ayah.Pergumulan panas itu sampai tiga jam lamanya. Renita seakan tidak pernah puas untuk meminta lagi dan lagi. Bukan karena cinta, sebab perasaan itu hanya akan membakarnya hidup-hidup, tetapi kebutuhannya sebagai seorang wanita.“Dua hari lagi kamu langsung ke sini, nggak usah nunggu telepon dari aku, oke?” Renita cepat-cepat ke kamar mandi, membasuh keringat dari persetubuhan mereka.**Sementara itu, Dhava menyelesaikan

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 113

    “Hhhmmm,” lenguh Dhava, merasakan setiap embusan napasnya makin panas dan benaknya dipenuhi bayang-bayang Diana. Bibirnya tersenyum tipis, sambil menutupi mata dengan tangannya dari silau cahaya matahari. Merasakan pergerakan di sampingnya, senyum itu pun memudar.Meskipun kelopaknya masih tertutup rapat, bola matanya bergerak-gerak. Aroma parfum yang menyengat—yang seharusnya ia sukai, seharusnya dirindukan dan menjadi pusat hidupnya, justru … petaka yang harus ia tanggung, seumur hidupnya.“Apa kamu menikmati senggama semalam, suamiku, Madhava?” Decak kecil Renita terdengar. Kasur bergerak dan bisa Dhava dengar langkah hati-hati wanita itu.Dhava menarik napas dalam, memaksa dirinya bangun walau kepalanya berdenyut menyakitkan. Pemandangan pertama yang dilihatnya adalah langit-langit kamar yang asing. Ia buru-buru bangkit.Seketika, ia merasa tubuhnya telanjang di bawah selimut. Pikirannya kacau, diserang adegan semalam yang samar, rasa mual, dan pukulan di perut.Tidak ada keraguan

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 112

    “Silakan, Tuan.” Bartender itu menyodorkan gelas kelima ke hadapan Dhava.Dhava mengernyit, lalu pandangannya berpindah pada wajah bartender yang tidak asing, agaknya mirip dengan seseorang. Ia terkikik kecil, sepertinya minuman empat gelas Scotch ini sudah membuatnya hilang akal. Bisa-bisanya ia memiripkan orang di hadapannya ini dengan dua orang paling berharga dalam hidupnya, dunianya, setiap embusan napasnnya ….“Gila!” Dhava mendorong pelan gelas itu. Ia menggeleng lalu mengangkat tangan.Bartender itu terus saja membuat Dhava minum sebanyak mungkin. Namun Dhava menggeleng, dan berjalan sempoyongan menuju keluar.“Tunggu, Tuan. Biar saya antar,” teriak pria itu yang suaranya tenggelam dentuman musik.“Mau ke mana lu?” tanya pria bertato ular, mencegahnya.“Ini Bang.” Pria itu menunjukkan layar ponsel yang memuat kolom chat dari seseorang.“Yaudah, bawa dia! Jangan kelayapan lu, selesai, langsung balik sini!” ancam pria yang dikenal Bang Kobra itu.Dhava yang tadi sempat melangkah

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status