LOGINSontak saja genggaman kunci dari tangannya terlepas, berdenting di atas lantai. Bahkan Diana mendorong kuat bahu Dhava. Ia melompat turun dari meja. Pantulan dirinya terpatri jelas di cermin… berantakan.“Dhava?” Suara wanita yang asing di telinga Diana itu membuatnya makin panik.“Mas, aduh. Aku … aku sembunyi di mana?” tanya Diana, suaranya tercekat. Mata Diana menyapu liar ke sekeliling ruangan. Kulit wajahnya mendadak pucat pasi.Ia menarik kemejanya yang sudah terbuka sebagian, berusaha menutup belahan dadanya yang terekspos dan merapikan blusnya lagi. Jantungnya berdetak kencang hingga terasa sakit di telinga.“Sial!” Dhava mengumpat pelan, rahangnya mengeras.“Mas aku sembu—” Kata-kata itu lenyap seketika seiring gagangnya bergetar. Pintu itu seolah tidak tertutup sempurna setelah Diana terhuyung masuk, sebab Dhava terlalu terburu-buru menyergapnya dengan ciuman.Nahas, Diana baru menyadari kecerobohan mereka saat itu juga. Harusnya ia ingat, gairah Dhava memang sulit dibendung!
Sejak muda dan memang sekarang masih muda, tidak pernah ia berpikir akan diberikan benda-benda oleh seorang pria kecuali bunga, ya, karena itu menyatakan keromantisan. Namun, untuk pertama kali dalam hidup, ada pria selain keluarga memberikan barang mewah seperti ini. Terlebih itu adalah Madhava, suami orang, yang selama ini ia nikmati kehangatannya.Tidak! Diana bersama pria itu bukan karena butuh materi, ia masih mampu untuk bekerja, mencari uang untuk memenuhi keinginannya sendiri. Bisa jadi uang membeli mobil itu nafkah milik Renita dan anak-anak mereka.Tidak ada sahutan apa pun dari dalam membuat wanita itu impulsif membuka pintunya saja, mumpung masih sepi semua ini harus diselesaikan, sekarang juga!Ketika ia mendorong gagangnya, pintu itu ternyata sudah dibuka dari dalam. Sontak saja Diana terhuyung ke depan dan terpekik, “Akh!”Kedua tangannya pun siap menopang bobot tubuhnya pada kedua kursi di hadapannya. Namun, ia lebih dulu mendarat di pelukan Dhava yang meraih pinggulnya
Bab 99Tangan Diana gemetaran memegang kunci mobil dan kartu hitam itu. Ia sadar menjadi pusat perhatian timnya dan Rayan yang mungkin mendekatinya saat ini. Namun, ia tidak peduli, dan terasa berat untuk mengabaikan semua ini.Ia mengangguk pada Sales Andi. "Boleh saya mencobanya sebentar?"Andi, si sales, tersenyum lega. Setelah mendapatkan persetujuan, Diana melangkah dan membuka pintu SUV yang wangi mobil baru. Ia duduk di jok kemudi yang mewah. Diana menarik napas, tangannya gemetar memegang setir. Rose Gold. Warna yang sangat 'Diana banget'. Pria itu selalu tahu cara memanjakannya, tetapi juga tahu cara melukainya.Perlahan, Diana membuka kartu ucapan hitam bertuliskan gold. Matanya terpaku pada tulisan tangan Dhava yang tegas.[Diana-ku. Jangan pernah takut untuk maju. — D.]Diana tersenyum getir, "Jang pernah,takut untuk maju ...."‘Aku lebih butuh kamu, Mas,’ batinnya tanpa sadar.Diana segera keluar dari mobil. Ia lantas menyerahkan kunci itu pada sales. “Tolong antarkan mobi
Beberapa menit sebelumnya, tubuh Renita yang menggigil nyaris roboh di toilet. Isi kepalanya mulai berhalusinasi, ada Dhava yang sedang mencumbu Diana tepat di hadapannya. Ia tertawa dan melempar tas kecilnya, hingga isinya berhamburan. Saraf-sarafnya pun menjadi nyeri.Tidak tahan lagi, Renita memungut ponselnya yang tergeletak di atas lantai. Ia menekan nomor Rayan lagi, tetapi tidak diterima.“Arghh!” teriak Renita dengan suara tertahan. Kesal bercampur nyeri pun membawa jemarinya menghubungi nomor Dhava.Tersambung.“Dhava, aku mau pulang. Badanku sakit. Cepat ke toilet wanita!!!” perintah wanita itu penuh tuntutan."Kamu kenapa? Tenang. Tunggu aku!" Hanya kata-kata itu yang terdengar dari mulut Dhava.Tidak lama kemudian Dhava menyisir toilet wanita sambil memanggil-manggil Renita. Wanita itu sengaja menyeringai dan bergumam, “Lihat, Diana, aku tetap prioritasnya! Kamu bakal kalah!”Untuk mempercepat Dhava membawanya pergi, Renita mengetuk sepatunya pada pintu. Dengan cepat pintu
Renita yang duduk di jajaran VIP, membaca pesan rekannya dengan mata berkilat penuh dendam. Bibir berperona merah menyala itu mengatup rapat. Napasnya memberat seiring dengan lamanya Dhava kembali entah dari mana. Namun, ia yakin suaminya itu menghampiri Diana, di sana, di balik stage.[Gagal gimana, sih?] balas Renita cepat. Matanya menatap awas ke arah karpet merah.[Gaun yang kita rusak. Itu memang rusak. Tapi Diana punya cadangannya.]Membaca barisan kalimat itu, amarah Renita memuncak seketika. Padahal sebelumnya Rayan bilang hanya ada satu gaun yang akan digunakan pada penutup acara, sekarang Diana memiliki penggantinya juga?Renita mendengkus. Lalu berdiri, ia masuk toilet. Kegelisahan menyambar dan membuatnya berulang kali menggosok-gosokkan telapak tangannya dan tubuhnya bergoyang-goyang. Ia membutuhkan lebih dari sekadar penyokong penenang.Renita menghubungi Rayan.Sekali di-reject.Dua kali di-reject.“Bangsat, Rayan!!!” Napasnya menderu cepat. Jika acara show ini sesuai p
Tidak pernah disangka, akhirnya akan seperti ini. Diana tahu sebagai pendatang baru, tentu banyak yang tidak menyukainya. Apalagi menurut para customer kalau mereka mendapat pelayanan kurang di butik lain yang pernah langganan, itu menjadi poin penting bagi Diana. Namun, setidak suka itu kah mereka padanya? Padahal ia tidak pernah mengusik siapa pun, dan jalannya lurus.Sekarang, tatapan Diana pada asistennya bukan hanya penuh harap, tetapi juga menghujam tajam.Hingga Dita mundur selangkah merasakan hal itu. Ia menelan ludah dengan susah payah. Belum lagi Dhava yang kini memusatkan perhatiannya pada Dita.“Siapa? Ada orang yang mencurigakan masuk butik?” tanya Dhava, suara beratnya, tatapannya, dan gestur tubuhnya benar-benar membuat seseorang terpojok.Dita buru-buru menggerakkan kedua tangannya. Ia harus menenangkan kedua orang ini.“Bu—bukan, Pak, Bu.” Dita menatap lekat pada atasannya. “Bu, gaun pale mint itu … Ibu ingat?” bisiknya.Tercenung sejenak mendengar ucapan Dita, Diana







