Mag-log inDi dalam kamar, Hanna duduk di tepi ranjang, tangan menekan dadanya. Nafasnya tidak beraturan, seolah jantungnya berlari tanpa henti.
“Aku harus mencari jalan keluar,” gumamnya lirih, hampir seperti meratap pada dirinya sendiri. “Aku sebentar lagi menikah dengan Ryan. Aku tidak bisa terus-terusan menunjukkan reaksi memalukan ini setiap kali bertemu Profesor Liam…”
Ia meremas ujung selimut, mencoba meyakinkan diri. Ia harus berpikir jernih, harus mencari cara agar pengaruh implan KB itu tidak terus menguasai tubuhnya. Tapi bagaimana mungkin? Implan itu diciptakan untuk menancap kuat pada sistem biologis, menyatu dengan darah dan syaraf. Dan ironisnya—orang yang paling tahu cara mengatasinya justru adalah orang yang membuatnya.
“Seharusnya Liam tahu caranya…” bisiknya. “Tapi… kalau aku terus memikirkannya… aku bisa gila.”
Lamunannya buyar oleh suara ketukan di pintu. Hanna langsung menegakkan tubuh, rasa panik menyelusup. Ia melangkah pelan, membuka pintu hanya sedikit, cukup untuk mengintip keluar.
“Ada apa?” tanyanya dingin, berusaha terdengar kuat.
Profesor Liam berdiri di ambang pintu, tersenyum tipis. Tatapan matanya dalam, menyiratkan sesuatu yang Hanna tak ingin tafsirkan. Ia tidak menjawab segera, tapi sorot matanya jelas mengatakan bahwa ia ingin masuk.
“Bicara di sini saja,” Hanna cepat memotong, menahan pintu dengan tubuhnya.
Liam menggeleng pelan, nada suaranya rendah tapi tegas. “Mau diskusi jalan keluar.”
Kata-kata itu membuat Hanna terdiam. Akhirnya, dengan enggan, ia membuka pintu lebih lebar. Namun refleksnya menoleh ke kanan dan kiri, memastikan tak ada seorang pun yang melihat Profesor muda itu masuk ke dalam kamarnya.
Begitu masuk, Liam tidak meminta izin, tidak bertanya. Ia melangkah dengan sikap otoriter, seolah kamar itu adalah wilayah kekuasaannya sendiri. Kehadirannya mendominasi ruangan sempit itu, membuat udara seakan lebih padat, lebih berat, hingga Hanna sendiri sulit bernafas.
“Diskusi jalan keluar?” Hanna menutup pintu di belakang mereka, tubuhnya kaku menahan ketegangan. “Kalau begitu, katakan. Bagaimana caranya? Apa aku harus hidup seperti ini selamanya—dengan tubuhku bereaksi setiap kali dekat denganmu?”
Nada suaranya terdengar getir, seperti permohonan yang dibungkus amarah.
Liam berdiri tegak di tengah kamar, menyilangkan tangan di dada. Tatapannya tajam, tapi tidak tergesa. “Hanna… kau pikir aku sudah punya jawabannya?”
Hanna menatapnya penuh kejengkelan. “Kamu yang menciptakan implan ini! Kamu Kepala Biro Kependudukan! Bukankah seharusnya kamu tahu setiap celahnya, setiap kelemahannya?”
Untuk pertama kalinya, Liam terdiam sejenak. Senyumnya tipis, lebih menyerupai pengakuan getir daripada kesombongan. “Kasusmu… yang pertama. Tidak ada catatan sebelumnya. Tidak ada teori. Tidak ada simulasi yang memprediksi reaksi sekuat ini. Karena aku tidak pernah menyangka hal seperti ini bakalan terjadi.”
Hanna melangkah mendekat, matanya berkilat penuh tuduhan. “Jadi maksudmu… aku percobaan? Aku satu-satunya bukti bahwa sistemmu cacat?”
Liam menatapnya tanpa bergeming. “Bukan…bukan cacat, Hanna. Kau justru anomali… dan aku ingin tahu kenapa.”
Hanna memukul dadanya dengan kepalan tangan, menahan desiran tubuh yang kian sulit dikendalikan. “Kalau orang lain tahu, kariermu berakhir! Kamu bisa kehilangan jabatanmu, bahkan bisa dianggap menyelewengkan sistem untuk kepentingan sendiri.”
Tapi Liam hanya tersenyum miring, sama sekali tak menunjukkan rasa takut. “Kalau ketahuan… mungkin. Tapi aku tidak menyesal. Aku ingin tahu sampai sejauh mana implan ini bekerja. Dan kenapa tubuhmu—dan tubuhku—bereaksi seperti ini.”
“Terkadang sebuah kelemahan dalam sistem bisa menciptakan penemuan yang lebih dahsyat, Hanna”
Hanna menelan ludah, tubuhnya semakin tegang. Ia bisa merasakan tatapan Liam bukan sekadar ilmuwan, tapi juga lelaki yang terjerat sensasi sama dengannya.
Dalam hati kecilnya, Hanna tau kalau Liam tidak gentar pada risiko.
“Aku tidak mau jadi bahan percobaanmu, Profesor,” Hanna bersuara serak, penuh amarah bercampur rasa takut. Ia menunjuk ke arah pintu dengan tangannya yang bergetar. “Keluar. Sekarang juga.”
Liam tidak bergerak. Tatapannya tetap menancap dalam ke arah Hanna, membuatnya merasa telanjang meski masih berpakaian.
“Hanna…” suaranya tenang, nyaris seperti bisikan yang berbahaya. “Kamu pikir hanya tubuhmu yang bereaksi? Lihat aku.” Ia mengangkat tangannya, menggenggam erat seakan menahan sesuatu dalam dirinya. “Aku juga merasakannya. Sama kuatnya. Dan ini… bukan sesuatu yang bisa kutekan dengan logika.”
“Berhenti bicara begitu!” Hanna mundur selangkah, punggungnya hampir menempel ke dinding. “Aku akan menikah dengan Ryan. Aku tidak boleh—aku tidak bisa—terus berada di dekatmu.”
Liam melangkah maju, menghapus jarak di antara mereka. Setiap langkahnya terasa seperti tekanan tak kasatmata yang menjerat tubuh Hanna.
“Kamu bisa mengusirku dari kamar ini,” bisik Liam, suaranya tajam tapi hangat. “Tapi bisakah kamu mengusir reaksi tubuhmu setiap kali aku mendekat? Atau…” ia berhenti sejenak, matanya menyipit dengan minat ilmiah bercampur gairah, “…bisakah kamu mengusir rasa candu yang mulai menjalari tubuhku sendiri?”
Hanna terdiam. Bibirnya terbuka, tapi tidak ada kata keluar. Ia ingin mendorongnya, menamparnya, apa saja. Namun tubuhnya membeku, berkhianat pada niatnya sendiri.
Liam mencondongkan tubuh, cukup dekat hingga Hanna bisa merasakan hembusan napasnya. “Kamu takut kebablasan, bukan?” tanyanya lirih. “Takut permainan ini menyeretmu lebih dalam. Tapi mungkin… justru di situlah jawabannya.”
Hanna menggertakkan giginya, berusaha menyalakan kembali sisa-sisa logika. Dengan sisa tenaga, ia mendorong dada Liam. “Keluar!” suaranya pecah, hampir seperti teriakan.
“Aku sudah mengkhianatinya sekali… tolong… jangan membuatku menjadi perempuan jahat,” Hanna memohon, suara lirihnya pecah di antara ketegangan. Namun tubuhnya bereaksi lain, bergetar setiap kali disentuh Profesor Liam. Sensasi itu justru membuatnya semakin rapuh.
“Ah… Profesor… tolong…” desahnya tak terkendali.
Liam menunduk sedikit, matanya menelisik wajahnya. “Tolong?” ulangnya pelan, seolah mengejek sekaligus menguji.
“Kenapa aku tidak bisa menolakmu… tolong… kita tidak boleh melakukan ini…” Hanna berusaha meraih sisa-sisa logikanya, tapi suaranya terdengar lebih seperti rintihan daripada perlawanan.
Liam mendekatkan wajahnya, bibirnya hampir menyentuh telinga Hanna. “Bukan kita, Hanna,” bisiknya penuh tekanan. “Ini adalah tubuh kita.”
Hanna terpejam, hatinya menolak, tapi tubuhnya berkhianat—membiarkan desiran itu menguasai setiap inci dirinya. Dan Liam, alih-alih mundur, justru larut dalam paradoks yang mereka ciptakan sendiri.
Liam semakin mendekat. Langkahnya pelan, tapi pasti—seolah setiap jarak yang hilang di antara mereka menarik seluruh udara keluar dari ruangan.
Hanna mundur satu langkah, tapi punggungnya sudah menempel di dinding.
Napasnya cepat, dadanya naik-turun tak beraturan.
Liam berhenti tepat di depan wajahnya.
Begitu dekat hingga Hanna bisa mencium aroma sabun di kulitnya, bisa merasakan hangat napasnya menyentuh pipinya.
Ada sesuatu di mata pria itu—campuran logika yang retak dan keinginan yang terlalu manusiawi.
“Hanna…” suaranya nyaris seperti bisikan.
Tangannya terangkat, menyentuh sisi wajah Hanna. Ia memiringkan kepala, jarak di antara mereka tinggal sehela nafas—
Perjalanan dengan kereta tua itu terasa abadi. Dalam kegelapan mutlak di luar jendela, waktu kehilangan maknanya. Hanya getaran rel dan suara mesin yang sudah tua menjadi pengingat bahwa mereka masih bergerak. Liam duduk di sebelah Hanna, memeluknya erat, mencoba memberikan kehangatan di tengah udara bawah tanah yang lembap dan dingin.Hanna tertidur sebentar, kelelahan. Dalam tidurnya, mimpi-mimpi aneh menyergap. Dia melihat ladang luas dengan tanaman yang bersinar lembut dalam gelap, langit penuh bintang yang tidak pernah dia lihat di Valthera, dan sekelompok orang dengan mata yang memancarkan kearifan dan kesedihan yang dalam. Di tengah mereka, ada sebuah kolam air jernih, dan dari kolam itu, dia mendengar sebuah panggilan—lembut namun mendesak.Dia terbangun dengan napas tersengal. Kereta mulai melambat."Kita hampir sampai," kata Liam, menatap peta hologram dari datachip. "Ujung jalur. Dari sana, kita harus berjalan kaki menuju permukaan."Kereta berhenti dengan hentakan. Pintu t
Terowongan di bawah stasiun penelitian tua itu lembap dan berbau tanah. Lampu-lampu darurat kuning tua yang jarang menyala memberikan penerangan suram, memperlihatkan akar-akar tanaman yang menyusup melalui retakan beton. Suasana di antara mereka tegang, namun sunyi. Kabar dari Vance masih menggema di kepala mereka, meninggalkan rasa pahit dan keraguan.Liam berjalan di depan, memegang senter kecil dari data chip yang diberikan Vance—ternyata perangkat itu juga berfungsi sebagai pemandu. Peta holografik kecil memancar dari ujungnya, menunjukkan jalur labirin di bawah tanah yang rumit.Hanna berjalan pelan, tangannya berpegangan pada dinding yang dingin untuk keseimbangan. Perutnya semakin berat, dan setiap langkah terasa seperti usaha. Tapi bukan fisiknya yang paling sakit. Pikiran tentang dirinya yang mungkin hanya "subjek" dalam eksperimen ayahnya sendiri, bahwa pertemuannya dengan Liam bukanlah kebetulan… itu seperti pisau yang memutar-mutar di dalam dadanya."Liam," ucapnya akhirn
Vance mengangguk pelan, mengakui. "Genesis adalah segalanya bagi Valthera. Dan anakmu... dia adalah lompatan evolusioner yang tidak terduga. Dewan tidak bisa mengabaikannya.""Jadi kau di sini untuk membawa kami kembali? Sendirian?" tantang Liam."Tidak," jawab Vance. Dia memandang ke arah kendaraan, seolah bisa menembus kaca gelap dan melihat Hanna. "Aku di sini untuk memberitahumu sesuatu. Sesuatu yang tidak tercatat dalam arsip resmi."Liam diam, waspada."Proyek Genesis memiliki banyak cabang, Liam. Salah satunya, yang dijalankan diam-diam oleh Alderic setelah dia mengambil alih, adalah 'Proyek Kaledoskop'. Mereka tidak hanya memilih gen terbaik. Mereka juga... menguji kompatibilitas. Mencocokkan profil genetik tertentu untuk menghasilkan kombinasi yang tidak hanya unggul, tetapi juga terkendali."Liam merasa tengkuknya dingin. "Apa maksudmu?""Hanna bukanlah wanita sembarangan yang kau temui, Liam. Dia adalah salah satu dari sedikit subjek dalam program itu. Profil genetiknya dip
Kendaraan melaju dengan cepat meninggalkan pinggiran Valthera, menuju wilayah pertanian terkontrol di luar perimeter kota. Di dalam kabin yang sunyi, hanya terdengar desir mesin dan napas berat mereka.Ada perasaan tidak nyaman dalam diri Hanna, bukan hanya karena kehamilannya tapi banyak hal lain yang menyusup dan memenuhi ruang pikirannya.Liam menatap lurus ke jalan yang gelap, namun pikirannya berkelana jauh ke masa lalu. Kenangan yang selama ini dia kubur bangkit dengan pahit."Dulu," ucap Liam tiba-tiba, suaranya berat memecah kesunyian, "Profesor Alderic, ayahmu Hanna, dan Profesor Julian O'Hara, ayahku, adalah sahabat sekaligus rival. Mereka adalah pionir Proyek Genesis."Hanna memalingkan wajahnya dari jendela, mendengarkan. Persahabatan antara Alderic dan Julian O’hara tetanus aja Hanna tahu."Genesis awalnya bukan tentang menciptakan manusia unggul. Itu adalah proyek medis raksasa untuk memberantas penyakit genetik dan kelaparan. Ayahku fokus pada rekayasa genetika tanaman
"Bukan dia. Tapi kita bisa memanfaatkan koneksinya." Liam menoleh padanya. "Saat di rumah, dia mematikan listrik lokal. Di sini, dengan akses langsung ke inti server… kita bisa mengarahkan… dorongan neuralnya untuk melakukan sesuatu yang lebih besar. Sesuatu yang akan mengacaukan semua sistem pelacakan di Valthera, setidaknya untuk sementara.""Liam, itu terlalu berisiko! Kita tidak tahu batas kemampuannya!" protes Hanna."Kita juga tidak tahu batas ancaman terhadapnya, Hanna!" balas Liam. "Mereka tidak akan berhenti. Sekarang mereka tahu apa yang bisa dia lakukan, mereka akan mengerahkan segala sumber daya untuk mendapatkan kalian berdua. Ini satu-satunya cara untuk memastikan kita punya waktu bernapas."Sebelum Hanna bisa membantah, suara metalik menggema di koridor. Pintu baja tempat mereka masuk tiba-tiba terbuka dengan paksa. Di sana, berdiri Inspektur Mara dengan beberapa orang pasukan khusus, senjata mereka terhunus."Berhenti, O'Hara!" teriak Mara. "Langkah menjauh dari konsol
Terowongan layanan itu seperti urat nadi yang terlupakan di bawah tubuh Valthera yang berkilau. Dindingnya terbuat dari beton polos, dipenuhi kabel-kabel dan pipa-pipa yang berdesis lembut. Cahaya dari lampu kecil kendaraan mereka menerobos kegelapan, membuat bayangan-bayangan panjang menari-nari dengan liar.Liam mengemudi dengan penuh konsentrasi, nalurinya sebagai seorang yang mengenal tiap inci kota ini membimbingnya. Namun, ketegangan mengeras di pundaknya. Mereka belum aman. Jauh dari itu."Liam," bisik Hanna, suaranya parau. "Dia... dia tenang sekarang. Seperti tertidur.""Kelelahan," gumam Liam. Mengeluarkan energi seperti itu pasti menguras si kecil. Rasa khawatir yang baru menyergapnya—apa konsekuensi dari ledakan kekuatan seperti itu bagi janin yang masih berkembang? Tapi mereka tidak punya waktu untuk memikirkannya sekarang.Tiba-tiba, lampu kecil di dasbor kendaraan berkedip lalu padam. Mesin listrik yang nyaris tanpa suara itu merintih pelan, lalu kehilangan daya. Kendar







