MasukEsok harinya, Hanna datang lebih awal ke kediaman Profesor Julian O’Hara. Ia terlebih dahulu menghampiri ibunya, Lily, sebelum menyapa ayah tirinya.
Profesor Julian O’Hara dikenal sebagai tokoh penting yang mempelopori teknologi pangan di Valthera. Berkat jasanya, negara itu memiliki ketahanan pangan yang kuat. Sayangnya, Valthera justru menghadapi masalah krisis populasi.
Untuk mengatasinya, pemerintah memberlakukan sistem Alarm KB—sebuah implan yang dipasang sejak lahir dan diaktifkan saat perempuan berusia tujuh belas tahun. Di usia itu pula mereka akan dijodohkan berdasarkan kecocokan DNA, demi menghasilkan generasi dengan kualitas terbaik. Sistem ini memang melahirkan banyak “generasi emas” yang membuat Valthera bangga.
Namun, sistem tersebut tetap menyimpan kelemahan. Salah satunya, banyak orang tumbuh tanpa mengenal emosi bernama cinta atau kasih sayang. Tingkat perceraian pun tinggi. Inilah yang kemudian menjadi fokus penelitian Hanna dalam tugas akhirnya, syarat terakhir kelulusannya.
“Hanna, kamu harus berterima kasih pada Julian yang sudah mengadakan acara makan malam ini,” ucap Lily.
“Tuan Julian, terima kasih!” Hanna membungkukkan badan dengan sopan.
“Jangan sungkan, Hanna. Aku mencintai ibumu, tentu saja aku juga harus menerimamu sebagai putriku,” jawab Julian hangat.
Hanna memang sangat berterima kasih pada ayah tirinya itu. Hanya sebulan setelah menikahi ibunya, Julian langsung mengadopsinya agar ia bisa menyandang nama belakang O’Hara. Dan kini, di usia pernikahannya yang masih muda, Julian pula yang mengadakan makan malam untuk mempertemukan Hanna dengan calon suaminya—match yang sudah ditentukan berdasarkan kecocokan DNA.
Tak lama kemudian, sosok lain muncul. Sosok yang membuat darah Hanna berdesir setiap kali berdekatan dengannya. Dengan langkah penuh kharisma, dingin, dan berwibawa, Profesor Liam masuk ke ruangan. Tak ada yang tahu siapa dirinya sebenarnya, kecuali Hanna yang sudah melihat sisi lain lelaki itu.
“Hanna, ini putraku. Dia juga seorang profesor, meraih gelar doktor di usia dua puluh satu tahun,” ujar Julian sambil melambaikan tangan ke arah Liam.
Pria itu tersenyum tipis. “Kami sudah pernah bertemu…”
“Di forum diskusi, berkaitan dengan tugas akhirku!” Hanna cepat menyahut, memotong kalimat Liam sebelum lelaki itu sempat menyinggung peristiwa semalam.
“Iya, tentu. Kami berdebat panas sekali waktu itu. Kalau saja aku tahu kamu adik tiriku, mungkin aku akan sedikit lebih lunak,” timpal Liam, membuat Julian dan Lily tertawa.
“Itu sebabnya aku menyuruhmu pulang, agar kamu mengenal keluargamu. Ini Lily, istri baruku, dan Hanna, putrinya.”
Liam menyalami Lily dengan sopan. “Anda sangat cantik. Pantas saja Ayah saya tergila-gila.”
“Seorang profesor yang disegani ternyata pandai juga memuji,” jawab Lily sambil tersenyum.
Kemudian Liam beralih pada Hanna. “Dan… Hanna, aku harap kita bisa menjadi saudara yang dekat,” ucapnya sambil meremas tangannya.
Sekejap tubuh Hanna hampir limbung oleh reaksi alami yang tak bisa ia kendalikan. Untung saja keluarga calon suaminya datang, membuat Liam terpaksa melepaskan tangannya dan berhenti menggodanya.
Acara perkenalan berlangsung hangat. Calon suami Hanna, Ryan Kelly, berasal dari keluarga pengusaha sukses. Kesan pertama Hanna terhadap Ryan cukup baik—ia tampak sopan dan penuh hormat.
Namun sepanjang makan malam, hati Hanna tak tenang. Tatapan Liam terus menempel padanya, seolah meneliti gerak-geriknya.
Hanna berusaha tersenyum dan menjawab dengan sopan setiap kali Ryan atau keluarganya mengajaknya bicara, tapi di dalam dirinya ada dua pertempuran yang berlangsung bersamaan— menjaga kesan baik di depan calon suaminya, dan menahan gejolak tubuhnya setiap kali mata Liam menembus dirinya, seperti seorang peneliti yang sedang mengupas lapisan jiwa terdalamnya.
Ryan memperhatikan diam-diam. Hanna tampak sedikit gelisah, meski ia mencoba menutupinya dengan sopan santun. Ryan menafsirkannya lain—ia mengira Hanna gugup karena ini adalah pertemuan pertama dengan keluarga besarnya. Dalam hati, Ryan justru merasa tersentuh. Jika gadis ini tampak rapuh, dan ia ingin menjadi orang yang bisa membuat Hanna merasa aman.
“Kalian berdua sebaiknya menginap. Oh iya… Hanna, aku harap putraku tidak membuat kekacauan di apartemenmu kemarin malam. Pulang dari bandara dia tidak langsung ke sini, katanya capek, jadi aku berikan kode akses apartemenmu,” ucap Julian.
Sejenak wajah Hanna menegang, jantungnya berdebar cepat. “Ng… nggak kok. Kebetulan weekend ini aku ada di asrama untuk persiapan kelulusan,” jawabnya gugup.
Liam tersenyum tipis, menoleh sekilas ke arah Hanna. Senyum itu bukan sekadar basa-basi; ada sesuatu di balik tatapannya, semacam undangan berbahaya yang hanya bisa dimengerti mereka berdua. “Kekacauan seperti apa yang Ayah maksud?” sahutnya ringan, namun nadanya seolah menggoda.
Bibir Hanna hampir kaku, tubuhnya menegang. Ia tahu betul bahaya di balik kalimat itu. Bahaya yang membuatnya takut, sekaligus candu.
“Kamu tahu… apartemen perempuan itu biasanya sangat rapi,” Julian menimpali sambil tertawa kecil.
“Ng… nggak apa-apa kok. Nggak masalah kalaupun berantakan. Setiap pulang ke apartemen aku selalu beres-beres,” Hanna cepat-cepat menambahkan, berusaha menutup celah.
“Kalau perlu, aku akan membantumu,” Liam menyahut, kali ini dengan nada yang lebih berat, separuh main-main, separuh serius.
“Tidak perlu. Aku tidak butuh bantuan,” Hanna buru-buru memotong, nada suaranya tegang.
“Kita saudara, Hanna.” Ucapannya sederhana, tapi langkah Liam berikutnya membuat napas Hanna tercekat. Ia menepuk bahu Hanna, lalu membiarkan tubuhnya sedikit condong ke arahnya.
Sekejap, aliran panas menjalari tubuh Hanna. Aroma tubuh Liam begitu dekat, terlalu dekat, membuat darahnya berdesir liar. Setiap syarafnya berteriak ingin menjauh, tapi tubuhnya tak mendengar logika. Sensasi itu seperti jebakan manis, membuatnya takut sekaligus terperangkap.
Dan Liam… ia pun tak luput dari jerat yang sama. Awalnya ia hanya berniat menggoda, tapi kini ia bisa merasakan sesuatu yang asing—rasa candu yang menyergap tiap kali Hanna begitu dekat. Tubuhnya merespons tanpa bisa ia kendalikan, membuat pikirannya bergetar. Ia, si jenius yang selalu percaya pada logika, justru kehilangan kendali di hadapan seorang gadis yang seharusnya ia anggap adik tiri.
Tatapan Liam mengeras, berusaha menyamarkan gejolak itu, tapi sudut bibirnya tetap terangkat. Ia menikmati ketegangan ini. Ia menikmati bagaimana Hanna gemetar, meski di balik itu dirinya pun sedang diguncang oleh sensasi yang sama.
Hanna berdiri kaku, menahan diri sekuat tenaga agar tidak terlihat rapuh. Ia tidak tahu siapa yang lebih berbahaya saat itu — Liam, atau dirinya sendiri.
Karena ketika suara langkahnya mundur satu kali, Liam justru maju satu langkah.
Dan dalam jarak yang hanya tersisa napas, Hanna sadar — kalau ia tetap diam satu detik lagi, semuanya akan berakhir dengan cara yang tak bisa ia tarik kembali.
Hanna sampai di pelaminan. Lily menempatkan tangan Hanna di tangan Liam, lalu mencium pipi keduanya sebelum bergabung dengan lingkaran. Leo diangkat oleh Kaela untuk menyaksikan dari barisan depan.Jujur saja, sebenarnya moment ini sangat mendebarkan.Elian melangkah maju. Suaranya yang dalam dan tenang mengisi keheningan yang khidmat."Kita berkumpul hari ini bukan hanya untuk menyatukan dua insan, tetapi untuk merayakan sebuah pilihan. Pilihan untuk mencintai di tengah ketidakpastian, untuk membangun di atas puing-puing, dan untuk percaya pada ikatan yang lebih kuat dari semua rekayasa."Dia menoleh kepada Liam dan Hanna. "Liam, Hanna, kalian telah melalui api ujian dan datang ke sini, lebih kuat dan lebih jelas tentang apa yang penting. Apakah kalian datang dengan bebas dan dengan sepenuh hati untuk menyatukan hidup kalian?""Ya," jawab mereka berdua serentak, suara mereka mantap.Elian mengulurkan sebuah tali yang terbuat dari tiga helai serat berbeda: satu dari akar Pohon Kehidup
Musim dingin pertama di Oasis datang dengan kelembutan. Salju turun jarang, hanya memberi lapisan tipis seperti gula halus di atap-atap kayu dan dedaunan Pohon Kehidupan yang tetap berkilauan dengan cahaya perak kehijauannya. Di dalam pondok, kehangatan dari perapian dan cinta membuat udara terasa nyaman.Suatu malam, setelah Leo tertidur dengan pipi merah merona, Hanna dan Liam duduk berhadapan di dekat api. Liam memegang tangan Hanna, jempolnya mengusap-usap cincin sederhana dari anyaman akar willow yang dia buat sendiri."Kita bicara tentang pernikahan sejak di Rensfold," kata Liam, suaranya rendah dan penuh arti. "Lalu semuanya kacau. Kita dikejar, ketakutan, melahirkan dalam pelarian... dan kemudian kita punya waktu bernapas di sini."Hanna tersenyum, matanya berbinar diterpa cahaya api. "Dan sekarang?""Dan sekarang," Liam menghela napas, tapi senyum kecil mengembang di bibirnya, "aku melihat data terbaru dari Valthera."Hanna mengerutkan kening. "Data?""GAIA sukses besar. Keta
Kertas dari Julian O'Hara terbentang di atas meja kayu, diterangi cahaya matahari pagi yang hangat. Liam memandanginya bukan sebagai seorang ilmuwan yang menganalisis data, tetapi sebagai seorang anak laki-laki yang akhirnya mendapat pesan dari ayahnya. Sketsa lingkaran-lingkaran yang saling bertautan itu bukan sekadar diagram; itu adalah sebuah puisi visual, sebuah visi yang diwariskan.Elian, yang diundang untuk melihatnya, berdiri di samping Liam, jari-jarinya yang keriput menelusuri garis-garis tinta. "Ini… ini adalah jantung dari Pohon Kehidupan," gumamnya, takjub. "Tapi lebih dari itu. Ini adalah cetak biru untuk sebuah ekosistem yang sadar dan saling terhubung. Ayahmu melihat lebih jauh dari sekadar genetika tanaman. Dia melihat pola kesadaran itu sendiri."Hanna, sambil mendukung Leo yang sedang aktif bergerak di pangkuannya, bertanya, "Apa artinya bagi kita? Bagi Oasis?"Liam menghela napas, mengumpulkan pikirannya. "Artinya, kita tidak hanya bisa bertahan hidup di sini. Kita
Hembusan angin musim gugur membawa udara segar beraroma daun kering ke dalam rumah pondok. Hanna sedang duduk di lantai, mengawasi Leo yang asyik menjelajahi mainan-mainan kayu buatan tangan. Liam sibuk di meja kecilnya, mempelajari catatan tanaman dari para tetua Oasis. Suasana tenang itu tiba-tiba pecah saat Lily, yang biasanya lebih banyak diam, menarik napas dalam dan berkata dengan suara penuh keyakinan:“Aku ingin bertemu dengan Julian.”Hanna menoleh, pandangannya bertemu dengan mata ibunya yang berkilat. “Mama…,” bisiknya, tahu betul kompleksitas dan risiko permintaan itu.“Aku tahu, Sayang,” ujar Lily sebelum Hanna menyelesaikan kalimatnya. “Tapi dia masih suamiku. Secara hukum, secara hati. Dan setelah semua yang terjadi… setelah mengetahui tentang Leo… aku merasa dia berhak tahu. Bahwa ada secercah cahaya dari garis keturunan O’Hara yang terus bersinar.” Tangannya gemetar saat membetulkan kerudungnya. “Ini bukan hanya tentang Julian. Ini tentang memberikan penutup… atau mu
Waktu berlalu dengan lembut di Oasis. Musim panas beranjak menjadi musim gugur yang sejuk. Daun-daun di pohon-pohon sekeliling lembah berubah menjadi kanvas merah, emas, dan jingga yang memukau. Leo tumbuh dengan cepat, dari bayi merah yang selalu tertidur menjadi bayi montok yang penuh rasa ingin tahu. Matanya yang hijau keperakan kini lebih sering terbuka, mengamati dunia di sekitarnya dengan ketajaman yang membuat Liam dan Hanna terkagum-kagum. Dia jarang menangis, seolah sudah puas hanya dengan mengamati—wajah ibunya, cahaya yang menari di langit-langit, daun-daun yang bergoyang di luar jendela.Namun, meski kehidupan mereka di Oasis penuh dengan kedamaian domestik, bayangan Valthera tidak pernah sepenuhnya hilang. Liam secara berkala menggunakan perangkat enkripsinya untuk memantau situasi, dengan izin dari Elian dan tetua lainnya. Apa yang dia temukan adalah gambaran yang kompleks dan penuh paradoks.Proyek GAIA—sistem agraria yang dia bangun berdasarkan prinsip ayahnya—tela
Hari-hari pertama setelah kelahiran Leo berjalan dalam kabut kelelahan yang penuh kebahagiaan. Waktu kehilangan bentuknya, terfragmentasi menjadi interval menyusui, mengganti popok, dan tidur sebentar yang berharga. Dunia orang tua.Liam, yang terbiasa dengan presisi jadwal ilmiah, menemukan ritme baru yang kacau namun sempurna. Dia belajar membedakan tangisan lapar dari tangisan ketidaknyamanan, belajar membungkus bayi dengan selimut lembut, belajar berdiri dan bergoyang-goyang di tengah malam sementara Leo yang rewel akhirnya tertidur kembali di bahunya, napasnya hangat dan berdesis di lehernya.Hanna pulih dengan kekuatan yang mengejutkan dirinya sendiri. Tubuhnya yang telah melalui ujian hebat itu sekarang dengan sabar menyembuhkan dirinya sendiri. Air susunya deras, dan saat Leo menyusu dengan semangat, dia merasakan ikatan yang lebih dalam daripada apa pun yang pernah dia bayangkan—sebuah kesatuan biologis dan emosional yang melampaui semua rekayasa dan rencana.Komunitas Oasis
“Professor Alderic, jangan ikut campur urusan keluarga kami! Hanna putri kami, jadi kami memiliki hak memaksanya.”Nada Julian meninggi, tapi tetap dibungkus wibawa khasnya—yang justru membuat ruangan itu seolah mengecil, menekan semua orang di dalamnya. Hanna hampir mundur selangkah, namun genggam
“Kalian gak minta kami masuk?” tanya Lily sambil melirik Hanna yang berdiri di samping Liam. Begitu pandangannya melewati bahu Hanna, ia melihat seseorang yang membuatnya tercekat sesaat—sosok lama yang dulu pernah dekat dengannya, Alderic Venn.Mau tak mau, Liam bergeser. Dengan enggan ia memberi
Aroma masakan memenuhi ruangan begitu Hanna dan Liam turun dari lantai atas. Ruang makan itu menyatu dengan dapur bersih bergaya minimalis — paduan warna abu muda dan kayu terang yang terasa hangat di mata.Alderi
Hanna melangkah pelan-pelan agar tak menimbulkan suara, takut membangunkan Liam.Ia duduk di tepi kasur, menatap pria itu yang sudah tertidur dengan dada telanjang, hanya tertutup selimut tebal di bagian pinggang ke baw







