แชร์

Agnia dan Cermin Pecah
Agnia dan Cermin Pecah
ผู้แต่ง: Millanova

Bab 1

ผู้เขียน: Millanova
last update วันที่เผยแพร่: 2025-08-21 00:18:05

Cahaya blitz kamera itu seperti silet. Menusuk retina, membelah isi kepalaku yang sudah berdenyut sejak dua jam lalu.

"Ivan! Lihat sini, Ivan!"

"Satu senyum lagi, Pak Penulis Cinta!"

Aku memamerkan deretan gigiku. Senyum nomor empat: Senyum Rendah Hati yang Memikat. Ini adalah topeng favoritku. Topeng yang membuat buku-bukuku terjual jutaan kopi. Topeng yang membuat wanita-wanita kesepian di depanku ini merasa basah hanya dengan membayangkan aku menulis puisi untuk mereka.

Di hadapanku berdiri seorang gadis dengan kardigan merah muda yang warnanya menyakitkan mata. Dia memegang buku terbaruku, Janji di Bawah Gerimis, seolah itu kitab suci. Tangannya gemetar.

"Mas Ivan," suaranya bergetar, seperti tikus yang tercekik. "Bab terakhirnya... itu indah sekali. Saya menangis semalaman."

Aku menatap matanya yang berair. Di dalam kepalaku, aku melihat diriku sendiri meludahinya. Indah? Itu sampah. Itu adalah tumpukan klise busuk yang kudaur ulang dari tiga novelku sebelumnya. Kau menangis karena kau bodoh. Kau menangis karena hidupmu kosong dan kau membiarkan aku mengisinya dengan gula-gula beracun.

Tapi tentu saja, Senyum Nomor Empat tidak goyah.

"Terima kasih," kataku lembut. Suaraku terdengar berat dan hangat hasil latihan bertahun-tahun di depan cermin. "Air matamu adalah tinta bagi jiwaku."

Gadis itu terkesiap, seakan baru saja kucumbu. Dia pergi dengan wajah memerah, mendekap buku itu di dada. Berikutnya. Antrean ini tidak ada habisnya. Mereka seperti zombi yang lapar akan romansa murahan.

"Kau hebat hari ini, Van."

Itu suara Sarah, editor sekaligus manajerku, saat kami akhirnya masuk ke dalam limosin yang kedap suara. Hening. Akhirnya hening.

Aku melonggarkan dasi yang rasanya seperti jerat gantung diri. "Berapa lama lagi aku harus melakukan sirkus ini, Sarah?"

"Sampai kau berhenti menjadi bestseller, yang mana tidak mungkin terjadi," Sarah tertawa, menepuk lututku. Dia tidak melihat tanganku yang mengepal gemetar di atas jok kulit. Atau mungkin dia melihatnya, tapi memilih abai. Bagi Sarah, aku bukan manusia. Aku adalah mesin pencetak uang berwujud pria melankolis yang tampan.

"Istirahatlah. Kau tampak... pucat," tambah Sarah, melirik sekilas ke arahku.

"Hanya kurang tidur," dustaku. Padahal aku tidur sepuluh jam sehari. Masalahnya, aku tidak pernah merasa bangun. Rasanya aku selalu bermimpi buruk, dan acara tanda tangan buku tadi adalah bagian terburuk dari mimpi itu.

Apartemenku menyambut dengan dingin. Sunyi. Mewah. Dan kosong.

Lantai marmer memantulkan bayanganku yang menyedihkan. Hanya ada satu makhluk hidup yang menyambutku. Leo, anjing French Bulldog kecilku, berlari tertatih dari ruang tengah.

"Hei, kawan," sapaku datar.

Leo berhenti dua meter di depanku. Dia tidak mengibaskan ekor. Dia menatapku dengan mata bulatnya yang hitam, memiringkan kepala. Kadang aku merasa anjing ini tahu. Dia tahu tuannya adalah penipu. Dia tahu bau parfum mahal yang menempel di jas ini menutupi bau busuk dari jiwaku yang mulai membusuk karena kebosanan.

Leo mendengus, lalu berbalik dan pergi meninggalkanku. Bahkan anjingku sendiri muak melihatku.

Aku melempar jas seharga lima ribu dolar itu ke lantai. Masa bodoh.

Aku berjalan menuju ruang kerja. Dindingnya dipenuhi rak buku mahoni yang tinggi, penuh dengan novel-novel romance karyaku yang diterjemahkan ke dalam dua puluh bahasa. Piala penghargaan berjejer di atas perapian. Mereka terlihat seperti batu nisan.

Di sini berbaring Ivan Sandlers, pria yang mati tercekik oleh kata-kata manisnya sendiri.

Aku duduk di depan laptop. Layar menyala, menyilaukan ruangan yang sengaja tidak kunyalakan lampunya. Kursor berkedip di atas halaman kosong.

Sarah menunggu draf bab pertama untuk novel Cinta di Musim Gugur.

Jari-jariku melayang di atas keyboard. Otakku mencoba merangkai kalimat tentang pertemuan romantis di kafe Paris. Tapi tanganku menolak. Jari-jariku kaku, seolah sarafnya putus.

Aku tidak bisa melakukannya lagi. Aku tidak bisa menulis satu kata pun tentang cinta. Rasanya ingin muntah. Ada rasa asam yang naik ke kerongkonganku.

"Cukup," bisikku pada kegelapan.

Aku menekan tombol Backspace. Menghapus judul Cinta di Musim Gugur.

Lalu, sesuatu yang aneh terjadi. Saat judul itu hilang, rasa mual itu lenyap. Digantikan oleh getaran halus di ujung jariku. Sebuah denyut nadi baru.

Aku butuh darah. Aku butuh rasa takut. Aku butuh sesuatu yang nyata, bukan plastik berwarna merah muda.

Jemariku mulai bergerak sendiri. Bukan perintah dari otakku, tapi dari naluri purba yang terpendam di sumsum tulang. Aku mengetik satu nama.

A G N I A

Siapa dia? Aku belum tahu. Tapi saat nama itu tertulis di layar putih, udara di ruang kerjaku mendadak terasa lebih dingin. Bayangan di sudut ruangan tampak memanjang, seolah merespons panggilanku.

Aku mulai mengetik. Bukan dengan gaya bahasa puitis mendayu-dayu. Tapi dengan kalimat yang pendek. Tajam. Kasar. Seperti pukulan palu.

Agnia tidak butuh cinta. Agnia butuh pisau lipat yang tajam. Dia berdiri di pinggir jembatan penyeberangan, menatap arus lalu lintas di bawah. Bukan untuk melompat. Tapi membayangkan bagaimana suara tulang yang patah jika dia mendorong seseorang.

Aku tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, senyumku bukan topeng. Gigi-gigiku terasa gatal. Jantungku berpacu.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Agnia dan Cermin Pecah   Bab 34

    Tiga bulan berlalu.Taman di bagian belakang Rumah Sakit Jiwa Dharmawangsa bukanlah tempat yang dirancang untuk keindahan. Hanya hamparan rumput yang sedikit menghijau, dipagari besi tinggi berkarat, dan beberapa pohon trembesi yang rindang namun luput dari perawatan. Daun-daun kering berserakan di tanah, tak pernah tersapu.Di balik kaca jendela ruang rawat yang tebal, Sarah Wijaya berdiri mematung.Pandangannya tertuju pada seorang pria yang duduk di bangku kayu di bawah naungan trembesi.Tubuhnya kurus, nyaris tenggelam dalam seragam rumah sakit: kemeja lengan panjang putih yang telah kusam dan celana longgar yang jelas kebesaran. Rambutnya memanjang, kusut, dan kusam, tak peduli betapa rajinnya perawat merapikannya setiap pagi.Pria itu sedang berbicara.Sendirian.Tak ada siapa pun di bangku itu. Tak ada pasien lain, tak ada perawat yang mengawasi. Namun ia bicara dengan intens, tangan bergerak-gerak seolah sedang menyusun argumen, sesekali terkekeh, lalu menggeleng.Kemudian ia t

  • Agnia dan Cermin Pecah   Bab 33

    esadaranku datang dan pergi, terombang-ambing seperti napas yang tersengal.Satu detik aku merasa terbaring di lantai kamar kost yang dingin. Detik berikutnya, tubuhku terangkat, dipindahkan ke permukaan yang keras dan sempit. Ada tangan-tangan yang menyentuhku: ada yang kasar, ada yang lembut, ada yang membalut luka, ada yang mengencangkan tali di pergelanganku.Suara-suara bergema di sekelilingku. Samar. Terpotong. Seperti siaran radio yang kehilangan frekuensi.Namun perlahan, suara-suara itu mulai menemukan bentuknya.Dan aku sadar: aku tidak bisa bergerak.Kubuka mata. Yang kulihat hanyalah langit-langit putih yang bergeser bukan, langit-langit itu tidak bergerak. Akulah yang bergerak. Aku terbaring di atas brankar, dan brankar itu terus didorong. Lampu-lampu lorong kost yang redup melintas di atas kepalaku, satu demi satu.Aku mencoba mengangkat tangan. Kaku.Pergelangan tanganku terikat pada rel brankar oleh sabuk kain tebal. Kaki juga. Dada juga. Bukan straightjacket, sekadar pr

  • Agnia dan Cermin Pecah   Bab 32

    “Ivan. Bangun, Ivan!”Suara itu.Samar. Menggema dari kejauhan, seolah merambat melalui lorong panjang yang lembap dan gelap.“Ivan!”Aku mengerjap. Kelopak mataku terasa berat, seolah direkatkan oleh sesuatu yang tak kasatmata. Cahaya terlalu tajam menyelinap melalui celahnya, menyengat pupilku hingga perih.Bukan cahaya bohlam kuning yang biasa menerangi kamarku.Ini putih. Terang. Nyaris menyakitkan.“Dia sadar! Dokter, dia sadar!”Suara itu lagi.Suara yang tak asing.Suara yang pernah kudengar ribuan kali: di ruang rapat, di kendaraan yang berkedap, di peluncuran buku, di telepon tengah malam saat ia menagih naskah yang tak kunjung selesai.Sarah.Kubuka mata.Wajah Sarah tepat di depanku. Hanya beberapa sentimeter. Matanya merah dan bengkak, sisa air mata masih membasahi pipi tirusnya. Rambutnya kusut, jauh dari sanggul rapi yang biasa ia kenakan. Ia tampak lelah. Sungguhan lelah. Layak orang yang tak tidur berhari-hari.“Ivan,” bisiknya. Tangannya menggenggam jariku. Hangat. Nya

  • Agnia dan Cermin Pecah   Bab 31

    Satu minggu telah berlalu. Atau mungkin delapan hari. Atau sembilan. Aku sudah berhenti menghitung.Waktu di kost ini mengalir seperti air yang terjebak di parit lambat, tanpa arah, dan meninggalkan jejak anyir yang kian pekat seiring hari. Aku bangun, bekerja, makan, tidur, lalu bangun lagi. Tidak ada yang berubah.Kecuali hari ini.Aku menyadari ada yang tidak beres sejak pagi.Bukan dari suara. Bukan dari bau. Melainkan dari getaran di udara yang berbeda. Seperti hening yang mendahului gempa, atau napas yang tertahan sebelum pintu terbuka.Aku duduk di kamar, buku bekas yang usang terbuka di pangkuan, tetapi aku tidak menulis. Aku hanya duduk, menatap dinding, mendengarkan.Dan di luar sana, Ibu Kost mondar-mandir.Klek... klek... klek...Sandal jepitnya yang telah aus menimbulkan bunyi setiap kali tumitnya menyentuh lantai semen di lorong. Dari kamarku di ujung kiri, aku mendengarnya bolak-balik dari dapur ke pintu gerbang, dari pintu gerbang kembali ke dapur, berulang seperti band

  • Agnia dan Cermin Pecah   Bab 30

    Aku terbangun dengan punggung yang kaku.Matahari sudah cukup tinggi mungkin jam sembilan, mungkin sepuluh. Kamarku tidak pernah menerima cahaya pagi; jendelanya menghadap ke barat, dan pagi hari, kamar ini gelap seperti gua. Aku tidak tahu sudah berapa lama aku terbiasa dengan itu.Kepalaku berat. Mulutku terasa pahit.Tanganku meraba lantai di samping kasur mencari apa, aku tidak tahu. Ponsel Nokia. Buku tulis bunga mawar. Koran. Lalu jariku menyentuh sesuatu yang berbeda: kertas lebih kasar, lebih tebal, dengan tekstur yang hanya bisa didapat dari buku yang sudah lama tidak dibuka.Aku mengangkatnya ke cahaya bohlam yang masih menyala redup.Sebuah buku. Bukan buku tulis buku betulan, dengan sampul yang sudah hampir lepas dan warna yang telah pudar menjadi cokelat kusam. Tulisan di sampulnya luntur, hanya tersisa serpihan huruf: ...ANG... ...AN...Lalu aku ingat. Kemarin sore, di TPS, ada tumpukan buku bekas yang dibuang seorang mahasiswa masih ada kartu tanda mahasiswanya t

  • Agnia dan Cermin Pecah   Bab 29

    "Mas! Mas Ipan!"Suara itu memanggilku dari pinggir jalan, dekat perempatan lampu merah yang biasanya macet. Seorang pria tua duduk di bangku kayu panjang. Di depannya terhampar karung plastik biru berisi tumpukan koran dan majalah bekas. Rambutnya sudah putih semua, kumisnya tebal dan kusut, dan matanya menyipit di balik kacamata minus yang tebalnya seperti dasar botol.Mang Udin. Penjual koran bekas langganan para pemulung dan tukang loak.Aku sering membeli koran darinya. Bukan karena aku suka membaca berita. Tapi karena kadang aku butuh sesuatu untuk membungkus sampah organik yang terlalu basah. Atau kadang aku butuh sesuatu untuk diremas-remas saat tanganku gatal ingin menulis tetapi tidak punya kertas."Pagi, Mang," sapaku datar, mendekati lapak daruratnya."Iya, iya, sudah lama tidak kelihatan. Kemarin ke mana saja? Sepertinya kurusan, Le." Mang Udin tertawa kecil, memperlihatkan sisa-sisa giginya yang hitam oleh tembakau. "Mau koran? Yang ini bagus. Masih lumayan baru. Hanya se

  • Agnia dan Cermin Pecah   Bab 5

    Suara mesin kopi itu terdengar seperti bor jalanan. Wussshhh. Grrrttt.Aku memijat pelipisku. Kafe "Senja Kopi" ini biasanya tempat favoritku untuk menulis karena suasananya tenang. Tapi hari ini, entah kenapa, setiap denting sendok yang beradu dengan cangkir keramik terdengar sepuluh kali lebih ker

  • Agnia dan Cermin Pecah   Bab 4

    Mimpi itu tidak memiliki bentuk, hanya warna. Merah. Pekat dan berdenyut.Aku tersentak bangun dengan napas tertahan di tenggorokan. Jantungku memukul-mukul rusuk, seolah ingin mendobrak keluar. Kamarku gelap gulita. Tirai jendela tertutup rapat, menghalangi sisa cahaya matahari sore atau mungkin pa

  • Agnia dan Cermin Pecah   Bab 7

    Keesokan Harinya.Dunia terlihat lebih cerah saat kau tidak lagi berpikir dirimu gila.Aku bangun pukul sepuluh pagi dengan tubuh segar. Luka di tanganku masih perih, tapi dokter di klinik tadi pagi bilang itu hanya luka gores yang terinfeksi ringan. "Mungkin terkena benda tajam saat tidur," katanya

  • Agnia dan Cermin Pecah   Bab 6

    "Tiga hari."Kata-kata Sarah berdengung di kepalaku seperti lalat yang terperangkap dalam toples kaca.Aku berdiri di tengah ruang tamu apartemenku, menatap kalender digital di dinding. Hari Kamis. Tanggalnya merah menyala, mengejekku. Ingatan terakhirku yang utuh adalah Senin malam. Selasa dan Rabu

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status