MasukWaktu menjadi konsep yang cair.
Aku tidak tahu sudah berapa lama aku duduk di sini. Satu jam? Lima jam? Jendela apartemenku yang tadinya gelap kini mulai membiru. Matahari pagi mencoba merayap masuk, tapi aku tidak peduli.
Duniaku sekarang hanya selebar layar laptop 13 inci ini.
Biasanya, menulis novel romance terasa seperti mencabut gigi sendiri lambat, menyakitkan, dan penuh darah. Tapi ini berbeda. Menulis kisah Agnia rasanya seperti meluncur di jalan tol tanpa rem. Kalimat-kalimat itu tidak berasal dari otakku, mereka melompat begitu saja dari ujung jari, seolah-olah Agnia sedang mendikteku dari balik bahu.
Aku masuk ke adegan perkenalan karakter. Aku butuh pembaca tahu seberapa dinginnya wanita ini.
Jemariku menari kasar di atas keyboard.
Taman kota di sektor tujuh selalu bau pesing setiap pukul enam pagi. Agnia tidak peduli. Dia duduk di bangku panjang paling ujung, di bawah pohon oak yang meranggas. Bangku itu tua, terbuat dari kayu yang membusuk, dengan cat hijau lumut yang mengelupas di sana-sini menyerupai kulit penderita kusta.
Agnia mengunyah permen karet rasa mint, matanya yang tajam mengawasi trotoar. Seorang pria paruh baya berjalan terburu-buru. Dia mengenakan setelan jas abu-abu yang terlalu besar untuk tubuh kurusnya, dan dasi merah marun yang miring.
Saat pria itu merogoh saku untuk mengambil ponsel, dompet kulit hitamnya terjatuh. Jatuh tanpa suara di atas gundukan daun basah.
Pria itu terus berjalan, tidak sadar.
Agnia melihat dompet itu. Dia melihat punggung pria itu menjauh. Dia tidak memanggilnya. Dia tidak berdiri. Dia hanya diam, terus mengunyah permen karetnya, menikmati kemalangan kecil yang baru saja terjadi. Agnia menyukai momen ketika manusia kehilangan sesuatu. Itu membuatnya merasa dunia ini adil.
"Sempurna," gumamku. Suaraku terdengar serak di ruangan yang sunyi.
Aku menyandarkan punggung ke kursi kulit yang berdecit. Napasku memburu, seolah aku baru saja lari maraton. Ada kepuasan aneh yang menjalari dadaku. Ini bukan tulisan sampah tentang cinta pertama. Ini... jujur.
Perutku berbunyi. Keras sekali.
Aku melirik jam di sudut layar. Pukul 06:15 pagi. Pantas saja.
Aku butuh kopi. Dan udara segar. Apartemen ini mendadak terasa sesak, seolah imajinasiku tentang Agnia telah menyedot semua oksigen di ruangan ini.
Aku mengenakan hoodie hitam dan kacamata hitam. Penyamaran standar. Hal terakhir yang kuinginkan adalah dicegat ibu-ibu yang sedang lari pagi dan ditanya kapan sekuel Cinta di Musim Gugur akan rilis.
Aku berjalan keluar gedung apartemen, menyusuri trotoar yang masih basah oleh embun. Kakiku membawaku secara otomatis ke taman kota yang letaknya hanya dua blok dari tempat tinggalku.
Udara pagi terasa tajam, menusuk paru-paru. Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba membersihkan sisa-sisa kegelapan Agnia dari pikiranku.
Taman itu sepi. Hanya ada beberapa ekor merpati yang berebut remah roti.
Aku berjalan menuju area yang lebih tenang di ujung taman, dekat deretan pohon oak tua. Aku ingin duduk sebentar sebelum mencari kedai kopi.
Mataku menangkap sebuah bangku kosong.
Aku berhenti melangkah.
Jantungku melewatkan satu ketukan.
Itu bangku kayu. Tua. Dan catnya...
Warna hijau lumut.
Aku melangkah mendekat, perlahan, seolah mendekati binatang buas yang sedang tidur. Mataku menelusuri permukaan kayu sandaran bangku itu. Catnya tidak sekadar hijau. Cat itu mengelupas. Polanya tidak beraturan, pecah-pecah, memperlihatkan kayu lapuk yang kecokelatan di bawahnya.
Persis seperti kulit penderita kusta.
Frasa itu bergaung di kepalaku. Frasa yang baru saja kutulis tiga puluh menit yang lalu.
Aku tertawa pendek. Tawa yang garing. "Kebetulan," bisikku. "Taman ini punya puluhan bangku, Ivan. Pasti ada satu yang rusak."
Aku mencoba menepis perasaan tidak nyaman yang mulai merayap di tengkukku. Aku mendudukkan diriku di bangku itu. Dingin dan lembap.
Aku mengeluarkan ponsel, berniat mengecek email, ketika suara langkah kaki terdengar di jalan setapak beton di depanku.
Tap. Tap. Tap.
Langkah yang terburu-buru.
Aku mendongak.
Darahku serasa berhenti mengalir.
Seorang pria sedang berjalan melintasiku. Dia kurus. Wajahnya lelah. Dan dia mengenakan setelan jas.
Warnanya abu-abu. Ukurannya sedikit kebesaran di bagian bahu, membuatnya terlihat tenggelam dalam pakaiannya sendiri.
Mataku bergerak liar ke lehernya. Dasi. Tolong, jangan ada dasi.
Ada dasi. Merah marun. Dan simpulnya miring ke kiri.
Mulutku terbuka sedikit, tapi tidak ada suara yang keluar. Tanganku mencengkeram ponsel begitu erat hingga sendi-sendiku memutih. Ini tidak mungkin. Ini halusinasi karena kurang tidur. Otakku memproyeksikan apa yang baru saja kutulis ke dunia nyata.
Pria itu merogoh saku celananya. Gerakannya persis seperti koreografi yang sudah kuhapal di luar kepala.
"Jangan..." bisikku tanpa sadar.
Pria itu menarik ponselnya. Dan bersamanya, sebuah benda persegi panjang berwarna hitam ikut tertarik keluar.
Bruk.
Dompet kulit hitam itu jatuh. Mendarat tepat di atas tumpukan daun basah di pinggir jalan setapak. Suaranya redam, hampir tak terdengar.
Pria itu terus berjalan. Dia menatap layar ponselnya, sama sekali tidak menyadari bahwa identitas dan uangnya baru saja tertinggal di belakang.
Waktu seolah membeku.
Di depanku ada dompet hitam. Di kejauhan, punggung pria berjas abu-abu itu semakin mengecil.
Seharusnya aku berteriak. Seharusnya aku berdiri, lari mengejarnya, dan berkata, "Pak, dompet Anda jatuh!" Itu yang akan dilakukan Ivan si penulis novel romance. Itu yang akan dilakukan protagonis pria budiman yang selalu kutulis.
Tapi aku tidak bergerak.
Pantatku seperti dipaku ke bangku hijau yang mengelupas ini.
Aku hanya diam. Mataku terpaku pada dompet itu. Ada sensasi dingin yang aneh menjalari tubuhku, tapi bukan karena angin pagi.
itu adalah teriakan terakhir, penuh dengan kebencian dan keputusasaan yang mutlak. "KAU dan PSIKIATERMU bisa pergi ke neraka!"Koneksi terputus. Bunyi beep yang monoton terdengar di telinga Sarah.Dia berdiri di sana, telepon masih menempel di telinganya, tubuhnya gemetar tak terkendali. Air mata mengucur deras. Rasa sakitnya begitu hebat, lebih dari sebelumnya. Bukan hanya karena penolakannya, tetapi karena kebenaran dalam kata-kata Ivan. Dalam upayanya untuk membantu, dia telah, di mata Ivan, mengkhianatinya. Dia telah menjadi musuh yang bersekutu dengan dunia yang ingin menghancurkan dunianya.Dia telah mencoba untuk menjangkau pria yang dicintainya, tetapi yang dia temui adalah benteng yang dijaga ketat oleh naga bernama Agnia. Dan hari ini, naga itu telah menyemburkan api, membakar habis jembatan terakhir yang menghubungkan mereka.Sementara di seberang kota, Ivan berdiri di tengah-tengah ruang kerjanya yang berantakan. Sebuah vas pecah berantakan di lantai, air dan bunga-bunga k
Dua minggu setelah konsultasi pertamanya dengan Dr. Maya, Sarah merasa dipersenjatai dengan sedikit lebih banyak pengetahuan dan strategi. Keputusasaan telah berubah menjadi sebuah tekad yang tenang. Dia telah menghadiri satu sesi lanjutan, dan Dr. Maya telah membantunya menyusun pendekatan yang diharapkan bisa menembus tembok pertahanan Ivan.Strateginya sederhana: lembut, tidak mengancam, dan berfokus pada keprihatinan, bukan tuduhan. Dr. Maya juga mengenalkannya pada seorang kolega, seorang psikiater bernama Dr. Arif, yang dikenal dengan pendekatannya yang hangat dan tidak menakutkan. Rencananya, Sarah akan mengajak Ivan untuk menemui seorang "teman" yang adalah seorang ahli yang bisa membantu orang-orang dengan "kebuntuan kreatif" dan "stres". Kata "psikiater" atau "gangguan jiwa" akan dihindari seperti api.Hari itu, dengan jantung berdebar kencang, Sarah menelepon Ivan. Dia tidak tahu apa yang akan dihadapinya. Apakah Ivan akan mengangkat teleponnya? Apakah dia masih marah?Tele
Kepergian Sarah dari apartemen Ivan meninggalkan luka yang dalam dan getir. Hari-hari berlalu dengan lambat, setiap detik terasa seperti siksaan. Sarah kembali ke kehidupannya sendiri, ke apartemen kecilnya yang tiba-tiba terasa sangat luas dan sunyi. Barang-barang peninggalan Ivan—sebuah sweter yang tertinggal, buku yang pernah mereka baca bersama—menjadi pengingat yang menyakitkan akan hubungan yang telah hancur.Dia mencoba melanjutkan rutinitasnya: bekerja sebagai perencana event, bertemu teman-teman, bahkan keluar untuk mencoba bersosialisasi. Namun, wajah Ivan selalu hadir di pikirannya. Bukan wajahnya yang marah atau bingung saat pertengkaran terakhir, tetapi wajahnya yang lembut saat mereka berdua tertawa bersama, atau wajahnya yang serius ketika dia tenggelam dalam dunia menulis. Sarah menyadari sebuah kebenaran yang pahit: dia masih mencintai Ivan. Cintanya bukanlah cinta yang buta; dia melihat
Pintu yang tertutup itu bukan lagi sekadar pintu. Itu adalah sebuah pemutus, sebuah pemisahan yang final. Bunyinya yang menggema di apartemen yang tiba-tuta sunyi itu seperti gong yang menandai berakhirnya sebuah babak dalam hidup Ivan. Dia tetap terduduk di lantai ruang kerjanya, punggungnya bersandar pada kaki meja kayu, tubuhnya terasa hampa bagaikan kulit udang yang ditinggalkan isinya.Beberapa menit berlalu, atau mungkin sejam—Ivan kehilangan semua sense of time. Matanya kosong, menatap lurus ke arah buku catatan yang masih tergeletak di lantai, terbuka pada halaman yang mengutuknya. Wajah Sarah, yang digambarkan dengan sempurna namun diisi dengan jiwa orang lain, seakan menatapnya dengan tatapan hampa dari kertas itu. Sebuah pengingat akan pengkhianatannya yan
Sudah seminggu sejak pertengkaran terakhir mereka tentang kebiasaan menulis Ivan yang kembali intens. Suasana antara Ivan dan Sarah masih sedikit tegang, bagaikan udara sesaat sebelum badai. Sarah berusaha untuk memahami, benar-benar memahami, bahwa menulis adalah bagian tak terpisahkan dari diri Ivan. Namun, ketakutannya akan kembalinya "sang hantu" selalu hadir di benaknya, seperti bayangan yang mengikuti setiap langkah mereka.Hari itu, Ivan harus menghadiri pertemuan dengan editornya di pusat kota. Sarah, yang jadwal kerjanya lebih fleksibel, memutuskan untuk menyambangi apartemen Ivan setelah dia pulang kerja. Dia ingin mencoba mencairkan suasana. Mungkin dengan memasakan makan malam spesial, atau sekadar menunggu kedatangannya dengan senyum. Itulah cara Sarah menunju
Dua minggu kemudian, hubungan mereka masih terlihat manis di permukaan. Tapi Ivan mulai berubah. Dia menjadi lebih pendiam, lebih sering melamun. Saat bersama Sarah, dia kadang-kadang tidak sepenuhnya "hadir". Pikirannya berada di tempat lain, di dunia tulisannya.Sarah memperhatikannya. Perubahan itu halus, tetapi bagi seseorang yang seobservatif Sarah, itu terlihat."Ivan, apa kau baik-baik saja?" tanyanya suatu sore saat mereka berbelanja bahan makanan. "Kau terlihat... jauh akhir-akhir ini."Ivan tersentak dari pikirannya. "Hmm? Oh, tidak. Aku baik-baik saja. Hanya... ada ide untuk menulis sedikit."Sarah mengangkat alis. "Menulis? Itu bagus!" Tapi ada kekhawatiran di matanya. "Kau masih minum obat, kan?"Ivan merasa sedikit tersinggung, tapi dia berusaha menyembunyikannya. "Tentu saja. Kenapa?""Tidak ada. Hanya... aku senang kau bisa menulis lagi. Tapi jangan terlalu memaksakan diri, ya? Kesehatanmu yang utama."Peringatan Sarah itu wajar, tapi bagi Ivan, itu terasa seperti sebu







