INICIAR SESIÓN"Sedang apa kau di tempat ini? Kenapa kau berlari saat kami datang? Di mana temanmu yang lain?" tanya Polisi dengan nada tinggi.Seorang laki-laki berpakaian lusuh berhasil diamankan oleh kepolisian. Namun, saat ditangkap, laki-laki itu tidak menunjukkan gelagat mencurigakan.Meski terlihat panik dan ketakutan, tetapi dari cara ia menatap Polisi, dan juga menjawab pertanyaan, laki-laki itu tidak seperti seorang penjahat."S-saya cuma tidur di sana, Pak! Saya nggak punya rumah. Saya lihat pintu terbuka, jadi saya masuk untuk berteduh. Sumpah, Pak! Saya nggak lihat siapa-siapa dari tadi sore!" Pria itu mulai menangis sesenggukan, tubuhnya meringkuk ketakutan."Jangan bohong! Jika kau tidak kooperatif, kau akan langsung kami jebloskan ke dalam penjara!" ancam Polisi yang membuat laki-laki itu semakin ketakutan.Wajahnya pucat pasi dengan tangan dan kaki yang gemetar hebat. "S-saya b
Setelah telepon dengan Bramanto diakhiri, Adrian berdiri diam di depan bangunan kosong terbengkalai.Tatapan matanya tertuju pada dinding tua bangunan itu, yang catnya sudah sangat kusam.Tak ada sedikit pun tanda-tanda pergerakan di dalam sana. Namun, ia tetap bergeming sambil menunggu tim kiriman Bramanto datang."Jangan gegabah," katanya mengingatkan diri sendiri.Tak lama terdengar suara deru mesin mobil mendekat. Adrian berlari, mencari tempat persembunyian untuk berjaga-jaga.Setelah berada di tempat aman, ia mengamati siapa yang datang.Adrian menghela lega saat melihat tim khusus bantuan Bramanto datang dan bergerak dengan presisi militer.Mereka tidak menggunakan sirine, hanya suara sepatu bot yang menginjak dedaunan kering dan desis napas yang teratur di balik masker balaclava."Dimana Detektif .... "
Di tempat berbeda, Vila mewah di kawasan perbukitan yang sejuk, Dirga menggenggam ponsel dengan erat.Baru saja merasakan ketenangan saat liburan bersama keluarganya ke sebuah Vila milik Fandi, ia kembali dikejutkan kabar terbaru dari Adrian.Tanpa membuang waktu, ia segera menghubungi sang ayah__pensiunan Polisi yang masih memiliki jaringan relasi hingga ke pucuk pimpinan instansi hukum."Ada apa Ga? Tumben nelepon. Papa dengar kalian lagi liburan ke Vila? Mana cucu Papa? Apa mereka senang sama liburan kali ini?" tanya Dewanto."Pa, maaf, aku menghubungi Papa karena ada sesuatu yang harus aku selesaikan. Aku ingin membantu Detektif Adrian yang saat ini sedang terkena masalah hukum.""Lho, masalah apalagi Nak?""Aku kurang tahu pasti, tapi dia mengatakan kalau dia sedang dalam posisi terjepit. Seseorang sedang mencoba mengkambinghitamkan dia atas kasus kecela
"Mas Adrian harus tahu soal ini!" Intan menggenggam ponselnya. Setelah diam cukup lama, ia memutuskan keluar dari kamar.Lantai kayu berderit pelan saat Intan melangkah keluar, jemarinya gemetar hebat menggenggam ponsel yang terasa sedingin es.Setibanya di ruang kerja yang hanya diterangi pendar layar laptop, Adrian masih terpaku, rahangnya mengeras menatap barisan kode enkripsi yang memusingkan."Mas .... " Suara Intan pecah, nyaris tenggelam dalam keheningan malam.Adrian menoleh cepat. Melihat wajah pucat pasi Intan, naluri pelindungnya langsung bangkit.Ia berdiri, tetapi langkahnya terhenti saat Intan menyodorkan ponsel dengan tangan yang tidak kunjung diam."Ada apa Sayang?"Intan tak menjawab, hanya mengarahkan ponsel semakin dekat pada Adrian.Dengan cepat sang Detektif menyambar ponsel itu. Matanya menyip
"Mas, aku takut .... "Adrian mengembuskan napas panjang, mencoba membuang sisa-sisa hawa dingin dari ruang interogasi yang masih menempel di pori-pori kulitnya.Ia melangkah mendekat, mengabaikan jarak yang sempat diciptakan Intan, dan meraih kedua bahu wanita itu dengan lembut."Intan, tatap aku," bisik Adrian, suaranya kembali berat dan menghipnotis. "Jangan biarkan ketakutanmu menghancurkan kita lebih dulu sebelum polisi melakukannya. Aku di sini. Aku pulang, kan? Itu bukti kalau tuduhan mereka tidak berdasar.""Tapi ASI-ku, Mas ... Maura menangis terus. Aku takut ini pertanda buruk," isak Intan, dadanya kembang kempis menahan sesak."Sstt! ... itu hanya karena kamu panik. Tubuhmu bereaksi pada stresmu sendiri, bukan pada kenyataan hukumnya. Dengar, aku ini detektif. Aku tahu celah mereka. Polisi hanya menggertak karena dia tidak punya bukti kuat. Semua akan baik-baik saja
"Sebaiknya Anda ikuti saja apa kata saya. Semua demi kebaikan Anda," ujar pengacara, melanjutkan."Adrian mengangguk paham. "Baik, saya percayakan semuanya pada Anda. Saya akan membayar berapapun agar saya tidak dijadikan tersangka."Hendra tersenyum, menenangkan kliennya. "Kalau begitu saya permisi." Ia berdiri dan menyalami Adrian.Sebelum Hendra sempat memutar tubuhnya, Adrian mengatakan, "Tolong rahasiakan kasus ini dari kedua orang tuaku.""Baik Pak Adrian."Sementara di ruang interogasi. Setelah diskusi empat mata dengan Hendra berakhir, pintu besi ruang interogasi terbuka dengan dentum yang menggema.Wahyu melangkah masuk, kali ini tidak sendirian. Dua petugas berseragam lengkap berdiri di belakangnya dengan wajah tanpa ekspresi."Waktu konsultasi habis," ujar Wahyu dingin. Ia memberikan isyarat kepada anak buahnya. "Bawa Saudara
"Iya kan? Febby selingkuhan kamu! Katakan Mas!" desak Anggun dengan sorot mata tajam menatap suaminya.Pandang mata Dirga tertuju pada ruang kamar. Memilih diam membisu."Oh, jadi benar Febby selingkuhan kamu! Dia yang membuat kamu seperti ini, bahkan membuat kamu mengatakan kata cerai." Anggun ter
"Kamu mesan makanan lagi, Mas? Kan kita udah makan." Febby baru saja mengambil makanan yang diantar petugas hotel.Dua bungkus makanan pesanan Dirga, ia letakan di atas meja samping ranjang."Kamu harus banyak makan, biar cepet mengandung anakku," senyum Dirga sambil menatap wan
Di rumah sakit~Suasana di dalam kamar, canggung. Febby lebih banyak diam, memikirkan kedatangan Anggun tadi.Begitu juga dengan Andi, yang tak habis pikir kenapa bisa Anggun menuduh istrinya selingkuh dengan Dirga.Hening!Febby dan Andi saling diam. Kepala wanita cantik itu terus menunduk, menata
"Andi menyakitimu, iya kan?" Dirga menatap Febby. Kedua manik matanya berkaca-kaca. Jelas terlihat kesedihan dari raut wajah wanita cantik itu.Febby hanya diam, menundukkan kepala, menahan tangis. Jujur saja, dia malu karena Dirga mendengar semua ucapan kasar Andi di dalam kamar tadi."Sampai kapa







