LOGIN"Sebaiknya Anda ikuti saja apa kata saya. Semua demi kebaikan Anda," ujar pengacara, melanjutkan."
Adrian mengangguk paham. "Baik, saya percayakan semuanya pada Anda. Saya akan membayar berapapun agar saya tidak dijadikan tersangka."
Hendra tersenyum, menenangkan kliennya. "Kalau begitu saya permisi." Ia berdiri dan menyalami Adrian.
Sebelum Hendra sempat memutar tubuhnya, Adrian mengatakan, "Tolong rahasiakan kasus ini dari kedua
Dua bulan setelah badai yang dibawa Kevin mereda, Jakarta terasa jauh lebih tenang bagi Adrian.Kasus itu akhirnya benar-benar ditutup dengan pengamanan super ketat di Lapas tingkat tinggi, memastikan Kevin tak lagi punya celah untuk membeli kebebasannya.Sore itu, hujan rintik membasahi kaca jendela apartemen mereka. Aroma kopi dan kayu manis menyeruak dari dapur, tempat Intan biasanya menyiapkan camilan sore.Adrian yang baru saja pulang dari kantor polisi, melemparkan jaket kulitnya ke sofa dan melonggarkan dasi yang terasa mencekik sepanjang hari."Sayang? Aku pulang," seru Adrian.Tidak ada jawaban seperti biasanya.Hening!Adrian mengerutkan kening, melangkah menuju kamar tidur.Ia menemukan Intan duduk di tepi tempat tidur, membelakanginya. Bahunya tampak sedikit bergetar, seolah ia tengah menahan sesuatu.
Dua bulan telah berlalu sejak malam yang mengubah segalanya bagi Edric dan Laila.Rutinitas mereka kini telah menemukan ritme yang manis, di mana kesibukan Edric sebagai dokter muda sering kali diimbangi dengan perhatian kecil Laila di rumah.Namun, pagi itu, ritme tersebut seolah sumbang. Laila terbangun dengan kepala yang terasa berputar hebat, dan aroma nasi goreng yang biasanya menggugah selera justru membuatnya ingin segera berlari ke kamar mandi.Siang harinya, perasaan tidak nyaman itu tidak kunjung hilang. Perutnya terasa penuh, mual yang datang dan pergi, serta rasa lemas yang membuatnya hanya bisa terbaring di sofa.Pikirannya melayang pada siklus bulanannya yang ternyata sudah terlambat hampir dua minggu. Dengan tangan gemetar, ia meraih ponsel dan menghubungi Edric."Mas ... Mas Edric sibuk gak?" suara Laila terdengar serak dan lemah di seberang telepon.Di rumah sakit, Edric yang baru saja menyelesaikan visit pasien langsung menegang."Ada apa Sayang? Suaramu kok begit
Setelah tawa mereka mereda, keheningan yang kembali hadir terasa jauh lebih bersahabat.Edric akhirnya berhasil melepaskan kaitan jam tangannya dari tali lingerie Laila.Ia meletakkan benda logam itu di atas nakas dengan bunyi klik pelan, seolah-olah baru saja menanggalkan satu-satunya penghalang antara dirinya dan dunia baru yang asing ini.Edric kembali menatap Laila. Dalam keremangan lampu kuning yang hangat, istrinya tampak luar biasa.Kulit Laila yang seputih porselen sangat memesona dengan warna merah berani dari kado pemberian Febby.Namun, yang membuat jantung Edric berdegup kencang bukanlah sekadar sepotong kain lace, melainkan binar mata Laila yang penuh keberanian sekaligus kepolosan."Tadi ... sampai mana kita?" bisik Edric, suaranya kini lebih rendah, lebih dalam."Sampai ... bagian tanpa interupsi," jawab Laila hampir berbisik.Ia menarik napas panjang, membiarkan kimono tipisnya meluncur jatuh dari bahu, memperlihatkan keindahan yang selama sebulan ini tertutup rapat
Satu bulan berlalu setelah mereka resmi menjadi suami-istri. Namun, Edric dan Laila belum pernah sekalipun melewati malam ritual seperti selayaknya pasangan sah.Di usia yang terbilang muda, Laila pastinya belum memahami soal itu. Begitu juga Edric yang setiap harinya selalu sibuk mengejar mimpi menjadi Dokter Hebat.Akan tetapi, sebagai seorang istri, Laila ingin memberi apa yang seharusnya didapatkan oleh Edric.Saat ini di dalam kamar, Edric duduk di tepi ranjang, masih mengenakan kaus oblong putih dan celana pendek, pura-pura sangat tekun membaca buku yang sebenarnya halamannya tidak bergeser sejak sepuluh menit lalu.Sementara itu, di dalam kamar mandi, Laila sedang berjuang dengan harga dirinya."Teh Febby ... ini baju atau saringan santan?" bisik Laila ngeri melihat pantulan dirinya di cermin.Sepupunya itu memberikan kado pernikahan berupa lingerie berbahan lace tipis berwarna merah menyala.Potongannya sangat berani, dengan tali-tali yang membingungkan. Laila butuh lima me
"Sudah siap Sayang?"Pertanyaan itu semakin membuat Intan gugup dan salah tingkah. Rasanya baru kemarin mereka membahas pernikahan, dan tidak pernah membahas soal malam pertama. Namun sekarang ....Tak ingin membuat suaminya kecewa, Intan langsung menjawab, "Iya Mas, aku siap." Ia berdiri, melangkah melewati pintu pembatas balkon kamar dan masuk.Gerimis di luar jendela Hotel semakin lebat, menciptakan suasana kedap yang intim di dalam kamar bridal suite yang telah didekorasi dengan kelopak mawar merah di atas sprei putih bersih.Aroma terapi lavender dan mawar bercampur lembut dengan wangi parfum maskulin Adrian yang menggoda.Intan berdiri mematung di dekat jendela, jemarinya meremas pinggiran kebaya putih yang indah.Meski ini bukan kali pertama baginya, tetapi berada di hadapan Adrian ... pria yang telah mempertaruhkan nyawa untuknya ... membuat jantungn
Satu bulan berlalu setelah hiruk-pikuk di pinggiran danau itu, suasana kota terasa jauh lebih tenang bagi Adrian.Tidak ada lagi deru mesin jetski, tidak ada aroma gas air mata, dan yang terpenting, tidak ada lagi bayang-bayang manipulasi Kevin yang menghantuinya.Kebenaran yang terungkap mengenai kecelakaan Clara seolah mengangkat beban ribuan ton dari pundak Adrian.Penyelidikan mendalam membuktikan bahwa meskipun Adrian sempat berada dalam titik tergelapnya, takdir berkata lain ... kecelakaan itu murni karena kelalaian Clara sendiri, sebuah tragedi tunggal yang tak bisa diintervensi oleh dendam siapa pun.Pagi itu, langit Jakarta tampak cerah, seolah ikut merayakan babak baru dalam hidup sang Detektif.Di sebuah hotel dengan taman terbuka yang asri, Adrian berdiri di depan cermin besar.Ia mengenakan beskap modern berwarna putih tulang yang pas di tubuhnya yang tegap.Tidak ada lagi sisa lumpur atau luka memar di wajahnya, yang tertinggal hanyalah aura ketenangan seorang pria yang
Dengan kepercayaan diri yang tinggi. Setinggi harapan orang tua, Andi melangkah mendekati ranjang kemudian naik.Nila tersenyum genit. Meski dalam hati ada kekecewaan setelah tahu milik Andi sangat mungil seperti gantungan tasnya. "Sudah siap Sayang?" kekeh Andi. Suaranya dibuat-buat agar terdenga
Kreeekkk! Suara pintu yang terbuka nyaris saja mengundang perhatian enam orang anak buah Marco. Detak jantungnya berpacu cepat. Keringat dingin mengucur, membasahi wajah.Menghela napas berat, Dirga masih berusaha membuka pintu pelan-pelan sambil
Melihat kedatangan Intan, senyum Marco merekah. Matanya memeta tubuh sintal gadis cantik itu, yang hanya mengenakan dress Merah selutut tanpa lengan.Perlahan gadis pemilik bulu mata lentik itu melangkah mendekati ranjang berukuran king size dan berdiri di samping."Maaf kalau T
Kedatangan Tania ke markas besar ayahnya, bukan karena ia tahu sang ayah sedang pergi.Ia bahkan baru mengetahui dari dua orang bodyguard yang diminta menjaga pintu salah satu ruangan di markas itu."Papaku pergi ke mana?" Tania bertanya dengan tatapan dingin, membuat dua bodygu







