Mag-log in"Kamu nelpon Sisca lagi? Minta duit lagi?"
Agung hanya diam saat mendengar cecaran pertanyaan dari sang Istri. Jangankan menjawab, menatap wajah Innaya saja ia tidak berani."Kamu mikir nggak sih Kang? Keluarga Teteh aku udah banyak membantu kita. Akang Fandi udah ngasih modal gede buat kita, dengan harapan kita nggak ngerong-rong Sisca lagi. Kasian dia Kang! Atuh Akang tuh harusnya mikir. Kang Fandi aja berjuang buat anaknya meskipun anaknya udah nikah. Dia nggak pernah leTENG!Jam di dinding apartemen mewah itu menunjukkan pukul dua dini hari. Intan terbangun karena merasakan sisi ranjang di sebelahnya kosong dan dingin.Ia mengucek matanya, berharap melihat Adrian sedang membaca berkas kasus di bawah temaram lampu tidur, namun suaminya memang tidak ada di sana."Ke mana?" Intan menyibakkan selimut tebalnya. Dengan langkah perlahan, ia keluar dari kamar tidur."Mas kamu di mana?" panggil Intan lembut. Suaranya hanya memantul di dinding ruang tengah yang sepi dan gelap.Ia melangkah menuju ruang kerja Adrian. Biasanya, jika Adrian sedang tidak bisa tidur karena memikirkan kasus kriminal, sang Detektif akan mengurung diri di sana.Namun, saat Intan membuka pintu jati ruang kerja itu, ruangan tersebut kosong melompong. Hanya ada keheningan dan aroma kopi yang sudah mengering dari cangkir di atas meja.Per
Di dalam ruang rahasia apartemen, Adrian sedang memasukkan beberapa perlengkapan taktis ke dalam ransel hitam miliknya.Sebuah pisau komando, senter militer, pemantik gas kedap air, dan pistol semi-otomatis dengan peredam suara sudah tersusun rapi.Di telinganya, sebuah earpiece mini terpasang, menghubungkannya langsung dengan Darko yang berada di balik layar komputer ribuan kilometer dari sana."Adrian, dengarkan aku baik-baik." Suara Darko terdengar jernih melalui frekuensi radio terenkripsi. "Apa kau mendengar?""Ya, katakan saja.""Aku sudah selesai menyinkronkan data denah Dylan dengan peta satelit terbaru. Tapi situasinya jauh lebih rumit dari yang kita duga. Kau harus berhati-hati jika tidak ingin nyawamu hilang dalam missi ini. Paham?""Hmmmm," jawab Adrian datar."Aku serius Adrian. Jangan sampai istrimu yang cantik itu me
Malam itu, setelah anak-anak terlelap, atmosfer di kediaman Dirga. Dokter tampan itu sedang berdiri di balkon kamar yang gelap, sambil memegang ponsel satelitnya dengan erat.Di ujung panggilan, suara Adrian terdengar berat, diiringi sayup-sayup ketikan jari di atas papan tombol komputer."Apa Anda yakin dengan yang kamu lihat itu?" tanya Adrian."Aku yakin itu bukan kebetulan, Adrian," bisik Dirga, suaranya sarat dengan kecemasan yang tertahan."Hmm." Di ujung sana Adrian mendengarkan dengan seksama."Pria itu tidak melihat ke arah wahana, dia tidak melihat pengunjung lain. Matanya terkunci pada Dylan. Dan saat aku mencoba mendekatinya, dia menghilang lewat pintu darurat staf seolah sudah menguasai denah tempat itu," lanjut Dirga."Anda harus tenang dulu, Dok," jawab Adrian dari seberang telepon. "Bisa Anda deskripsikan ciri-cirinya lebih detail? Tinggi badan, cara berjalan, atau mungkin ada tanda khusus?""Tinggi, tegap, sekitar 180 senti. Dia memakai hoodie gelap dan kacamata hi
Minggu pagi, saat Febby mengatakan pada suaminya ingin menghabiskan weekend bersama keluarga, Dirga langsung mengiyakan.Dylan, yang biasanya tampak terlalu dewasa dengan pemikiran logisnya, terlihat sangat antusias saat Dirga mengumumkan bahwa mereka akan menghabiskan waktu di sebuah wahana permainan besar di pusat kota."Daddy serius? Aku boleh ke luar nih?" Mata Dylan berbinar, memancarkan binar murni seorang bocah seusianya."Hanya untuk hari ini, dan hanya karena Mommy yang memintanya," jawab Dirga sambil mengacak rambut Dylan. "Tapi ingat, tetap dalam jangkauan Daddy.""Horee! Okey Daddy!" seru Dylan dan Farah berbarengan.Setibanya di taman bermain, suasana ceria langsung menyambut mereka. Dylan dan Farah, berlarian menuju area roller coaster dan komidi putar.Sementara Febby dan Dirga berjalan santai di belakang, mengawasi kedua buah hati mereka de
Setelah pulang dari rumah Dirga, Adrian menyibukkan diri dengan penemuannya. Alamat yang diberikan Dylan tadi akan menjadi jawaban dari pertanyaannya selama beberapa tahun ini.Di luar langit semakin gelap, namun cahaya biru dari layar monitor di apartemen pribadi Adrian masih menyala terang.Di hadapannya, tiga buah layar menampilkan barisan kode enkripsi yang bergerak cepat.Adrian tahu, denah yang digambar Dylan bukan sekadar coretan anak kecil ... itu adalah peta menuju Kotak Pandora milik Marco.Ia meraih ponsel satelitnya dan melakukan panggilan melalui jalur terenkripsi.Tak lama, wajah seorang pria dengan kacamata tebal muncul di layar kecil. Dia adalah Darko, peretas kepercayaan Adrian yang berbasis di luar negeri."Kau membangunkanku di jam yang salah, Adrian," gerutu Darko sambil mengucek mata."Simpan keluhanmu, Dark. Aku m
Adrian terdiam sejenak, menatap lekat ke dalam mata Dylan yang seolah-olah mampu menembus lapisan rahasia yang ia simpan."Dylan, kamu benar. Ada sesuatu yang tidak dikatakan orang tuamu karena mereka ingin melindungimu," bisik Adrian sambil memajukan posisi duduknya."Iya Om, aku paham tapi .... " Dylan menggantung ucapannya, kemudian Adrian melanjutkan."Kakek bertato naga itu ... dia ... sepertinya dia hubungan dengan pria bernama Marco. Marco adalah musuh besar Papamu di masa lalu. Tapi, dunia ini sempit. Marco juga adalah ayah biologis dari anak perempuan Tante Intan, bayi kami yang baru berusia satu tahun itu."Dylan terkesiap. Ia tahu Tante Intan adalah wanita yang baru saja dinikahi Om Adrian. Berarti, ayah kandung atau setidaknya kerabat dari bayi kecil itu adalah orang yang muncul dalam kegelapannya."Marco sudah meninggal," lanjut Adrian dengan nada rendah. "Tapi wa







