MasukRatna terkejut melihat menantunya menangis di depan pintu pagar dengan pakaian yang kotor. Tanpa pikir panjang, ia memeluk wanita cantik itu erat. Tak memperdulikan bau tidak sedap yang langsung menyeruak menusuk hidung.
Dari dalam rumah, Dewanto menyusul istrinya dengan langkah kaki cepat, mendekati dua wanita itu. Kedua mata menatap bingung, "Ada apa Ma?" tanyanya dengan suara bergetar. Ratna menggeleng, masih memeluk menantu kesayangan yang menaSetelah Andi keluar dari rumah, Nila menangis pilu meratapi masalah yang kini datang menerpa rumah tangganya.Bukan bahagia yang ia lihat dari wajah Andi setelah mengetahui kehamilannya. Namun, wajah kesal, penuh amarah yang menakutkan.Nila terduduk lemas di atas lantai ruang tamu, masih menggenggam erat benda plastik kecil yang seharusnya menjadi kabar paling bahagia dalam hidup mereka.Duniaya terasa runtuh. Tuduhan Andi bukan sekadar keraguan, tapi serangan telak pada kesetiaan yang selama ini ia jaga dengan seluruh jiwa.Dengan tangan gemetar, Nila merogoh ponsel dan mencari satu nama yang selalu ada untuknya 'Sasa' sahabat sejati.Saat telepon terhubung, Nila langsung mengatakan, "Sa, aku sedih banget." Nila sesenggukan begitu mendengar suara napas Sasa di ujung telepon."Sedih? Kamu kenapa Nila? Cerita sama aku. Kok nangisnya sampai kayak gitu?
Febby baru saja datang mengantarkan kopi ke ruang tengah rumah mewah ayahnya. Ia seketika terdiam melihat raut wajah sah suami yang terlihat gelisah.Sadar ada sesuatu yang terjadi, buru-buru Febby meletakkan nampan ke atas meja dan duduk di sebelah Dirga."Ada apa Mas? Kenapa kamu keliatan gelisah? Apa ada yang terjadi sama Laila dan Edric? Atau Intan?" tanya Febby, mengingat, Dirga memang sedang membantu mempersiapkan pernikahan kedua pasangan itu.Kalau bukan tentang Laila, pastinya tentang Intan, pikir Febby. Akan tetapi, kedua tebakan itu salah, Dirga menggelengkan kepalanya berkali-kali.Kening Febby berkerut, "Bukan?" tanyanya memastikan. "Iya bukan," jawab Dirga, menatap istrinya lekat. "Kamu pasti kaget kalau dengar siapa yang nelepon aku tadi."Febby semakin bingung mendengar jawaban sang suami. "Memang siapa Mas? Apa ada masalah yang terjadi di klinik? Bukannya klinik kamu belum buka sampai sekarang? Atau rumah sakit?"Dirga menghela napas panjang, kemudian mengatakan, "In
Cangkir kopi di tangan Andi bergetar hebat. Cairan hitam di dalamnya berguncang, seirama dengan detak jantungnya yang mendadak tak karuan. Matanya terpaku pada benda plastik kecil di tangan Nila."Ka-kamu ... kamu main-main, kan?" suara Andi tercekat, serak dan penuh kecurigaan.Nila menggeleng cepat, matanya berkaca-kaca karena bahagia. "Nggak, Mas. Aku udah tes tiga kali sejak pagi tadi. Semuanya sama. Garis dua. Kita akan punya anak, Mas!"Alih-alih memeluk Nila, Andi justru bangkit berdiri dengan kasar. Kursi kayu di belakangnya terseret hingga menimbulkan bunyi nyaring yang memecah keheningan ruang tamu."Jangan bercanda! Kamu tahu sendiri, aku udah pernah tes kualitas sperma beberapa tahun lalu. Dokter bilang nol! Azoospermia! Aku mandul, Nila! Nggak mungkin ada keajaiban yang bisa menembus dinding kemandulan itu!" teriak Andi, suaranya meninggi, dipenuhi rasa frustrasi yang bercampur denga
Adrian mematung di koridor rumah sakit yang sepi. Suara di seberang telepon itu seperti hantaman dari masa lalu yang ingin ia lupakan.Clara_wanita yang dahulu menertawakan lencananya, menghina penghasilannya sebagai detektif, demi kemewahan semu yang ditawarkan Kevin, kini menghubungi lagi."Mau apa Anda menghubungi saya lagi? Urusan kita sudah selesai!" tanya Adrian dengan nada dingin."Detektif Adrian, tolong dengarkan aku dulu." Suara Clara terdengar parau. "Aku tahu aku salah. Aku buta karena silau harta Kevin. Tapi sekarang semuanya hancur. Kevin dipenjara, dan aku baru sadar kalau hanya kamu pria yang benar-benar tulus yang akan menjadi pasanganku."Adrian terkekeh hambar. "Tulus? Kamu bilang aku hanya detektif rendahan saat itu, Clara. Sekarang, setelah pengusaha kaya-mu itu mendekam di sel, kamu baru ingat ketulusan?""Aku minta maaf, Mas Adrian! Aku mohon .... " Clara terisak di seberang sana. "Papa masuk rumah sakit. Jantungnya melemah setelah mendengar berita Kevin dan
Setelah perbincangan panjang lebar, Edric berhasil mengantongi restu dari ayah Laila.Mereka memutuskan kembali ke Bandung sebelum langit menjadi gelap. Perjalanan pun dilanjutkan oleh Dirga yang menyetir."Kalau kamu capek, gantian sama Ayah, Ga," ucap Fandi, menoleh ke samping, mengkhawatirkan kondisi menantunya.Perjalanan mereka membutuhkan waktu yang cukup lama, Dirga sudah terlihat lelah, tetapi senyum di bibir pria tampan itu tak pudar.Rasa lelah yang merayap di tubuh Dirga seketika hilang saat melihat kebahagiaan di jok belakang."Aku masih kuat Yah," senyum Dirga sambil memperhatikan Laila, Edric dan Pak Subur yang duduk santai sambil menikmati pemandangan."Bapak beneran nggak apa-apa ikut ke Bandung?" tanya Laila, menyandarkan kepala di bahu sang ayah. "Nanti sawah siapa yang jagain, Pak?"Pak Subur terkeke
Jantung Laila berdebar cepat saat mobil mewah milik Dirga sudah memasuki kumpulan kabut tipis di Gunung Gede Sukabumi.Laila menyempitkan mata, menahan emosi yang meluap di dalam dadanya. Pertemuan ini adalah pertemuan pertama setelah lama ia tidak melihat wajah sang ayah.Duduk di samping, Edric berbisik seolah dapat membaca isi hati Laila, "Tenang, Sayang. Aku di sini" Ia menggenggam tangan gadis itu, menyalurkan kehangatan yang sedikit menenangkan.Di kursi depan, Fandi yang duduk di samping setir kemudi, sesekali melirik dari spion. "Kita udah sampai di alamatnya, Nak. Itu ... rumah kayu di depan nyak?"Laila mendongak. Matanya seketika panas saat melihat sebuah rumah panggung sederhana dengan dinding bilik bambu yang masih terawat.Di teras depan, seorang pria tua mengenakan sarung yang dikalungkan di leher dan caping di tangan, baru saja hendak melangkah turun.Dia Pak Subur. Perawakannya jauh lebih kurus dari yang Laila ingat, punggungnya sedikit membungkuk, menanggung beban







