Beranda / Romansa / Ah! Enak Mas Dokter / Menemukan Alamatnya

Share

Menemukan Alamatnya

Penulis: Dita SY
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-09 08:00:00

"Kamu menghubungi siapa?" tanya Barta pada Dirga yang tengah menunggu panggilannya diterima.

Dirga hanya diam seribu bahasa. Kedua matanya memerah, menatap tajam ke depan.

Suasana di dalam mobil terasa mencekam. Kabar terbaru dari Dewanto, sukses membuat Dirga dan Barta semakin gelisah.

Barta menatap Dokter Kandungan itu. Tak ada pertanyaan apapun lagi, ia hanya mengamati apa yang dilakukan Dirga.

Otot-otot rahang Dirga menegang. Tangannya mengepal di atas pangkuan. Ia terus menatap tajam ke jalanan sambil menunggu telepon itu tersambung.

Tut! Tut! Tut!

Telepon darinya belum juga diterima oleh Tania, meskipun ponsel wanita itu aktif.

Kecurigaan Dirga pada sang Model semakin besar. Bisa-bisanya ia percaya pada wanita licik itu.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Ah! Enak Mas Dokter   Persiapan Pulang ke Indonesia

    Setelah menjalani operasi ketiga, kondisi Dylan semakin membaik. Dokter Yohanes sudah memperbolehkan pasien kecilnya pulang.Fandi dan Dirga mengurus semua berkas yang dibutuhkan untuk membawa Dylan ke Indonesia. Rumah sakit terbaik pun sudah dipilih untuk melanjutkan pengobatan Dylan di sana."Pasien hanya butuh pengawasan ketat selama beberapa minggu saja, setelah itu pasien sudah bisa beraktivitas seperti biasa," ujar Dokter Yohanes menerangkan."Terima kasih banyak Dokter. Kami akan melanjutkan pengobatan di Indonesia. Kebetulan salah satu keluarga kami adalah Dokter ahli saraf terbaik di sana.""Oh, bagus kalau begitu. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Semakin cepat kalian kembali ke Indonesia, semakin baik, karena perkembangan psikis Dylan akan membaik di sana.""Iya Dok, sekali lagi terima kasih banyak." Dirga tersenyum simpul. Rasa lega dan bahagia bercampur menjadi satu, sulit dijelaskan. Setelah mendengar penjel

  • Ah! Enak Mas Dokter   Desah di Ruang Perawatan +

    "Honey, kamu darimana?" Prams menatap wanita cantik yang baru saja membuka pintu kamar perawatan. Langkah kaki Elina tertahan. Matanya mengedar, seperti mencari sesuatu. Prams menyempitkan kedua mata, mengikuti arah mata Elina yang mengitari sekeliling kamar itu. Tak ada yang aneh, entah apa yang ada di dalam pikiran Elina. Menurutnya, seisi ruangan tidak ada yang berbeda. Bed rumah sakit masih berada di tempat semula. Buah-buahan segar belum disentuh sama sekali. Ruang kamar VVIP di salah satu Rumah Sakit terbesar di Hong Kong itu tampak bersih seperti kamar hotel bintang lima. Semua fasilitas ada di dalam ruangan itu. Sofa panjang mewah, televisi besar dan AC yang menyala full. "Honey, kamu sedang mencari siapa?" tanya Prams, mengubah posisi menjadi duduk bersandar ke belakang. Elina menggeleng, melanjutkan langkah kakinya mendekati bed dan duduk di kursi.

  • Ah! Enak Mas Dokter   Desah di Ruang Dokter ++

    Lily menelan ludah keras saat merasakan pergelangan tangannya digenggam begitu erat oleh Zhang.Saat ingin menarik pintu, Zhang mendorong pelan dan mengunci rapat. Lily mendongak, menatap pria tinggi itu dengan kedua mata membulat. Tatapannya beralih pada seisi ruangan, jauh dari tempatnya saat ini sebuah ponsel tergeletak, tak dapat diraih."Aku ingin bicara!" Zhang mengulang ucapannya.Lily menghela napas panjang. Menundukkan kepala sesaat, lalu menatap tajam pada Zhang. "Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Semua sudah selesai, kita tidak memiliki hubungan apapun. Kamu tahu 'kan, minggu depan aku akan menikah dengan sahabat Papaku. Tolong lupakan kalau kita pernah memiliki hubu .... "Ucapan Lily seketika berhenti saat Zhang menarik pinggang dan menekan tubuh moleknya ke dinding.Zhang memiringkan kepala dengan mata terpejam, menikmati harum khas yang dirindukan setengah mati.Wangi parfum Cherry yang biasanya i

  • Ah! Enak Mas Dokter   Penjelasan Dokter

    "Periksa tekanan darah Pasien," titah Dokter Zhang pada Perawat. "Baik Dokter." Perawat bernama Lily itu memeriksa tekanan darah Prams, kemudian tersenyum. "Tekanan darah Pasien stabil Dok. Kondisinya juga sudah jauh lebih baik."Dokter Zhang mengangguk, lalu melangkah mendekati ranjang dan berdiri di samping. Ia mencondongkan tubuh, dengan tatapan penuh konsentrasi saat memeriksa mata Prams yang terbuka lebar.Sementara Elina menunggu dengan harap-harap cemas. Kedua tangan saling menggenggam di atas dada.Dari bibir yang terus bergerak, doa-doa dilangitkan, meminta kesembuhan untuk calon suaminya.Dokter Zhang tersenyum. "Respons pupilnya normal," gumamnya sambil menyalakan senter kecil dan mengarahkan ke kedua bola mata Prams.Napasnya terhenti sesaat saat mendengar detak jantung yang terpantau melalui monitor, detak yang stabil, tetapi masih terdengar lemah.Dengan tangan cekatan, ia menekan manset tensi di

  • Ah! Enak Mas Dokter   Amnesia?

    Elina menatap Prams yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Wajah yang biasanya keras kini tampak rapuh dan pucat.Napas pria bertato itu terdengar berat, tersengal-sengal oleh alat bantu pernapasan yang terpasang di hidungnya.Tangan Prams yang kasar dan penuh bekas tinta itu terkulai lemah di samping tubuhnya.Elina menghela napas lirih, dadanya sesak menahan perasaan campur aduk antara harapan dan ketakutan."Tolong sadar Hubby. Aku di sini menunggu kamu. Kembalilah Hubby."Mata Elina yang merah berusaha menahan buliran bening yang menggenang di pelupuk. Jemari tangannya gemetar saat menyentuh selimut putih yang menutupi tubuh Prams."Tolong bertahanlah,” bisik Elina lagi dengan suara melemah. Suara itu nyaris tak terdengar di antara bunyi alat medis yang berdengung monoton.Elina mengusap lembut pipi Prams. Air matanya tak dapat terbendung, mengalir deras membasahi wajah cantik yang lelah itu.Sua

  • Ah! Enak Mas Dokter   Tangisan Sisca

    Indonesia~Baru saja Barta mendapat telepon dari Bramanto dan berbicara panjang lebar tentang rencana kepulangan Dylan dua hari lagi."Beritahu Istri kamu ya Nak, biar dia bisa membantu bibinya menyiapkan acara penyambutan kepulangan Dylan nanti," ucap Bramanto. "Iya Pa, pasti. Makasih informasinya. Aku nggak sabar ingin secepatnya melihat keponakan aku pulang.""Papa juga. Kita doakan saja semua lancar. Dua hari lagi mereka pasti pulang.""Amin Pa, Amin," senyum Barta. "Ya sudah, Papa mau melanjutkan pekerjaan Papa. Sudah dulu ya." Bramanto mengakhiri telepon.Setelah telepon diakhiri, Barta buru-buru mencari istrinya yang tak terlihat di dalam kamar Utama.Jam baru menunjukkan pukul tujuh pagi. Sisca memang selalu bangun lebih pagi dari ayam tetangga. Sementara Ibu mertuanya pasti sedang mengajak cucu Kesayangan berjemur di taman komplek.Barta melangkah menuju dapur, satu-satunya tempat f

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status