공유

Pengakuan

작가: Dita SY
last update 최신 업데이트: 2025-07-18 09:00:58

***

Di tempat berbeda, Febby sedang mengumpulkan berkas-berkas untuk mengajukan gugatan cerai. Ia berdiri di depan meja kerja ayahnya, membelakangi pintu. Dan tiba-tiba seseorang dari belakang memeluk tubuhnya.

Deg!

Febby terhenyak, tetapi dia tahu siapa itu. "Mas, jangan nekat, nanti ada Ibu," protesnya melepas kedua tangan Dirga yang melingkar di perut.

"Perut kamu udah agak gede, Baby?" Dirga memutar tubuh Febby berhadapan. Kedua mata membulat dengan senyuman merekah di bibir merah alaminya.

Febby mengangguk pelan, "Iya, kayaknya karena aku banyak makan," jawabnya sambil melihat ke arah pintu. "Kamu ngapain masuk? Kata Ibu kamu harus nunggu di luar. Nanti Ibu lihat gimana?" Wajahnya terlihat panik.

Duda Tampan itu tersenyum, "Nanti aku jelasin kalau aku lagi bantu kamu memilih beberapa berkas yang kamu ngga tahu."

"Jangan nekat deh, Mas. Mending kamu nunggu di luar, nanti Ibu mikir macam-macam."

Bukannya kelu
이 책을.
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터
댓글 (14)
goodnovel comment avatar
Risa
suka bgt dengan ceritanya
goodnovel comment avatar
Move On
𝒂𝒌𝒖 𝒏𝒈𝒂𝒌𝒂𝒌 𝒔𝒂𝒎𝒂 𝒊𝒃𝒖 𝒏𝒚𝒂 𝒇𝒆𝒃𝒚𝒚, 𝒎𝒂𝒏𝒈𝒈𝒊𝒍 𝒅𝒊𝒓𝒈𝒂 𝒅𝒖𝒅𝒖𝒏𝒈 𝒕𝒆𝒓𝒖𝒔, 𝒑𝒂𝒅𝒂𝒉𝒂𝒍 𝒖𝒅𝒂𝒉 𝒅𝒊 𝒌𝒂𝒔𝒊𝒉 𝒕𝒂𝒉𝒖 𝒌𝒂𝒍𝒂𝒖 𝒏𝒎𝒂𝒏𝒚𝒂 𝒅𝒊𝒓𝒈𝒂 ...
goodnovel comment avatar
Herlisdayanti Piongan
mantap ceritanya
댓글 모두 보기

최신 챕터

  • Ah! Enak Mas Dokter   Penjelasan Dokter

    "Periksa tekanan darah Pasien," titah Dokter Zhang pada Perawat. "Baik Dokter." Perawat bernama Lily itu memeriksa tekanan darah Prams, kemudian tersenyum. "Tekanan darah Pasien stabil Dok. Kondisinya juga sudah jauh lebih baik."Dokter Zhang mengangguk, lalu melangkah mendekati ranjang dan berdiri di samping. Ia mencondongkan tubuh, dengan tatapan penuh konsentrasi saat memeriksa mata Prams yang terbuka lebar.Sementara Elina menunggu dengan harap-harap cemas. Kedua tangan saling menggenggam di atas dada.Dari bibir yang terus bergerak, doa-doa dilangitkan, meminta kesembuhan untuk calon suaminya.Dokter Zhang tersenyum. "Respons pupilnya normal," gumamnya sambil menyalakan senter kecil dan mengarahkan ke kedua bola mata Prams.Napasnya terhenti sesaat saat mendengar detak jantung yang terpantau melalui monitor, detak yang stabil, tetapi masih terdengar lemah.Dengan tangan cekatan, ia menekan manset tensi di

  • Ah! Enak Mas Dokter   Amnesia?

    Elina menatap Prams yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Wajah yang biasanya keras kini tampak rapuh dan pucat.Napas pria bertato itu terdengar berat, tersengal-sengal oleh alat bantu pernapasan yang terpasang di hidungnya.Tangan Prams yang kasar dan penuh bekas tinta itu terkulai lemah di samping tubuhnya.Elina menghela napas lirih, dadanya sesak menahan perasaan campur aduk antara harapan dan ketakutan."Tolong sadar Hubby. Aku di sini menunggu kamu. Kembalilah Hubby."Mata Elina yang merah berusaha menahan buliran bening yang menggenang di pelupuk. Jemari tangannya gemetar saat menyentuh selimut putih yang menutupi tubuh Prams."Tolong bertahanlah,” bisik Elina lagi dengan suara melemah. Suara itu nyaris tak terdengar di antara bunyi alat medis yang berdengung monoton.Elina mengusap lembut pipi Prams. Air matanya tak dapat terbendung, mengalir deras membasahi wajah cantik yang lelah itu.Sua

  • Ah! Enak Mas Dokter   Tangisan Sisca

    Indonesia~Baru saja Barta mendapat telepon dari Bramanto dan berbicara panjang lebar tentang rencana kepulangan Dylan dua hari lagi."Beritahu Istri kamu ya Nak, biar dia bisa membantu bibinya menyiapkan acara penyambutan kepulangan Dylan nanti," ucap Bramanto. "Iya Pa, pasti. Makasih informasinya. Aku nggak sabar ingin secepatnya melihat keponakan aku pulang.""Papa juga. Kita doakan saja semua lancar. Dua hari lagi mereka pasti pulang.""Amin Pa, Amin," senyum Barta. "Ya sudah, Papa mau melanjutkan pekerjaan Papa. Sudah dulu ya." Bramanto mengakhiri telepon.Setelah telepon diakhiri, Barta buru-buru mencari istrinya yang tak terlihat di dalam kamar Utama.Jam baru menunjukkan pukul tujuh pagi. Sisca memang selalu bangun lebih pagi dari ayam tetangga. Sementara Ibu mertuanya pasti sedang mengajak cucu Kesayangan berjemur di taman komplek.Barta melangkah menuju dapur, satu-satunya tempat f

  • Ah! Enak Mas Dokter   Teka-teki

    "Silakan duduk Nak Adrian, dan .... " Fandi menggantung ucapan, menatap Intan sambil menggaruk kerutan kening, berusaha mengingat nama wanita muda di depannya.Melihat itu, Adrian langsung memahami. "Namanya Intan, Pak Fandi," ucapnya mengenalkan. "Dia wanita yang berhasil melenyapkan Prams. Berkat dia masalah kita semua selesai."Fandi membuka mulut sedikit dengan tatapan kagum. Dengan cepat ia melangkah mendekati Intan lalu mengulurkan tangan. "Jadi kamu yang namanya Intan?" senyumnya. "Neng Geulis yang berjuang sendiri di Hong Kong. Makasih ya Neng. Makasih banyak."Intan hanya tersenyum, menyambut uluran tangan pria baya itu."Makasih banyak Neng. Kalau bukan karena kamu, nggak mungkin semua masalah ini berakhir. Makasih nyak.""Sama-sama Pak, makasih juga sudah menjemput saya." Intan menundukkan kepala.Diam-diam Adrian terus memperhatikan wanita cantik itu. Senyum di bibirnya mengembang, mengagumi sikap sopan dan

  • Ah! Enak Mas Dokter   Tiba di Amerika

    "Mas."Setibanya di Rumah Sakit terbesar di Amerika, Dirga langsung disambut pelukan dan tangisan khawatir istrinya. "Kamu baik-baik saja 'kan Mas? Aku khawatir sama kamu." Pelukan itu semakin erat.Dirga mengusap lembut punggung Kesayangan. Matanya melirik Adrian dan Intan yang diajak masuk ke kamar perawatan oleh Fandi. "Aku baik-baik saja Sayang," jawabnya sambil mengecup jenjang leher Febby. Memejamkan mata, menikmati harum khas wanita Kesayangan yang dirindukan setengah mati.Febby melepas pelukan, menatap suaminya dengan kedua manik mata berkaca-kaca. "Aku khawatir Mas. Aku pikir kamu nggak akan sampai ke sini. Aku dengar ada badai yang membuat Pesawat kamu gagal landing."Dirga mengangguk sambil menghela napas dalam. Sejujurnya ia juga berpikiran yang sama.Ada ketakutan dan sedikit trauma yang membekas saat mengingat turbulensi yang sempat dialami di perjalanan menuju Hong Kong. Beruntung saat kembali ke Amerik

  • Ah! Enak Mas Dokter   Cemburu Buta

    Perjalanan menuju Amerika masih panjang. Setelah puas beristirahat, Adrian memutuskan berkeliling Pesawat Pribadi milik Fandi. Dari kejauhan ia melihat ruang kamar tidur Intan. Sepertinya wanita cantik itu masih terlelap. Sementara di ruang VVIP, kemungkinan Dirga juga masih menjelajahi mimpi. Tak ingin mengusik ketenangan orang lain, Adrian melanjutkan perjalanan mengelilingi kabin Pesawat. Melangkah perlahan, Adrian mengedarkan pandangan di setiap sudut mewah yang memanjakan mata, sambil tersenyum kagum. Langkah kakinya tak henti menyusuri lorong Pesawat Pribadi milik Fandi, matanya tak lepas dari setiap detail mewah yang tersaji. Dinding Pesawat berbalut kayu gelap berkilau, dengan panel-panel emas yang menghias di sudut-sudutnya. Tanpa sadar kepalanya menggeleng dengan senyuman terkagum-kagum. Matanya menyempit saat melihat silau lamp

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 책을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 책을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status