Home / Romansa / Ah! Enak Mas Dokter / Marah tapi Cinta

Share

Marah tapi Cinta

Author: Dita SY
last update Last Updated: 2025-10-18 09:00:31
"Aku tahu kesibukanku belakangan ini membuatmu merasa kurang diperhatikan, tapi aku melakukan semua ini untuk kamu dan anak-anak," ucap Dirga sambil mengusap pundak istrinya dengan lembut.

Febby hanya diam. Memalingkan wajah, enggan untuk sekedar menatap sang suami.

Dadanya kembang kempis, menahan emosi yang nyaris meledak. Rasanya ingin sekali memaki dan memukul pria yang sudah memberinya dua anak itu, tetapi tidak mungkin 'kan ia melakukannya.

Dirga menarik napas panjang, masih berusaha merayu sang Istri yang terlihat sangat marah.

Senyuman manis tak lagi terlihat di wajah cantik wanita pujaan. Tidak seperti awal pernikahan mereka, yang masih terasa hangat.

Beberapa bulan ini, hampir setiap hari mereka bertengkar hanya karena masalah sepele.

"Aku mau mandi dulu. Setelah mandi aku ke kamar anak-anak, hmm." Dirga berdiri kemudian melangkah menuju kamar.

Setelah suaminya pergi, Febby menoleh, menatap punggung tegap Dokter Tampan itu, yang perlahan hilang dari pandangan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Ognindi Wingky
knp yaaq g rampung* ada aja gangguan... bnr jd bosen bacanya Thor... udh lanjut aja sisca sm dr.barta
goodnovel comment avatar
Missna Wati
terlalu panjang cerita ny mulai bosen baca ny
goodnovel comment avatar
Harsa Amerta Nawasena
Tania minta tolong sama Dirga agar mau menikahi Jelita, wkwkwk, lagu lamaaa
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Ah! Enak Mas Dokter   Berhasil Masuk

    "Buka pintu gerbang! Dokter Kandungan itu sudah ada di luar!" Suara teriakan seseorang dari dalam mansion didengar oleh Adrian. Disusul suara langkah kaki mendekati pintu gerbang.Adrian menegakkan tubuh, mempersiapkan diri untuk masuk ke dalam mansion.Tak lama pintu gerbang mansion mewah itu terbuka perlahan dengan bunyi derit besi yang berat.Di balik gerbang, puluhan pria bertubuh jangkung berdiri rapi, masing-masing menggenggam senjata api dan senjata tajam yang berkilat di bawah sinar matahari.Tatapan mereka tak beranjak dari sosok Dokter Kandungan yang berdiri tegak di depan mereka, mulai dari ujung kepala yang diselimuti rambut hitam hingga ujung kaki yang mengenakan sepatu kulit mengkilap.Wajah para pengawal kaku, tanpa senyum, seolah menilai setiap detail keberadaan sang Dokter.Salah satu pria berpostur kekar melangkah maju, menatap tajam ke arah pakaian Dokter itu."Anda Dokter Kandungan?"

  • Ah! Enak Mas Dokter   Prams Menghilang?

    Elina membuang napas kasar. Menatap dengan sorot mata tajam ke arah Intan. Sementara gadis itu hanya diam sambil meringis, memegang perut. "Kamu meminum alkohol? Apa kamu tidak tahu alkohol itu tidak baik untuk janin?" tanyanya dengan nada sinis. "Maaf, aku .... ""Untuk apa meminta maaf padaku? Sekarang yang merasakan sakit itu kamu, bukan aku. Kenapa kamu melakukan itu? Apa kamu tidak tahu bahayanya mengkonsumsi alkohol di saat hamil?"Intan menggeleng. "Aku hanya ingin melupakan masa lalu. Aku tidak sanggup menanggung rindu pada orang yang sudah tidak bisa aku lihat lagi di dunia ini."Mendengar ungkapan hati Intan, Elina hanya bisa menghela napas panjang. Ia tahu betapa tersiksanya hidup dalam bayang-bayang masa lalu dengan orang Tersayang. Menanggung rindu setiap detik sangat menyiksa. Apalagi rindu pada orang yang sudah tiada. Beberapa tahun lalu ia juga merasakan perasaan yang sama seperti Intan, tetapi tak pernah terlintas sedikitpun di benaknya untuk mengkonsumsi alkohol

  • Ah! Enak Mas Dokter   Kontraksi

    Ketika Adrian tiba di depan mansion mewah Prams. Ia terperangah melihat pagar menjulang tinggi di depannya.Matanya mengamati sekitar, mencari cara agar bisa masuk ke dalam tanpa dicurigai. Dari celah-celah pintu pagar, Adrian dapat melihat suasana di dalam. Halaman luas dengan rerumputan hijau membentang dengan jarak ratusan meter. Sementara di sekitar halaman itu, tak ada sedikit pun celah kosong. Terlihat begitu banyak anak buah Marco yang berdiri sambil membawa senjata masing-masing. Adrian berdecak. Pikirannya kalut, tetapi ia harus tetap mencari cara agar bisa masuk ke dalam sana dan membawa Intan pergi.Saat dirinya semakin frustasi, ia mencoba menghubungi Intan. Dan tak lama telepon darinya diterima oleh wanita muda itu. "Aku sudah berada di luar mansion. Tapi aku kesulitan untuk masuk. Penjagaan sangat ketat, dan aku hanya sendiri."Intan diam, hanya terdengar suara napas terengah seperti baru saja berlari keliling lapangan bola.Mata Adrian membulat. "Ada apa? Apa yang t

  • Ah! Enak Mas Dokter   Melenyapkan Prams

    Intan berdiri dari duduknya, memutar tubuh lalu menyunggingkan senyuman pada Elina. "Hay ....." Gadis muda itu mengulurkan tangan pada Elina. "Perkenalkan nama saya ... Intan." Elina memalingkan wajah ke samping. Senyuman sinis terukir di wajah cantiknya. Ia memegang dada yang berdenyut cepat, rasa sesak merayap, seakan oksigen berhenti mengaliri tubuh. Melihat sikap dingin itu, Intan langsung menurunkan tangan dan menundukkan kepala. Dalam hati, ia ingin secepatnya menyelesaikan semua rencana. Namun, kedatangan wanita dan anak kecil itu membuatnya harus memutar otak untuk memancing Prams. "Mom .... " Edgar mendongak, menatap wajah ibunya yang terlihat penuh amarah. "Why Mom?" Elina mencoba tersenyum, meski hatinya terasa sakit memikirkan hubungan Prams dengan wanita muda di hadapannya. Apa mungkin ia dibohongi? Ternyata Prams sudah memiliki wanita lain, dan wanita itu sedang mengandung. Lalu, untuk apa dia dibawa ke mansion ini? Dengan sekuat tenaga Elina menahan air

  • Ah! Enak Mas Dokter   Wanita itu Siapa?

    Saat suara mesin mobil terdengar, Intan berdiri dari kursi lalu melangkah mendekati jendela dan membuka tirai.Deg!Kedua mata membulat sempurna saat melihat Prams turun dari mobil dan membukakan pintu untuk seseorang.Benar saja apa yang dikatakan Pelayan tadi, Prams datang bersama seorang wanita cantik dan anak laki-laki seusia Regan. Melihat kedatangan sang Mafia, buru-buru Intan menyusun rencana. Ia mengeluarkan botol wiski dari lemari dan mengambil serbuk obat dari balik pakaian dalamnya.Dengan tangan gemetar, ia menuang isi dari dalam botol kecil itu ke dalam minuman keras favorit Prams.Setelah memastikan bubuk itu menyatu dalam minuman, ia meletakkan botol Wiski mahal tersebut ke atas meja.Intan kembali duduk. Ia menelan ludah keras sambil menatap botol wiski yang berada di atas meja makan. Sesaat kemudian, ia berdiri dan memindahkan botol wiski itu kembali ke dalam lemari. Kalau dipikir-pikir, rencananya akan terbongkar jika ia langsung memberikan minuman pada Prams tanp

  • Ah! Enak Mas Dokter   Pagi Hari yang Ditunggu

    "Ughh!" Suara desahan panjang terdengar di kamar bernuansa biru muda.Prams mempercepat gerakan tubuhnya saat merasakan cairan kental di dalam sana ingin menyembur ke luar.Elina memekik pelan. Kedua tangan meremas pinggang Prams yang tengah mengungkungnya. "Ahhh! Honey!" Prams merapatkan bagian bawah. Cairan kental menyembur masuk ke dalam sana. Elina mengigit bibir saat merasakan cairan hangat masuk ke dalam rahimnya. "Eumh." Ia menatap wajah Prams yang merah, basah oleh keringat. "Kamu tidak menggunakan pengamanan lagi?"Prams menjatuhkan tubuhnya ke atas Elina. "Hmm, aku tidak memakai pengaman. Kemungkinan kita akan memberikan adik untuk Edgar.""Adik perempuan?" Prams terdiam, mengingat begitu banyak keturunan perempuan di keluarganya. Baginya perempuan itu hanya bisa menyusahkan. Mengingat kakak perempuan yang bernama Anggun mati sia-sia karena cinta. Dan sebentar lagi ia akan memiliki adik perempuan dari Intan. "Kenapa diam?" tanya Elina. "Aku ingin anak laki-laki," jawab

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status