/ Romansa / Ah! Enak Mas Dokter / Tiga Tahun Berlalu~

공유

Tiga Tahun Berlalu~

작가: Dita SY
last update 최신 업데이트: 2025-10-17 08:00:35
Febby Fiolla_ibu muda dua anak yang hari ini mulai aktif dengan kegiatan barunya ... bergabung bersama Ibu-ibu lain saat kedua anaknya sedang belajar di dalam kelas.

Kedua anaknya itu tampak aktif mengikuti semua pembelajaran dari guru yang memperkenalkan aneka warna bunga-bunga dari kertas.

Ia berdiri di dekat kaca jendela, memperhatikan anak-anaknya yang mulai memahami penjelasan guru.

Sesekali Dylan dan Farah yang memiliki usia terpaut satu tahun, menoleh ke arahnya kemudian tersenyum manis.

Febby melambaikan tangan sambil mengucapkan, 'Mommy ada di sini' yang terbaca dari gerakan bibirnya.

Kedua anaknya menganggukkan kepala. Terlihat jelas mereka merasa aman dan tenang saat mengetahui ibunya sedang mengawasi.

"Anaknya tampan ya, Jeng, sama seperti ayahnya yang Dokter Kandungan itu," puji seorang wanita yang juga tengah mengawasi anaknya mengikuti pelajaran di sekolah PAUD.

Wanita itu menatap Febby dari ujung kepala sampai kaki. Ada rasa kagum melihat kecantikan ibu mu
이 책을.
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터
댓글 (2)
goodnovel comment avatar
Harsa Amerta Nawasena
Jangan sampai Dirga berubah tidak setia terhadap Febby dan kedua anaknya... Sesukses apapun seorang suami, jika ia tetap berkomitmen untuk SETIA sampai nenek kakek, itulah benar-benar keluarga harmonis, kebahagian surgawi.
goodnovel comment avatar
shieda_5814
bukankah papa mama, jadi tukar mommy daddy
댓글 모두 보기

최신 챕터

  • Ah! Enak Mas Dokter   Pak Adrian!

    Beberapa detik berlalu, dan suasana di mobil semakin mencekam. Supir yang tak lain anak buah Prams mulai menyadari sandiwara Intan dan Adrian. Meski gadis itu terus berteriak kesakitan, sang Supir tak berniat melanjutkan perjalanan menuju Rumah Sakit. Mobil yang dikendarai itu berhenti di pinggir jalan, jauh dari keramaian di depan. Mata sang Supir melotot ke arah Adrian dan Intan. Satu tangannya merogoh dasbor, mengeluarkan senjata api kecil. Adrian tak bisa berkutik. Ia hanya bisa memainkan sandiwaranya sebagai Dokter meski sejak tadi semua itu sudah diketahui. "Tolong lanjutkan perjalanan. Pasien saya sedang kesakitan. Apa kau tidak takut Tuan Prams murka?" Napas Adrian terengah-engah. "Dia mau melahirkan. Cepat jalan!" Supir tersebut tersenyum dingin. "Kau pikir aku percaya? Kau dan wanita ini bersekongkol. Kalian berdua akan mati di tangan Tuan!" Adrian membuang napas pan

  • Ah! Enak Mas Dokter   Ketahuan?

    "Tolong antar kami ke Rumah Sakit terdekat." Adrian memasang sabuk pengaman di pinggang, kemudian memeluk tubuh Intan yang duduk di sampingnya. "Baik Dokter."Mobil sport berwarna merah menyala itu melaju kencang membelah jalanan sempit Kota Hong Kong yang dipenuhi gedung pencakar langit dan lampu neon yang berkelap-kelip.Mesin mobil meraung bagaikan singa yang dilepas, suara ban menggesek aspal menambah ketegangan suasana malam itu.Di balik kemudi, sang Supir duduk tegap dengan fokus penuh. Matanya yang tajam menatap lurus ke depan, tangan terampil menggenggam setir seolah sedang mengendalikan kuda liar.Gerakannya lincah, setiap tikungan dilibas dengan presisi sempurna, tanpa sedikit pun kehilangan kendali.Jalanan yang padat dengan kendaraan lain seakan tersingkir, memberi ruang bagi mobil itu untuk melaju seperti pembalap profesional di arena balap.Hembusan angin pada sore itu menerpa wajah, menyibakkan rambut ya

  • Ah! Enak Mas Dokter   Berhasil Pergi

    Tut! Tut! Tut! Suara alarm terdengar memecah keheningan di kabin pesawat. Seketika itu suasana di dalam ruang kemudi menjadi panik. "Sepuluh menit lagi kita akan menabrak awan hitam," ucap Ko-Pilot dengan mata membulat sempurna."Pastikan masker Oksigen berfungsi dengan baik!""Tidak ada yang bisa kita lakukan, kita akan menabrak awan," gumam Ko-Pilot sambil menatap tombol-tombol pengendali di depannya.Bruk!Pesawat jet pribadi itu berguncang hebat, seolah-olah terhantam gelombang besar di udara.Dirga yang duduk di kursi penumpang utama, merasakan jantungnya berdetak tak beraturan.Tubuh pesawat terombang-ambing tanpa kendali, membuat orang di dalamnya saling berpegangan erat pada sandaran kursi. Wajah Pilot dan Ko-Pilot berubah pucat, keringat dingin mengalir deras di pelipis mereka. "Tekanan oksigen turun drastis!" teriak Pilot dengan suara gemetar, matanya sibuk memantau panel instrumen yang ber

  • Ah! Enak Mas Dokter   Prams Tewas?

    "Buka pakaian dalam Anda!"Intan terdiam dengan wajah panik saat mendengar Adrian memintanya membuka pakaian dalam dan melebarkan kedua kaki, tepat di depan sang Detektif. Sebenarnya pemeriksaan yang dilakukan Dokter Kandungan memang seperti itu. Namun, sekarang berbeda, yang duduk di depannya bukan seorang Dokter melainkan Detektif. Bagaimana mungkin? Sama seperti Intan, sang Detektif pun mulai gugup. Tak henti-hentinya ia mengusap peluh yang membasahi pelipis. Sesekali sudut matanya melirik ke samping, melihat Elina dan satu Pelayan sedang memperhatikan.Jika kebohongannya ketahuan, bisa-bisa hidupnya dan hidup Intan berakhir saat ini juga."Buka kakinya." Adrian mengulang ucapan sambil menatap Intan yang diam mematung. Matanya bergerak, memberi kode agar Intan mengikuti sandiwaranya. Namun, gadis itu masih ragu. Suasana mendadak canggung. Keduanya terlihat panik. Tubuh mereka dibasahi keringat

  • Ah! Enak Mas Dokter   Berhasil Masuk

    "Buka pintu gerbang! Dokter Kandungan itu sudah ada di luar!" Suara teriakan seseorang dari dalam mansion didengar oleh Adrian. Disusul suara langkah kaki mendekati pintu gerbang.Adrian menegakkan tubuh, mempersiapkan diri untuk masuk ke dalam mansion.Tak lama pintu gerbang mansion mewah itu terbuka perlahan dengan bunyi derit besi yang berat.Di balik gerbang, puluhan pria bertubuh jangkung berdiri rapi, masing-masing menggenggam senjata api dan senjata tajam yang berkilat di bawah sinar matahari.Tatapan mereka tak beranjak dari sosok Dokter Kandungan yang berdiri tegak di depan mereka, mulai dari ujung kepala yang diselimuti rambut hitam hingga ujung kaki yang mengenakan sepatu kulit mengkilap.Wajah para pengawal kaku, tanpa senyum, seolah menilai setiap detail keberadaan sang Dokter.Salah satu pria berpostur kekar melangkah maju, menatap tajam ke arah pakaian Dokter itu."Anda Dokter Kandungan?"

  • Ah! Enak Mas Dokter   Prams Menghilang?

    Elina membuang napas kasar. Menatap dengan sorot mata tajam ke arah Intan. Sementara gadis itu hanya diam sambil meringis, memegang perut. "Kamu meminum alkohol? Apa kamu tidak tahu alkohol itu tidak baik untuk janin?" tanyanya dengan nada sinis. "Maaf, aku .... ""Untuk apa meminta maaf padaku? Sekarang yang merasakan sakit itu kamu, bukan aku. Kenapa kamu melakukan itu? Apa kamu tidak tahu bahayanya mengkonsumsi alkohol di saat hamil?"Intan menggeleng. "Aku hanya ingin melupakan masa lalu. Aku tidak sanggup menanggung rindu pada orang yang sudah tidak bisa aku lihat lagi di dunia ini."Mendengar ungkapan hati Intan, Elina hanya bisa menghela napas panjang. Ia tahu betapa tersiksanya hidup dalam bayang-bayang masa lalu dengan orang Tersayang. Menanggung rindu setiap detik sangat menyiksa. Apalagi rindu pada orang yang sudah tiada. Beberapa tahun lalu ia juga merasakan perasaan yang sama seperti Intan, tetapi tak pernah terlintas sedikitpun di benaknya untuk mengkonsumsi alkohol

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 책을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 책을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status