Home / Romansa / Ah! Enak Mas Dokter / Kelahiran Bidadari Kecil

Share

Kelahiran Bidadari Kecil

Author: Dita SY
last update Last Updated: 2025-10-16 08:00:45
Sembilan Bulan Berlalu~

Febby dilarikan ke rumah sakit saat merasakan kontraksi hebat. Padahal HPL-nya masih beberapa hari lagi.

Setelah menghubungi Dokter Kandungan dan memastikan Febby bisa ditangani secepatnya, Dirga membawa istrinya ke Rumah Sakit.

"Mas, sakit," keluh Febby di dalam mobil sambil memegang perut yang terasa melilit.

"Sabar Sayang, sebentar lagi kita sampai di Rumah Sakit." Dirga mengusap perut istrinya dengan lembut, menenangkan.

Sementara di jok depan, Inneke dan Fandi fokus menatap jalanan.

Fandi melajukan mobil dengan kecepatan tinggi agar secepatnya sampai ke Rumah Sakit.

"Berdoa Feb, sebentar lagi kita sampai," ucap ayah satu anak itu sambil menatap anaknya dari kaca spion.

"Sakit, Yah," keluh Febby, meringis kesakitan di dalam pelukan sang suami.

Dirga memberi arahan pada istrinya untuk mengatur napas pelan-pelan sambil mengusap keringat yang membasahi kening.

"Mas .... " Tangan Febby meremas dada suaminya, membuat Dokter Tampan itu meringis kesaki
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Harsa Amerta Nawasena
Yang anda maksud mungkin Sisca dan Barta yaaa... Bukan Dirga dan Febby,kan mereka sudah punya 2 anak
goodnovel comment avatar
ARTY NURDIN
season 2 jgn2 ada tragedi selingkuh lg nih...dirga sm febby ...febby stress gak hamil2 nti minta tlg dibuntingin dr. dirge wkekekkwkw
goodnovel comment avatar
Kuseri
ditunggu season 2 y
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Ah! Enak Mas Dokter   Wanita itu Siapa?

    Saat suara mesin mobil terdengar, Intan berdiri dari kursi lalu melangkah mendekati jendela dan membuka tirai.Deg!Kedua mata membulat sempurna saat melihat Prams turun dari mobil dan membukakan pintu untuk seseorang.Benar saja apa yang dikatakan Pelayan tadi, Prams datang bersama seorang wanita cantik dan anak laki-laki seusia Regan. Melihat kedatangan sang Mafia, buru-buru Intan menyusun rencana. Ia mengeluarkan botol wiski dari lemari dan mengambil serbuk obat dari balik pakaian dalamnya.Dengan tangan gemetar, ia menuang isi dari dalam botol kecil itu ke dalam minuman keras favorit Prams.Setelah memastikan bubuk itu menyatu dalam minuman, ia meletakkan botol Wiski mahal tersebut ke atas meja.Intan kembali duduk. Ia menelan ludah keras sambil menatap botol wiski yang berada di atas meja makan. Sesaat kemudian, ia berdiri dan memindahkan botol wiski itu kembali ke dalam lemari. Kalau dipikir-pikir, rencananya akan terbongkar jika ia langsung memberikan minuman pada Prams tanp

  • Ah! Enak Mas Dokter   Pagi Hari yang Ditunggu

    "Ughh!" Suara desahan panjang terdengar di kamar bernuansa biru muda.Prams mempercepat gerakan tubuhnya saat merasakan cairan kental di dalam sana ingin menyembur ke luar.Elina memekik pelan. Kedua tangan meremas pinggang Prams yang tengah mengungkungnya. "Ahhh! Honey!" Prams merapatkan bagian bawah. Cairan kental menyembur masuk ke dalam sana. Elina mengigit bibir saat merasakan cairan hangat masuk ke dalam rahimnya. "Eumh." Ia menatap wajah Prams yang merah, basah oleh keringat. "Kamu tidak menggunakan pengamanan lagi?"Prams menjatuhkan tubuhnya ke atas Elina. "Hmm, aku tidak memakai pengaman. Kemungkinan kita akan memberikan adik untuk Edgar.""Adik perempuan?" Prams terdiam, mengingat begitu banyak keturunan perempuan di keluarganya. Baginya perempuan itu hanya bisa menyusahkan. Mengingat kakak perempuan yang bernama Anggun mati sia-sia karena cinta. Dan sebentar lagi ia akan memiliki adik perempuan dari Intan. "Kenapa diam?" tanya Elina. "Aku ingin anak laki-laki," jawab

  • Ah! Enak Mas Dokter   Kondisi Dylan

    Amerika~"Kita mulai operasinya." Dokter Yohanes memasang sarung di kedua tangannya.Lampu-lampu putih di ruang operasi menyala terang. Di atas ranjang, pasien kecil bernama Dylan sudah berbaring tak sadarkan diri efek obat bius.Menit-menit penuh ketegangan berlalu cepat. Udara dingin di ruangan itu terasa menusuk kulit, kontras dengan keringat yang membanjiri dahi Dokter Yohanes.Tangannya yang cekatan tidak berhenti bergerak, memegang alat bedah dengan ketelitian luar biasa.Mata terpaku pada layar monitor yang menampilkan denyut saraf pasien kecil di atas meja operasi.Hampir satu jam berlalu, ketegangan seperti beban berat menekan dada Yohanes, tetapi dia tidak boleh lengah.Setiap inci jaringan kepala pasien ia teliti dengan sabar, berjuang melawan waktu dan risiko. Perlahan, denyut saraf yang sebelumnya melemah mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan.Yohanes menarik napas dalam, seolah beban yang lama menempel terangkat perlahan. Raut wajah yang tegang berubah menjadi sedikit

  • Ah! Enak Mas Dokter   Jangan Pergi Dad!

    "Jadi aku punya Daddy?" Edgar bertanya dengan wajah sumringah, berbeda dengan tadi.Ia menatap Prams dan Elina bergantian. Lalu, pandang matanya beralih pada Wylan, yang diam-diam mengintip dari balik dinding pembatas ruang tamu. Merasa kehadirannya tidak berguna untuk saat ini, Wylan pun melambaikan tangan lalu melangkah menuju kamar yang sudah dipersiapkan untuknya. Kemudian, Edgar kembali menatap sang Ayah, Ibu, lalu bertanya lagi, "Apa benar laki-laki bertato ini Daddy aku?" Ia menunjuk tato di lengan Prams. Elina menatap sang Mafia, "Jawab Hubby, apa benar kamu Ayah dari Edgar."Prams yang sedari tadi berdiri, kemudian duduk di samping Edgar, dan mengangkat tubuh mungil itu dengan mudah. Ia menundukkan Edgar di atas pangkuan, "Ya, aku adalah Daddymu. Tanpa aku kamu tidak akan pernah ada di dunia ini. Dan aku masih hidup, tidak seperti yang dikatakan oleh Mommymu. Paham?" Prams melirik Elina yang kembali menahan tawa. "Ohh, okeyy." Bocah pintar itu manggut-manggut. "Jadi sela

  • Ah! Enak Mas Dokter   Janji?

    Saat pintu kamar dibuka, Intan bersiap mengarahkan senjata ke depan. Namun yang ia lihat ...."Selamat malam Nona. Anda belum tidur?" Seorang Pelayan wanita melangkah mendekati tempat tidur, di mana Intan sedang duduk. Melihat yang masuk bukan Prams, buru-buru Intan merapikan pakaian, menyembunyikan senjata di balik pinggang. Lalu, dengan wajah gugup, panik, Intan menjawab, "A-aku belum mengantuk." Suaranya terdengar bergetar. Ia mengigit bibir, menahan getaran dagu. Matanya berlarian, mengitari ruang kamar, dan berhenti ke arah pintu yang terbuka. "Apa Anda ingin makan sesuatu Nona?" Pelayan itu berdiri di depan Intan, setelah memastikan Intan meminum obat yang ia letakan di atas meja. "Aku sudah kenyang," jawab Intan, masih terdengar gugup. "J-jam berapa sekarang?" Pelayan itu menoleh, menatap jam dinding di samping. "Jam sebelas malam Nona. Apa Anda ingin melakukan sesuatu? Atau Anda sedang merasakan sesuatu?" Intan menggeleng. Ia menelan ludah keras sambil menggenggam tanga

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bersiap Melenyapkan

    "Baik kalau memang Anda mau menjemput Intan, nanti saya akan meminta Polisi Hong Kong untuk membantu agar rencana kalian berjalan lancar," ucap Adrian di ujung sambungan telepon. "Katakan pada Intan untuk berhati-hati, jangan sampai dia yang dihabisi oleh Prams. Dia harus bersikap tenang, agar tidak dicurigai," balas Dirga. "Kalau soal itu saya sudah meminta Nila mengatakannya. Nanti saya akan bicara langsung dengan Intan.""Hmm." Reflek Dirga menganggukkan kepala. "Jadi kapan kira-kira Intan akan menjalankan rencana itu?""Secepatnya Dok. Saat ini Intan sedang menunggu kepulangan Prams.""Memangnya Intan tinggal di rumah laki-laki itu?""Iya, dia mengatakan dia dibawa oleh Prams, setelah Prams membunuh ibunya."Dirga mengerutkan kening. "Membunuh ibunya? Darimana Intan tahu kalau Prams membunuh ibunya?" "Intan tidak sengaja mendengar percakapan Prams dengan salah satu tangan kanan Bandar itu. Dan dia juga mendengar rencana Prams setelah anak di dalam kandungannya lahir. Prams hany

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status